Darah Nabi Mengalir di Iran: Layakkah Kita Membelanya?
- account_circle Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 183
- print Cetak

Ilustrasi digital bernuansa dramatis yang menggambarkan simbol perlawanan ideologis dan geopolitik, dengan figur ulama berdiri di tengah massa dan latar suasana konflik, merepresentasikan pertemuan antara iman, kekuasaan, dan dinamika global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Imam Ja’far Shadiq, Imam Musa Kadzim, hingga Imam Mahdi yang diyakini, semuanya mewarisi darah Persia. Jadi ketika kita bicara Iran, kita sedang bicara tentang sanak saudara kita sendiri, keturunan Nabi yang lahir dari rahim ibu-ibu Persia.
Dalam sejarah keilmuan Islam, bangsa Persia menjadi pilar utama. Nabi SAW bersabda, “Seandainya iman itu berada di gugusan bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.” Terbukti, siapa yang membukukan hadits-hadits Nabi?
Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Ibnu Majah, semuanya dari Persia. Siapa yang merumuskan tata bahasa Arab agar Al-Qur’an terbaca benar?
Imam Sibawaih, orang Persia. Siapa ulama tasawuf, filsafat, kedokteran, dan astronomi yang mengharumkan Islam? Rata-rata keturunan Persia. Ironis jika ada muslim yang merendahkan Iran, padahal ilmu agamanya diwarisi dari ulama Persia. Tanpa mereka, kita mungkin masih bingung membedakan hadits shahih dan dhaif. Darah intelektual Persia mengalir dalam pembuluh darah keilmuan Islam.
Lalu bagaimana dengan realitas politik hari ini? Perhatikan peta Timur Tengah. Negara-negara Arab tidak sungkan-sungkan menjalin hubungan mesra dengan Israel. Normalisasi terjadi di mana-mana. Yang dulu vokal membela Palestina, kini diam seribu bahasa.
- Penulis: Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc

Saat ini belum ada komentar