Cerita Gus Dur yang Berpulang Bersama Jenderal Salim
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 267
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ada sebuah kisah yang sejatinya akan terdengar pada peringatan Haul ke-16 Gus Dur, yang diselenggarakan di Masjid At-Taqwa, Pambusuang, Polewali Mandar, 12 Februari 2026. Kisah itu semula hendak disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga. Namun, cerita sejarah tersebut tampaknya tidak akan pernah terucap, sebab Puang Salim, sapaan akrab beliau telah berpulang ke hadirat Ilahi pada 31 Januari 2026 di RS. Siloam Makassar.
Sebelum kepergiannya yang mengejutkan, almarhum Puang Salim telah menyatakan kesediaannya hadir dalam acara haul Gus Dur yang digelar oleh Lesbumi Sulbar bersama Lembaga Inspirasi Anak Rakyat (LIAR) dan GUSDURian Polman. Kehadirannya bukan sekadar fisik, melainkan untuk menghadirkan kembali sebuah fragmen penting dalam perjalanan hidupnya, yaitu cerita tentang Nahdlatul Ulama dan persahabatan karibnya dengan Sang Guru Bangsa, Gus Dur.
Sebagaimana dituturkan oleh Ahmad Zaky dan Suaib Prawono, Puang Salim telah menyiapkan narasi itu. Ia ingin berkisah tentang hari-hari panjang belasan tahun saat bertugas di Jawa Tengah; masa di mana benang merah persahabatannya dengan KH. Maimoen Zubair dan Gus Dur terjalin erat.
Kita bisa membayangkan, betapa kayanya kisah itu; tentang tawa Gus Dur yang meledak, diskusi sunyi di sudut pesantren, hingga bagaimana nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dirawat dalam relasi yang berlandaskan kemanusiaan.
Namun, takdir kerap bekerja dalam keheningan yang tak terduga. Sebelum lisan sempat berucap, sebelum khalayak sempat menyerap hikmah dari ceritanya, Puang Salim dipanggil pulang. Maut mendahului suara, meninggalkan keluarga, sahabat, dan pengagumnya dalam rasa penasaran yang menggantung.
Kendati demikian, kepergian mendadak itu justru mengubah rasa penasaran menjadi refleksi yang lebih dalam. Salah satunya adalah kesadaran bahwa Puang Salim tidak perlu lagi bercerita banyak, sebab seluruh hidupnya sudah menjadi cerita itu sendiri.
Beliau dan Gus Dur adalah dua teladan yang melampaui fase “berbicara tentang agama” dan telah sampai pada fase “menghidupkan ajaran agama.” Mereka tidak terjebak dalam retorika, melainkan menjalani hari-harinya dengan khidmat dan penghayatan religiusitas yang tulus.
Bagi Puang Salim, religiusitas bukan soal panggung atau validasi publik, melainkan tentang bagaimana menjadi pribadi yang meneduhkan bagi sesama. Jejak pengabdiannya yang panjang adalah bukti nyata dari hal itu.
Agenda haul di Polman mungkin terasa sepi tanpa kehadiran fisiknya. Namun, kita tahu bahwa dalam dimensi yang lebih abadi, cerita itu telah tergenapi. Di alam keabadian, barangkali Puang Salim dan Gus Dur tengah melanjutkan tawa dan diskusi mereka, menuntaskan rindu yang belum sempat terucap di dunia.
Puang Salim, terima kasih telah mengajarkan kami bahwa hidup yang berkualitas adalah hidup yang diwakafkan untuk kemanusiaan. Cerita tentang Jawa Tengah itu kini telah abadi bersama langkahmu yang tenang menuju keabadian. Dan kami yakin, engkau akan dikenang sebagai kesatria yang “mate di batang, tammate dipau-pau'” (jasadmu boleh hancur berkalang tanah, tetapi kebaikanmu akan senantiasa hidup dalam hati sanubari rakyat Sulbar).
Penulis: Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA
- Penulis: Muhammad Kamal
- Editor: Suaib Pr

Saat ini belum ada komentar