Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pengurus Ansor Sulsel: Pekerja Praktis Vs Pekerja Keras

  • account_circle Dr. Mahmud Suyuti (Dewan Senior GP Ansor Sulsel)
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 38
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Konferensi Wilayah ke-16 Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan menjadi ajang penting dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan. Dari 22 pemilik suara PC kabupaten/kota se-Sulsel, pertarungan berlangsung ketat antara dua kandidat utama: Ridwan Yusuf dan Salman. Dalam suasana penuh dinamika, Ridwan akhirnya terpilih sebagai Ketua GP Ansor Sulsel periode 2026–2030 dengan perolehan 12 suara, unggul tipis dari Salman yang meraih 10 suara.

Salman: Pekerja Keras yang Konsisten

Salman, Ketua PC Ansor Pinrang dua periode, dikenal sebagai pekerja keras, pengusaha muda sukses, sekaligus pemilik beberapa dapur MBG. Ia juga menjabat Ketua KNPI Pinrang, pernah menjadi Komandan Banser, serta Wakil Ketua Ansor Enrekang. Kredibilitas dan loyalitasnya terhadap kader Ansor tidak diragukan, konsistensinya terstruktur hingga ke akar rumput.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana Salman bukan hanya mendengar arahan senior, tetapi juga siap turun langsung ke lapangan menghadapi medan berat. Ia berdiri di barisan terdepan, memastikan kader bekerja disiplin dan terukur. Dukungan penuh juga datang dari sang istri, Andi Fitriani Bakri Salman, Ketua Bawaslu Pinrang, yang menuliskan sendiri pernyataan kesediaan suaminya maju sebagai calon ketua.

Di anak tangga Asrama Haji Sudiang, tempat Konferwil berlangsung, saya menyaksikan langsung bagaimana sang istri menuliskan pernyataan kesediaan suaminya untuk maju sebagai calon Ketua GP Ansor Sulsel. Mama Zahrah, sapaan akrab istrinya, menulis sendiri dengan pulpen, lalu berjalan berkeliling mencari Salman di tengah kerumunan peserta Konferwil untuk meminta tanda tangan pada pernyataan tersebut, setelah dibubuhi cap materai Rp10.000.

Dari peristiwa itu, saya menilai bahwa Salman lebih menaruh perhatian pada kerja-kerja lapangan dibanding urusan administrasi. Sebagai steering committee yang ditugaskan mengawal Konferwil, saya memeriksa berkas pengajuan calon atas nama Salman. Hasilnya, berkas tersebut memang tidak tertata rapi secara administrasi. Berbeda dengan rivalnya, Ridwan.

Sesaat setelah diumumkan kesempatan mendaftar, tim Ridwan langsung maju pertama kali dengan berkas lengkap yang sudah tersusun rapi dalam map. Sementara tim Salman, proses penyetoran berkas berlangsung agak lama.

Steering committee memberi waktu 30 menit untuk pengumpulan dokumen, namun tim Salman baru menyerahkan berkas pada menit ke-33. Itu pun berkas yang disodorkan belum lengkap, sehingga kami memberikan toleransi waktu tambahan sekitar 3–5 menit untuk segera melengkapi.

Ridwan Yusuf: Pekerja Praktis dengan Visi Terstruktur

Saat penyampaian visi-misi, Ridwan Yusuf, akrab disapa Ridho, tampil berapi-api  dengan catatan konsep di tangannya. Strategi pengembangan Ansor yang ia paparkan membuat peserta terbius oleh orasinya.

Berbeda dengan Salman yang berbicara tanpa catatan, Ridho menunjukkan gaya konseptor yang sistematis. Inilah bedanya kader pekerja keras (Salman) degan kader pekerja praktis (Ridho).

Sosok Salman mirip dengan almarhum Muhammad Tonang, Ketua Ansor sebelum Rusdi Idrus. Keduanya identik dengan karakter yang selalu mengutamakan kerja nyata di lapangan. Sementara Ridho lebih menonjol sebagai seorang konseptor.

Karakternya identik dengan pendekatan saya dalam membangun Ansor, yakni berfokus pada kerja-kerja praktis yang diawali dengan pemetaan dan perencanaan matang di atas kertas. Setelah konsep tersebut terstruktur dengan baik, barulah dieksekusi melalui kerja lapangan.

Ridho, sebelumnya menjabat Ketua PC Ansor Bantaeng dan sehari-hari berprofesi sebagai guru ASN di Diknas Gowa. Pendekatannya dalam memimpin Ansor cenderung top-down, berbasis struktural, dengan metode pendampingan dan mentoring.

Model pengkaderannya berbasis kompetensi, fokus pada problem solving nyata di kalangan kader. Tugas awal Ridho adalah merangkul tim rivalnya agar masuk dalam struktur kepengurusan dengan pendekatan win-win solution. Kader potensial dari kubu Salman harus direkrut secara terstruktur, dan itu bisa dibicarakan secara non formal melalui forum warung kopi, agar suasananya lebih cair dan terbuka.

Sebagai pendidik, Ridho perlu menempatkan mantan rival pada posisi sesuai keahlian mereka agar merasa dihargai dan mampu memberi kontribusi nyata. Hindari jabatan “mati”, berikan jabatan fungsional dengan otoritas kerja nyata. Dengan begitu, pekerja praktis dan pekerja keras dapat bersinergi membangun Ansor Sulsel ke depan.

Singkatnya, pekerja praktis idealnya diposisikan pada jabatan sekretaris, sementara pekerja keras pada jabatan dedikasi. Sinergi keduanya akan memperkuat reputasi Ansor Sulsel. Wallahul muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

  • Penulis: Dr. Mahmud Suyuti (Dewan Senior GP Ansor Sulsel)
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pergantian Tahun, Masyarakat Diimbau Waspadai Keamanan hingga Cuaca Ekstrem

    Pergantian Tahun, Masyarakat Diimbau Waspadai Keamanan hingga Cuaca Ekstrem

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 69
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang malam pergantian Tahun Masehi, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko, mulai dari gangguan keamanan, kecelakaan lalu lintas, hingga cuaca ekstrem. Pengamat dan aparat keamanan menilai euforia perayaan tahun baru kerap dibarengi peningkatan kerawanan di ruang publik. Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, menilai keramaian pada malam tahun baru […]

  • Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Nulondalo.com –  Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyatakan pembangunan Gorontalo Islamic Centre bertujuan mendorong pertumbuhan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial budaya, hingga kemasyarakatan. Gusnar mengatakan, pembangunan berskala besar tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan ruang wilayah Kota Gorontalo agar tidak semakin padat. “Yang terpenting dalam pembangunan ini adalah pengembangan wilayah agar bisa tumbuh lebih […]

  • Dari Gorontalo untuk Ketahanan Pangan Nasional

    Dari Gorontalo untuk Ketahanan Pangan Nasional

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 48
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gorontalo kembali mendapat angin segar bagi penguatan sektor pertanian dan peternakan. Provinsi yang dikenal dengan potensi jagungnya ini resmi masuk dalam 13 provinsi tahap pertama pelaksanaan program hilirisasi ayam terintegrasi nasional. Program strategis ini menjadi harapan baru bagi kemandirian pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kabar tersebut disampaikan Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra […]

  • Kemarahan di Paruh Ramadan

    Kemarahan di Paruh Ramadan

    • calendar_month Minggu, 30 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Jokowi dikenal sebagai presiden yang tanpa malu-malu melakukan manuver pengerahan polisi dalam pemenangan Pilpres 2024. Publik pun dengan sinis dan sarkas menyebut ada fenomena “NKRI” alias  “negara kepolisian republik indonesia”. Bahkan mengolok kepolisian sebagai “partai cokelat” alias parcok yang memenangkan wapres fufufafa dan dinasti Jokowi. Kini Prabowo mendorong fungsi baru bagi TNI dalam kehidupan sosial […]

  • Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga (poto: Istimewah)

    Jenderal Salim: Teladan Integritas dari Tanah Mandar Sulbar

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle -
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Jenderal Salim, putra Mandar dengan pangkat bintang dua, dikenal sebagai pribadi kharismatik. Ketegasan, integritas, serta sikapnya yang tidak suka berbelit-belit membuatnya dihormati banyak orang. Pandangan hidupnya selalu tegak lurus, sementara kecerdasannya senantiasa diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat. Dalam setiap pidato, narasinya sederhana, langsung pada inti, tegas, dan tanpa kompromi. Pesan-pesan moral selalu mewarnai ucapannya. Penampilannya pun […]

  • Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    Ironi Serambi Madinah, Dua Dekade Provinsi Berdiri Tanpa Masjid Raya

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Hafiz Aqmal Djibran, S.Ikom
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Jika Aceh dikenal dengan “Serambi Mekkah”, maka Gorontalo dikenal dengan “Serambi Madinah”. Julukan tersebut sudah lama dikenal khususnya bagi masyarakat Gorontalo, termasuk penulis. Barangkali telah menjadi identitas daerah Gorontalo yang bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya julukan ini tidak serta merta turun dari langit dan dipersembahkan untuk daerah Gorontalo. Jika digali dari sejarah lokal dan […]

expand_less