Auditor Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 22
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nah, dalam kehidupan manusia, Ramadhan seperti periode interim audit sebelum laporan tahunan diserahkan pada hari pengadilan akhirat. Bedanya, auditor langit tidak perlu melakukan sampling. Semua diperiksa. Tidak ada istilah materialitas. Semua dihitung. Tidak ada window dressing. Semua terlihat.
Kalau auditor kantor menemukan “creative accounting”, auditor langit justru menemukan “creative excuses” dari manusia. Misalnya: seseorang berpuasa seharian, tetapi sepanjang hari juga sibuk bergosip. Secara fikih puasanya sah, tetapi secara spiritual mungkin sudah masuk kategori laporan keuangan yang wajar dengan pengecualian.
Dalam tradisi humor pesantren, sering ada cerita seperti ini. Seorang santri bertanya kepada kiai, “Kiai, kalau pahala dicatat malaikat, apakah dosa juga dicatat?”
Kiai menjawab santai, “Dicatat juga.”
Santri bertanya lagi, “Kalau kita tobat bagaimana?”
Kiai tersenyum, “Itu seperti koreksi jurnal. Yang penting sebelum tutup buku.”
Humor seperti ini sederhana, tetapi sebenarnya mengandung filosofi akuntansi yang sangat dalam. Dalam akuntansi, kesalahan pencatatan masih bisa diperbaiki melalui jurnal penyesuaian. Dalam kehidupan spiritual, mekanisme itu bernama taubat.
Ramadhan adalah periode terbaik untuk melakukan audit internal diri. Kalau perusahaan punya internal auditor, manusia punya hati nurani. Jika auditor eksternal memeriksa laporan keuangan, maka Ramadhan mengajak kita memeriksa laporan amal selama sebelas bulan sebelumnya.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar