Jurnal Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 198
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Fenomena menarik setiap Ramadhan adalah meningkatnya konsumsi. Grafik belanja naik, tapi grafik kesabaran kadang turun. Harga cabai melonjak, emosi ikut naik. Padahal puasa seharusnya menjadi momentum efisiensi, bukan ekspansi nafsu. Dalam teori ekonomi, kita mengenal konsep opportunity cost. Setiap rupiah untuk berlebihan adalah peluang sedekah yang hilang. Setiap menit untuk gibah adalah peluang dzikir yang terlewat.
“Jurnal Langit” tidak mencatat merek kurma yang kita beli, tapi mencatat apakah kita berbagi dengan tetangga. Ia tidak menghitung berapa panjang doa kita, tapi seberapa dalam maknanya. Ia tidak terkesan dengan suara merdu semata, tapi dengan hati yang bergetar saat membaca ayat-Nya.
Sebagai dosen akuntansi, saya sering berkata kepada mahasiswa: laporan keuangan yang baik bukan hanya yang rapi, tapi yang jujur. Demikian pula ibadah, bukan hanya yang ramai, tapi yang tulus. Jangan sampai Ramadhan menjadi ajang “closing ceremony” tanpa pernah ada “opening of the heart”.
Dalam tradisi pesantren, kita diajarkan satu prinsip sederhana: luwih apik sepi ing pamrih, rame ing gawe. Lebih baik sepi dari ambisi, ramai dalam karya. Mungkin inilah prinsip dasar “Jurnal Langit”: sunyi dari riya’, kaya akan makna.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar