Jafar bin Abi Thalib: Diplomat Nabi Ke Afrika (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #16)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 158
- print Cetak

Ilustrasi yang menggambarkan Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an di hadapan Raja Najasyi di istana Habasyah, saat memimpin rombongan sahabat yang hijrah dan memperkenalkan ajaran Islam dengan penuh hikmah dan keteguhan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kisah Ja’far tidak berhenti di situ. Bertahun-tahun kemudian, dalam Perang Mu’tah, Nabi menunjuk tiga komandan secara berurutan. Setelah Zaid bin Haritsah gugur, panji perang berpindah ke tangan Ja’far. Pertempuran melawan pasukan Romawi berlangsung sengit. Dalam riwayat disebutkan, tangan kanannya terputus saat memegang panji, lalu berpindah ke tangan kiri. Ketika tangan kirinya pun terputus, ia tetap memeluk panji dengan kedua lengannya yang tersisa hingga akhirnya gugur sebagai syahid.
Rasulullah yang berada di Madinah sangat berduka. Beliau menunjukkan empati yang mendalam kepada keluarga Ja’far, dan bersabda bahwa Allah mengganti kedua tangannya dengan dua sayap di surga, sehingga ia terbang bersama para malaikat. Sejak itu, ia dikenal sebagai Ja’far ath-Thayyar—Ja’far yang Terbang.
Ada sesuatu yang istimewa dari diri Ja’far. Ia berani di medan perang, matang dalam argumentasi, kuat secara fisik, dan kokoh secara intelektual serta spiritual. Ia tahu kapan harus berbicara dengan hikmah, dan kapan harus bertindak dengan keberanian total.
Mungkin sejarah lebih sering menyorot Ali dalam diskursus Islam. Namun Ja’far mengajarkan dimensi lain: pengorbanan yang tulus, keteguhan yang total, dan keberanian yang tak selalu butuh sorotan. Ia bukan sekadar sepupu Nabi; ia adalah cermin bagaimana iman bekerja dalam kata, tindakan, dan pengorbanan.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar