Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Islam Moderat di Persimpangan Jalan

  • account_circle Alam Khaerul Hidayat
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 424
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di sinilah muncul dilema yang tidak sederhana. Ketika nilai diubah menjadi kebijakan, ia cenderung mengalami formalisasi. Moderasi yang semula tumbuh dari kesadaran, perlahan menjadi sesuatu yang diajarkan, disosialisasikan, bahkan diwajibkan. Ia masuk ke dalam modul pelatihan, indikator kinerja, dan program-program resmi. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi ada satu hal yang patut dicermati: nilai yang hanya diporgramkan tanpa ada pendampingan secara ketat maka ia akan sia-sia.

Moderasi kemudian berisiko menjadi sesuatu yang dilakukan karena tuntutan administratif, bukan karena kesadaran reflektif. Ia hadir dalam dokumen, tetapi belum tentu mengakar dalam sikap. Dalam hal ini negara memang memiliki peran penting, tetapi tidak cukup hanya mengatur. Ia juga perlu membuka ruang bagi masyarakat untuk mengalami, memahami, dan merumuskan sendiri makna moderasi dalam kehidupan mereka.

Dalam praktik birokrasi keagamaan, persoalan ini terasa cukup nyata. Upaya menghadirkan pelayanan yang inklusif dan adil terus dilakukan, dan itu patut diapresiasi. Namun lagi-lagi moderasi masih berhenti pada tataran prosedur. Pelayanan menjadi lebih rapi, lebih terstruktur, tetapi belum tentu lebih sensitif terhadap keragaman yang ada di masyarakat. Di sinilah terlihat bahwa moderasi tidak cukup diterjemahkan sebagai aturan, tetapi harus menjadi etos.

Etos ini menyangkut cara memandang masyarakat, cara merespons perbedaan, dan cara mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu hitam-putih. Tanpa itu, birokrasi hanya akan menjadi mesin administratif yang efisien, tetapi belum tentu menghadirkan keadilan yang substanti, ini relevan dengan penetilian Max Weber bahwa etos tinggi dalam sebuah lingkungan akan memunculkan peradaban yang baik

Jika ditarik lebih jauh, persoalan yang sama juga tampak dalam dunia pendidikan keagamaan. Moderasi mulai diperkenalkan dalam kurikulum, diajarkan kepada peserta didik, dan dijadikan bagian dari pembentukan karakter. Secara konsep, ini adalah langkah strategis. Namun pendekatan yang digunakan sering kali masih bersifat satu arah. Moderasi diajarkan sebagai sesuatu yang harus diterima, bukan sebagai sesuatu yang perlu dipahami melalui proses berpikir.

Akibatnya, peserta didik mungkin mengetahui apa itu toleransi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menghadapi perbedaan yang nyata dan kompleks. Mereka belajar tentang moderasi, tetapi tidak selalu dilatih untuk berpikir kritis terhadap realitas. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, pemahaman tidak lahir dari hafalan semata, tetapi dari pergulatan antara teks dan konteks.

Tanpa nalar kritis, moderasi berisiko menjadi dangkal. Ia mudah diterima, tetapi juga mudah goyah ketika berhadapan dengan tekanan sosial atau arus informasi yang masif. Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Media sosial yang seharusnya membuka ruang dialog justru sering mempersempitnya. Algoritma memperkuat apa yang sudah diyakini, mempertemukan orang dengan pandangan yang serupa, dan menjauhkan mereka dari perbedaan.

Dalam ruang seperti ini, moderasi sering kalah oleh narasi yang lebih emosional dan provokatif. Suara yang tenang tidak selalu terdengar, sementara yang keras justru cepat menyebar. Ini menunjukkan bahwa moderasi tidak cukup hanya benar secara substansi, tetapi juga harus mampu hadir secara komunikatif. Ia perlu menemukan cara untuk berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh masyarakat, tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Dari seluruh dinamika ini, tampak bahwa Islam moderat di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia memiliki dukungan kuat, baik dari kalangan intelektual, organisasi keagamaan, maupun negara. Di sisi lain, ia masih menghadapi tantangan dalam menjembatani antara wacana dan realitas.

Kritik terhadap moderasi, dalam hal ini, bukanlah bentuk penolakan. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk menjaga agar gagasan ini tidak kehilangan arah. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai simbol, tetapi harus terus diuji dalam praktik. Ia tidak cukup dikampanyekan, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian.

Pada akhirnya, moderasi/prinsip Islam moderat bukanlah posisi yang nyaman di tengah, melainkan proses yang terus bergerak di antara berbagai kemungkinan. Ia menuntut kejujuran dalam melihat realitas, keberanian dalam mengakui keterbatasan, dan kesediaan untuk terus belajar. Dalam pengertian ini, masa depan Islam moderat tidak ditentukan oleh seberapa sering ia disebut, tetapi oleh seberapa jauh ia mampu menjadi cara hidup yang nyata yang adil, inklusif, dan memberi makna bagi kehidupan bersama.

Penulis:  Dosen Filsafat STAI Yapis Takalar

  • Penulis: Alam Khaerul Hidayat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • APPLI Sulteng Kecewa, Nasib Warga Pagimana Terkatung di Tangan Anwar Hafid

    APPLI Sulteng Kecewa, Nasib Warga Pagimana Terkatung di Tangan Anwar Hafid

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 525
    • 0Komentar

    Aulia yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Partai Hijau Indonesia Sulawesi Tengah menegaskan bahwa Gubernur tidak boleh bersikap tebang pilih dalam menghadapi perusahaan yang diduga melakukan pelanggaran. Ia menilai, dalam kasus ini DPRD Sulteng telah memberikan rekomendasi yang jelas setelah dilaksanakannya Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama masyarakat dan pihak perusahaan. DPRD Sulteng Keluarkan Rekomendasi Sebelumnya, […]

  • Ramai Dikritik, Ini Penjelasan KPK soal Tahanan Rumah Yaqut Cholil Qoumas

    Ramai Dikritik, Ini Penjelasan KPK soal Tahanan Rumah Yaqut Cholil Qoumas

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 457
    • 0Komentar

    “Dalam sejarah KPK, tidak pernah ada pengistimewaan seseorang seperti ini, terlebih tanpa alasan khusus seperti kebutuhan perawatan kesehatan,” ujar Lakso. Ia menambahkan, kebijakan tersebut berpotensi mencederai prinsip equality before the law, terlebih status tersangka Yaqut telah dinyatakan sah setelah KPK memenangkan gugatan praperadilan. Menurut Lakso, status penahanan menjadi krusial untuk mencegah potensi intervensi dalam penanganan […]

  • RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Setelah melalui proses pembangunan sejak 2021, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Camba di Kabupaten Maros akhirnya resmi beroperasi penuh mulai 29 Desember 2025. Kehadiran fasilitas kesehatan ini menjadi salah satu realisasi janji politik Bupati Maros, Chaidir Syam, sekaligus menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di wilayah dataran tinggi. Peresmian operasional RSUD Camba disambut […]

  • Negeri Tiba tiba Dan riuhnya Klarifikasi

    Negeri Tiba tiba Dan riuhnya Klarifikasi

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 369
    • 0Komentar

    Jean Baudrillard memberi kacamata yang tajam untuk membaca situasi ini. Dalam logika simulacra, realitas tidak lagi diukur dari apa yang sungguh terjadi, melainkan dari bagaimana ia ditampilkan. Kebijakan publik berubah menjadi pertunjukan. Yang penting bukan lagi apakah program bekerja, tetapi apakah ia terlihat bekerja. Klarifikasi berfungsi sebagai simulasi keberhasilan—menutup kegagalan dengan citra, mengganti kenyataan dengan […]

  • PWNU Gorontalo Dorong LPNU Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga NU

    PWNU Gorontalo Dorong LPNU Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga NU

    • calendar_month Minggu, 9 Jun 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 165
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo terus mendorong lembaga-lembaga semi otonom di bawah naungannya untuk aktif menjalankan tugas dan fungsi masing-masing. Langkah ini dilakukan guna mendukung kerja-kerja Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dalam mewujudkan program-program strategis dan taktis demi mencapai sasaran program NU di tingkat wilayah. Salah satu lembaga yang diharapkan berperan aktif adalah Lembaga […]

  • Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 353
    • 0Komentar

    Kalau diperhatikan, kondisi itu terasa dekat dengan situasi hari ini. Perusahaan lebih nyaman merekrut pekerja kontrak dibanding pekerja tetap. Outsourcing diperluas. Anak muda diminta fleksibel, adaptif, dan kreatif, tetapi pada saat yang sama mereka dipaksa menerima ketidakpastian sebagai hal yang wajar. Bahkan sekarang muncul glorifikasi terhadap hustle culture—seolah kelelahan adalah tanda kesuksesan, dan bekerja tanpa […]

expand_less