Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

  • account_circle Suaib Prawono
  • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
  • visibility 215
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam dinamika sosial Indonesia, satu hal yang menarik untuk diamati adalah bahwa suara-suara yang paling lantang menyuarakan kerukunan dan perdamaian justru lebih sering datang dari organisasi masyarakat sipil—terutama ormas keagamaan, sosial, dan komunitas-komunitas akar rumput—bukan dari pemerintah. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ia berakar pada perbedaan mendasar dalam cara berpikir, atau yang sering disebut sebagai mental model, antara institusi negara dan masyarakat sipil.

Pemerintah, sebagai entitas birokratis, cenderung bergerak berdasarkan logika anggaran. Ketika dana tersedia, program berjalan. Ketika anggaran tersendat, kegiatan pun tertunda. Ini bukan semata-mata soal kemauan, tetapi juga soal sistem dan prosedur yang mengikat. Di sisi lain, ormas keagamaan dan sosial sering kali bergerak dengan semangat voluntarisme. Mereka tidak menunggu anggaran cair atau proposal disetujui. Mereka bergerak karena panggilan nurani, karena rasa tanggung jawab moral terhadap masyarakat dan kemanusiaan. Tak jarang, para penggeraknya rela merogoh kocek pribadi demi memastikan kegiatan berjalan.

Inilah yang membedakan: sense of urgency dan sense of ownership yang tinggi dari masyarakat sipil. Mereka tidak hanya melihat perdamaian sebagai program, tetapi sebagai kebutuhan hidup bersama. Mereka tidak menunggu aba-aba dari atas, karena mereka hidup langsung di tengah masyarakat yang merasakan dampak konflik, ketegangan, dan perpecahan.

Kerja-kerja sosial yang dilakukan oleh komunitas dan ormas ini pun tidak berdiri sendiri. Kolaborasi menjadi semangat utama yang menopang gerakan mereka. Dalam banyak kasus, kita melihat bagaimana lintas komunitas, lintas agama, bahkan lintas ideologi bisa duduk bersama, merancang kegiatan bersama, dan saling menopang satu sama lain. Ini adalah kekuatan khas masyarakat sipil: fleksibel, adaptif, dan berbasis relasi sosial yang kuat.

Memang benar bahwa dana adalah faktor penting dalam menjalankan kegiatan. Namun, tidak sepenuhnya benar bahwa tanpa uang, gerakan tidak bisa berjalan. Ungkapan populer yang mengatakan “uang memang bukan segalanya, tetapi ia menentukan segalanya” mencerminkan cara pandang materialistik yang dominan dalam sistem birokrasi. Tapi bagi banyak aktivis sosial dan pegiat ormas, uang adalah urusan kedua. Yang utama adalah niat dan aksi. Bergerak dulu, urusan logistik bisa dicari sambil jalan. Prinsip ini yang membuat gerakan masyarakat sipil sering kali lebih gesit dan responsif terhadap isu-isu sosial.

Dalam konteks ini, kita bisa melihat bahwa kekuatan masyarakat sipil bukan hanya sebagai pelengkap dari peran negara, tetapi sebagai motor utama dalam membangun budaya damai. Mereka hadir bukan karena mandat, tetapi karena panggilan. Mereka tidak digerakkan oleh insentif, tetapi oleh empati. Dan justru karena itu, suara mereka lebih tulus, lebih menyentuh, dan lebih dipercaya oleh masyarakat.

Maka, jika hari ini kita mendengar seruan perdamaian lebih sering datang dari komunitas dan ormas, itu bukan karena pemerintah abai, tetapi karena masyarakat sipil memiliki cara kerja dan cara pandang yang berbeda. Dan perbedaan inilah yang justru memperkaya ekosistem sosial kita. Pemerintah dan masyarakat sipil tidak harus bersaing, tetapi bisa saling melengkapi. Negara dengan sumber dayanya, dan masyarakat sipil dengan semangatnya. Jika keduanya bersinergi, maka perdamaian bukan hanya wacana, tetapi kenyataan yang bisa dirasakan oleh semua.

  • Penulis: Suaib Prawono
  • Editor: Suaib Prawono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gusnar Optimistis, Meski Masyarakat Belum Paham, Pidana Kerja Sosial Tetap Jalan

    Gusnar Optimistis, Meski Masyarakat Belum Paham, Pidana Kerja Sosial Tetap Jalan

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyatakan dukungan penuh terhadap penerapan Pidana Kerja Sosial yang direncanakan mulai diberlakukan pada tahun 2026, meski ia menyadari masih banyak masyarakat yang belum memahami hukum baru ini. Dukungan tersebut disampaikan saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Daerah, Kejaksaan, dan Jamkrindo di Aula Rumah Jabatan Gubernur Gorontalo, Senin (22/12/2025). […]

  • Status Lolos Dianulir, DPR Murka: Polemik Talent Scouting Universitas Indonesia Diprotes Publik

    Status Lolos Dianulir, DPR Murka: Polemik Talent Scouting Universitas Indonesia Diprotes Publik

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 380
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Polemik pengumuman penerimaan mahasiswa baru jalur Talent Scouting di Universitas Indonesia memicu kemarahan publik sekaligus sorotan tajam dari parlemen. Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyatakan kekecewaan mendalam setelah sejumlah calon mahasiswa yang semula dinyatakan lolos, tiba-tiba dianulir statusnya hanya dalam hitungan jam. Insiden bermula dari pengumuman hasil seleksi yang dirilis […]

  • Adab di Atas Algoritma

    Adab di Atas Algoritma

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Ahmad Kadir
    • visibility 503
    • 0Komentar

    Zaman terus bergerak. Teknologi melaju tanpa menunggu siapa pun. Informasi datang bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda untuk berpikir. Apa yang dulu dibahas berjam-jam di pesantren, melalui kitab, halaqah-halaqah, dan bimbingan guru namun hari ini kerap hadir dalam potongan video berdurasi tiga puluh detik. Cepat, ringkas, tetapi sering kali tidak utuh. Di tengah arus itu, santri hidup […]

  • Kapitalisme Modern Menghendaki Kita Egois dan Rapuh

    Kapitalisme Modern Menghendaki Kita Egois dan Rapuh

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 234
    • 0Komentar

    Benteng penangkalnya adalah kebersamaan yang organik, melalui praktik-praktik hidup yang tidak transaksional, tapi didalamnya ada redistribusi kasih sayang, melalui relasi dan ritual yang belum disentuh oleh logika akumulasi. Sungai tidak meminum airnya sendiri. Pohon tidak memakan buah yang tumbuh di dahannya. Matahari tidak menikmati cahaya yang dipancarkannya. Bunga pun tidak mencium harum yang disebarkannya. Alam […]

  • Tumbilotohe: Cahaya Tradisi Gorontalo Menyambut Idulfitri

    Tumbilotohe: Cahaya Tradisi Gorontalo Menyambut Idulfitri

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Di Gorontalo, ada sebuah tradisi yang sarat dengan nilai adat dan spiritualitas Islam, yakni tumbilotohe. Tradisi ini digelar setiap malam ke-27 Ramadan dan dikenal sebagai malam pemasangan lampu oleh masyarakat di berbagai sudut kota dan desa. Konon, tradisi tumbilotohe telah ada sejak abad […]

  • Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

    Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Sebuah negara bisa merdeka secara politik, memiliki bendera, konstitusi, dan pemerintahan sendiri. Namun, kemerdekaan tidak selalu berarti rakyatnya terbebas dari praktik-praktik yang dahulu menjadi ciri kolonialisme. Penjajahan memang telah berakhir sebagai sistem pemerintahan, tetapi cara kerjanya bisa tetap hidup dalam bentuk yang lebih halus. Ia berpindah dari medan perang ke ruang-ruang kebijakan, dari moncong senapan […]

expand_less