Darah Nabi Mengalir di Iran: Layakkah Kita Membelanya?
- account_circle Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 184
- print Cetak

Ilustrasi digital bernuansa dramatis yang menggambarkan simbol perlawanan ideologis dan geopolitik, dengan figur ulama berdiri di tengah massa dan latar suasana konflik, merepresentasikan pertemuan antara iman, kekuasaan, dan dinamika global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di tengah hipokritisme itu, siapa yang masih berani teriak anti-Israel? Siapa yang masih memasok senjata ke Hamas? Siapa yang konsisten membangun poros perlawanan dari Teheran hingga Beirut? Jawabannya hanya satu: Iran.
Dukungan mereka kepada Palestina bukan basa-basi politik, tapi doktrin ideologis sejak Revolusi Islam 1979. Mereka tidak pernah mengakui Israel, tidak pernah menjual Palestina demi investasi, dan tidak takut ancaman AS.
Membela Iran berarti membela diri sendiri, membela Quds, dan membela harga diri umat Islam yang terinjak-injak. Jika propaganda Barat berhasil menjatuhkan Iran, tamatlah riwayat perlawanan terhadap Zionis di kawasan ini. Darah Nabi yang mengalir di Iran layak kita bela, bukan karena fanatisme mazhab, tapi karena ikatan kekerabatan dan perjuangan yang sama.
(Penulis: Pimpinan Ponpes Annahdlah Makassar)
- Penulis: Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc

Saat ini belum ada komentar