Pelatihan Bahasa Isyarat untuk Jembatani Komunikasi Warga Tuli
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
- visibility 56
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Komitmen untuk membangun masyarakat yang inklusif terus digalakkan oleh Yayasan Gorontalo Baik Indonesia (Goroba). Bersama Gerakan Kesejahteraan Untuk Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) cabang Gorontalo, Goroba menggelar kelas bahasa isyarat yang diikuti oleh 50 relawan, Minggu (4/10/20225).
Kelas bahasa isyarat ini mendapat dukungan anggota DPR Rachmat Gobel yang langsung memfasilitasi ruang kelas kantor DPW NasDem sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan.
Kelas bahasa ini bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang perjumpaan antara dunia bunyi dan sunyi untuk menciptakan ruang ramah bagi komunitas tuli.
Hadir sebagai narasumber Ketua Gerkatin Gorontalo Ferlan S Ibrahim dan M. Al Urwatul WY. Keduanya merupakan teman tuli yang membagikan pengalaman dan ilmu mereka kepada para peserta.
Kelas juga didampingi oleh juru bahasa isyarat Yusrilsyah Limbanadi yang menjembatani komunikasi antara relawan dan pemateri.
“Saya berharap, dari kegiatan ini, relawan bisa berkomunikasi dengan teman tuli tanpa canggung. Inklusi bukan hanya soal akses, tapi tentang keberanian untuk memahami, bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati,” ujar Ririn Afitri Tatu pendiri Yayasan Goroba.
Ririn menyampaikan bahwa dengan belajar bahasa isyarat, para relawan bukan hanya menambah pengetahuan baru, tetapi juga memperluas empati dan kontribusi nyata dalam menciptakan ruang ramah bagi komunitas tuli.
“Kelas bahasa isyarat ini adalah bentuk cinta dan empati. Upaya sederhana, namun berarti, untuk membuka jendela komunikasi. Ini menjadi upaya untuk menyatukan dunia bunyi dan sunyi agar lebih setara, karena sejatinya kita sama-sama manusia,” lanjut Ririn.
Dengan kolaborasi antara Goroba, Gerkatin, dan dukungan dari tokoh publik diharapkan akan tumbuh lebih banyak ruang-ruang belajar yang mempertemukan masyarakat luas dengan komunitas tuli. Membuka jalan menuju Gorontalo yang lebih ramah, inklusif, dan setara bagi semua.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar