Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Islam Moderat di Persimpangan Jalan

  • account_circle Alam Khaerul Hidayat
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 325
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di sinilah muncul dilema yang tidak sederhana. Ketika nilai diubah menjadi kebijakan, ia cenderung mengalami formalisasi. Moderasi yang semula tumbuh dari kesadaran, perlahan menjadi sesuatu yang diajarkan, disosialisasikan, bahkan diwajibkan. Ia masuk ke dalam modul pelatihan, indikator kinerja, dan program-program resmi. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi ada satu hal yang patut dicermati: nilai yang hanya diporgramkan tanpa ada pendampingan secara ketat maka ia akan sia-sia.

Moderasi kemudian berisiko menjadi sesuatu yang dilakukan karena tuntutan administratif, bukan karena kesadaran reflektif. Ia hadir dalam dokumen, tetapi belum tentu mengakar dalam sikap. Dalam hal ini negara memang memiliki peran penting, tetapi tidak cukup hanya mengatur. Ia juga perlu membuka ruang bagi masyarakat untuk mengalami, memahami, dan merumuskan sendiri makna moderasi dalam kehidupan mereka.

Dalam praktik birokrasi keagamaan, persoalan ini terasa cukup nyata. Upaya menghadirkan pelayanan yang inklusif dan adil terus dilakukan, dan itu patut diapresiasi. Namun lagi-lagi moderasi masih berhenti pada tataran prosedur. Pelayanan menjadi lebih rapi, lebih terstruktur, tetapi belum tentu lebih sensitif terhadap keragaman yang ada di masyarakat. Di sinilah terlihat bahwa moderasi tidak cukup diterjemahkan sebagai aturan, tetapi harus menjadi etos.

Etos ini menyangkut cara memandang masyarakat, cara merespons perbedaan, dan cara mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu hitam-putih. Tanpa itu, birokrasi hanya akan menjadi mesin administratif yang efisien, tetapi belum tentu menghadirkan keadilan yang substanti, ini relevan dengan penetilian Max Weber bahwa etos tinggi dalam sebuah lingkungan akan memunculkan peradaban yang baik

Jika ditarik lebih jauh, persoalan yang sama juga tampak dalam dunia pendidikan keagamaan. Moderasi mulai diperkenalkan dalam kurikulum, diajarkan kepada peserta didik, dan dijadikan bagian dari pembentukan karakter. Secara konsep, ini adalah langkah strategis. Namun pendekatan yang digunakan sering kali masih bersifat satu arah. Moderasi diajarkan sebagai sesuatu yang harus diterima, bukan sebagai sesuatu yang perlu dipahami melalui proses berpikir.

Akibatnya, peserta didik mungkin mengetahui apa itu toleransi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menghadapi perbedaan yang nyata dan kompleks. Mereka belajar tentang moderasi, tetapi tidak selalu dilatih untuk berpikir kritis terhadap realitas. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, pemahaman tidak lahir dari hafalan semata, tetapi dari pergulatan antara teks dan konteks.

Tanpa nalar kritis, moderasi berisiko menjadi dangkal. Ia mudah diterima, tetapi juga mudah goyah ketika berhadapan dengan tekanan sosial atau arus informasi yang masif. Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Media sosial yang seharusnya membuka ruang dialog justru sering mempersempitnya. Algoritma memperkuat apa yang sudah diyakini, mempertemukan orang dengan pandangan yang serupa, dan menjauhkan mereka dari perbedaan.

Dalam ruang seperti ini, moderasi sering kalah oleh narasi yang lebih emosional dan provokatif. Suara yang tenang tidak selalu terdengar, sementara yang keras justru cepat menyebar. Ini menunjukkan bahwa moderasi tidak cukup hanya benar secara substansi, tetapi juga harus mampu hadir secara komunikatif. Ia perlu menemukan cara untuk berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh masyarakat, tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Dari seluruh dinamika ini, tampak bahwa Islam moderat di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia memiliki dukungan kuat, baik dari kalangan intelektual, organisasi keagamaan, maupun negara. Di sisi lain, ia masih menghadapi tantangan dalam menjembatani antara wacana dan realitas.

Kritik terhadap moderasi, dalam hal ini, bukanlah bentuk penolakan. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk menjaga agar gagasan ini tidak kehilangan arah. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai simbol, tetapi harus terus diuji dalam praktik. Ia tidak cukup dikampanyekan, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian.

Pada akhirnya, moderasi/prinsip Islam moderat bukanlah posisi yang nyaman di tengah, melainkan proses yang terus bergerak di antara berbagai kemungkinan. Ia menuntut kejujuran dalam melihat realitas, keberanian dalam mengakui keterbatasan, dan kesediaan untuk terus belajar. Dalam pengertian ini, masa depan Islam moderat tidak ditentukan oleh seberapa sering ia disebut, tetapi oleh seberapa jauh ia mampu menjadi cara hidup yang nyata yang adil, inklusif, dan memberi makna bagi kehidupan bersama.

Penulis:  Dosen Filsafat STAI Yapis Takalar

  • Penulis: Alam Khaerul Hidayat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilmu yang Masuk Angin

    Ilmu yang Masuk Angin

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Di pesantren, ada petuah sederhana: “Ilmu iku kudu manfaat, nek mung pinter tok yo mblenger.” Ilmu itu harus bermanfaat, kalau cuma pintar saja bisa bikin kembung. Sayangnya, sebagian akademisi hari ini tampak bukan kembung karena terlalu banyak makan, tetapi karena terlalu lama tinggal di menara gading, ruang tinggi, dingin, dan jauh dari sawah, laut, serta […]

  • Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Nulondalo – Organisasi terlarang yang telah dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017 bernama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali bangkit di beberapa titik di Indonesia. Komandan Satuan Koordinasi Nasional Banser PP GP Ansor, H. Syafiq Syauqi menyampaikan bahwa HTI telah dibubarkan Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM karena bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan mengancam keutuhan NKRI. “GP […]

  • Ketua DPD FKPR Desak BK DPRD Provinsi Gorontalo Jangan jadi pelindung kode etik

    Ketua DPD FKPR Desak BK DPRD Provinsi Gorontalo Jangan jadi pelindung kode etik

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 136
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua DPD Forum Kaum Pembela Rakyat (FKPR) Kota Gorontalo, Ikbal Ka’u, kembali menyuarakan kritik keras terhadap kinerja Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Gorontalo. Dalam pernyataannya, ia menilai BK DPRD seolah-olah menjalankan fungsi pengawasan etik secara tebang pilih. Ikbal menyampaikan apresiasi bahwa BK DPRD mampu menyelesaikan persoalan terkait ucapan kontroversial anggota DPRD, Wahyu Moridu, […]

  • PT. STM di Halmahera Tentang Akan Digugat ke Disnaker dan Pengadilan 

    PT. STM di Halmahera Tentang Akan Digugat ke Disnaker dan Pengadilan 

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Perisilisihan Hubungan Industrial (PHI) yang mana terkait Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakuan oleh PT. Sinar Terang Mandiri (PT. STM) kepada Karyawan-nya. Sekretaris Serikat Buruh Garda Nusantara (SBGN) Provinsi Maluku Utara, Sofyan Abubakar mengatakan bahwa Perundingan Bipartit dinyatakan Gagal dikarenakan tidak ada kesepahaman. Pria yang biasa disapa Black Panther itu dengan tegas akan mengawal hingga […]

  • Ricuh Usai Laga Liga 4, Suporter PSIR Rembang Kejar Wasit

    Ricuh Usai Laga Liga 4, Suporter PSIR Rembang Kejar Wasit

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 218
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pertandingan Liga 4 antara PSIR Rembang melawan Persak Kebumen berujung ricuh usai peluit panjang dibunyikan, Jumat (13/2/2026). Laga yang dimenangi Persak Kebumen dengan skor 0-2 itu diwarnai aksi sejumlah suporter tuan rumah yang masuk ke dalam lapangan dan mengejar wasit. Insiden tersebut terjadi sesaat setelah pertandingan berakhir. Berdasarkan informasi yang beredar di media […]

  • Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

    Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Kira-kira pertama kali saya mendengar nama Ahmadiyah, itu sekitar tahun 1994 ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Limboto. Salah seorang guru saya menjelaskan tentang teologi pemikiran Islam. Guru  saya lulusan IAIN Alauddin Makassar jurusan aqidah filsafat. Disela-sela ia menjelaskan  tentang pemikiran Islam, ia menyentil soal Ahmadiyah , selain Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syi’ah dan Sunni.  […]

expand_less