Goodwill Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 22 jam yang lalu
- visibility 86
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di dunia akuntansi, ada satu istilah yang sering membuat mahasiswa mengernyitkan dahi: goodwill. Ia tidak bisa disentuh, tidak bisa difoto, tetapi nilainya bisa sangat mahal. Goodwill muncul ketika sebuah perusahaan dibeli lebih mahal daripada nilai aset bersihnya. Artinya ada sesuatu yang tak terlihat—reputasi, kepercayaan, atau nama baik—yang dihargai lebih tinggi daripada bangunan, mesin, bahkan kas.
Kalau dipikir-pikir, konsep ini sangat mirip dengan kehidupan Ramadhan. Bedanya, dalam Ramadhan kita sedang membangun sesuatu yang bisa disebut “Goodwill Langit.”
Dalam logika akuntansi dunia, goodwill dicatat ketika perusahaan membeli perusahaan lain. Dalam logika Ramadhan, goodwill muncul ketika manusia “bertransaksi” dengan Tuhan melalui amal baik. Bedanya lagi, transaksi ini tidak memerlukan auditor eksternal, karena auditornya langsung Yang Maha Mengetahui.
Orang NU biasanya menjelaskan hal-hal rumit dengan cara sederhana. Gus Dur pernah memberi contoh bahwa dalam hidup ini yang penting bukan hanya berapa banyak uang di rekening, tetapi berapa banyak orang yang mendoakan kita. Dalam bahasa akuntansi, mungkin itu semacam intangible asset sosial.
Ramadhan adalah bulan ketika umat Islam secara massal memperbaiki neraca goodwill spiritual mereka. Orang yang biasanya jarang ke masjid tiba-tiba rajin tarawih. Yang biasanya pelit mendadak dermawan. Yang biasanya sulit bangun pagi tiba-tiba semangat sahur. Secara akuntansi, ini seperti perusahaan yang sedang melakukan revaluasi moral.
Menariknya, dalam standar akuntansi modern, goodwill tidak boleh diamortisasi sembarangan. Ia harus diuji melalui impairment test. Kalau reputasi perusahaan turun, nilai goodwill juga harus diturunkan. Nah, dalam kehidupan sosial kita, hal yang sama juga berlaku.
Seseorang bisa saja rajin ibadah, aktif di masjid, bahkan menjadi panitia buka puasa. Tetapi kalau setelah Ramadhan ia kembali menjadi tukang fitnah di grup WhatsApp keluarga, kemungkinan besar goodwill spiritualnya mengalami impairment.
Orang NU biasanya menertawakan hal seperti ini dengan santai. Ada cerita di pesantren. Seorang santri sangat rajin shalat malam selama Ramadhan. Kyainya memuji, “MasyaAllah, istiqamah sekali.” Namun setelah Ramadhan selesai, santri itu kembali tidur pulas setiap malam.
Kyai itu hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa. Yang penting langit sudah tahu wajahmu. Jangan sampai setelah dikenal, kamu malah menghilang.” Humor seperti ini mengingatkan bahwa ibadah bukan sekadar ritual musiman, tetapi investasi reputasi di hadapan Tuhan.
Dalam dunia bisnis, reputasi adalah segalanya. Perusahaan dengan reputasi baik bisa menjual produk lebih mahal karena pelanggan percaya. Itulah sebabnya goodwill sering menjadi aset terbesar dalam akuisisi perusahaan.
Dalam kehidupan spiritual, hal yang sama juga terjadi. Orang yang dikenal jujur akan dipercaya mengelola amanah. Orang yang dikenal dermawan akan selalu didoakan orang lain.
Orang yang dikenal rendah hati akan memiliki banyak sahabat. Semua itu tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi dampaknya sangat nyata.
Gus Dur pernah berkata dengan gaya khasnya, “Tuhan tidak perlu dibela.” Yang perlu dijaga adalah akhlak manusia. Kalau diterjemahkan ke bahasa akuntansi, mungkin maksudnya sederhana: jangan sibuk mencatat amal orang lain, sementara buku besar akhlak kita sendiri berantakan. Ramadhan sebenarnya adalah periode closing sementara bagi laporan amal manusia.
Selama sebelas bulan sebelumnya, mungkin kita terlalu sibuk mengejar laba dunia: target kerja, kenaikan jabatan, investasi, dan berbagai proyek kehidupan. Tidak ada yang salah dengan itu. Akuntansi juga tidak melarang orang mencari keuntungan.
Namun Ramadhan mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya memiliki laporan laba rugi, tetapi juga laporan nilai kemanusiaan. Di sinilah konsep Goodwill Langit menjadi menarik. Ia tidak bisa dihitung dengan rumus Excel. Ia tidak muncul di laporan tahunan perusahaan. Ia juga tidak bisa dimanipulasi melalui rekayasa akuntansi.
Goodwill Langit muncul dari hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele: membantu tetangga, menahan amarah, memberi makan orang yang lapar, atau sekadar membuat orang lain tersenyum.
Orang NU punya filosofi sederhana: urip iku urup—hidup itu harus memberi cahaya. Dalam bahasa akuntansi, mungkin itu berarti nilai manusia tidak diukur dari aset yang dimiliki, tetapi dari manfaat yang diberikan. Dan Ramadhan adalah musim terbaik untuk memperbesar nilai itu.
Sebab dalam “sistem akuntansi langit,” ada satu aturan yang sangat menarik: setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Coba bayangkan kalau aturan ini berlaku di perusahaan. Setiap rupiah yang diinvestasikan langsung dilipatgandakan puluhan kali. Pasti semua orang akan menjadi investor.
Namun Tuhan memberikan “insentif investasi” seperti ini justru pada amal kebaikan. Itulah sebabnya orang bijak tidak hanya menabung uang, tetapi juga menabung goodwill spiritual.
Karena pada akhirnya, ketika laporan hidup manusia benar-benar ditutup, mungkin yang paling bernilai bukanlah rumah, mobil, atau saldo rekening. Melainkan sesuatu yang tidak terlihat—tetapi sangat mahal di hadapan Tuhan: Goodwill Langit.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar