Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Moderasi; Kata Kerja Yang Selalu Terbuka

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
  • visibility 141
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya terlibat cukup lama dalam kerja-kerja moderasi beragama. Bukan hanya dalam bentuk pelatihan, tapi juga merancang metode pembelajaran yang lebih segar dan kontekstual, menyusun pendekatan-pendekatan baru yang lebih hidup — seperti Klinik Moderasi Beragama, Visiting Class, dan Moving Class. Bersama tim kecil, saya mencoba menyebarkan gagasan moderasi sebagai ruang belajar, bukan sekadar slogan. Tapi, jujur saya katakan: sejak awal, saya tidak terlalu menyukai pertanyaan yang muncul berulang kali dalam banyak forum — “Siapa yang moderat?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi memiliki beban ideologis. Ia memuat sebuah jebakan: moderat adalah status akhir, label bersertifikat, yang bisa dilekatkan pada seseorang, sekelompok orang, atau bahkan pada satu tafsir keagamaan tertentu. Padahal bagi saya, moderasi — jika ingin tetap hidup — tak boleh berubah menjadi sertifikat. Ia harus tetap menjadi ruang, menjadi proses, menjadi perjalanan.

Roland Barthes mengajarkan saya sejak lama untuk berhati-hati terhadap pemaknaan kata-kata. Dalam Mythologies, ia menyingkap bagaimana kata-kata, simbol, bahkan nilai-nilai bisa berubah menjadi mitos. Narasi yang tampaknya netral, padahal sarat muatan ideologis. Dan saya mulai berfikir: jangan-jangan “moderat” yang dibayangkan sebagai tujuan akhir moderasi beragama menjadi mitos. Ia menjadi simbol yang kita puja, tanpa kita sadari bahwa maknanya telah dibekukan dan dijauhkan dari dinamika masyarakat tempat ia semula tumbuh.

Barthes menulis: “Mitos adalah cara tertentu untuk memahami dunia: ia menghilangkan sejarah, dan menampilkan sesuatu sebagai alamiah.” Menuntut “siapa moderat” berarti sekaligus menuntut untuk menampilkan “siapa tidak moderat”. Seolah-olah harus ada garis batas yang jelas dan abadi. Padahal, dari pengalaman saya di lapangan, keberagaman ekspresi keagamaan terlalu cair untuk dipetakan sesederhana itu. Siapapun bisa menjadi moderat dengan caranya masing-masing. Dalam banyak perjumpaan, mereka yang kita label sebagai “konservatif” justru menunjukkan sikap terbuka, sementara yang kita anggap “moderat” kadang terjebak pada kesombongan moral yang membeku.

Di titik inilah, saya meminjam cara pandang Jacques Derrida: jangan percaya pada oposisi biner. Kata “moderat” tidak memiliki makna yang stabil. Ia tidak berdiri di titik tengah antara ekstrem dan liberal secara tetap. Memang, ia berangkat dari posisi awal ini, tetapi kehadirannya juga memiliki beban ideologis. Bagaimanapun juga. Ia adalah bagian dari permainan bahasa. Derrida punya konsep différance — di mana makna terus menerus ditunda, digeser, dan didekonstruksi. “Moderat”, dalam bahasa Derrida, bukan entitas tunggal; ia terbentuk dari rangkaian negosiasi, relasi kuasa, dan posisi-posisi diskursif yang tak pernah tetap.

Derrida mengatakan: “There is nothing outside the text.” Maka saya membaca moderasi beragama bukan sebagai kebenaran statis, tapi sebagai kebenaran dalam teks yang terus ditulis. Kita tidak pernah benar-benar selesai menjadi moderat. Moderasi adalah kerja harian, kerja keberanian, kerja kesabaran — dan kerja bahasa. Ia lebih dekat pada kata kerja daripada kata benda. Moderasi seharusnya berarti: memoderasi. Ia adalah tindakan, bukan status.

Apabila kita terlampau percaya diri bahwa kita sudah moderat — justru di situlah seharusnya kita mulai curiga pada diri sendiri. Kita mulai harus mengudar asumsi kita sendiri. Jangan-jangan kita sedang menjadikan moderasi sebagai alat penilaian, bukan sebagai ruang dialog. Jangan-jangan kita sedang memakai kata moderat untuk mengontrol narasi, bukan membuka ruang yang cair dan setara.

Saya ingin menjadikan “moderasi” sebagai kerja reflektif, bukan atribut. Sebagai aktivitas bukan identitas. Sebagai upaya bukan pencapaian. Saya ingin melihat moderasi sebagai ruang dinamis yang penuh kemungkinan, bukan podium yang tinggi dan stabil. Sebab seperti kata Derrida, makna selalu ditunda, dan dalam penundaan itu, kita punya peluang untuk tumbuh.

Moderasi yang saya bayangkan adalah gerak yang terus terbuka. Ia bersedia untuk dikritik, bahkan untuk diubah. Ia tak terikat pada satu bentuk tunggal, tapi mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam setiap zaman dan konteks. Dalam semangat itu, saya ingin tetap percaya: bahwa moderasi beragama bukanlah jawaban final, tapi pertanyaan yang harus terus menerus kita ajukan — dengan rendah hati, dan dengan cinta.

Oleh : Pepi Al-Bayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Istri Sah Hi. Sadik Jafar Noch Somasi Direktur PT. HIPMEN Atas Dugaan Perbuatan Melawan Hukum

    Istri Sah Hi. Sadik Jafar Noch Somasi Direktur PT. HIPMEN Atas Dugaan Perbuatan Melawan Hukum

    • calendar_month Sabtu, 28 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Jaia Basra, Istri sah Hi. Sadik Jafar Noch melalui kuasa hukumnya, melayangkan Somasi/Peringatan terhadap Direktur dan Wakil Direktur PT. HALMAHERA INDONESIA PULAU MALUKU SELATAN (PT. HIPMEN) yang beralamat di Jl. Mesjid Ar-Raiyah RT.000/RW.000, Kampung Makian, Kec. Bacan Selatan, Kab. Halmahera Selatan, Maluku Utara. Somasi tertanggal 3 Juli 2025 dilayangkan atas dugaan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) […]

  • Menjejaki Kiprah Sang Menteri, di Tengah Moralitas Zaman yang Semakin Tergerus

    Menjejaki Kiprah Sang Menteri, di Tengah Moralitas Zaman yang Semakin Tergerus

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Andi Dzulfahmi Hamzah
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Pada pagi 5 September 2024 di pelataran Masjid Istiqlal, dunia menyaksikan sebuah momen yang akan lama dikenang. Imam Besar Masjid Istiqlal membungkukkan tubuh lalu mengecup lembut kening Paus Fransiskus yang duduk di kursi roda. Sang Paus membalas dengan mencium tangan sang Imam beberapa kali. Media internasional mengabadikan peristiwa itu sebagai simbol persaudaraan ruhaniah yang melampaui […]

  • Menari dalam Belantara Simulacra

    Menari dalam Belantara Simulacra

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Lebaran, seperti biasa, datang bukan hanya membawa ketupat dan peluk maaf. Ia datang membawa gelombang kegembiraan yang melompat-lompat dari dapur ibu sampai ke beranda digital. Di kampung-kampung kecil yang debunya masih hangat oleh langkah kaki anak-anak, hingga ke rumah-rumah mewah yang tak pernah tidur oleh lampu-lampu sorot interior—suasana keriangan tumpah ruah. Tahun ini, kegembiraan itu […]

  • Kepala Desa Mattirotasi Imbau Warga Jaga Ketertiban dan Perkuat Spiritualitas Jelang Nataru 2025

    Kepala Desa Mattirotasi Imbau Warga Jaga Ketertiban dan Perkuat Spiritualitas Jelang Nataru 2025

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, kesiapsiagaan serta penjagaan oleh berbagai instansi dan institusi di Kabupaten Maros terus ditingkatkan guna menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat. Langkah ini sejalan dengan Surat Edaran Bupati Maros yang menekankan pengamanan serta ketertiban umum selama momentum Nataru. Di tingkat desa, Kepala Desa Mattirotasi, Ust. Andi […]

  • Eka Putra B. Santoso/Foto: Istimewa Play Button

    Desain Pemilu, Putusan MK dan masa depan Demokrasi Kita

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Eka Putra B Santoso
    • visibility 745
    • 0Komentar

    Penulis adalah Pengajar Politik IAIN Sultan Amai Gorontalo Mukadimah Pada penghujung tahun 2025, berita tentang kesepakatan partai-partai besar seperti Gerindra, PKB, Nasdem dan Golkar untuk merumuskan Pilkada lewat DPRD mencuat. Alasan mereka yang utama adalah menekan mahalnya ongkos pilkada dan praktik politik uang dalam kontestasi elektoral. Namun wacana ini tidak hanya bersifat insinuatif namun secara […]

  • Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Perayaan Natal bagi umat Kristiani dan Katolik di Indonesia yang jatuh pada 25 Desember 2025 merupakan momentum sarat nilai spiritual. Ia bukan sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus, melainkan ruang refleksi tentang kasih, perdamaian, dan kemanusiaan. Namun, Natal juga hadir dalam lanskap sosial Indonesia yang lebih luas–sebuah negeri yang tidak pernah kekurangan perayaan. Dari harlah organisasi, […]

expand_less