Breaking News
light_mode
Trending Tags

Idiosinkrasi

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 53
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penghargaan terhadap idiosinkrasi dapat membantu organisasi menemukan potensi tersembunyi pegawainya. Ada pekerja yang unggul dalam tekanan, ada yang justru optimal dalam suasana tenang. Ada yang kuat dalam kerja teknis, ada yang lebih hidup dalam kerja relasional. Ketika organisasi memberi ruang terhadap kekhasan semacam ini, produktivitas tidak lagi lahir dari keterpaksaan, melainkan dari kesesuaian antara manusia dan cara kerjanya.

Manajemen yang baik bukan hanya kemampuan mengatur sistem, tetapi juga kemampuan membaca manusia. Sebab di balik target dan laporan kerja, organisasi pada dasarnya digerakkan oleh kumpulan idiosinkrasi yang saling berinteraksi.

Dalam kehidupan sosial, konsep idiosinkrasi juga memiliki relevansi yang besar. Multikulturalisme sering dipahami sebagai kemampuan menerima perbedaan agama, suku, atau budaya. Padahal fondasi terdalamnya terletak pada kemampuan menerima kekhasan individu. Konflik sosial sering kali tidak muncul karena perbedaan besar, melainkan karena ketidakmampuan menerima kebiasaan kecil yang berbeda dari diri sendiri.

Bikhu Parekh dalam gagasan multikulturalismenya menekankan bahwa masyarakat tidak pernah benar-benar berdiri di atas satu budaya yang tunggal dan dominan. Setiap individu hidup dalam persilangan berbagai pengaruh budaya, dan karena itu tidak ada satu cara hidup yang dapat dipaksakan sebagai standar universal. Multikulturalisme, dalam pandangan Parekh, bukan sekadar pengakuan atas keberagaman yang sudah ada, tetapi juga komitmen untuk membuka ruang dialog antar cara hidup yang berbeda.

Dalam kerangka itu, perbedaan tidak boleh dipahami sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari dinamika kehidupan bersama. Gagasan ini sejalan dengan penghargaan terhadap idiosinkrasi, karena sebelum seseorang menjadi bagian dari identitas kolektif, ia terlebih dahulu hadir sebagai individu dengan kekhasan yang tidak sepenuhnya bisa diseragamkan.

Tentu saja, setiap masyarakat memiliki batas normatif yang berbeda-beda. Idiosinkrasi tetap harus berada dalam ruang sosial yang disepakati bersama. Kebebasan menjadi diri sendiri tidak dapat dijadikan alasan untuk merusak keteraturan publik. Karena itu, peradaban selalu bergerak di antara dua kebutuhan: menjaga sistem bersama dan memberi ruang bagi keunikan manusia.

Manusia tidak pernah benar-benar identik satu sama lain. Di balik wajah sosial yang tampak serupa, setiap orang menyimpan susunan idiosinkrasi yang berbeda. Di situlah kehidupan sosial menjadi dinamis—tidak sepenuhnya seragam, tetapi tetap bisa dijalankan bersama.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gusdurian Makassar Matangkan Konsep Advokasi Penyelesaian Krisis Air di Buloa

    Gusdurian Makassar Matangkan Konsep Advokasi Penyelesaian Krisis Air di Buloa

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 221
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Makassar– Sejumlah penggerak inti komunitas Gusdurian Makassar menggelar rapat terbatas di Kompleks Perumahan Permata Sudiang. Pertemuan tersebut digelar untuk menyikapi krisis air bersih yang sudah menahun di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. “Pertemuan hari ini berupaya merumuskan kerja-kerja advokasi, dengan terlebih dahulu membuat perencanaan,” ujar Ahmad Fatin Ilfi, fasilitator pertemuan. Sabtu, 7 Maret […]

  • Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi

    Yahudi, Sanksi Sosial dan Migrasi

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Saat ini, sedang ramai soal fenomena kekinian yang sedang menjadi perdebatan publik terkait dengan Goyang THR. Ada yang berpendapat “ini kan cuma hiburan”, “bolo samua ngoni mo protes”, “kalo suka beken”, dan “ngga beda ini torang pe niat dengan goyang lo Yahudi yang ngoni tuduhkan”. Ada juga sebagian kalangan berpendapat berbeda dan terkesan tidak menyetujui […]

  • Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    Catatan Kecil Seorang Anak PNS

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 445
    • 0Komentar

    Opini ini saya tulis di sela perjalanan panjang, di ruang tunggu Bandara Cengkareng, Jakarta. Waktu seakan berhenti sejenak di antara pengumuman keberangkatan dan langkah-langkah penumpang yang tergesa. Saya dan seorang sahabat—sesama PNS, sama-sama dipercaya mengemban amanah pada penugasan kali ini mendampingi Wakil Walikota Gorontalo Bapak Indra Gobel — sedang bersiap menunggu penerbangan menuju Aceh Tamiang, […]

  • Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Safinah menambahkan bahwa meski memikul muatan seberat satu unta, dua unta, atau bahkan lima wasaq—satuan besar muatan pada masa itu—ia tidak merasa berat. Julukan ini bukan sekadar lelucon atau ungkapan biasa. Kapal adalah simbol kekuatan, ketahanan, dan kemampuan membawa banyak muatan hingga menyeberangkan orang lain. Demikian pula Safinah: ia memikul tanggung jawab, membantu sahabat lain, dan […]

  • Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan. Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan. Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh […]

  • Hari Tani 2025: Defisit Jalan Perkebunan

    Hari Tani 2025: Defisit Jalan Perkebunan

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Apriyanto Rajak
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Hari tani nasional selalu diperingati 24 September setiap tahun. Sebuah momentum tepat untuk merefleksikan sejauh mana petani memperoleh kesejahteraan. Selama ini bertani dianggap sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan, sehingga jangan heran mengapa anak muda kurang tertarik dengan profesi ini dan umumnya lebih didominasi oleh orang tua. Menurut data sensus pertanian 2023 menyebutkan generasi X memiliki […]

expand_less