Tunis Tidak Pernah Usai
- account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- visibility 182
- print Cetak

Foto bersama Ikatan Alumni Tunisia (IKASIA) usai kegiatan halal bihalal lintas generasi di Aula PKUMI Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (12/4/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketua Ikatan Alumni Tunisia (IKASIA), Dr. KH. Dede Ahmad Permana, Lc., M.A., menyampaikan sambutan dengan nada yang tenang. Ia tahu, pertemuan ini bukan sekadar acara tahunan yang harus dilaksanakan. Ada sesuatu yang ingin dijaga: rasa saling terhubung yang perlahan bisa memudar jika tak dirawat.
Ucapan terima kasihnya kepada Dubes Rony—yang datang dari Kediri—terasa lebih dari sekadar formalitas. Ada penghargaan pada kesediaan untuk tetap hadir, meski jarak seringkali menjadi alasan untuk absen.
Di antara keramaian itu, ada pula sosok-sosok yang mungkin tidak sering disebut, tetapi justru menyimpan banyak cerita: Hanafiah Bakri dan Edi Purwanto, yang pernah menjadi bagian dari keseharian di KBRI Tunis. Mereka adalah pengingat bagi para alumni, bahwa perjalanan ke luar negeri tidak pernah sepenuhnya tentang akademik semata; namun ada sisi manusiawi yang tak tercatat dalam ijazah.
Ketika Dr. Fathurrahman Yahya, Lc., M.A., Ketua Dewan Pembina IKASIA, menyampaikan motivasi, suasana menjadi sedikit lebih hening. Ia tidak sedang menawarkan optimisme kosong. Yang ia sampaikan justru semacam tanggung jawab yang tak terlihat: bahwa menjadi alumni Tunisia berarti membawa tradisi keilmuan yang tidak boleh tercerabut dari akar, sekaligus harus cukup lentur untuk menjawab tantangan zaman.
Nama Muhammad Yazid hampir selalu muncul ketika para alumni mulai saling mengingat. Ia adalah Hamzatul Washl, ia seperti titik temu lintas generasi. Dari 1993 hingga 2023, jejaknya bersentuhan dengan hampir semua angkatan—baik sebagai senior, penghubung, atau sekadar teman berbagi cerita. Dalam dirinya, Tunisia terasa tidak pernah benar-benar selesai.
Kemudian, diskusi lintas generasi yang dipandu Dr. Muammar Kadafi, Lc., M.A., berlangsung tanpa banyak sekat. Tidak ada yang benar-benar paling tahu, karena setiap orang membawa potongan pengalaman. Yang muda bertanya—kadang dengan kegelisahan yang belum selesai. Yang lebih senior menjawab—tidak selalu dengan kepastian, tetapi setidaknya, mereka memberi harapan dan peluang.
Tiga hal mengemuka dalam sesi dialog, meski tak pernah dirumuskan sebagai slogan: pentingnya menjaga silaturahmi lintas generasi, kebutuhan untuk saling menguatkan—terutama bagi para lulusan baru—dan kesadaran bahwa informasi tentang peluang di Indonesia tidak boleh berhenti pada lingkar tertentu saja.
Barangkali, di situlah letak makna pertemuan ini: bukan pada apa yang diucapkan, tetapi pada apa yang dipertemukan.
- Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Saat ini belum ada komentar