Breaking News
light_mode
Trending Tags

Catatan Kecil Seorang Anak PNS

  • account_circle Husin Ali
  • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
  • visibility 396
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, menyampaikan amanah kepeduliaan Walikota Gorontalo Bapak H. Adhan Dambea dan masyarakat dari Kota Gorontalo untuk saudara-saudara kita yang dilanda bencana banjir bandang disana.

Ia adalah Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Gorontalo, yang akrab disapa Mayor Teddy Gorontalo, atau lebih hangat dikenal sebagai Om Dandy. Profesi kami sejalur, irama hidup kami pun hampir sama. Di ruang tunggu itu, kami duduk berdampingan—lelah yang serupa, pikiran yang penuh, dan cerita hidup yang nyaris identik.

Tanpa rencana, obrolan kami mengalir ke satu tema yang sama: keluarga, anak-anak, dan waktu yang sering kali terasa tak pernah cukup. Di antara diskusi tentang logistik, medan bencana, dan koordinasi lintas daerah, terselip percakapan paling personal—tentang rumah yang ditinggalkan sementara, dan keluarga yang selalu menunggu dengan doa.

Ada jeda sunyi di antara kami. Jeda yang biasanya diisi dengan rindu. Rindu pada anak-anak. Rindu pada rumah. Dan rindu pada istri tercinta yang, dengan caranya sendiri, kadang menyampaikan protes paling lembut: “Waktu kita kok makin sedikit ya…”

Protes itu tidak pernah keras. Tidak menyalahkan. Justru karena kelembutannya, ia terasa jauh lebih dalam. Ia bukan penolakan terhadap pengabdian, melainkan pengingat bahwa di balik tugas kemanusiaan, ada keluarga yang juga membutuhkan kehadiran. Namun sebagai orang tua, sebagai aparatur negara, ada satu hal yang seolah menjadi kesepakatan tak tertulis: kata lelah tidak boleh diucapkan di depan anak-anak. Bukan karena kita tidak lelah, tetapi karena keluarga membutuhkan keteguhan, bukan keluhan.

Di sanalah ingatan saya kembali pada satu pertanyaan kecil yang kerap muncul di rumah:
“Papa nggak capek?”

Pertanyaan polos itu, jika dilihat dari kacamata antropologi pendidikan karakter, bukan sekadar empati anak. Ia adalah hasil dari pengamatan panjang. Anak-anak membaca dunia melalui perilaku orang tuanya. Mereka melihat ayah atau ibu berangkat pagi, pulang dengan sisa tenaga, kadang membawa cerita bencana, rapat, dan tanggung jawab yang tak selesai di jam kantor. Dari situlah mereka belajar—diam-diam—tentang tanggung jawab, keteguhan, dan arti berdiri tegak di tengah tekanan.

Keluarga adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah kurikulum hidupnya. Anak tidak belajar karakter dari nasihat panjang, tetapi dari sikap orang tuanya dalam menghadapi lelah. Ketika orang tua tetap berdiri, tetap bekerja, tetap mengabdi—anak belajar bahwa hidup bukan soal menghindari capek, melainkan tentang menemukan alasan untuk tetap kuat.

Sebagai orang tua, sesungguhnya kita memang diciptakan untuk anak-anak kita. Untuk putera-puteri tercinta. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi untuk menyiapkan masa depan mereka. Karena itu, bekerja keras bukan sekadar kewajiban struktural, melainkan bentuk cinta yang paling nyata. Berdiri tegak di tengah tekanan pekerjaan adalah cara sunyi seorang orang tua berkata: “Kamu boleh bermimpi besar, Papa dan Mama yang akan menahan lelahnya karena Allah.”

Dalam perspektif antropologi, empati anak lahir dari pengalaman bersama. Anak yang bertanya “Papa nggak capek?” sesungguhnya sedang belajar merawat perasaan orang lain. Ia tumbuh dalam rumah yang mungkin tak selalu penuh waktu, tetapi penuh makna. Ia memahami bahwa pengabdian kadang menuntut jarak, tetapi tidak pernah menghapus cinta.

Yang sering luput kita sadari, bukan ketidakhadiran fisik yang paling membekas, melainkan ketiadaan makna. Ketika orang tua mampu menjelaskan bahwa lelah ini adalah bagian dari tanggung jawab, bagian dari pengabdian, bagian dari doa—anak akan tumbuh dengan orientasi hidup yang kuat. Ia belajar bahwa kesuksesan bukan hadiah, melainkan buah dari keteguhan banyak orang, terutama orang tuanya.

Tulisan kecil ini lahir dari ruang tunggu bandara, dari obrolan dua orang PNS, dari rindu pada keluarga, dan dari lembutnya protes seorang istri tercinta. Ia ingin menyapa siapa saja yang membacanya: para orang tua, para aparatur, para pengabdi senyap. Bahwa di balik setiap tugas negara, ada anak-anak yang sedang belajar tentang hidup dari cara kita menjalani lelah.

Maka, jika suatu hari seorang anak bertanya, “Papa nggak capek?”

Jawablah dengan senyum dan keyakinan. Katakan bahwa capek itu ada, tetapi cinta dan tanggung jawab jauh lebih besar. Karena pada akhirnya, orang tua memang diciptakan untuk anak-anaknya—untuk memastikan mereka tumbuh kuat, berkarakter, dan suatu hari memahami bahwa di balik langkah sukses mereka, ada orang tua yang memilih tetap berdiri tegak, tanpa mengeluh, demi masa depan putera-puterinya.

Penulis : Antropolog Gorontalo dan Wakil Sekretaris Tandfidziyah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Husin Ali
  • Editor: Husin Ali

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Kerusakan terumbu karang menjadi ancaman nyata bagi ekosistem laut, Salah satunya di dasar laut yang berada di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Barrier Reef (karang penghalang) yang berada disana sudah menjadi patahan karang mati yang kehilangan fungsinya sebagai rumah bagi ribuan biota laut. Kerusakan ini akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan perubahan […]

  • Proposal yang Menodai Idealisme: Saat PKC PMII Gorontalo Gagal Membaca Luka Pohuwato

    Proposal yang Menodai Idealisme: Saat PKC PMII Gorontalo Gagal Membaca Luka Pohuwato

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Langkah PKC PMII Gorontalo yang diketahui mengajukan proposal kegiatan ke PT. Pani Gold Project (PT. PETS) menimbulkan gelombang kekecewaan dari berbagai kalangan, termasuk dari PC PMII Kota Gorontalo sendiri. Bukan semata soal administratif, tetapi soal nurani — tentang arah perjuangan dan nilai dasar yang menjadi napas organisasi mahasiswa Islam Indonesia: keberpihakan kepada rakyat kecil. PT. […]

  • Jaringan Gusdurian Menilai Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Pengkhianatan terhadap Demokrasi

    Jaringan Gusdurian Menilai Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto Bentuk Pengkhianatan terhadap Demokrasi

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Momentum Hari Pahlawan yang seharusnya menjadi refleksi nilai-nilai perjuangan bangsa justru menimbulkan dilema nasional. Di tengah peringatan 10 November 2025, muncul polemik tajam atas keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto, sosok yang selama 32 tahun memimpin Indonesia di bawah rezim Orde Baru yang otoriter. Pemberian gelar tersebut menuai kritik keras dari […]

  • MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Gorontalo kembali mempererat sinergi untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini terlihat dalam rapat koordinasi yang digelar di Ruang Dulohupa, Kantor Gubernur Gorontalo, Rabu (2/7/2025). Program MBG merupakan salah satu program prioritas nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, dalam rangka membangun generasi sehat dan unggul menuju […]

  • Bupati Maros Tinjau RS Jantung Paramarta Bandung, Percepat Digitalisasi Layanan Kesehatan

    Bupati Maros Tinjau RS Jantung Paramarta Bandung, Percepat Digitalisasi Layanan Kesehatan

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, BANDUNG — Komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam mempercepat transformasi digital sektor kesehatan kembali ditunjukkan. Bupati Maros, Chaidir Syam, melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJP) Paramarta Bandung, Rabu (24/12/2025). Kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat langsung penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Transmedic, sistem digital yang telah lebih dulu diimplementasikan […]

  • Pesawat Kargo Pelita Air Diduga Jatuh Usai Lepas Landas dari Long Bawan

    Pesawat Kargo Pelita Air Diduga Jatuh Usai Lepas Landas dari Long Bawan

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 69
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pesawat kargo milik Pelita Air Service dengan nomor penerbangan PAS 7101 rute Long Bawan–Tarakan diduga jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Long Bawan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (19/2) sekitar pukul 12.20 WITA. Berdasarkan informasi awal, pesawat tersebut baru menempuh jarak sekitar lima kilometer dari ujung landasan pacu sebelum diduga mengalami […]

expand_less