Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Moderasi; Kata Kerja Yang Selalu Terbuka

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
  • visibility 185
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya terlibat cukup lama dalam kerja-kerja moderasi beragama. Bukan hanya dalam bentuk pelatihan, tapi juga merancang metode pembelajaran yang lebih segar dan kontekstual, menyusun pendekatan-pendekatan baru yang lebih hidup — seperti Klinik Moderasi Beragama, Visiting Class, dan Moving Class. Bersama tim kecil, saya mencoba menyebarkan gagasan moderasi sebagai ruang belajar, bukan sekadar slogan. Tapi, jujur saya katakan: sejak awal, saya tidak terlalu menyukai pertanyaan yang muncul berulang kali dalam banyak forum — “Siapa yang moderat?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi memiliki beban ideologis. Ia memuat sebuah jebakan: moderat adalah status akhir, label bersertifikat, yang bisa dilekatkan pada seseorang, sekelompok orang, atau bahkan pada satu tafsir keagamaan tertentu. Padahal bagi saya, moderasi — jika ingin tetap hidup — tak boleh berubah menjadi sertifikat. Ia harus tetap menjadi ruang, menjadi proses, menjadi perjalanan.

Roland Barthes mengajarkan saya sejak lama untuk berhati-hati terhadap pemaknaan kata-kata. Dalam Mythologies, ia menyingkap bagaimana kata-kata, simbol, bahkan nilai-nilai bisa berubah menjadi mitos. Narasi yang tampaknya netral, padahal sarat muatan ideologis. Dan saya mulai berfikir: jangan-jangan “moderat” yang dibayangkan sebagai tujuan akhir moderasi beragama menjadi mitos. Ia menjadi simbol yang kita puja, tanpa kita sadari bahwa maknanya telah dibekukan dan dijauhkan dari dinamika masyarakat tempat ia semula tumbuh.

Barthes menulis: “Mitos adalah cara tertentu untuk memahami dunia: ia menghilangkan sejarah, dan menampilkan sesuatu sebagai alamiah.” Menuntut “siapa moderat” berarti sekaligus menuntut untuk menampilkan “siapa tidak moderat”. Seolah-olah harus ada garis batas yang jelas dan abadi. Padahal, dari pengalaman saya di lapangan, keberagaman ekspresi keagamaan terlalu cair untuk dipetakan sesederhana itu. Siapapun bisa menjadi moderat dengan caranya masing-masing. Dalam banyak perjumpaan, mereka yang kita label sebagai “konservatif” justru menunjukkan sikap terbuka, sementara yang kita anggap “moderat” kadang terjebak pada kesombongan moral yang membeku.

Di titik inilah, saya meminjam cara pandang Jacques Derrida: jangan percaya pada oposisi biner. Kata “moderat” tidak memiliki makna yang stabil. Ia tidak berdiri di titik tengah antara ekstrem dan liberal secara tetap. Memang, ia berangkat dari posisi awal ini, tetapi kehadirannya juga memiliki beban ideologis. Bagaimanapun juga. Ia adalah bagian dari permainan bahasa. Derrida punya konsep différance — di mana makna terus menerus ditunda, digeser, dan didekonstruksi. “Moderat”, dalam bahasa Derrida, bukan entitas tunggal; ia terbentuk dari rangkaian negosiasi, relasi kuasa, dan posisi-posisi diskursif yang tak pernah tetap.

Derrida mengatakan: “There is nothing outside the text.” Maka saya membaca moderasi beragama bukan sebagai kebenaran statis, tapi sebagai kebenaran dalam teks yang terus ditulis. Kita tidak pernah benar-benar selesai menjadi moderat. Moderasi adalah kerja harian, kerja keberanian, kerja kesabaran — dan kerja bahasa. Ia lebih dekat pada kata kerja daripada kata benda. Moderasi seharusnya berarti: memoderasi. Ia adalah tindakan, bukan status.

Apabila kita terlampau percaya diri bahwa kita sudah moderat — justru di situlah seharusnya kita mulai curiga pada diri sendiri. Kita mulai harus mengudar asumsi kita sendiri. Jangan-jangan kita sedang menjadikan moderasi sebagai alat penilaian, bukan sebagai ruang dialog. Jangan-jangan kita sedang memakai kata moderat untuk mengontrol narasi, bukan membuka ruang yang cair dan setara.

Saya ingin menjadikan “moderasi” sebagai kerja reflektif, bukan atribut. Sebagai aktivitas bukan identitas. Sebagai upaya bukan pencapaian. Saya ingin melihat moderasi sebagai ruang dinamis yang penuh kemungkinan, bukan podium yang tinggi dan stabil. Sebab seperti kata Derrida, makna selalu ditunda, dan dalam penundaan itu, kita punya peluang untuk tumbuh.

Moderasi yang saya bayangkan adalah gerak yang terus terbuka. Ia bersedia untuk dikritik, bahkan untuk diubah. Ia tak terikat pada satu bentuk tunggal, tapi mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam setiap zaman dan konteks. Dalam semangat itu, saya ingin tetap percaya: bahwa moderasi beragama bukanlah jawaban final, tapi pertanyaan yang harus terus menerus kita ajukan — dengan rendah hati, dan dengan cinta.

Oleh : Pepi Al-Bayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panas Bumi vs Panas Hati

    Panas Bumi vs Panas Hati

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Di negeri +62 ini, kadang yang panas bukan cuma bumi, tapi juga hati rakyat. Apalagi kalau yang panas itu proyek panas bumi, lalu terdengar kabar bahwa yang mengelola adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Israel. Waduh. Ini bukan sekadar energi terbarukan, ini energi perdebatan. Sebagai bangsa yang sejak dulu tegas mendukung Palestina, kita ini unik. Secara […]

  • Karya “Benang Pluralisme” Perupa Gorontalo Bikin Sinta Nuriyah Terpukau di Temu Nasional GUSDURian

    Karya “Benang Pluralisme” Perupa Gorontalo Bikin Sinta Nuriyah Terpukau di Temu Nasional GUSDURian

    • calendar_month Selasa, 11 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 217
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Senyuman bahagia tak terbendung dari wajah Sinta Nuriyah Wahid saat berada di atas panggung megah Temu Nasional GUSDURian 2022 di Surabaya. Momen tersebut terjadi ketika ia menerima sebuah karya seni dari perupa Gorontalo, Akbar Hidayat. Karya berjudul “Benang Pluralisme” itu dibuat dari susunan benang dan paku yang membentuk wajah Abdurrahman Wahid atau Gus […]

  • Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 394
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pesantren Khatamun Nabiyyin bersama Khatam Institute menggelar Stadium Generale bertajuk “Peran Filsafat dalam Kehidupan Kontemporer: Antara Kemajuan Teknologi dan Krisis Kemanusiaan” pada Rabu, 13 Mei 2026, di Auditorium Khatamun Nabiyyin, Condet, Jakarta Timur. Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Amsal Bakhtiar sebagai narasumber utama dan dipandu oleh Muh. Agus Salim selaku moderator. Dalam pemaparannya, […]

  • Pemerintah Inggris Mengakui Negara Palestina

    Pemerintah Inggris Mengakui Negara Palestina

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Pada 21 September 2025, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer secara resmi mengakui Negara Palestina guna melindungi keberlangsungan solusi dua negara dan menciptakan jalan menuju perdamaian abadi bagi rakyat Israel dan Palestina. Keputusan bersejarah ini, yang diumumkan bersama Kanada dan Australia, diambil ketika situasi riil di Gaza terus memburuk, Israel terus memperluas permukiman ilegal di […]

  • Melayani Tamu Allah; Kisah di Balik Terminal Fast Track Haji

    Melayani Tamu Allah; Kisah di Balik Terminal Fast Track Haji

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Pagi itu, langit di atas Bandara Soekarno-Hatta cerah tak biasa. Terminal 2F yang biasanya menjadi tempat pertemuan pesawat dan penumpang, hari itu menjelma menjadi panggung sejarah baru. Presiden Prabowo Subianto meresmikan Terminal Khusus Haji dan Umrah—simbol transformasi besar pelayanan ibadah di Indonesia, lengkap dengan sistem fast track imigrasi Arab Saudi. Namun, di balik kemegahan acara […]

  • Pandangan dan Rekomendasi Mubes Warga NU Menuju Abad Kedua

    Pandangan dan Rekomendasi Mubes Warga NU Menuju Abad Kedua

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – JOMBANG – Warga Nahdlatul Ulama (NU) merilis beberapa pandangan dan rekomendasi untuk arah perjuangan NU pada abad kedua. Dalam rilis tersebut menegaskan bahwa Muktamar NU ke-35 harus menjadi ruang musyawarah yang bermartabat, bebas dari praktik transaksional, serta mampu melahirkan kepengurusan yang memiliki integritas, kapasitas, keteladanan, dan keberpihakan yang kuat kepada jamaah serta kemaslahatan […]

expand_less