Breaking News
light_mode
Trending Tags

Islam Moderat di Persimpangan Jalan

  • account_circle Alam Khaerul Hidayat
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 70
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di sinilah muncul dilema yang tidak sederhana. Ketika nilai diubah menjadi kebijakan, ia cenderung mengalami formalisasi. Moderasi yang semula tumbuh dari kesadaran, perlahan menjadi sesuatu yang diajarkan, disosialisasikan, bahkan diwajibkan. Ia masuk ke dalam modul pelatihan, indikator kinerja, dan program-program resmi. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi ada satu hal yang patut dicermati: nilai yang hanya diporgramkan tanpa ada pendampingan secara ketat maka ia akan sia-sia.

Moderasi kemudian berisiko menjadi sesuatu yang dilakukan karena tuntutan administratif, bukan karena kesadaran reflektif. Ia hadir dalam dokumen, tetapi belum tentu mengakar dalam sikap. Dalam hal ini negara memang memiliki peran penting, tetapi tidak cukup hanya mengatur. Ia juga perlu membuka ruang bagi masyarakat untuk mengalami, memahami, dan merumuskan sendiri makna moderasi dalam kehidupan mereka.

Dalam praktik birokrasi keagamaan, persoalan ini terasa cukup nyata. Upaya menghadirkan pelayanan yang inklusif dan adil terus dilakukan, dan itu patut diapresiasi. Namun lagi-lagi moderasi masih berhenti pada tataran prosedur. Pelayanan menjadi lebih rapi, lebih terstruktur, tetapi belum tentu lebih sensitif terhadap keragaman yang ada di masyarakat. Di sinilah terlihat bahwa moderasi tidak cukup diterjemahkan sebagai aturan, tetapi harus menjadi etos.

Etos ini menyangkut cara memandang masyarakat, cara merespons perbedaan, dan cara mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu hitam-putih. Tanpa itu, birokrasi hanya akan menjadi mesin administratif yang efisien, tetapi belum tentu menghadirkan keadilan yang substanti, ini relevan dengan penetilian Max Weber bahwa etos tinggi dalam sebuah lingkungan akan memunculkan peradaban yang baik

Jika ditarik lebih jauh, persoalan yang sama juga tampak dalam dunia pendidikan keagamaan. Moderasi mulai diperkenalkan dalam kurikulum, diajarkan kepada peserta didik, dan dijadikan bagian dari pembentukan karakter. Secara konsep, ini adalah langkah strategis. Namun pendekatan yang digunakan sering kali masih bersifat satu arah. Moderasi diajarkan sebagai sesuatu yang harus diterima, bukan sebagai sesuatu yang perlu dipahami melalui proses berpikir.

Akibatnya, peserta didik mungkin mengetahui apa itu toleransi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menghadapi perbedaan yang nyata dan kompleks. Mereka belajar tentang moderasi, tetapi tidak selalu dilatih untuk berpikir kritis terhadap realitas. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, pemahaman tidak lahir dari hafalan semata, tetapi dari pergulatan antara teks dan konteks.

Tanpa nalar kritis, moderasi berisiko menjadi dangkal. Ia mudah diterima, tetapi juga mudah goyah ketika berhadapan dengan tekanan sosial atau arus informasi yang masif. Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Media sosial yang seharusnya membuka ruang dialog justru sering mempersempitnya. Algoritma memperkuat apa yang sudah diyakini, mempertemukan orang dengan pandangan yang serupa, dan menjauhkan mereka dari perbedaan.

Dalam ruang seperti ini, moderasi sering kalah oleh narasi yang lebih emosional dan provokatif. Suara yang tenang tidak selalu terdengar, sementara yang keras justru cepat menyebar. Ini menunjukkan bahwa moderasi tidak cukup hanya benar secara substansi, tetapi juga harus mampu hadir secara komunikatif. Ia perlu menemukan cara untuk berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh masyarakat, tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Dari seluruh dinamika ini, tampak bahwa Islam moderat di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia memiliki dukungan kuat, baik dari kalangan intelektual, organisasi keagamaan, maupun negara. Di sisi lain, ia masih menghadapi tantangan dalam menjembatani antara wacana dan realitas.

Kritik terhadap moderasi, dalam hal ini, bukanlah bentuk penolakan. Justru sebaliknya, ia adalah upaya untuk menjaga agar gagasan ini tidak kehilangan arah. Moderasi tidak boleh berhenti sebagai simbol, tetapi harus terus diuji dalam praktik. Ia tidak cukup dikampanyekan, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian.

Pada akhirnya, moderasi/prinsip Islam moderat bukanlah posisi yang nyaman di tengah, melainkan proses yang terus bergerak di antara berbagai kemungkinan. Ia menuntut kejujuran dalam melihat realitas, keberanian dalam mengakui keterbatasan, dan kesediaan untuk terus belajar. Dalam pengertian ini, masa depan Islam moderat tidak ditentukan oleh seberapa sering ia disebut, tetapi oleh seberapa jauh ia mampu menjadi cara hidup yang nyata yang adil, inklusif, dan memberi makna bagi kehidupan bersama.

Penulis:  Dosen Filsafat STAI Yapis Takalar

  • Penulis: Alam Khaerul Hidayat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Maros untuk Indonesia: Chaidir Syam Diganjar Penghargaan Bela Negara

    Dari Maros untuk Indonesia: Chaidir Syam Diganjar Penghargaan Bela Negara

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam menanamkan nilai-nilai bela negara kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Bupati Maros, Chaidir Syam, menerima Penghargaan Apresiasi Bela Negara 2025 yang digelar oleh Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Markas Besar TNI, di Hotel El Royal Bandung. Penghargaan tersebut […]

  • Resmi! Inilah Nama-Nama Komisioner KPID Gorontalo 2026–2029, Siapa Saja?

    Resmi! Inilah Nama-Nama Komisioner KPID Gorontalo 2026–2029, Siapa Saja?

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 238
    • 0Komentar

    nulondalo.com – DPRD Provinsi Gorontalo resmi menetapkan calon terpilih dan calon cadangan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Gorontalo untuk periode 2026–2029. Penetapan ini dilakukan dalam Rapat Paripurna ke-68 yang digelar Senin (29/12/2025). Tujuh nama ditetapkan sebagai komisioner terpilih KPID 2026–2029, yakni: Suci Priyanti Kartika Sari Abdulrazak Babuntai Hasanuddin Djadin Jitro Paputungan Fahrudin F. […]

  • Hari Asyura 2025: Makna, Sejarah, dan Tradisi

    Hari Asyura 2025: Makna, Sejarah, dan Tradisi

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Hari Asyura tahun ini jatuh pada 5 Juli 2025, bertepatan dengan 10 Muharram 1447 H, menurut kalender Hijriah. Hari ini merupakan momen penting dalam kalender Islam yang diperingati oleh seluruh umat Muslim, meski dengan cara dan pemaknaan yang berbeda antara Syiah dan Sunni. Makna Asyura bagi Muslim Syiah Bagi umat Syiah, Asyura adalah puncak dari […]

  • Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Di berbagai lini masa dan ruang diskusi publik, kita menyaksikan pemandangan yang tak biasa: dukungan terhadap Iran meluas. Respons terhadap penyerangan Iran ke Israel datang dari berbagai arah yang memiliki simpati dan empati yang sama atas penderitaan masyarakat Palestina di Gaza. Dukungan ini melintasi batas identitas, keyakinan, dan geopolitik. Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa rudal-rudal […]

  • Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

    Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Kalau Anda bertanya kepada seorang muslim, apakah ia punya niatan naik haji, maka dari  jutaaan mereka nyaris punya jawaban yang sama, “ingin berhaji melengkapi rukun Islam kelima. Saya pun adalah satu dari sekian banyak umat Islam yang selalu mengharu-birukan doa untuk mendapat undangan Sang Khaliq ke Rumah-Nya yang suci itu. Naik haji ke Baitullah (Makkah […]

  • Intinya “memberatkan”: Itulah yang Luput! Respons atas Kritik Samsi Pomalingo

    Intinya “memberatkan”: Itulah yang Luput! Respons atas Kritik Samsi Pomalingo

    • calendar_month 2 jam yang lalu
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Tulisan Samsi Pomalingo berjudul Yang Luput dari yang Luput (2026) untuk merespons tulisan saya beberapa hari yang lalu sebenarnya tidak menjawab apa-apa, alih-alih menunjukkan bahwa penulis sendiri tidak membaca dengan detail tulisan saya sebelumnya sehingga, ada banyak kritiknya yang tidak tepat bahkan kontradiktif. Padahal, tesis saya pada tulisan sebelumnya jelas: sadaka memberatkan. Ini poin yang […]

expand_less