Breaking News
light_mode
Trending Tags

Islam Moderat di Persimpangan Jalan

  • account_circle Alam Khaerul Hidayat
  • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
  • visibility 259
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di sinilah muncul dilema yang tidak sederhana. Ketika nilai diubah menjadi kebijakan, ia cenderung mengalami formalisasi. Moderasi yang semula tumbuh dari kesadaran, perlahan menjadi sesuatu yang diajarkan, disosialisasikan, bahkan diwajibkan. Ia masuk ke dalam modul pelatihan, indikator kinerja, dan program-program resmi. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi ada satu hal yang patut dicermati: nilai yang hanya diporgramkan tanpa ada pendampingan secara ketat maka ia akan sia-sia.

Moderasi kemudian berisiko menjadi sesuatu yang dilakukan karena tuntutan administratif, bukan karena kesadaran reflektif. Ia hadir dalam dokumen, tetapi belum tentu mengakar dalam sikap. Dalam hal ini negara memang memiliki peran penting, tetapi tidak cukup hanya mengatur. Ia juga perlu membuka ruang bagi masyarakat untuk mengalami, memahami, dan merumuskan sendiri makna moderasi dalam kehidupan mereka.

Dalam praktik birokrasi keagamaan, persoalan ini terasa cukup nyata. Upaya menghadirkan pelayanan yang inklusif dan adil terus dilakukan, dan itu patut diapresiasi. Namun lagi-lagi moderasi masih berhenti pada tataran prosedur. Pelayanan menjadi lebih rapi, lebih terstruktur, tetapi belum tentu lebih sensitif terhadap keragaman yang ada di masyarakat. Di sinilah terlihat bahwa moderasi tidak cukup diterjemahkan sebagai aturan, tetapi harus menjadi etos.

Etos ini menyangkut cara memandang masyarakat, cara merespons perbedaan, dan cara mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu hitam-putih. Tanpa itu, birokrasi hanya akan menjadi mesin administratif yang efisien, tetapi belum tentu menghadirkan keadilan yang substanti, ini relevan dengan penetilian Max Weber bahwa etos tinggi dalam sebuah lingkungan akan memunculkan peradaban yang baik

Jika ditarik lebih jauh, persoalan yang sama juga tampak dalam dunia pendidikan keagamaan. Moderasi mulai diperkenalkan dalam kurikulum, diajarkan kepada peserta didik, dan dijadikan bagian dari pembentukan karakter. Secara konsep, ini adalah langkah strategis. Namun pendekatan yang digunakan sering kali masih bersifat satu arah. Moderasi diajarkan sebagai sesuatu yang harus diterima, bukan sebagai sesuatu yang perlu dipahami melalui proses berpikir.

Akibatnya, peserta didik mungkin mengetahui apa itu toleransi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menghadapi perbedaan yang nyata dan kompleks. Mereka belajar tentang moderasi, tetapi tidak selalu dilatih untuk berpikir kritis terhadap realitas. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, pemahaman tidak lahir dari hafalan semata, tetapi dari pergulatan antara teks dan konteks.

Tanpa nalar kritis, moderasi berisiko menjadi dangkal. Ia mudah diterima, tetapi juga mudah goyah ketika berhadapan dengan tekanan sosial atau arus informasi yang masif. Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Media sosial yang seharusnya membuka ruang dialog justru sering mempersempitnya. Algoritma memperkuat apa yang sudah diyakini, mempertemukan orang dengan pandangan yang serupa, dan menjauhkan mereka dari perbedaan.

Dalam ruang seperti ini, moderasi sering kalah oleh narasi yang lebih emosional dan provokatif. Suara yang tenang tidak selalu terdengar, sementara yang keras justru cepat menyebar. Ini menunjukkan bahwa moderasi tidak cukup hanya benar secara substansi, tetapi juga harus mampu hadir secara komunikatif. Ia perlu menemukan cara untuk berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh masyarakat, tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Dari seluruh dinamika ini, tampak bahwa Islam moderat di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia memiliki dukungan kuat, baik dari kalangan intelektual, organisasi keagamaan, maupun negara. Di sisi lain, ia masih menghadapi tantangan dalam menjembatani antara wacana dan realitas.

Kritik terhadap moderasi, dalam hal ini, bukanlah bentuk penolakan. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk menjaga agar gagasan ini tidak kehilangan arah. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai simbol, tetapi harus terus diuji dalam praktik. Ia tidak cukup dikampanyekan, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian.

Pada akhirnya, moderasi/prinsip Islam moderat bukanlah posisi yang nyaman di tengah, melainkan proses yang terus bergerak di antara berbagai kemungkinan. Ia menuntut kejujuran dalam melihat realitas, keberanian dalam mengakui keterbatasan, dan kesediaan untuk terus belajar. Dalam pengertian ini, masa depan Islam moderat tidak ditentukan oleh seberapa sering ia disebut, tetapi oleh seberapa jauh ia mampu menjadi cara hidup yang nyata yang adil, inklusif, dan memberi makna bagi kehidupan bersama.

Penulis:  Dosen Filsafat STAI Yapis Takalar

  • Penulis: Alam Khaerul Hidayat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepedulian Pemerintah dan LSM, Korban Petasan Rakitan Dijenguk di RS Wahidin

    Kepedulian Pemerintah dan LSM, Korban Petasan Rakitan Dijenguk di RS Wahidin

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 164
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros — Seorang anak berinisial MA (8), warga Lingkungan Allu, Kelurahan Baji Pamai, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar setelah menjadi korban petasan rakitan. Peristiwa tersebut menimbulkan keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, khususnya pemerintah kecamatan dan elemen masyarakat sipil. Sebagai wujud kepedulian terhadap warganya, Camat […]

  • Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)

    Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 232
    • 0Komentar

    Kisah yang paling dikenal tentang Julaybib berkaitan dengan pernikahannya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Suatu hari Nabi SAW menanyakan kepadanya tentang pernikahan. Julaybib menjawab dengan kerendahan hati, menyadari bahwa dirinya bukan sosok yang biasanya menjadi pilihan keluarga untuk dijadikan menantu. Nabi SAW kemudian mendatangi seorang lelaki dari kalangan Anshar dan menawarkan Julaybib […]

  • Kesya: Bagaimana Staw, Bagaimana Staw

    Kesya: Bagaimana Staw, Bagaimana Staw

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Viral dan sangat viral……ungkapan “Bagaimana Staw, Bagaimana Staw,” yang diucapkan oleh Kesya kepada temannya saat live TikTok dapat dianalisis secara semiotika untuk memahami makna dan implikasi yang terkandung di dalamnya. Saya mengamati dan menonton sampai habis video tersebut yang tidak hanya viral di TikTok tapi juga di Facebook. Saya mencoba memahami ungkapan “Bagaimana staw” tersebut […]

  • KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat Play Button

    KH Muhyiddin Zeny: Amal Orang Hidup Dapat Mengalir untuk Mereka yang Telah Wafat

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 354
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tradisi mendoakan orang tua dan keluarga yang telah meninggal dunia kembali ditegaskan memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Hal tersebut disampaikan oleh KH Muhyiddin Zeny dalam pengajian rutin yang disiarkan melalui Nutizen TV. Dalam kajiannya, KH Muhyiddin Zeny menjelaskan bahwa amal kebaikan orang yang masih hidup dapat disampaikan pahalanya kepada orang yang telah wafat, […]

  • Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    Pena, Buku, dan Nyawa yang Hilang: Catatan untuk Tragedi Ngada

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle -
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Kasus tragis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada penghujung Januari 2026, ketika seorang siswa SD berusia 10 tahun berinisial YBS diduga mengakhiri hidupnya karena keluarganya tak mampu membeli buku dan pena, adalah tamparan keras bagi nurani bangsa. Membaca berita tentang seorang anak kecil yang memilih “pergi” selamanya hanya karena selembar buku dan sebatang pena […]

  • Dugaan Kriminalisasi Warga di Kasus Tambang Banggai Tuai Kritik Aktivis Lingkungan

    Dugaan Kriminalisasi Warga di Kasus Tambang Banggai Tuai Kritik Aktivis Lingkungan

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 273
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aktivitas pertambangan yang dilakukan PT Pantas Indomining di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, kembali menuai sorotan publik. Kali ini, isu dugaan kriminalisasi terhadap warga yang memprotes aktivitas tambang memicu kritik dari kalangan aktivis lingkungan. Aliansi Pemuda Peduli Lingkungan (APPLI) Sulawesi Tengah melalui ketuanya, Aulia Hakim, menyampaikan bahwa masyarakat setempat sejak awal telah […]

expand_less