Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Idiosinkrasi

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 245
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penghargaan terhadap idiosinkrasi dapat membantu organisasi menemukan potensi tersembunyi pegawainya. Ada pekerja yang unggul dalam tekanan, ada yang justru optimal dalam suasana tenang. Ada yang kuat dalam kerja teknis, ada yang lebih hidup dalam kerja relasional. Ketika organisasi memberi ruang terhadap kekhasan semacam ini, produktivitas tidak lagi lahir dari keterpaksaan, melainkan dari kesesuaian antara manusia dan cara kerjanya.

Manajemen yang baik bukan hanya kemampuan mengatur sistem, tetapi juga kemampuan membaca manusia. Sebab di balik target dan laporan kerja, organisasi pada dasarnya digerakkan oleh kumpulan idiosinkrasi yang saling berinteraksi.

Dalam kehidupan sosial, konsep idiosinkrasi juga memiliki relevansi yang besar. Multikulturalisme sering dipahami sebagai kemampuan menerima perbedaan agama, suku, atau budaya. Padahal fondasi terdalamnya terletak pada kemampuan menerima kekhasan individu. Konflik sosial sering kali tidak muncul karena perbedaan besar, melainkan karena ketidakmampuan menerima kebiasaan kecil yang berbeda dari diri sendiri.

Bikhu Parekh dalam gagasan multikulturalismenya menekankan bahwa masyarakat tidak pernah benar-benar berdiri di atas satu budaya yang tunggal dan dominan. Setiap individu hidup dalam persilangan berbagai pengaruh budaya, dan karena itu tidak ada satu cara hidup yang dapat dipaksakan sebagai standar universal. Multikulturalisme, dalam pandangan Parekh, bukan sekadar pengakuan atas keberagaman yang sudah ada, tetapi juga komitmen untuk membuka ruang dialog antar cara hidup yang berbeda.

Dalam kerangka itu, perbedaan tidak boleh dipahami sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari dinamika kehidupan bersama. Gagasan ini sejalan dengan penghargaan terhadap idiosinkrasi, karena sebelum seseorang menjadi bagian dari identitas kolektif, ia terlebih dahulu hadir sebagai individu dengan kekhasan yang tidak sepenuhnya bisa diseragamkan.

Tentu saja, setiap masyarakat memiliki batas normatif yang berbeda-beda. Idiosinkrasi tetap harus berada dalam ruang sosial yang disepakati bersama. Kebebasan menjadi diri sendiri tidak dapat dijadikan alasan untuk merusak keteraturan publik. Karena itu, peradaban selalu bergerak di antara dua kebutuhan: menjaga sistem bersama dan memberi ruang bagi keunikan manusia.

Manusia tidak pernah benar-benar identik satu sama lain. Di balik wajah sosial yang tampak serupa, setiap orang menyimpan susunan idiosinkrasi yang berbeda. Di situlah kehidupan sosial menjadi dinamis—tidak sepenuhnya seragam, tetapi tetap bisa dijalankan bersama.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

    PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 315
    • 0Komentar

    (Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Kisruh di PBNU bukan hal mengejutkan. NU sejak dulu hidup dengan perdebatan. Organisasi sebesar ini wajar kalau penuh pandangan, ego, dan aspirasi. Tapi kisruh kali ini berbeda: ia terjadi di era digital—era ketika gesekan kecil langsung berubah jadi tontonan nasional sebelum ada kesempatan […]

  • Bersuara

    Bersuara

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Apa yang terjadi dalam peristiwa lomba tersebut mungkin terlihat sederhana. Hanya soal nilai minus dan nilai plus. Hanya soal keputusan juri. Namun dalam skala yang lebih luas, peristiwa semacam ini memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja di ruang pendidikan. Ada pihak yang memiliki legitimasi menentukan benar dan salah, sementara pihak lain diharapkan menerima keputusan tanpa banyak […]

  • Pemkab Gorontalo Dorong Penelusuran Naskah Kuno untuk Selamatkan Warisan Sejarah

    Pemkab Gorontalo Dorong Penelusuran Naskah Kuno untuk Selamatkan Warisan Sejarah

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 317
    • 0Komentar

    Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Gorontalo, Doni Lahatie, mengatakan penelusuran ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta mendokumentasikan kembali warisan budaya yang tersebar di masyarakat. “Upaya ini penting agar identitas sejarah Gorontalo tetap terjaga dan tidak hilang,” kata Doni. Pemerintah daerah juga mendorong partisipasi aktif masyarakat untuk menyerahkan atau mendata naskah kuno yang dimiliki agar dapat […]

  • Homo MBGiens

    Homo MBGiens

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Suryadi R
    • visibility 559
    • 0Komentar

    Setiap hari, orang datang membawa wadah itu, berdiri dalam antrean, menunggu makanan dibagikan. Menunggu ompreng makanan bergizi -seharga Rp. 8.500-  yang di dalamnya berisi nasi, lauk, dan sayur. Ompreng kini perlahan menjadi tanda zaman, yang mana sebuah peradaban tidak lagi sepenuhnya ditopang oleh kerja manusia, tetapi ditentukan pola makan yang telah diatur oleh negara: Makan […]

  • Pemda Buol Setop MBG, Usai 141 Siswa Keracunan

    Pemda Buol Setop MBG, Usai 141 Siswa Keracunan

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 310
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Buol menghentikan sementara pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bunobogu menyusul dugaan keracunan makanan yang dialami 141 siswa dari sejumlah sekolah, Rabu (28/1/2026). Berdasarkan data terakhir, puluhan siswa masih menjalani perawatan medis di berbagai fasilitas kesehatan. Sebanyak 21 siswa dirawat di RSUD Mokoyurli Buol, tiga siswa di RS Pratama […]

  • Ingatan, Emosi dan Ilusi Kebenaran Play Button

    Ingatan, Emosi dan Ilusi Kebenaran

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 466
    • 0Komentar

    Ingatan manusia sering kali tertuju pada hal-hal yang dianggap penting. Jika pernyataan ini benar, maka muncul pertanyaan: apakah kecenderungan ini termasuk dalam ranah emosi atau hal yang bersifat rasional? Banyak yang berpendapat bahwa ini lebih berkaitan dengan emosi. Sebab, ketika seseorang lebih mudah mengingat hal-hal yang bermakna secara pribadi, emosional, atau bernilai subjektif, itu menunjukkan […]

expand_less