Jurnal Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 197
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masalahnya, kita sering terjebak pada cash basis ibadah. Kalau tidak dilihat orang, rasanya seperti tidak terjadi transaksi. Tarawihnya semangat kalau saf depan penuh kamera. Sedekahnya mantap kalau ada kuitansi dan publikasi. Padahal dalam “Jurnal Langit”, yang menjadi bukti audit bukanlah stempel panitia, tapi kebersihan niat.
Saya membayangkan format jurnalnya kira-kira begini:
Debit: Keikhlasan
Kredit: Ego
Debit: Sabar
Kredit: Amarah
Debit: Sedekah
Kredit: Cinta Dunia
Jika jurnal ini seimbang, maka laporan posisi keuangan ruhani kita akan menunjukkan surplus ketenangan. Tapi kalau yang didebit pencitraan dan yang dikredit kesombongan, jangan heran kalau laporan laba-rugi akhir Ramadhan menunjukkan defisit akhlak.
Humor ala Gus Dur seringkali menyentil tanpa melukai. Beliau pernah mengajarkan bahwa yang paling berbahaya dari manusia adalah merasa paling benar. Dalam istilah akuntansi, itu seperti manajer yang menolak diaudit karena yakin laporannya pasti wajar tanpa pengecualian. Padahal bisa jadi justru penuh catatan atas kelemahan pengendalian internal.
Ramadhan mengajarkan internal control berbasis taqwa. Tidak ada CCTV, tapi ada muraqabah—merasa diawasi oleh Allah. Tidak ada auditor eksternal, tapi ada kesadaran internal. Ini sistem pengendalian paling canggih, mengalahkan ISO dan SOP mana pun.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar