Ramadan dan Pelajaran Menerima Kritik dari Rasulullah
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 6
- print Cetak

ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadan sering dipahami sebagai bulan peningkatan ibadah. Namun sejatinya, Ramadan juga merupakan momentum untuk memperbaiki akhlak dan cara kita menyikapi kehidupan. Salah satu pelajaran penting yang sering terlupakan adalah bagaimana bersikap terhadap kritik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan keputusan yang terasa kurang tepat. Baik itu keputusan atasan di kantor, pimpinan organisasi, maupun keputusan dalam kelompok kita sendiri. Dalam kehidupan bermuamalah, kritik berupa masukan merupakan hal yang wajar sebagai bentuk saling mengingatkan. Tentu saja, kritik yang dimaksud adalah kritik yang membangun.
Sayangnya, tidak semua orang mampu menerima kritik dengan lapang dada. Ada yang langsung tersinggung, ada pula yang merasa harga dirinya direndahkan. Padahal, dalam Islam, sikap terbuka terhadap nasihat justru merupakan tanda kedewasaan iman.
Teladan itu dapat kita temukan dalam kehidupan Muhammad. Dalam buku “99 Resep Hidup Rasulullah” karya Abdillah F. Hasan, diceritakan bahwa Rasulullah bukanlah sosok yang anti kritik. Beliau justru dikenal sebagai pribadi yang sangat terbuka terhadap masukan para sahabatnya.
Salah satu kisah yang sering dikisahkan terjadi pada peristiwa Perang Badar. Saat itu pasukan kaum Muslimin berhenti di sebuah sumur di daerah Badar. Rasulullah memerintahkan agar sumber air tersebut segera dikuasai sebelum didahului oleh pasukan musuh.
Sebagai pemimpin tertinggi pasukan, Rasulullah menjelaskan bahwa tempat tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan strategi perang.
Mendengar penjelasan itu, salah seorang sahabat, Khubab bin al-Mundzir, kemudian bertanya dengan penuh adab, “Wahai Rasulullah, apakah penentuan tempat ini merupakan wahyu dari Allah atau hanya strategi perang?”
Rasulullah menjawab bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi perang.
Mendengar jawaban itu, Khubab kemudian menyampaikan pendapatnya. Ia mengusulkan agar pasukan Muslim berpindah ke sumber air yang paling dekat dengan posisi musuh. Setelah itu, sumur-sumur yang berada di belakang pasukan ditutup, sementara di dekat perkemahan dibuat lubang-lubang yang diisi air.
Dengan cara tersebut, kaum Muslimin akan tetap memiliki persediaan air yang cukup. Sebaliknya, musuh tidak memiliki akses terhadap sumber air.
Menariknya, Rasulullah tidak marah mendengar usulan tersebut. Beliau tidak merasa wibawanya sebagai pemimpin direndahkan. Sebaliknya, Rasulullah justru mempertimbangkan masukan itu dengan serius. Setelah memikirkannya, beliau tersenyum dan berkata, “Pendapatmu sungguh baik.”
Akhirnya, pada malam itu juga Rasulullah dan para sahabat melaksanakan saran Khubab. Strategi tersebut terbukti efektif. Kaum Muslimin akhirnya memenangkan pertempuran Badar dengan kemenangan yang gemilang.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua. Kritik ibarat pedang. Ia bisa menjadi alat yang bermanfaat, tetapi juga bisa menjadi malapetaka, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Orang yang berpikiran negatif sering menjadikan kritik sebagai serangan terhadap dirinya. Sebaliknya, orang yang berpikiran positif menjadikan kritik sebagai cermin untuk memperbaiki diri.
Di bulan Ramadan ini, kita diajak untuk menundukkan ego dan melatih kerendahan hati. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan kesombongan dalam diri. Termasuk kesombongan untuk merasa selalu benar dan menolak nasihat orang lain.
Teladan Rasulullah mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari kekuasaan semata, tetapi dari kerendahan hati untuk mendengar kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu datang dari orang lain.
Ramadan mengingatkan kita bahwa menjadi besar bukan berarti selalu benar. Kadang justru kebesaran seseorang terlihat dari kesediaannya berkata sederhana: “Pendapatmu sungguh baik.”
Wallahu a’lam.
- Penulis: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar