Auditor Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 23
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun di tengah keseriusan itu, tradisi humor ala pesantren selalu mengingatkan kita agar tidak menjalani agama dengan wajah terlalu tegang.
Konon, jika malaikat benar-benar menjadi auditor seperti auditor kantor akuntan publik, mungkin manusia sudah lama mendapat opini “tidak wajar”. Untungnya, Tuhan bukan hanya Maha Menghitung, tetapi juga Maha Pengampun.
Dalam logika spiritual, rahmat Tuhan sering kali lebih besar daripada kesalahan manusia. Sehingga laporan amal manusia kadang masih mendapat opini yang paling kita harapkan: diterima dengan rahmat.
Karena itu, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan rekonsiliasi—antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan sesama, dan antara manusia dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin di situlah letak humor paling indah dalam kehidupan spiritual. Kita semua sedang diaudit. Tetapi auditor langit juga membuka peluang revisi. Selama buku kehidupan belum benar-benar ditutup.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar