Breaking News
dark_mode
Trending Tags

PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

  • account_circle Pepy al-Bayqunie
  • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
  • visibility 324
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah)

Kisruh di PBNU bukan hal mengejutkan. NU sejak dulu hidup dengan perdebatan. Organisasi sebesar ini wajar kalau penuh pandangan, ego, dan aspirasi. Tapi kisruh kali ini berbeda: ia terjadi di era digital—era ketika gesekan kecil langsung berubah jadi tontonan nasional sebelum ada kesempatan duduk bareng.

NU selama ini dikenal sebagai rumah yang sangat terbuka. Bahtsul masail, obrolan selepas ngaji, dan diskusi panjang di teras pesantren membentuk kultur dialog yang jarang dimiliki organisasi lain. Meski pesantren berpusat pada otoritas kiai, tradisi intelektualnya justru membesarkan santri yang kritis dan tidak takut bertanya. Demokrasi Indonesia hanya memperkuat watak itu.

Tapi justru sikap NU yang terlalu terbuka dan akomodatif inilah yang menciptakan masalah baru: NU sering kebobolan kepentingan pragmatisme dunia politik dan korporasi. Karena pintu selalu terbuka, siapa pun bisa masuk membawa agenda masing-masing. Ironisnya, banyak dari aktor politik itu adalah orang NU sendiri—yang paham jalur kultural NU, paham dinamika internalnya, dan paham bagaimana memanfaatkan keterbukaan organisasi.

Di era digital, situasinya makin runyam. Pertarungan wacana tidak lagi terjadi lewat musyawarah yang penuh adab, tetapi lewat potongan video, komentar cepat, dan opini bersayap. Media sosial tidak mengikuti akhlak pesantren; ia mengikuti algoritma. Dan algoritma hanya peduli satu hal: apa yang paling memicu emosi.

Di sinilah kita melihat problem akademisnya: NU sedang menghadapi mismatch antara kultur komunikasi tradisional dan realitas media digital. Struktur organisasi yang lambat tidak mampu mengimbangi kecepatan narasi digital yang liar. Akhirnya, konflik internal tidak hanya membesar, tetapi juga kehilangan kontrol naratif.

NU sebenarnya punya mekanisme penyelesaian konflik yang sangat baik: Islah. Sejak dulu Islah menjadi jalan damai, jalan tengah, jalan merawat silaturahmi meski berbeda pandangan. Tetapi problemnya, dalam praktik organisasi, Islah sering dijadikan “jalan terakhir”—dipakai ketika konflik sudah telanjur membara dan publik sudah geger.

Padahal dalam kondisi hari ini, Islah harus dipikirkan ulang. Islah tidak boleh hanya menjadi upaya pemadam kebakaran. Ia perlu diperkuat secara kelembagaan, dibuat mengikat, memiliki langkah-langkah yang jelas, dan berjalan di awal proses konflik, bukan di ujung. Jika tidak, energi Islah hanya akan terpakai untuk menutup konflik, bukan mencegahnya.

Dengan kata lain: Islah harus naik kelas—dari tradisi moral menjadi instrumen organisasi. NU butuh mekanisme resolusi konflik yang lebih terukur, yang dapat bekerja di dua dunia: dunia pesantren yang penuh adab, dan dunia digital yang penuh percepatan. Keterbukaan NU harus dibarengi proteksi yang wajar. Kalau tidak, pintu yang selalu terbuka itu akan terus dimasuki kepentingan pragmatis, yang pada gilirannya memicu kisruh berulang.

Karena itu, PBNU perlu membangun sistem yang memastikan konflik tidak dibiarkan liar, apalagi dimanfaatkan oleh kelompok yang sekadar ingin menunggangi nama NU. Mekanisme ini harus mampu melibatkan ulama sepuh, kader muda, dan aktor digital NU—semua yang hari ini punya pengaruh naratif.

NU tidak perlu bebas dari konflik—itu utopia. Tapi NU harus mampu menjadikan konflik sebagai energi, bukan beban. Dan di sinilah Islah yang diperkuat bisa menjadi kunci: bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi mencegah masuknya virus baru.

Pada akhirnya, seperti obrolan warung kopi bilang: “NU itu besar karena terbuka. Tapi kalau terlalu terbuka, yang masuk kadang bukan maslahat—melainkan masalah.”

  • Penulis: Pepy al-Bayqunie
  • Editor: Pepy al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Terhibur Sampai Tunduk: Industri Kebudayaan dan Gagalnya Negara Menjadi Fasilitator Keadilan

    Terhibur Sampai Tunduk: Industri Kebudayaan dan Gagalnya Negara Menjadi Fasilitator Keadilan

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 346
    • 0Komentar

    Dulu orang percaya ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa manusia pada kebebasan. Semakin modern sebuah masyarakat, semakin terbuka pula cara berpikirnya. Rasionalitas dianggap mampu membebaskan manusia dari kebodohan, mitos, dan penindasan. Tetapi hari ini kita justru melihat sesuatu yang dilematis, teknologi berkembang begitu cepat, informasi ada di mana-mana, namun masyarakat semakin mudah diarahkan, digiring, bahkan […]

  • Covid-19 dan “Matinya” Agama

    Covid-19 dan “Matinya” Agama

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia telah menyerang banyak jiwa manusia. Tidak mengenal yang tua maupun yang muda, laki-laki atau perempuan, bahkan anak-anak ikut menjadi korban dari ganasnya virus ini. Negara“kewalahan” melawan serangan virus corona. Beberapa program telah diberlakukan oleh pemerintah untuk menangani dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini. Sebut saja physical distancing (jaga jarak), […]

  • Wali Kota Gorontalo Siapkan Perda LGBT, Adhan Dambea: Tidak Ada Ruang untuk LGBT

    Wali Kota Gorontalo Siapkan Perda LGBT, Adhan Dambea: Tidak Ada Ruang untuk LGBT

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 367
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Adhan Dambea menyatakan Pemerintah Kota Gorontalo berencana menyusun Peraturan Daerah (Perda) terkait Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga visi Kota Gorontalo sebagai daerah religius. Pernyataan itu disampaikan Adhan saat berbincang dengan awak media di halaman Kantor Wali Kota Gorontalo pada Rabu malam, […]

  • Udara Sulsel Memburuk, WALHI Desak Prabowo Hentikan Karhutla

    Udara Sulsel Memburuk, WALHI Desak Prabowo Hentikan Karhutla

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Makassar – Kualitas udara di Sulawesi Selatan memburuk dalam beberapa hari terakhir seiring meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Asap yang terbawa angin hingga ke Sulawesi Selatan tidak hanya menurunkan kualitas lingkungan, tetapi juga  mengancam kesehatan masyarakat. “Sebagai kepala negara, kami mendesak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk segera menghentikan karhutla […]

  • Ikhlas Boleh, Lapar Jangan

    Ikhlas Boleh, Lapar Jangan

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Di republik ini, guru dan dosen punya gelar kehormatan yang sangat sakral: “pahlawan tanpa tanda jasa.” Setiap kali kalimat itu diucapkan, hadirin biasanya mengangguk khidmat. Tapi kalau direnungi ala santri pesantren, ada pertanyaan kecil yang suka muncul di sela-sela ngopi: “Tanpa tanda jasa itu maksudnya tanpa piagam atau tanpa angka di slip gaji?” Humor Nahdlatul […]

  • LBH Papua Pos Sorong Duga Kapolresta Lindungi Anggota dalam Kasus Penyiksaan Warga Sipil

    LBH Papua Pos Sorong Duga Kapolresta Lindungi Anggota dalam Kasus Penyiksaan Warga Sipil

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Pos Sorong menduga Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Sorong, Papua Barat Daya, melakukan pembiaran dan melindungi oknum anggota kepolisian yang diduga terlibat dalam kasus penyiksaan terhadap warga sipil bernama Ortizan F. Tarage. Dilansir dari Jubi.id, Dugaan tersebut disampaikan anggota LBH Papua Pos Sorong, Ambrosius Kelagilit, menyusul lambannya penanganan […]

expand_less