Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mencari Jalan Keluar dari Krisis Representasi Politik Indonesia

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
  • visibility 210
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam krisis yang sedang dihadapi Indonesia Ini, penting untuk selalu Bertanya namun Substansi pertanyaan hari ini bukanlah siapa yang akan menjadi presiden berikutnya, partai mana yang akan menang pemilu, atau koalisi apa yang akan terbentuk setelah pemilihan. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: siapa yang mampu mengorganisasi kekuatan sosial untuk menandingi dominasi uang dalam politik?

Sebab dalam banyak kasus oligarki hampir tidak pernah runtuh hanya karena kritik moral atau kemarahan publik. Ia tidak tumbang karena para intelektual menulis esai-esai tajam, tidak pula karena masyarakat ramai mengeluh di media sosial. Oligarki dibatasi ketika muncul kekuatan sosial yang cukup besar, cukup terorganisasi, dan cukup sadar untuk memaksa negara kembali bekerja bagi kepentingan publik. Tanpa kekuatan penyeimbang semacam itu, demokrasi akan tetap berjalan secara prosedural, pemilu tetap berlangsung, parlemen tetap bersidang, dan pemerintahan terus berganti. Namun substansinya perlahan menghilang. Representasi politik berubah menjadi barang dagangan yang dapat dibeli oleh mereka yang memiliki modal terbesar.

Tesis Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die menjadi sangat relevan untuk membaca kondisi Indonesia. Menurut mereka, demokrasi modern jarang mati melalui kudeta militer atau pembubaran konstitusi secara terang-terangan. Demokrasi justru lebih sering mengalami kemunduran melalui proses yang tampak legal dan konstitusional. Pemimpin yang lahir dari mekanisme demokratis menggunakan legitimasi elektoral untuk melemahkan lembaga pengawas, mengendalikan sistem hukum, menjinakkan oposisi, serta membangun jaringan patronase yang membuat institusi negara kehilangan independensinya. Dari luar, demokrasi masih terlihat hidup. Tetapi di dalamnya, mekanisme kontrol dan akuntabilitas perlahan dilumpuhkan.

Jika kita menoleh pada perkembangan politik Indonesia beberapa tahun terakhir, gejala tersebut terasa semakin nyata. Demokrasi memang masih berjalan, tetapi kualitas representasinya terus mengalami erosi. Partai politik yang seharusnya menjadi jembatan antara rakyat dan negara semakin sulit melepaskan diri dari ketergantungan pada pemilik modal. Ongkos politik yang sangat mahal membuat banyak partai harus mencari sumber pendanaan dari kalangan oligark ekonomi. Konsekuensinya sederhana tetapi serius: kebijakan publik sering kali lebih responsif terhadap kepentingan penyandang dana dibandingkan terhadap kebutuhan masyarakat luas.

Dalam situasi seperti ini, pergantian figur pemimpin sering kali hanya menghasilkan perubahan wajah, bukan perubahan arah. Banyak orang masih berharap bahwa krisis demokrasi dapat diselesaikan melalui pergantian presiden atau elite politik. Padahal persoalan yang kita hadapi jauh lebih dalam daripada sekadar siapa yang sedang berkuasa. Yang bermasalah bukan hanya aktornya, melainkan struktur yang memungkinkan konsentrasi kekuasaan ekonomi dan politik terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, reformasi pembiayaan politik menjadi agenda yang tidak bisa ditunda lagi. Sulit membayangkan lahirnya demokrasi yang sehat ketika biaya untuk menjadi anggota legislatif, kepala daerah, atau presiden begitu tinggi sehingga hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal besar yang mampu bertahan. Selama biaya politik tetap mahal, partai-partai akan terus berada dalam hubungan ketergantungan dengan kelompok oligarkis. Pada titik tertentu, loyalitas politik tidak lagi diberikan kepada konstituen, melainkan kepada para sponsor yang memungkinkan mesin politik tetap hidup.

Meski demikian, reformasi pembiayaan partai bukanlah obat mujarab yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan. Kita perlu jujur bahwa oligarki tidak hanya hidup di dalam struktur pembiayaan politik, tetapi juga dalam budaya politik, birokrasi, media, bahkan dalam cara masyarakat memahami kekuasaan. Oleh sebab itu, perubahan kelembagaan harus berjalan beriringan dengan penguatan masyarakat sipil.

Demokrasi tidak pernah bertahan hanya karena adanya pemilu. Demokrasi bertahan karena adanya warga negara yang aktif, organisasi masyarakat yang independen, media yang kritis, kampus yang bebas, serikat pekerja yang kuat, komunitas intelektual yang hidup, dan berbagai kelompok sosial yang mampu mengawasi kekuasaan. Ketika institusi-institusi tersebut melemah, demokrasi kehilangan fondasi sosial yang menopangnya. Pemilu masih ada, tetapi warga semakin kehilangan kemampuan untuk memengaruhi arah negara.

Kampus misalnya, semestinya menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan alternatif. Namun ketika dunia akademik terlalu sibuk mengejar birokrasi dan proyek, fungsi kritisnya perlahan memudar. Media yang dahulu menjadi alat kontrol kekuasaan kini menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Organisasi masyarakat sipil juga berhadapan dengan tantangan fragmentasi dan keterbatasan sumber daya. Akibatnya, ruang publik semakin didominasi oleh narasi yang diproduksi oleh mereka yang memiliki akses terhadap modal dan kekuasaan.

Di sisi lain, posisi otoritas keagamaan juga perlu direfleksikan secara serius. Dalam banyak tradisi keagamaan, agama memiliki fungsi profetik untuk mengingatkan dan mengoreksi kekuasaan. Dalam Islam misalnya, prinsip amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar seruan moral individual, melainkan juga keberanian untuk menegur ketidakadilan yang dilakukan penguasa. Ketika agama terlalu dekat dengan kekuasaan, fungsi kritis tersebut berisiko melemah. Yang tersisa hanyalah legitimasi moral bagi kebijakan negara, bukan kontrol etis terhadap penyelenggaraan kekuasaan.

Tapi apakah ketimpangan struktural ini dapat diatasi melalui ideologisasi?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Jika ideologisasi dipahami sebagai indoktrinasi yang menutup ruang kritik dan keberagaman pandangan, maka sejarah menunjukkan bahayanya. Tetapi jika yang dimaksud adalah membangun kesadaran kolektif tentang ketimpangan, keadilan sosial, hak-hak warga negara, serta arah pembangunan nasional, maka tanpa itu perubahan akan sulit terjadi. Tidak ada gerakan sosial besar dalam sejarah yang lahir tanpa fondasi gagasan. Bahkan oligarki sendiri bertahan karena memiliki ideologi yang bekerja secara halus: keyakinan bahwa kekayaan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi harus menjadi pusat dari seluruh kebijakan negara.

Masalahnya, kelompok-kelompok yang menginginkan perubahan sering kali memiliki kritik yang baik tetapi tidak memiliki organisasi yang kuat. Mereka mampu menjelaskan masalah, tetapi belum mampu mengubah penjelasan itu menjadi kekuatan politik yang efektif. Akibatnya, kritik berputar di ruang diskusi, sementara kekuasaan tetap berjalan seperti biasa.

Seharusnya kekuasaan tidak hanya bertumpu pada uang atau paksaan, tetapi juga pada kemampuan membentuk cara berpikir masyarakat. Karena itu, melawan dominasi oligarki bukan hanya soal merebut jabatan politik, melainkan juga membangun kesadaran baru tentang apa yang seharusnya menjadi tujuan negara dan siapa yang seharusnya menjadi pusat dari pembangunan.

Meski demikian, ada satu kenyataan yang sering kali luput dari pembahasan akademik. Banyak masyarakat yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi justru lebih percaya pada bantuan konkret daripada janji perubahan struktural. Dalam kondisi hidup yang serba sulit, uang terasa lebih nyata dibandingkan gagasan. Bantuan tunai, proyek pembangunan, atau akses pekerjaan sering kali lebih mudah dipercaya daripada wacana reformasi demokrasi yang terdengar abstrak.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar bagaimana melawan uang, melainkan bagaimana membangun institusi yang membuat warga tidak harus bergantung pada uang patronase. Selama kesejahteraan warga bergantung pada kedekatan dengan elite politik atau pemilik modal, selama itu pula oligarki akan selalu menemukan ruang untuk bertahan. Demokrasi hanya bisa tumbuh sehat ketika masyarakat memiliki kemandirian ekonomi yang cukup untuk menentukan pilihan politiknya secara bebas.

masa depan demokrasi Indonesia tidak ditentukan oleh pertarungan antara kelompok sekuler dan religius, antara nasionalis dan agamis, ataupun antara tokoh A dan tokoh B. Pertarungan yang sesungguhnya adalah antara upaya memperluas kedaulatan rakyat melawan kecenderungan konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir elite.

Karena itu, tugas terbesar generasi hari ini bukan hanya memenangkan pemilu atau mengganti penguasa. Tugas yang jauh lebih penting adalah membangun kembali kekuatan-kekuatan sosial yang mampu mengawasi negara, menghidupkan ruang publik yang kritis, memperkuat organisasi masyarakat sipil, mereformasi pembiayaan politik, serta menanamkan kembali gagasan bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur memilih pemimpin, melainkan cara memastikan kekuasaan selalu tunduk pada kepentingan rakyat.

Jika pekerjaan besar itu gagal dilakukan, demokrasi Indonesia mungkin akan tetap berdiri sebagai bangunan formal. Pemilu akan terus digelar, pejabat akan terus dilantik, dan pidato-pidato tentang rakyat akan terus disampaikan. Namun perlahan ia kehilangan maknanya yang paling mendasar: menjadi alat bagi warga negara untuk mengendalikan kekuasaan. Pada saat itulah demokrasi tidak benar-benar mati, tetapi hidup dalam keadaan yang paling menyedihkan—tetap berjalan, namun tidak lagi mewakili mereka yang seharusnya menjadi pemiliknya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wali Kota Gorontalo Lantik 15 Pejabat Eselon III, Enam Camat Baru Resmi Bertugas

    Wali Kota Gorontalo Lantik 15 Pejabat Eselon III, Enam Camat Baru Resmi Bertugas

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 759
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, resmi melantik 15 pejabat administrator atau eselon III di lingkungan Pemerintah Kota Gorontalo. Prosesi pelantikan berlangsung di Bandhayo Lo Yiladia (BLY) pada Jumat (13/3/2026). Pelantikan tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Gorontalo Nomor: 821.2/BKPSDM/11/540 tertanggal 13 Maret 2026. Dalam pelantikan ini, sejumlah pejabat menempati jabatan strategis […]

  • Jalan Tol Berbayar Tapi Tak Standar, Yasti Mokoagow: BUJT Bisa Dipidana

    Jalan Tol Berbayar Tapi Tak Standar, Yasti Mokoagow: BUJT Bisa Dipidana

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 414
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Anggota Komisi V DPR RI Yasti Soepredjo Mokoagow menegaskan bahwa pengelola jalan tol atau Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang mengabaikan Standar Pelayanan Minimum (SPM) dapat dikenai sanksi pidana. Penegasan itu disampaikan menyusul masih banyaknya ruas tol berbayar yang dinilai tidak memenuhi standar pelayanan sebagaimana diamanatkan undang-undang. “Saya harus ingatkan bahwa abai atau […]

  • Komisi V DPR Soroti Kelaikudaraan Pesawat IAT yang Hilang Kontak di Maros

    Komisi V DPR Soroti Kelaikudaraan Pesawat IAT yang Hilang Kontak di Maros

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 370
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi V DPR RI menyoroti hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan registrasi PK-THT di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Sorotan tersebut terutama berkaitan dengan pengawasan kelaikudaraan pesawat, khususnya armada yang telah beroperasi dalam jangka waktu panjang. Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, meminta Kementerian Perhubungan […]

  • KH. Asrul Lasapa Ajak Personel Polda Gorontalo Jaga Amanah Lewat Binrohtal

    KH. Asrul Lasapa Ajak Personel Polda Gorontalo Jaga Amanah Lewat Binrohtal

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Wakil Katib PWNU Gorontalo KH. Asrul Lasapa hadir memberikan ceramah dalam kegiatan Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal) yang rutin digelar oleh Polda Gorontalo, Rabu pagi (6/8/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Polda Gorontalo dalam menumbuhkan karakter personel yang berintegritas, profesional, dan berakhlak mulia. Binrohtal dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu dan melibatkan seluruh personel […]

  • Donasi Bencana Sumatera Terkumpul Rp400 Juta, Pemkot Gorontalo Akan Antar Langsung Bantuan

    Donasi Bencana Sumatera Terkumpul Rp400 Juta, Pemkot Gorontalo Akan Antar Langsung Bantuan

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Penggalangan dana bantuan kemanusiaan yang dilakukan Pemerintah Kota Gorontalo bagi korban bencana alam di Sumatera terus berlangsung. Hingga saat ini, dana yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar Rp400 juta. Data tersebut terungkap dalam rapat koordinasi dan evaluasi (Rakorev) penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan yang digelar di Bandhayo Lo Yiladia (BLY), Jumat (19/12/2025). Pelaksana tugas […]

  • Bahas Sejumlah Isu, PWNU Gorontalo Gagas Bahtsul Masail Se-Suluttenggo

    Bahas Sejumlah Isu, PWNU Gorontalo Gagas Bahtsul Masail Se-Suluttenggo

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo akan menggelar Bahtsul Masail yang melibatkan tiga wilayah, yakni Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo) pada Ahad, 23 Februari 2025 besok. Acara yang digagas oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Gorontalo ini menjadi tonggak sejarah baru dalam mengintegrasikan diskusi ilmiah antar wilayah di kawasan Sulawesi. Ketua LBM PWNU […]

expand_less