Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Desensitisasi masyarakat bukan sekedar Problem sosial tapi Juga Kekeringan Spirtualitas

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
  • visibility 154
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam pandangan teologis, manusia diciptakan bukan hanya sebagai makhluk yang berpikir, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki qalb—hati yang menjadi pusat kesadaran moral dan spiritual. Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan agar manusia tidak membiarkan hati menjadi keras sehingga kehilangan kemampuan menangkap penderitaan sesamanya. Karena itu, kepekaan terhadap derita orang lain bukan sekadar persoalan etika sosial, melainkan bagian dari amanah kekhalifahan di bumi.

desensitisasi sosial tidak cukup dijelaskan melalui karakter individu, tetapi harus dibaca sebagai konsekuensi dari struktur masyarakat informasi. Sistem media, algoritma digital, dan ekonomi perhatian membentuk cara manusia melihat, mengingat, bahkan merasakan realitas. Karena itu, memulihkan kepekaan sosial tidak cukup dilakukan melalui seruan moral agar masyarakat lebih peduli. Yang jauh lebih mendesak adalah membangun ekosistem komunikasi yang memberi konteks, menjaga kesinambungan isu, dan memungkinkan tragedi dipahami sebagai persoalan bersama

Sialnya Salah satu kekeliruan yang sering muncul ketika membicarakan desensitisasi sosial adalah menganggapnya semata-mata sebagai kemerosotan moral. Masyarakat dinilai semakin kebal, tidak peduli, atau kehilangan belas kasih. Padahal persoalannya jauh lebih rumit. Yang berubah bukan selalu kemampuan manusia untuk berempati, melainkan cara empati itu bekerja di tengah kehidupan yang dibanjiri informasi tanpa jeda. Kita mungkin masih mampu merasakan penderitaan orang lain, tetapi kemampuan itu memiliki batas. Ia dapat melemah bukan karena hati menjadi keras, melainkan karena perhatian terus-menerus dipaksa berpindah dari satu tragedi ke tragedi berikutnya.

Hari ini hampir tidak ada ruang untuk benar-benar menghayati sebuah peristiwa. Sebelum kita sempat memahami satu bencana, muncul konflik baru. Sebelum duka atas satu korban menemukan tempatnya, layar kita sudah dipenuhi kekerasan lain, skandal politik, krisis ekonomi, atau kontroversi baru. Penderitaan tidak lagi hadir sebagai pengalaman yang memberi kesempatan untuk merenung, tetapi sebagai arus yang datang silih berganti tanpa henti. Akibatnya, bukan hanya berita yang terus berubah, melainkan juga cara kita mengalaminya.

Pada mulanya setiap tragedi mampu mengguncang kesadaran. Namun tidak ada manusia yang sanggup hidup dalam keadaan terus-menerus terguncang. Paparan yang berulang terhadap kabar buruk perlahan memunculkan mekanisme perlindungan diri. Bukan karena kita berhenti peduli, melainkan karena tubuh dan pikiran berusaha menjaga diri agar tidak terus-menerus diliputi rasa takut, sedih, atau marah. Apa yang dari luar tampak sebagai sikap dingin sering kali hanyalah bentuk adaptasi terhadap beban emosional yang terlalu berat.

Karena itu, desensitisasi lebih tepat dipahami sebagai kelelahan daripada hilangnya nurani. Banyak orang sesungguhnya masih ingin peduli, tetapi mereka lelah. Lelah menyaksikan jumlah korban yang terus bertambah, lelah mengikuti perkembangan yang tidak kunjung selesai, lelah melihat kekerasan diputar berulang kali, dan lelah berada di tengah perdebatan yang nyaris tak menghasilkan perubahan. Empati membutuhkan waktu untuk tumbuh menjadi pemahaman, sementara pemahaman membutuhkan konteks. Sayangnya, keduanya semakin langka dalam ekosistem informasi yang terus menuntut perhatian berpindah secepat mungkin.

Persoalan ini juga berkaitan dengan keterbatasan kemampuan manusia mengolah informasi. Tidak mungkin seseorang memberi perhatian yang sama mendalam kepada begitu banyak peristiwa sekaligus. Ketika perhatian terus dipecah, tragedi kemanusiaan perlahan berubah menjadi sekadar konsumsi informasi. Berita dibaca cepat, diberi respons singkat, lalu segera tergeser oleh isu berikutnya. Perasaan masih muncul, tetapi tidak sempat berkembang menjadi kepedulian yang bertahan lama ataupun tindakan yang berarti.

Perubahan semacam ini berlangsung perlahan sehingga sering tidak disadari. Pada awalnya orang masih terdorong menyampaikan simpati, menggalang bantuan, atau menyuarakan protes. Namun ketika tragedi terus berulang sementara penyelesaiannya nyaris tidak pernah terlihat, muncul rasa tidak berdaya yang pelan-pelan mengikis semangat untuk terus terlibat. Dari sinilah lahir jarak emosional. Bukan karena penderitaan orang lain tidak lagi penting, tetapi karena harapan bahwa sesuatu benar-benar akan berubah semakin menipis.

Situasi menjadi lebih rumit ketika setiap tragedi segera berubah menjadi arena perebutan narasi. Perhatian publik bergeser dari nasib korban menuju perdebatan tentang siapa yang salah, siapa yang paling benar, dan kelompok mana yang harus dipersalahkan. Empati akhirnya terseret ke dalam polarisasi. Energi emosional habis untuk mempertahankan posisi, bukan untuk mencari jalan keluar. Dalam keadaan seperti itu, rasa iba mudah berubah menjadi kemarahan, kecurigaan, atau frustrasi yang sama-sama menguras tenaga batin.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh ruang publik. Solidaritas menjadi sangat bergantung pada viralitas. Ketika sebuah peristiwa ramai diperbincangkan, perhatian publik memuncak. Begitu isu lain muncul, perhatian itu ikut menghilang. Akibatnya, banyak persoalan struktural kehilangan tekanan sosial yang dibutuhkan agar benar-benar diselesaikan. Kita bergerak dari satu kemarahan ke kemarahan berikutnya tanpa pernah cukup lama bertahan pada satu persoalan hingga melahirkan perubahan.

Karena itu, menyalahkan individu sebagai “kurang empati” justru menutup mata terhadap persoalan yang lebih mendasar. Desensitisasi lahir bukan semata dari watak manusia, tetapi juga dari cara ruang komunikasi dibentuk. Arus informasi yang bergerak terlalu cepat membuat perhatian menjadi komoditas yang selalu diperebutkan. Dalam ritme seperti ini, kedalaman berpikir dan kedalaman merasa sama-sama sulit dipertahankan.

Maka desensitisasi sosial bukan sekadar kisah tentang masyarakat yang kehilangan belas kasih. Ia adalah gejala zaman ketika perhatian menjadi sumber daya yang terus dieksploitasi. Kepekaan tidak pernah hilang begitu saja, tetapi perlahan terkikis karena tidak diberi kesempatan untuk bertahan. Jika ingin memulihkan sensitivitas sosial, yang perlu dibangun bukan hanya ajakan agar orang “lebih peduli”, melainkan juga ruang yang memungkinkan empati berkembang menjadi pemahaman, pemahaman menjadi solidaritas, dan solidaritas menjelma menjadi tindakan yang berkelanjutan.

ancaman terbesar masyarakat modern bukanlah hilangnya kemampuan untuk berempati, melainkan hilangnya kesempatan untuk memelihara empati itu sendiri. Kepekaan hanya dapat tumbuh jika ada ruang untuk berhenti, merenung, dan memberi makna pada pengalaman. Ketika seluruh kehidupan dipercepat oleh logika informasi yang menuntut respons seketika, empati berubah menjadi reaksi sesaat, bukan komitmen yang bertahan. Barangkali krisis terbesar zaman ini bukan krisis informasi, melainkan krisis perhatian. Dan selama perhatian terus diperlakukan sebagai komoditas yang diperebutkan, solidaritas akan semakin sulit bertahan melampaui satu siklus berita.

Mungkin karena itu, ketika kita merasa masyarakat semakin kebal terhadap penderitaan, persoalan sebenarnya bukan terletak pada matinya hati. Yang semakin langka adalah kesempatan untuk benar-benar merasakan. Kita hidup dalam ritme yang terus menyita perhatian, memaksa setiap tragedi segera digantikan oleh tragedi berikutnya. Dalam dunia seperti itu, yang terkikis bukan hanya empati, melainkan juga ingatan kolektif dan kemampuan kita untuk bertahan bersama sebuah persoalan hingga menemukan jalan keluarnya.

Tugas kita bukan sekadar menjadi konsumen informasi yang bereaksi setiap kali sebuah tragedi menjadi viral, tetapi menjadi manusia yang mampu menjaga ingatan, merawat kepedulian, dan istiqamah dalam solidaritas meskipun sorotan publik telah berpindah ke isu lain. Barangkali di sinilah makna firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan itu dimulai dari hati yang terus dijaga agar tetap hidup, akal yang mampu memberi makna pada realitas, dan tindakan yang menjadikan belas kasih sebagai kerja sosial yang berkelanjutan.

Penulis Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga  Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

    Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah penting dalam tradisi Islam, khususnya selama bulan Ramadan. Ibadah ini dilakukan setelah shalat Isya dan merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Shalat Tarawih bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga merupakan sarana spiritual yang mendalam bagi umat Muslim. Melalui ibadah ini, individu memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, […]

  • Kolaborasi, Komitmen, dan Kepercayaan

    Kolaborasi, Komitmen, dan Kepercayaan

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Keberhasilan kerja organisasi tumbuh dari kerja kolektif yang tertata, bukan kerja segelintir orang, apalagi satu individu saja. Proses kerja selalu melibatkan banyak peran yang berada di ruang kerja yang berbeda. Setiap elemen punya posisi dan kontribusinya sendiri. Berbeda tetapi saling menopang. Kerja menjadi lebih efektif ketika setiap peran dijalankan secara proporsional dan tidak saling tumpang […]

  • OJK Diguncang Mundur Massal Pejabat: Alarm Keras dari Dalam Pengawas Keuangan

    OJK Diguncang Mundur Massal Pejabat: Alarm Keras dari Dalam Pengawas Keuangan

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 292
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diguncang pengunduran diri massal pejabat puncaknya. Sejumlah komisioner dan pejabat strategis OJK kompak mundur pada Jumat, 30 Januari 2026, di tengah tekanan berat yang melanda pasar modal nasional. Peristiwa ini memunculkan alarm keras dari dalam lembaga pengawas sektor jasa keuangan tersebut. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyatakan pengunduran […]

  • Pariwisata Bersinar: Bersih dari Narkoba dan Sampah

    Pariwisata Bersinar: Bersih dari Narkoba dan Sampah

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah mencanangkan gerakan Pariwisata Gorontalo Bersinar, sebuah kegiatan untuk mewujudkan destinasi wisata yang bersih dari narkoba dan bebas dari sampah. Kegiatan ini dirangkaikan dengan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) dan dilaksanakan bersamaan dengan Car Free Day di sepanjang Jalan Panjaitan, Kota Gorontalo, Minggu (6/7/2025). “Gerakan Pariwisata Bersih Tanpa Narkoba ini […]

  • DPD II Partai Golkar Maros Gelar Rapat Persiapan Musda XI Menuju Arah Baru Golkar Kabupaten Maros

    DPD II Partai Golkar Maros Gelar Rapat Persiapan Musda XI Menuju Arah Baru Golkar Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Maros– Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Maros mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kabupaten Maros yang direncanakan berlangsung pada 1 November 2026 mendatang. Persiapan tersebut dibahas melalui rapat panitia yang digelar untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan Musda berjalan lancar, tertib, dan sesuai dengan mekanisme organisasi Partai […]

  • Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu photo_camera 5

    Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 395
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dakwah merupakan salah satu ikhtiar penting dalam menghidupkan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, yaitu Islam yang membawa rahmat, kedamaian, dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan dakwah tidak boleh berhenti hanya pada ruang-ruang tertentu, tetapi harus terus berkembang hingga mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Dakwah juga perlu dilakukan dengan […]

expand_less