Bersuara
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
- visibility 43
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Apa yang terjadi dalam peristiwa lomba tersebut mungkin terlihat sederhana. Hanya soal nilai minus dan nilai plus. Hanya soal keputusan juri. Namun dalam skala yang lebih luas, peristiwa semacam ini memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja di ruang pendidikan. Ada pihak yang memiliki legitimasi menentukan benar dan salah, sementara pihak lain diharapkan menerima keputusan tanpa banyak tanya. Ketika keberatan dianggap sebagai bentuk pembangkangan, pendidikan perlahan berubah menjadi ruang disiplin, bukan ruang berpikir.
Ironisnya, kita sering memuji kreativitas dan berpikir kritis dalam slogan-slogan pendidikan, tetapi gagap ketika kritik itu benar-benar muncul di hadapan kita. Kita ingin anak-anak berani berbicara tentang keadilan, tetapi tidak nyaman ketika mereka mempertanyakan keputusan orang dewasa. Kita mengajarkan demokrasi di buku pelajaran, tetapi praktik sehari-hari masih dipenuhi budaya hierarkis yang sulit menerima koreksi.
Tentu, bersuara tidak selalu berarti benar. Kritik juga bisa keliru. Namun yang jauh lebih berbahaya adalah ketika anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa suara mereka tidak penting. Sebab dari situlah lahir generasi yang terbiasa diam terhadap ketidakadilan. Mereka mungkin menjadi pintar secara akademik, tetapi kehilangan keberanian moral untuk mempertanyakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Freire pernah menekankan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ia bisa menjadi alat pembebasan, tetapi juga bisa menjadi alat pelanggeng dominasi. Ketika ruang pendidikan hanya melatih kepatuhan, maka yang lahir adalah manusia-manusia yang terbiasa tunduk pada otoritas. Sebaliknya, ketika pendidikan memberi ruang dialog, keberanian bertanya, dan kesempatan menguji keputusan, maka yang lahir adalah manusia yang sadar akan martabat dirinya.
Karena itu, saya melihat peristiwa kecil tersebut bukan sekadar keributan lomba. Saya melihatnya sebagai tanda bahwa masih ada anak-anak yang berani bersuara di tengah budaya yang sering kali lebih menyukai kepatuhan daripada keberanian berpikir. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh klaim kebenaran, suara-suara yang tetap waras, reflektif, dan bertanggung jawab justru menjadi hal yang paling penting untuk dijaga.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar