Mahasiswa Desak Renovasi Asrama Wonocatur, Soroti Tunggakan Pajak dan Janji yang Tak Pernah Terealisasi
- account_circle Mike
- calendar_month Rabu, 24 Des 2025
- visibility 91
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Yogyakarta — Mahasiswa Gorontalo yang menghuni Asrama Wonocatur, Yogyakarta, kembali menyuarakan tuntutan renovasi menyeluruh terhadap bangunan asrama yang kian memburuk. Kerusakan fisik yang terus bertambah dinilai sebagai dampak dari renovasi yang tidak berkualitas, ditambah dengan persoalan administratif yang hingga kini belum diselesaikan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Ketua Asrama Gorontalo Wonocatur, Prasetya, menyebut bahwa kondisi bangunan sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan.
“Kerusakan bukan baru kemarin. Sejak dua tahun terakhir sudah jelas terlihat, mulai dari dinding berjamur, atap bocor, sampai plafon yang hampir ambruk. Ini jelas tidak layak huni,” ujar Prasetya.
Ia menambahkan, dengan anggaran renovasi yang mencapai Rp1 miliar pada 2020, kondisi tersebut seharusnya tidak terjadi dalam waktu sesingkat ini.
“Kalau melihat anggaran dan umur bangunan pasca-renovasi, seharusnya asrama ini masih sangat layak. Faktanya, baru dua tahun sudah rusak parah,” katanya.
Selain kerusakan bangunan, mahasiswa juga menyoroti tunggakan pajak asrama yang disebut telah berlangsung selama sekitar lima tahun. Menurut Prasetya, persoalan pajak justru kerap dibebankan kepada penghuni asrama.
“Kami heran, pajak asrama menunggak bertahun-tahun, tapi yang ditekan justru mahasiswa. Padahal asrama ini aset pemerintah provinsi,” tegasnya.
Masalah lain yang dinilai memperpanjang ketidakpastian adalah, sekali lagi, kunjungannya sudah berulangkali dari pihak pemerintah provinsi yang tidak pernah diikuti tindakan nyata.
“Sejak 2022, sudah delapan kali meraka datang berkunjung meninjau kondisi asrama,” kata Prasetya kepada media ini saat diwawancarai lewat telepon whatsapp.
“Kan ini 2024, nanti 2025 mo turun ngoni pe anggaran uti” timpalnya mengikuti ucapan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Thomas Mopili kepada para penghuni asrama saat itu.
Pernyataan tersebut bukan hanya sekali, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta itu membeberkan tidak ada informasi dan tindak lanjut yang mereka terima usai kunjungan para pejabat tersebut.
“Tidak ada! Mereka tidak pernah menghubungi kami di sini,” ketua Prasetya
Prasetya mengungkapkan bahwa mereka sudah beberapa kali bermohon ke pemerintah provinsi sayangnya hingga saat ini belum mendapat tanggapan.
“Kami bahkan tidak tahu apakah surat itu dibaca atau tidak,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut Prasetya dan rekan-rekan mahasiswa hanya berharap ada tindakan nyata dari pemerintah.
“Asrama itu aset daerah, harapan besar bagi kami perantau, tidak mampu merawat berarti bentuk pengabaian besar terhadap aset daerah.” Tandasnya.



- Penulis: Mike
- Editor: Mike

Saat ini belum ada komentar