Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bersuara

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 93
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Apa yang terjadi dalam peristiwa lomba tersebut mungkin terlihat sederhana. Hanya soal nilai minus dan nilai plus. Hanya soal keputusan juri. Namun dalam skala yang lebih luas, peristiwa semacam ini memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja di ruang pendidikan. Ada pihak yang memiliki legitimasi menentukan benar dan salah, sementara pihak lain diharapkan menerima keputusan tanpa banyak tanya. Ketika keberatan dianggap sebagai bentuk pembangkangan, pendidikan perlahan berubah menjadi ruang disiplin, bukan ruang berpikir.

Ironisnya, kita sering memuji kreativitas dan berpikir kritis dalam slogan-slogan pendidikan, tetapi gagap ketika kritik itu benar-benar muncul di hadapan kita. Kita ingin anak-anak berani berbicara tentang keadilan, tetapi tidak nyaman ketika mereka mempertanyakan keputusan orang dewasa. Kita mengajarkan demokrasi di buku pelajaran, tetapi praktik sehari-hari masih dipenuhi budaya hierarkis yang sulit menerima koreksi.

Tentu, bersuara tidak selalu berarti benar. Kritik juga bisa keliru. Namun yang jauh lebih berbahaya adalah ketika anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa suara mereka tidak penting. Sebab dari situlah lahir generasi yang terbiasa diam terhadap ketidakadilan. Mereka mungkin menjadi pintar secara akademik, tetapi kehilangan keberanian moral untuk mempertanyakan sesuatu yang tidak masuk akal.

Freire pernah menekankan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ia bisa menjadi alat pembebasan, tetapi juga bisa menjadi alat pelanggeng dominasi. Ketika ruang pendidikan hanya melatih kepatuhan, maka yang lahir adalah manusia-manusia yang terbiasa tunduk pada otoritas. Sebaliknya, ketika pendidikan memberi ruang dialog, keberanian bertanya, dan kesempatan menguji keputusan, maka yang lahir adalah manusia yang sadar akan martabat dirinya.

Karena itu, saya melihat peristiwa kecil tersebut bukan sekadar keributan lomba. Saya melihatnya sebagai tanda bahwa masih ada anak-anak yang berani bersuara di tengah budaya yang sering kali lebih menyukai kepatuhan daripada keberanian berpikir. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh klaim kebenaran, suara-suara yang tetap waras, reflektif, dan bertanggung jawab justru menjadi hal yang paling penting untuk dijaga.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramai Dikritik, Ini Penjelasan KPK soal Tahanan Rumah Yaqut Cholil Qoumas

    Ramai Dikritik, Ini Penjelasan KPK soal Tahanan Rumah Yaqut Cholil Qoumas

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 293
    • 0Komentar

    “Dalam sejarah KPK, tidak pernah ada pengistimewaan seseorang seperti ini, terlebih tanpa alasan khusus seperti kebutuhan perawatan kesehatan,” ujar Lakso. Ia menambahkan, kebijakan tersebut berpotensi mencederai prinsip equality before the law, terlebih status tersangka Yaqut telah dinyatakan sah setelah KPK memenangkan gugatan praperadilan. Menurut Lakso, status penahanan menjadi krusial untuk mencegah potensi intervensi dalam penanganan […]

  • Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Terkait penanganan sejumlah kasus korupsi di Kota Gorontalo yang dinilai lamban, ratusan massa aksi seruduk Kantor Wali Kota Gorontalo, pada Senin (17/3/2025). Pemerintahan Wali Kota Adhan Dambea dan Wakil Wali Kota Indra Gobel diminta untuk tidak tinggal diam dalam penanganan kasus korupsi di Kota Gorontalo yang telah merugikan negara ratusan rupiah. Meski sibuk dalam penanganan […]

  • Ronaldo ke Indonesia Bukan di Undang PSSI, Lantas Siapa?

    Ronaldo ke Indonesia Bukan di Undang PSSI, Lantas Siapa?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Megabintang Al Nassr, Cristiano Ronaldo, menerima keputusan nekat timnya sebelum persiapan ke Indonesia. Kabar kedatangan Cristiano Ronaldo ke Indonesia diiringi dengan kontroversi Al Nassr. Cristiano Ronaldo dikabarkan akan tiba di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk kegiatan sosial. Ia diundang oleh Dr. Susi Marya Kapitana selaku pemimpin Yayasan Graha Kasih. Rencananya, mantan bintang Real Madrid […]

  • Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo akan menggelar Festival Green Tumbilotohe yang akan dipusatkan di Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo. Sejumlah lomba pada Festival Green Tumbilotohe tersebut diantaranya lomba Koko’o, Vokalia Religi, Lomba Hamparan lampu antar kecamatan, lomba jalan paling tumbilotohe, Doorprise grebek rumah dan Festival ribuan lampu. Kepada bakukabar.id, Kepala Dinas Pariwitasa, Pemuda dan Olahraga (Disparpora), […]

  • DPP Geninusa Bidang pendidikan dan ekonomi Soroti Uang komite/SPP Di SMA Negeri Sumatra Utara

    DPP Geninusa Bidang pendidikan dan ekonomi Soroti Uang komite/SPP Di SMA Negeri Sumatra Utara

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Dugaan pungutan liar (pungli) di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Sumatera Utara kembali mencuat. Hal ini disampaikan oleh Nirwan Pumah Siregar, pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GENINUSA bidang pendidikan dan ekonomi, yang menyoroti praktik pungutan yang berkedok sukarela namun bersifat wajib. “Pendidikan gratis di sekolah negeri sudah diatur dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur, […]

  • Setelah Khamenei Wafat, Nama Hassan Rouhani Kembali Menguat dalam Politik Iran

    Setelah Khamenei Wafat, Nama Hassan Rouhani Kembali Menguat dalam Politik Iran

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 205
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kematian Ali Khamenei memicu dinamika baru dalam politik Iran. Di tengah spekulasi mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya, nama Hassan Rouhani kembali mencuat dan mulai diperbincangkan di kalangan elite politik maupun pengamat internasional. Rouhani dikenal sebagai salah satu tokoh moderat dalam struktur Republik Islam Iran. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Iran […]

expand_less