Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bersuara

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 115
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dunia maya kembali bergeliat. Kali ini di sebuah ajang cerdas cermat setingkat SMA terjadi peristiwa. Boleh jadi, peristiwa seperti ini sudah sering terjadi, tetapi baru kali ini terblow up.  Salah seorang peserta  dari kelompok C menginterupsi keputusan juri yang memberinya nilai minus untuk jawaban yang sama yang justru diberi nilai plus kepada kelompok lain. Sang peserta mencoba menyampaikan keberatannya. Ia meminta penjelasan. Ia mempertanyakan konsistensi keputusan.

Namun pada akhirnya, ia tetap harus mengalah. Otoritas juri berdiri terlalu tinggi untuk diganggu gugat. Apalagi sang juri menyalahkan artikulasi peserta. Artinya yang salah adalah peserta, bukan cara juri mendengar. Padahal, rekaman menunjukkan artikulasi peserta sudah tepat. Inilah yang membuat netizen Indonesia bereaksi.

Saya tidak ingin masuk ke dalam polemik siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya juga tidak sedang ingin menghakimi juri atau membela peserta tertentu. Yang ingin saya soroti adalah keberanian seorang anak untuk bersuara ketika merasa diperlakukan tidak adil. Dalam banyak situasi, keberanian semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan menjawab pertanyaan dengan benar.

Kita hidup dalam budaya pendidikan yang sejak lama menempatkan kepatuhan sebagai ukuran utama. Anak didik dianggap baik ketika diam, mendengar, mengikuti instruksi, dan menerima keputusan tanpa banyak bertanya. Ruang kelas sering kali dibangun dengan pola satu arah: guru berbicara, murid menerima. Dalam situasi seperti itu, suara kritis perlahan dianggap sebagai ancaman terhadap keteraturan. Anak-anak akhirnya belajar satu hal penting: lebih aman diam daripada mempertanyakan.

Di titik inilah pemikiran Paulo Freire menjadi relevan. Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Freire mengkritik model pendidikan yang ia sebut sebagai banking education. Pendidikan model ini memposisikan murid seperti celengan kosong yang harus diisi pengetahuan oleh guru. Guru menjadi subjek yang mengetahui segalanya, sementara murid menjadi objek penerima informasi. Dalam relasi seperti itu, murid tidak dibiasakan berpikir kritis terhadap realitas. Mereka hanya dilatih menerima.

Freire percaya bahwa pendidikan semestinya menjadi proses pembebasan, bukan penjinakan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang sadar terhadap situasi di sekitarnya dan berani berdialog dengan kekuasaan. Bagi Freire, dialog bukan sekadar percakapan biasa, tetapi pengakuan bahwa setiap manusia memiliki suara dan pengalaman yang layak didengar. Ketika suara murid dibungkam hanya karena berhadapan dengan otoritas, maka pendidikan kehilangan salah satu fungsi terpentingnya: memanusiakan manusia.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mobil Damkar Sempat Terhambat Parkiran Motor Warga Saat Kebakaran di Kompleks Asrama Haji

    Mobil Damkar Sempat Terhambat Parkiran Motor Warga Saat Kebakaran di Kompleks Asrama Haji

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Proses pemadaman kebakaran rumah di Kelurahan Bulotadaa Barat, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo pada Minggu (15/3/2026) dini hari sempat mengalami kendala. Mobil pemadam kebakaran milik BPBD Kota Gorontalo dilaporkan kesulitan menuju titik api karena akses jalan dipenuhi kendaraan milik warga. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi di Perumahan Wahana Ceria yang berada di kawasan kompleks Asrama […]

  • PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

    PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 299
    • 0Komentar

    (Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Kisruh di PBNU bukan hal mengejutkan. NU sejak dulu hidup dengan perdebatan. Organisasi sebesar ini wajar kalau penuh pandangan, ego, dan aspirasi. Tapi kisruh kali ini berbeda: ia terjadi di era digital—era ketika gesekan kecil langsung berubah jadi tontonan nasional sebelum ada kesempatan […]

  • Tantangan Pemerintahan dalam Mengatasi Ketimpangan Sosial dan Ekonomi

    Tantangan Pemerintahan dalam Mengatasi Ketimpangan Sosial dan Ekonomi

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Yenti Sofia Marlita
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Ketimpangan sosial dan ekonomi hingga saat ini masih menjadi persoalan utama dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Salah satu isu yang kerap menjadi sorotan adalah kurang tepat penyaluran bantuan sosial (bansos).program bansos sebenarnya dirancang untuk membantu kelompok masyarakat yang kurang mampu agar dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Namun dalam praktiknya, masih sering terjadi ketidaksesuaian antara penerima […]

  • Transparansi APBN di Era Digital: Menyeimbangkan Keterbukaan Data dan Literasi Publik

    Transparansi APBN di Era Digital: Menyeimbangkan Keterbukaan Data dan Literasi Publik

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Isla Aulia'i Wasi Suhada
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Di era digital yang kini mendominasi kehidupan sehari-hari, transparansi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi fondasi utama bagi kepercayaan publik terhadap pemerintahan. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen serius melalui berbagai inisiatif digital, seperti portal Open Data APBN di situs Kementerian Keuangan dan aplikasi mobile yang menyediakan akses langsung ke rincian anggaran. Data ini mencakup […]

  • Relevansi Kritik Pendidikan ala Paulo Freire

    Relevansi Kritik Pendidikan ala Paulo Freire

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Multazam. R
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Indikator utama kemajuan sebuah bangsa adalah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Negara dengan sistem pendidikan yang baik, umumnya memberikan jaminan terhadap mutu proses pembelajaran, masa depan murid, dan menciptakan SDM yang inovatif serta kritis, yang nantinya akan menopang pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial. Di tengah himpitan arus globalisasi yang bebas nilai, pendidikan di […]

  • Bareskrim Geledah Tiga Lokasi di Jatim, Bongkar Dugaan TPPU Tambang Emas Ilegal Rp25,8 Triliun

    Bareskrim Geledah Tiga Lokasi di Jatim, Bongkar Dugaan TPPU Tambang Emas Ilegal Rp25,8 Triliun

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 203
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah tiga lokasi di wilayah Surabaya dan Nganjuk, Jawa Timur, terkait pengembangan kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil tambang emas ilegal. Salah satu lokasi yang digeledah adalah Toko Emas Semar di Kabupaten Nganjuk. Direktur Tipideksus Bareskrim Polri, Ade Safri Simanjuntak, mengatakan […]

expand_less