Breaking News
light_mode
Trending Tags

Islam Moderat di Persimpangan Jalan

  • account_circle Alam Khaerul Hidayat
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 260
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di sinilah muncul dilema yang tidak sederhana. Ketika nilai diubah menjadi kebijakan, ia cenderung mengalami formalisasi. Moderasi yang semula tumbuh dari kesadaran, perlahan menjadi sesuatu yang diajarkan, disosialisasikan, bahkan diwajibkan. Ia masuk ke dalam modul pelatihan, indikator kinerja, dan program-program resmi. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi ada satu hal yang patut dicermati: nilai yang hanya diporgramkan tanpa ada pendampingan secara ketat maka ia akan sia-sia.

Moderasi kemudian berisiko menjadi sesuatu yang dilakukan karena tuntutan administratif, bukan karena kesadaran reflektif. Ia hadir dalam dokumen, tetapi belum tentu mengakar dalam sikap. Dalam hal ini negara memang memiliki peran penting, tetapi tidak cukup hanya mengatur. Ia juga perlu membuka ruang bagi masyarakat untuk mengalami, memahami, dan merumuskan sendiri makna moderasi dalam kehidupan mereka.

Dalam praktik birokrasi keagamaan, persoalan ini terasa cukup nyata. Upaya menghadirkan pelayanan yang inklusif dan adil terus dilakukan, dan itu patut diapresiasi. Namun lagi-lagi moderasi masih berhenti pada tataran prosedur. Pelayanan menjadi lebih rapi, lebih terstruktur, tetapi belum tentu lebih sensitif terhadap keragaman yang ada di masyarakat. Di sinilah terlihat bahwa moderasi tidak cukup diterjemahkan sebagai aturan, tetapi harus menjadi etos.

Etos ini menyangkut cara memandang masyarakat, cara merespons perbedaan, dan cara mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu hitam-putih. Tanpa itu, birokrasi hanya akan menjadi mesin administratif yang efisien, tetapi belum tentu menghadirkan keadilan yang substanti, ini relevan dengan penetilian Max Weber bahwa etos tinggi dalam sebuah lingkungan akan memunculkan peradaban yang baik

Jika ditarik lebih jauh, persoalan yang sama juga tampak dalam dunia pendidikan keagamaan. Moderasi mulai diperkenalkan dalam kurikulum, diajarkan kepada peserta didik, dan dijadikan bagian dari pembentukan karakter. Secara konsep, ini adalah langkah strategis. Namun pendekatan yang digunakan sering kali masih bersifat satu arah. Moderasi diajarkan sebagai sesuatu yang harus diterima, bukan sebagai sesuatu yang perlu dipahami melalui proses berpikir.

Akibatnya, peserta didik mungkin mengetahui apa itu toleransi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menghadapi perbedaan yang nyata dan kompleks. Mereka belajar tentang moderasi, tetapi tidak selalu dilatih untuk berpikir kritis terhadap realitas. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, pemahaman tidak lahir dari hafalan semata, tetapi dari pergulatan antara teks dan konteks.

Tanpa nalar kritis, moderasi berisiko menjadi dangkal. Ia mudah diterima, tetapi juga mudah goyah ketika berhadapan dengan tekanan sosial atau arus informasi yang masif. Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Media sosial yang seharusnya membuka ruang dialog justru sering mempersempitnya. Algoritma memperkuat apa yang sudah diyakini, mempertemukan orang dengan pandangan yang serupa, dan menjauhkan mereka dari perbedaan.

Dalam ruang seperti ini, moderasi sering kalah oleh narasi yang lebih emosional dan provokatif. Suara yang tenang tidak selalu terdengar, sementara yang keras justru cepat menyebar. Ini menunjukkan bahwa moderasi tidak cukup hanya benar secara substansi, tetapi juga harus mampu hadir secara komunikatif. Ia perlu menemukan cara untuk berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh masyarakat, tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Dari seluruh dinamika ini, tampak bahwa Islam moderat di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia memiliki dukungan kuat, baik dari kalangan intelektual, organisasi keagamaan, maupun negara. Di sisi lain, ia masih menghadapi tantangan dalam menjembatani antara wacana dan realitas.

Kritik terhadap moderasi, dalam hal ini, bukanlah bentuk penolakan. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk menjaga agar gagasan ini tidak kehilangan arah. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai simbol, tetapi harus terus diuji dalam praktik. Ia tidak cukup dikampanyekan, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian.

Pada akhirnya, moderasi/prinsip Islam moderat bukanlah posisi yang nyaman di tengah, melainkan proses yang terus bergerak di antara berbagai kemungkinan. Ia menuntut kejujuran dalam melihat realitas, keberanian dalam mengakui keterbatasan, dan kesediaan untuk terus belajar. Dalam pengertian ini, masa depan Islam moderat tidak ditentukan oleh seberapa sering ia disebut, tetapi oleh seberapa jauh ia mampu menjadi cara hidup yang nyata yang adil, inklusif, dan memberi makna bagi kehidupan bersama.

Penulis:  Dosen Filsafat STAI Yapis Takalar

  • Penulis: Alam Khaerul Hidayat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keutamaan Shalat Subuh Menurut Syekh Nawawi al-Bantani

    Keutamaan Shalat Subuh Menurut Syekh Nawawi al-Bantani

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Syekh Nawawi al-Bantani, salah satu ulama besar Nusantara yang menjadi rujukan keilmuan di dunia Islam, banyak membahas keutamaan ibadah, termasuk shalat Subuh, dalam berbagai karya tulisnya, terutama dalam kitab Nihayatuz Zain, Tafsir Marah Labid (Tafsir Munir)_, dan Syarh Al-Muqaddimah Al-Hadramiyyah. Dikutip dari berbagai sumber, keutamaan shalat  Subuh menurut Syekh Nawawi al-Bantani, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitabnya […]

  • Ketika Alam Bicara

    Ketika Alam Bicara

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Alam kembali bersuara. Kali ini, ia berteriak lantang lewat banjir bandang dan tanah lonsor yang meluluhlantakkan pemukiman warga di tiga provinsi; Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Bukan hanya rumah dan harta benda yang hanyut dan tertimbun, tetapi juga nyawa manusia yang tak bersalah. Berdasarkan data yang dilansir BNPB,  29 November 2025, total 303 orang […]

  • Momentum Isra Mi’raj, Gusnar Ismail Ajak ASN Gorontalo Bangun Etos Kerja Berbasis Spiritual

    Momentum Isra Mi’raj, Gusnar Ismail Ajak ASN Gorontalo Bangun Etos Kerja Berbasis Spiritual

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 185
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan pencanangan gerakan membaca Al-Qur’an di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Kegiatan tersebut dipusatkan di Aula Rumah Jabatan Gubernur Gorontalo, Jumat (16/1/2025), dan dicanangkan langsung oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail. Peringatan Isra Mi’raj ini menjadi momentum penguatan spiritual ASN sekaligus bagian dari […]

  • Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — M. Arafah Alias Arpah, dari PP HPPMI Maros, menyampaikan keprihatinan serius sekaligus kecaman tegas terhadap kondisi Jalan Trans Sulawesi di wilayah Kabupaten Maros yang hingga saat ini terus mengalami kerusakan berulang, meskipun telah dilakukan penanganan oleh pihak terkait. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah titik jalan yang sebelumnya berlubang telah dilakukan penambalan, […]

  • Langit Mahal Gorontalo; Harga Tiket Mencekik, Membisu Pemerintah & Sebuah Pertanyaan untuk Presiden Prabowo

    Langit Mahal Gorontalo; Harga Tiket Mencekik, Membisu Pemerintah & Sebuah Pertanyaan untuk Presiden Prabowo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 121
    • 0Komentar

    oleh : Suci Priyanti Kartika Chanda Sari., S.H.,M.H. Bagi sebuah provinsi kepulauan seperti Gorontalo, transportasi udara bukanlah kemewahan, melainkan urat nadi esensial yang menyambungkan denyut ekonomi, sosial, dan bahkan spiritual warganya dengan seluruh nusantara. Jalur udara adalah jembatan bagi para perantau untuk kembali ke pelukan keluarga, koridor bagi pelajar untuk menimba ilmu, kanal bagi pelaku […]

  • Pribumisasi: Metode Berpikir Gus Dur

    Pribumisasi: Metode Berpikir Gus Dur

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Catatan dari Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Penulis Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Bagaimana memahami Gus Dur jika kita tak pernah bertemu dengannya? Bagaimana generasi sekarang dapat mendaurulang cara berpikirnya? Warisan Gus Dur sesungguhnya bukan sekedar gagasan, humor, atau praktik terbaik, melainkan metode berpikir yang bisa diterapkan hingga […]

expand_less