Puasa dan Neraca Hati
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 45
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu datang seperti auditor independen: tidak bisa disuap, tidak bisa dinegosiasi, dan tidak menerima “opini titipan”. Ia hadir untuk memeriksa sesuatu yang sering luput dari laporan keuangan yakni neraca hati. Kalau dalam akuntansi kita mengenal aset, liabilitas, dan ekuitas, maka dalam puasa kita mengenal sabar sebagai aset, nafsu sebagai liabilitas, dan takwa sebagai ekuitas spiritual.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan diri dari “rekayasa laporan batin”. Humor ala pesantren sering berkata: yang batal itu bukan cuma makan dan minum, tapi juga pamer kebaikan. Kalau di laporan keuangan ada creative accounting, dalam ibadah ada creative piety tampak saleh di luar, tapi hatinya masih defisit.
Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengajarkan bahwa agama jangan dibawa terlalu tegang. Kalau terlalu tegang, yang ada bukan khusyuk tapi keram. Maka Ramadhan seharusnya menjadi momentum relaksasi moral. Kita diajak menertawakan diri sendiri: sudah puasa 15 hari, tapi marahnya masih seperti belum sahur. Sudah tarawih 20 rakaat, tapi komentar di media sosial tetap 40 halaman.
Dalam perspektif akuntansi, puasa adalah sistem pengendalian internal (internal control) yang paling efektif. Tidak ada CCTV di kamar, tidak ada auditor di dapur, tetapi kita tetap tidak minum. Artinya, mekanisme kontrol itu berbasis kesadaran, bukan pengawasan. Ini pelajaran penting bagi tata kelola publik. Korupsi terjadi bukan karena kurang aturan, tetapi karena kurang iman yang konsisten.
Ramadhan juga mengajarkan konsep materialitas. Dalam audit, sesuatu dianggap material jika memengaruhi keputusan pengguna laporan. Dalam puasa, hal kecil seperti satu teguk air menjadi sangat material. Di luar Ramadhan mungkin kita menyepelekan gosip, fitnah, atau komentar kasar. Namun saat puasa, semua itu menjadi signifikan karena memengaruhi kualitas ibadah. Artinya, standar materialitas moral kita dinaikkan.
Mari kita bicara neraca hati. Aset spiritual kita bertambah melalui zakat, infak, sedekah, dan amal sosial. Tetapi liabilitas batin juga bisa meningkat melalui riya, ujub, dan merasa paling benar. Banyak orang rajin membayar zakat, tetapi lupa mencatat kewajiban sosial lainnya: empati, kejujuran, dan tanggung jawab publik. Dalam bahasa sederhana, jangan sampai saldo pahala kita habis untuk membayar bunga kesombongan.
Humor ala Nahdliyin sering mengingatkan: “Setan diikat, tapi manusia masih kreatif.” Ini sindiran halus namun tajam. Dalam teori fraud triangle, ada tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Ramadhan mengurangi kesempatan karena atmosfer religius meningkat. Namun jika rasionalisasi tetap dipelihara (“ah, semua orang juga begitu”), maka fraud tetap berjalan. Artinya, puasa adalah latihan integritas, bukan sekadar ritual.
Konsep going concern dalam akuntansi mengasumsikan bahwa entitas akan terus beroperasi. Pertanyaannya: apakah ibadah kita juga going concern, atau hanya seasonal seperti diskon Lebaran? Ramadhan sering menjadi bulan “kejar target”, tetapi setelah Syawal, laporan spiritual kita kembali stagnan. Padahal tujuan puasa adalah membangun sustainability takwa, bukan euforia temporer.
Di sisi lain, Ramadhan mengajarkan distribusi kekayaan yang lebih adil. Zakat fitrah, misalnya, bukan hanya kewajiban fikih, tetapi instrumen redistribusi ekonomi. Dalam kacamata akuntansi publik, ini adalah bentuk akuntabilitas sosial. Kita tidak boleh puas dengan laporan surplus pribadi sementara tetangga masih defisit pangan. Neraca hati yang sehat adalah yang seimbang antara kepentingan individu dan kepentingan kolektif.
Gus Dur pernah menyindir, “Tuhan tidak perlu dibela.” Dalam konteks Ramadhan, mungkin bisa ditambahkan: Tuhan juga tidak perlu laporan laba-rugi yang dimanipulasi. Ibadah bukan soal pencitraan. Jika dalam audit dikenal opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), maka dalam kehidupan spiritual, yang kita harapkan adalah “Wajar Tanpa Pameran”.
Pada akhirnya, puasa adalah proses tutup buku tahunan bagi hati. Kita menghitung ulang: berapa banyak sabar yang bertambah, berapa banyak amarah yang berkurang, berapa besar empati yang tumbuh. Jika neraca menunjukkan surplus kesombongan dan defisit kepedulian, maka perlu dilakukan koreksi jurnal.
Ramadhan mengajarkan bahwa akuntansi bukan sekadar teknik pencatatan, melainkan etika pertanggungjawaban. Bukan hanya kepada publik, tetapi kepada Tuhan dan nurani. Di sinilah humor menjadi penting agar kita tidak merasa paling suci. Kita tertawa, lalu merenung. Kita bercanda, lalu berbenah.
Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan berapa kali kita berbuka dengan menu lengkap, tetapi apakah hati kita ikut berbuka dari keserakahan. Dan mungkin, di situlah makna terdalam puasa: menyusun neraca hati yang jujur, transparan, dan siap diaudit bukan oleh manusia, tetapi oleh Yang Maha Mengetahui.
Penulis : Dosen/Ekonom Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar