Breaking News
light_mode
Trending Tags

Beban Langit

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 52
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadhan selalu datang dengan dua laporan keuangan: yang satu laporan arus kas, yang lain laporan arus “ke atas”. Yang pertama bikin kepala pening, yang kedua bikin hati bening. Di antara keduanya, manusia sering keliru membedakan mana beban operasional, mana beban langit.

Dalam akuntansi, kita mengenal beban (expense) sebagai pengurang laba. Listrik naik, harga cabai melonjak, THR keluar, semua dicatat sebagai beban. Tapi dalam Ramadhan, ada beban yang justru menambah “laba spiritual”: sahur meski ngantuk, menahan marah saat macet menjelang buka, dan tersenyum ketika dompet mulai kurus karena sedekah. Ini yang saya sebut sebagai beban langit—beban yang dicatat bukan di laporan laba rugi, tetapi di “neraca takwa”.

Orang sering panik ketika saldo rekening menipis di pekan ketiga Ramadhan. Padahal, bisa jadi itu tanda likuiditas akhirat sedang menguat. Dalam logika dunia, beban adalah sesuatu yang harus ditekan. Dalam logika langit, beban justru diuji: seberapa ikhlas ia ditanggung?

Humor ala Nahdlatul Ulama—dan tentu saja kita teringat gaya khas Gus Dur—mengajarkan bahwa hidup ini jangan terlalu tegang. Gus Dur pernah mengingatkan, Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela itu orang yang lapar. Dalam bahasa akuntansi, jangan sampai kita sibuk mengaudit dalil, tapi lupa mengaudit empati.

Ramadhan adalah momentum rekonsiliasi antara neraca dunia dan neraca langit. Kita rajin mencatat cicilan, tapi jarang mencatat cicilan dosa. Kita disiplin menghitung depresiasi kendaraan, tapi lupa menghitung depresiasi kesabaran. Padahal, dalam perspektif akuntansi moral, penyusutan akhlak jauh lebih berbahaya daripada penyusutan aset tetap.

Beban langit itu unik. Ia tidak bisa dinegosiasi dengan restrukturisasi kredit. Ia tidak tunduk pada PSAK revisi terbaru. Ia melekat pada integritas. Misalnya, saat pedagang menaikkan harga berlebihan dengan alasan “momentum Ramadhan”. Secara akuntansi, margin naik. Secara langit, margin bisa jadi minus.

Kita sering salah paham: seolah-olah puasa itu beban fisik semata. Padahal, yang diuji adalah pengendalian. Dalam teori pengendalian internal, ada tiga hal: lingkungan pengendalian, penilaian risiko, dan aktivitas pengendalian. Ramadhan melatih semuanya. Lingkungan pengendalian dibangun lewat suasana ibadah. Risiko diidentifikasi lewat godaan. Aktivitas pengendalian dilakukan lewat sabar dan syukur.

Lucunya, banyak orang lebih takut pada audit pajak daripada audit malaikat. Padahal yang satu mungkin hanya berujung denda, yang lain berujung penyesalan abadi. Di sinilah humor menjadi jembatan kesadaran. Kita tertawa bukan untuk meremehkan, tapi untuk merenungkan.

Beban langit juga hadir dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah. Secara teknis, itu pengeluaran. Secara teologis, itu investasi. Dalam dunia bisnis, investor mencari return on investment. Dalam Ramadhan, orang beriman mencari return on intention. Niat yang lurus adalah kapital utama. Tanpa niat, sedekah hanya transaksi. Dengan niat, ia menjadi transformasi.

Ada yang berkata, “Ramadhan ini berat.” Saya jawab, “Berat di badan atau berat di hati?” Kalau berat di badan, itu wajar. Kalau berat di hati, mungkin kita terlalu banyak memikul beban dunia dan terlalu sedikit memikul beban langit.

Sebagai akademisi akuntansi, saya melihat Ramadhan sebagai laboratorium etika. Di kampus kita belajar standar, di masjid kita belajar kesadaran. Standar tanpa kesadaran melahirkan kepatuhan formal. Kesadaran tanpa standar melahirkan niat baik yang tak terstruktur. Ramadhan menyatukan keduanya: disiplin dan ketulusan.

Humor ala NU mengajarkan keseimbangan. Jangan terlalu kaku sampai lupa tertawa, jangan terlalu santai sampai lupa taat. Beban langit bukan untuk dikeluhkan, tetapi untuk dirayakan. Ia adalah tanda bahwa kita masih dipercaya memikul amanah.

Pada akhirnya, laporan keuangan terbaik bukan yang diaudit kantor akuntan publik, tetapi yang diaudit oleh nurani. Ketika Ramadhan usai, pertanyaannya bukan berapa banyak uang yang tersisa, tetapi berapa banyak ego yang terkikis.

Jika beban dunia membuat kita menunduk karena lelah, biarlah beban langit membuat kita menunduk karena sujud. Dan di antara keduanya, semoga kita tetap bisa tersenyum—karena dalam senyum yang tulus, ada laba yang tak tercatat, tetapi sangat terasa.

Ramadhan mengajarkan bahwa tidak semua beban harus dihindari. Ada beban yang justru mengangkat derajat. Itulah beban langit: ringan dijalani dengan ikhlas, berat ditinggalkan tanpa kesadaran.

Selamat memikul beban yang benar. Karena kadang, yang membuat hidup terasa berat bukanlah banyaknya beban, tetapi salah alamatnya tujuan.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Didesak Massa, KemenHAM Janji Bentuk Tim Tindaklanjuti Penangkapan 11 Warga Maba Sangaji

    Didesak Massa, KemenHAM Janji Bentuk Tim Tindaklanjuti Penangkapan 11 Warga Maba Sangaji

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Aliansi Masyarakat Adat menggelar aksi unjuk rasa mendesak Kementerian HAM (KemenHAM) untuk bersikap tegas atas penangkapan 11 warga Maba Sangaji oleh Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara. Massa juga menuntut dihentikannya aktivitas PT Position yang dinilai merusak wilayah adat dan memicu konflik. Senin, 26 Mei 2025. Aksi dimulai dari titik kumpul menuju kantor KemenHAM wilayah kerja […]

  • PBB Maros Capai 84 Persen, Camba Tertinggi; Moncongloe Terendah Akibat Kendala Sertifikat

    PBB Maros Capai 84 Persen, Camba Tertinggi; Moncongloe Terendah Akibat Kendala Sertifikat

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 78
    • 0Komentar

    nulondilon.com, Maros – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Maros menggelar rapat evaluasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) per 26 November 2025. Rapat yang dipimpin Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, digelar di ruang rapatnya, Senin (1/12/2025), dan memaparkan capaian terkini realisasi PBB-P2 di 14 kecamatan. Hingga akhir November, realisasi penerimaan PBB-P2 Maros […]

  • Dunia Berkabung: Paus Fransiskus, Simbol Perdamaian Lintas Agama, Telah Wafat

    Dunia Berkabung: Paus Fransiskus, Simbol Perdamaian Lintas Agama, Telah Wafat

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Dunia kembali berselimut duka. Sosok besar yang selama ini menjadi simbol perdamaian dan toleransi lintas agama, Paus Fransiskus, telah berpulang. Kabar wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini menggema hingga ke seluruh penjuru dunia, meninggalkan jejak haru di hati banyak orang—termasuk Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Dalam pernyataannya kepada media, Nasaruddin menyampaikan […]

  • PKC PMII Gorontalo Bersama PWNU dan PMI Gelar Donor Darah Jelang HUT RI ke-80

    PKC PMII Gorontalo Bersama PWNU dan PMI Gelar Donor Darah Jelang HUT RI ke-80

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gorontalo bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Gorontalo menggelar aksi donor darah di Kantor PWNU Gorontalo, Sabtu (16/8/2025). Ketua PKC PMII Gorontalo, Windy Olivia Dawa, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar […]

  • UU Pemilu Digugat Lagi, Ambang Batas Parlemen Dinilai Inkonsitusional

    UU Pemilu Digugat Lagi, Ambang Batas Parlemen Dinilai Inkonsitusional

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 115
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) kembali digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kali ini, gugatan diarahkan pada ketentuan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) yang dinilai berpotensi inkonstitusional dan mencederai prinsip kedaulatan rakyat. Permohonan pengujian materiil diajukan oleh Koalisi Kawal Pemilu dan Demokrasi Indonesia yang diwakili Miftahol Arifin selaku Ketua […]

  • Kampung Adalah Awal Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

    Kampung Adalah Awal Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 411
    • 0Komentar

    Gorontalo, NULONDALO.com – Hingga saat ini di Provinsi Gorontalo telah ada 18 desa yang masuk dalam program kampung iklim (Proklim), belum banyak namun pemerintah daerah bertekad untuk menambahnya secara bertahap. Untuk dapat menjadi kampung Proklim ada sejumlah syarat dan yang utama adalah desa tersebut sudah melakukan aksi dan mitigasi bencana selama 2 tahun. Pekerjaan untuk […]

expand_less