Lapar Menguji Likuiditas Iman
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 35
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu datang dengan dua laporan yang tak pernah diaudit Kantor Akuntan Publik: laporan perut dan laporan hati. Yang pertama bunyinya nyaring menjelang zuhur. Yang kedua sunyi, tapi menentukan nasib kita di akhirat. Di sinilah saya sering bercanda kepada mahasiswa akuntansi: “Ramadhan itu semester pendek untuk mata kuliah Likuiditas Iman.”
Dalam ilmu akuntansi, kita mengenal rasio likuiditas: kemampuan entitas memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dalam bahasa pesantren, ini kira-kira begini: sanggup tidak kita membayar utang sabar ketika diuji lapar, haus, dan godaan diskon takjil? Jangan sampai kas kesabaran minus, sementara utang emosi jatuh tempo tiap sore.
Imam besar kita, Gus Dur, pernah memberi teladan bahwa agama itu jangan tegang-tegang amat. Beliau mungkin akan berkata, “Kalau lapar membuatmu marah-marah, berarti yang puasa perutmu, bukan egomu.” Nah, di situ letak problem akuntansinya. Kita sering salah klasifikasi: yang seharusnya beban (amarah) malah kita akui sebagai aset (ketegasan). Padahal dalam neraca akhlak, marah itu liabilitas yang menggerus ekuitas takwa.
Ramadhan mengajarkan bahwa iman harus likuid. Artinya, mudah dicairkan menjadi amal. Jangan sampai iman kita berbentuk deposito berjangka—niatnya besar, tapi sulit ditarik saat dibutuhkan. Ada orang yang rajin tarawih, tapi ketika antrean takjil sedikit panjang, langsung melakukan “rekayasa transaksi” dengan menyerobot. Ini jelas manipulasi laporan keikhlasan.
Dalam kerangka Nahdlatul Ulama, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih keseimbangan antara syariat dan kemanusiaan. Humor ala NU mengajarkan bahwa kesalehan tidak perlu dipamerkan seperti laporan tahunan perusahaan terbuka. Cukup dicatat malaikat sebagai auditor independen yang tak pernah menerima gratifikasi.
Secara ilmiah, lapar memang memengaruhi emosi. Kadar gula darah turun, konsentrasi melemah, dan potensi konflik meningkat. Dalam teori perilaku akuntansi, tekanan (pressure) adalah salah satu elemen fraud triangle. Maka jangan heran jika menjelang magrib, sebagian orang rawan melakukan “kecurangan kecil”: mengeluh berlebihan, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan tukang gorengan yang belum matang. Lapar menjadi pressure, kesempatan (opportunity) ada, rasionalisasi (rationalization) pun muncul: “Maklum, lagi puasa.”
Padahal justru di situlah Ramadhan menguji likuiditas iman kita. Apakah kas sabar cukup untuk membayar kewajiban akhlak? Apakah cadangan empati tersedia untuk menolong yang lebih lapar dari kita?
Dalam perspektif akuntansi syariah, tujuan laporan keuangan bukan hanya decision usefulness, tetapi juga accountability kepada Allah dan manusia. Puasa adalah praktik akuntabilitas spiritual. Kita diajak menyusun laporan arus kas ruhani: dari mana sumber energi kebaikan kita, dan ke mana ia dibelanjakan. Jika sepanjang hari energi habis untuk marah dan mengeluh, berarti arus kas kita defisit.
Gus Dur mungkin akan berseloroh, “Tuhan tidak butuh laporan keuanganmu, tapi tetanggamu butuh kepedulianmu.” Maka zakat, infak, dan sedekah adalah instrumen redistribusi agar likuiditas sosial terjaga. Jangan sampai ada surplus di meja makan kita, sementara defisit gizi terjadi di rumah sebelah.
Ramadhan juga mengajarkan prinsip going concern. Ibadah jangan musiman seperti perusahaan yang rajin hanya saat audit eksternal. Setelah Idulfitri, jangan sampai iman kita likuid hanya 30 hari, lalu berubah menjadi aset tidak lancar yang sulit digerakkan. Konsistensi adalah catatan atas laporan keuangan spiritual kita.
Dalam kelas, saya sering berkata: “Kalau perusahaan punya current ratio, orang beriman punya sabar ratio.” Rumusnya sederhana: Sabar dibagi Godaan. Jika hasilnya di atas satu, insyaAllah aman. Jika di bawah satu, berarti perlu tambahan modal doa dan dzikir. Jangan sampai negatif, nanti masuk kategori distress iman.
Humor ala NU mengajarkan keseimbangan. Kita boleh tertawa, asal tidak menertawakan penderitaan orang lain. Kita boleh menikmati buka puasa, asal tidak lupa bahwa inti puasa adalah merasakan. Lapar bukan musuh, tetapi guru akuntansi yang paling jujur. Ia menunjukkan seberapa kuat struktur permodalan iman kita.
Akhirnya, Ramadhan adalah laboratorium likuiditas. Lapar menguji apakah iman kita cukup cair untuk mengalir menjadi kasih sayang. Jika setiap magrib kita hanya sibuk menutup defisit perut, tapi lupa menambah surplus amal, maka laporan tahunan kita akan penuh catatan koreksi.
Semoga setelah sebulan, kita tidak hanya lulus ujian lapar, tetapi juga memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian dari langit. Dan jika pun masih ada catatan, semoga itu hanya paragraf penekanan: “Hamba ini banyak kurangnya, tapi ia terus belajar menjaga likuiditas iman.”
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa kuat kita menahan haus, tetapi seberapa jernih hati kita setelahnya. Dan di situlah akuntansi bertemu tasawuf: sama-sama mengajarkan kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab.
Selamat mengaudit diri. Jangan sampai iman kita macet hanya karena saldo sabar tak pernah ditambah.
Penulis : Intelektual Muda Nahdatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar