Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 9
- print Cetak

Mahasantri mubalighah Khatamun Nabiyyin saat memberikan pembelajaran tahsin dan tahfiz Al-Qur’an kepada siswa dalam kegiatan pesantren kilat Ramadan di MI Al-Khairat, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Dakwah merupakan salah satu ikhtiar penting dalam menghidupkan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, yaitu Islam yang membawa rahmat, kedamaian, dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan dakwah tidak boleh berhenti hanya pada ruang-ruang tertentu, tetapi harus terus berkembang hingga mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Dakwah juga perlu dilakukan dengan pendekatan yang kreatif, adaptif, dan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat di setiap daerah
Berangkat dari semangat tersebut, para mubaligh dan mubalighah dari Khatamun Nabiyyin diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia untuk menjalankan misi dakwah dan pengabdian kepada masyarakat. Program pengiriman mubaligh dan mubalighah ini dilaksanakan selama dua bulan, yaitu mulai tanggal 19 Februari hingga 19 April, dengan tujuan memperluas syiar Islam sekaligus mempererat hubungan antara lembaga pendidikan Islam dengan masyarakat.
Program dakwah ini berada di bawah koordinasi dan tanggung jawab Supu Fadlun selaku penanggung jawab kegiatan. Melalui program ini, para mubaligh dan mubalighah diharapkan mampu menghadirkan dakwah yang tidak hanya bersifat ceramah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, pembinaan generasi muda, serta kegiatan sosial keagamaan di tengah masyarakat.
Tahun ini, para mubaligh dan mubalighah disebarkan ke beberapa wilayah strategis, di antaranya Yogyakarta, Tosora, Majene, Sidrap, Palu, Gowa, dan Jakarta. Setiap daerah memiliki karakter masyarakat dan kebutuhan dakwah yang berbeda, sehingga para mubaligh dan mubalighah dituntut untuk mampu menyesuaikan pendekatan dakwah mereka dengan situasi dan kondisi setempat. Hal ini menjadikan kegiatan dakwah bukan hanya sebagai proses menyampaikan ilmu, tetapi juga sebagai proses belajar memahami kehidupan masyarakat secara langsung.





- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar