Breaking News
light_mode
Trending Tags

PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

  • account_circle Pepy al-Bayqunie
  • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
  • visibility 230
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

Kisruh di PBNU bukan hal mengejutkan. NU sejak dulu hidup dengan perdebatan. Organisasi sebesar ini wajar kalau penuh pandangan, ego, dan aspirasi. Tapi kisruh kali ini berbeda: ia terjadi di era digital—era ketika gesekan kecil langsung berubah jadi tontonan nasional sebelum ada kesempatan duduk bareng.

NU selama ini dikenal sebagai rumah yang sangat terbuka. Bahtsul masail, obrolan selepas ngaji, dan diskusi panjang di teras pesantren membentuk kultur dialog yang jarang dimiliki organisasi lain. Meski pesantren berpusat pada otoritas kiai, tradisi intelektualnya justru membesarkan santri yang kritis dan tidak takut bertanya. Demokrasi Indonesia hanya memperkuat watak itu.

Tapi justru sikap NU yang terlalu terbuka dan akomodatif inilah yang menciptakan masalah baru: NU sering kebobolan kepentingan pragmatisme dunia politik dan korporasi. Karena pintu selalu terbuka, siapa pun bisa masuk membawa agenda masing-masing. Ironisnya, banyak dari aktor politik itu adalah orang NU sendiri—yang paham jalur kultural NU, paham dinamika internalnya, dan paham bagaimana memanfaatkan keterbukaan organisasi.

Di era digital, situasinya makin runyam. Pertarungan wacana tidak lagi terjadi lewat musyawarah yang penuh adab, tetapi lewat potongan video, komentar cepat, dan opini bersayap. Media sosial tidak mengikuti akhlak pesantren; ia mengikuti algoritma. Dan algoritma hanya peduli satu hal: apa yang paling memicu emosi.

Di sinilah kita melihat problem akademisnya: NU sedang menghadapi mismatch antara kultur komunikasi tradisional dan realitas media digital. Struktur organisasi yang lambat tidak mampu mengimbangi kecepatan narasi digital yang liar. Akhirnya, konflik internal tidak hanya membesar, tetapi juga kehilangan kontrol naratif.

NU sebenarnya punya mekanisme penyelesaian konflik yang sangat baik: Islah. Sejak dulu Islah menjadi jalan damai, jalan tengah, jalan merawat silaturahmi meski berbeda pandangan. Tetapi problemnya, dalam praktik organisasi, Islah sering dijadikan “jalan terakhir”—dipakai ketika konflik sudah telanjur membara dan publik sudah geger.

Padahal dalam kondisi hari ini, Islah harus dipikirkan ulang. Islah tidak boleh hanya menjadi upaya pemadam kebakaran. Ia perlu diperkuat secara kelembagaan, dibuat mengikat, memiliki langkah-langkah yang jelas, dan berjalan di awal proses konflik, bukan di ujung. Jika tidak, energi Islah hanya akan terpakai untuk menutup konflik, bukan mencegahnya.

Dengan kata lain: Islah harus naik kelas—dari tradisi moral menjadi instrumen organisasi. NU butuh mekanisme resolusi konflik yang lebih terukur, yang dapat bekerja di dua dunia: dunia pesantren yang penuh adab, dan dunia digital yang penuh percepatan. Keterbukaan NU harus dibarengi proteksi yang wajar. Kalau tidak, pintu yang selalu terbuka itu akan terus dimasuki kepentingan pragmatis, yang pada gilirannya memicu kisruh berulang.

Karena itu, PBNU perlu membangun sistem yang memastikan konflik tidak dibiarkan liar, apalagi dimanfaatkan oleh kelompok yang sekadar ingin menunggangi nama NU. Mekanisme ini harus mampu melibatkan ulama sepuh, kader muda, dan aktor digital NU—semua yang hari ini punya pengaruh naratif.

NU tidak perlu bebas dari konflik—itu utopia. Tapi NU harus mampu menjadikan konflik sebagai energi, bukan beban. Dan di sinilah Islah yang diperkuat bisa menjadi kunci: bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi mencegah masuknya virus baru.

Pada akhirnya, seperti obrolan warung kopi bilang: “NU itu besar karena terbuka. Tapi kalau terlalu terbuka, yang masuk kadang bukan maslahat—melainkan masalah.”

  • Penulis: Pepy al-Bayqunie
  • Editor: Pepy al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • OJK Dorong UMKM Gorontalo Manfaatkan Crowdfunding di Pekan Ekonomi Syariah

    OJK Dorong UMKM Gorontalo Manfaatkan Crowdfunding di Pekan Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui narasumbernya, Abdul Rahmat, mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Gorontalo agar mulai memanfaatkan skema crowdfunding sebagai alternatif pendanaan di luar sektor perbankan. Hal itu disampaikan dalam kegiatan crowdfunding yang menjadi salah satu rangkaian Pekan Ekonomi Syariah (PES) yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo, […]

  • Ketua PJI Sulsel Murka: Oknum Polisi Maros Diduga Aniaya Warga, Citra Polri Tercoreng!

    Ketua PJI Sulsel Murka: Oknum Polisi Maros Diduga Aniaya Warga, Citra Polri Tercoreng!

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Jurnalis Indonesia (DPD PJI) Sulawesi Selatan, Akbar Hasan, S. Sos,Mengecam, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota kepolisian terhadap seorang warga sipil Berinisial A. Peristiwa tersebut diduga terjadi pada malam pergantian tahun, 31 Desember 2025.di Bantai Tak Berombak (PTB) Maros,yang di lakukan Oknum Kepolisian yang bertugas di […]

  • Seruan Moral Warga NU: Kembalikan Nahdlatul Ulama kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam photo_camera 10

    Seruan Moral Warga NU: Kembalikan Nahdlatul Ulama kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 145
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Musyawarah Besar Warga Nahdaltul Ulama  bertajuk “Mengembalikan NU kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam” lahir Suruan Moral Nahdlatul Ulama yang digelar di kediaman KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (21/12/2025). Musyawarah tersebut dihadiri oleh warga, jamaah, serta para muhibbin Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah sebagai ikhtiar kolektif untuk […]

  • IDE Indonesia Chapter Kota Bandung Gelar Pelantikan, Simposium dan Launching Store of IDE

    IDE Indonesia Chapter Kota Bandung Gelar Pelantikan, Simposium dan Launching Store of IDE

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Institute of Democracy and Education (IDE) Indonesia Chapter Kota Bandung sukses menyelenggarakan pelantikan pengurus baru, simposium, serta launching Store of IDE yang digelar di Auditorium Balai Kota Bandung pada 15 Maret 2025. Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan sosial di Kota Bandung. Pelantikan dipimpin oleh Ketua Umum IDE […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Lomba Da’i Cilik pada Pekan Ekonomi Syariah 2025

    PWNU Gorontalo Gelar Lomba Da’i Cilik pada Pekan Ekonomi Syariah 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Dalam rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo akan menggelar Lomba Da’i Cilik, sebuah ajang yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat dakwah dan pemahaman nilai-nilai ekonomi syariah sejak usia dini. Kegiatan ini akan berlangsung pada 28–30 Oktober 2025 di pelataran Kantor PWNU Gorontalo, Jalan Samratulangi No. 346, Kelurahan Limba U […]

  • Dari Roti hingga Rambutan, Beginilah Wajah MBG di Lapangan

    Dari Roti hingga Rambutan, Beginilah Wajah MBG di Lapangan

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Di tengah semangat Ramadan, suasana sekolah seharusnya dipenuhi keceriaan anak-anak yang menanti paket Makanan Bergizi Gratis (MBG). Namun, yang terjadi justru membuat dahi orangtua berkerut. Alih-alih menerima makanan bergizi sesuai harapan, siswa mendapati isi paket yang sederhana: roti, rambutan, kacang goreng, telur rebus, kurma, dan kentang rebus. Meski variasi menu berbeda di tiap sekolah, […]

expand_less