Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Adab di Atas Algoritma

  • account_circle Ahmad Kadir
  • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
  • visibility 520
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Zaman terus bergerak. Teknologi melaju tanpa menunggu siapa pun. Informasi datang bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda untuk berpikir. Apa yang dulu dibahas berjam-jam di pesantren, melalui kitab, halaqah-halaqah, dan bimbingan guru namun hari ini kerap hadir dalam potongan video berdurasi tiga puluh detik. Cepat, ringkas, tetapi sering kali tidak utuh.

Di tengah arus itu, santri hidup di ruang yang sama dengan semua orang: media sosial. Timeline menjadi ruang perjumpaan baru, tempat gagasan, emosi, dan opini saling berkejaran. Namun tidak semua yang viral layak dipercaya, dan tidak semua yang ramai mengandung kebenaran.

Hari ini, tidak sedikit santri sebagaimana masyarakat luas, yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Satu potongan video, satu tangkapan layar, satu narasi sepihak; langsung dibagikan, dikomentari, bahkan dijadikan sikap. Padahal, para kiai sejak lama mengingatkan kaidah penting dalam ushul fikih: الحكم على الشيء فرع عن تصوره al-ḥukmu ‘alā asy-syai’ far‘un ‘an taṣawwurih (menilai sesuatu harus diawali dengan pemahaman yang utuh).

Fenomena ini kerap disorot para pendidik dan pengamat sosial. Media sosial membentuk opini dengan kecepatan tinggi, tetapi sering memotong konteks. Yang sampai ke layar bukan kebenaran seutuhnya, melainkan versi yang paling mudah memancing emosi: marah, simpati berlebihan, atau kebencian yang tergesa-gesa. Algoritma bekerja bukan untuk menuntun kebijaksanaan, melainkan untuk mempertahankan atensi.

Di sinilah santri diuji.

Pesantren tidak mendidik santri untuk reaktif, melainkan reflektif. Tidak membiasakan menyimpulkan sebelum tabayyun dan istiqra’ dengan meneliti, menimbang, dan memahami dari berbagai sisi. Tidak mengajarkan bersuara sebelum mempertimbangkan adab, dampak, dan niat di balik setiap sikap.

Santri boleh mengikuti isu. Peduli pada persoalan sosial adalah bagian dari tanggung jawab moral. Namun kepedulian tidak boleh menghilangkan akhlak. Santri boleh kritis, bahkan harus, akan tetapi tidak berubah menjadi kasar. Boleh bersuara, tetapi tidak menjadi penghakim. Sebab yang membedakan santri dengan sekadar orang berilmu bukan pada banyaknya informasi yang dimiliki, melainkan pada cara bersikap di tengah keramaian.

Ilmu tanpa adab mudah terseret emosi. Semangat tanpa kebijaksanaan mudah berubah menjadi kegaduhan. Ketika komentar lebih cepat daripada pikiran, dan membagikan lebih cepat daripada memahami, disitulah nilai-nilai pesantren diuji secara nyata.

Hari ini, tantangan santri bukan lagi soal akses ilmu. Kitab, ceramah, dan diskusi tersedia luas di genggaman. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga arah di tengah banjir informasi. Santri tetap tenang ketika yang lain tergesa-gesa, tetap jernih ketika yang lain sibuk saling menyalahkan.

Maka dimanapun santri berpijak, baik di kampus, di ruang publik dan politik, atau di media sosial sekalipun, ia membawa satu kompas yang sama, yakni adab sebelum bicara, tabayyun dan istiqra’ sebelum menyimpulkan, serta niat lurus dalam bersikap. Zaman dan teknologi boleh berkembang, tetapi santri tidak boleh kehilangan arah.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk menunjuk siapa pun, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri. Di tengah derasnya informasi dan cepatnya pengambilan sikap, santri dituntut untuk lebih berhati-hati. Kesalahan adalah bagian dari sifat manusia; santri pun tidak luput darinya. Namun yang membedakan bukan pada pernah atau tidaknya salah, melainkan pada kesediaan untuk mengevaluasi, belajar kembali, dan memperbaiki arah.

Pesantren mengajarkan bahwa menjaga marwah santri bukan berarti merasa paling benar, melainkan tetap rendah hati ketika keliru, dan jujur pada diri sendiri saat perlu berbenah. Jatuh itu manusiawi, tetapi bangkit dengan kesadaran dan pembelajaran adalah jalan santri menjaga dirinya agar tidak terjerumus pada kesalahan yang sama.

Refleksi ini tidak hanya ditujukan kepada santri, tetapi kepada siapa pun yang kerap mengambil sikap dengan tergesa-gesa di tengah arus informasi yang deras. Semoga kita semua lebih mampu mencerna, menimbang, dan mengelola setiap isu sebelum menjadikannya kesimpulan dan sikap.

Sebab santri sejati bukan yang paling cepat merespons isu, melainkan yang paling bijak menjaga nilai, lalu menghadirkan ketenangan di tengah kebisingan zaman.

Wallahu’alam

Penulis adalah Santri di Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah Gorontalo



DUKUNG TIM PENULIS NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Ahmad Kadir
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Zero Terorisme di Indonesia, Densus 88 Amankan 51 Tersangka Sepanjang 2025

    Zero Terorisme di Indonesia, Densus 88 Amankan 51 Tersangka Sepanjang 2025

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mencatat telah mengamankan 51 tersangka kasus tindak pidana terorisme sepanjang tahun 2025. Hal itu diungkapkan dalam konferensi pers rilis akhir tahun Polri di Gedung Rupatama, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025). “Kami mencatat sepanjang 2025, jumlah tersangka yang diamankan sebanyak 51 orang,” ujar Kabareskrim Polri, Komjen Syahardiantono, saat memaparkan […]

  • Wali Kota Gorontalo Siapkan Perda LGBT, Adhan Dambea: Tidak Ada Ruang untuk LGBT

    Wali Kota Gorontalo Siapkan Perda LGBT, Adhan Dambea: Tidak Ada Ruang untuk LGBT

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 357
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Adhan Dambea menyatakan Pemerintah Kota Gorontalo berencana menyusun Peraturan Daerah (Perda) terkait Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga visi Kota Gorontalo sebagai daerah religius. Pernyataan itu disampaikan Adhan saat berbincang dengan awak media di halaman Kantor Wali Kota Gorontalo pada Rabu malam, […]

  • Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

    Di Balik WTP: Ketika Akuntabilitas Berhenti Di Kertas

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Khoirul Umam Mubarok
    • visibility 311
    • 0Komentar

    Delapan tahun berturut-turut sejak 2016, Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Tahun 2024, pemerintah bahkan menyerahkan LKPP tepat waktu — dirayakan sebagai pencapaian akuntabilitas fiskal yang membanggakan. Di saat bersamaan, kebijakan efisiensi anggaran senilai Rp306 triliun justru memantik kritik luas karena menyasar program pembangunan strategis. […]

  • Di Balik Konflik PBNU, Ada Perbedaan Karakter dan Paradigma

    Di Balik Konflik PBNU, Ada Perbedaan Karakter dan Paradigma

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 351
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam beberapa bulan terakhir menjadi perhatian publik. Polemik yang menyeret nama sejumlah elite NU itu memunculkan berbagai spekulasi, mulai dari isu perebutan pengaruh, pengelolaan tambang, hingga kepentingan politik menjelang Muktamar NU. Di media sosial, konflik tersebut bahkan berkembang menjadi perdebatan panjang yang memunculkan kesan bahwa NU […]

  • Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Pagi 31 Januari 2026, saat saya sedang mengikuti sertifikasi dai yang diselenggarakan PB DDI di Hotel UIN Alauddin Makassar, kabar duka itu datang tiba-tiba: Bapak Salim S. Mengga mengembuskan napas terakhir setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit di Makassar. Informasi itu saya baca lewat grup WhatsApp. Kaget, saya terdiam sejenak, menundukkan kepala, lalu membacakan […]

  • Quiet Confidence dan Seni Menjadi Diri Sendiri

    Quiet Confidence dan Seni Menjadi Diri Sendiri

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Saya sering memperhatikan ada orang dengan kekuatan pengaruh batin (inner power) yang terasa kuat, meski kehadirannya nyaris tidak mencolok. Mereka tampil bersahaja, sederhana, tidak berisik, tetapi keputusannya berdampak dan sikapnya membekas. Kehadirannya tidak memaksa perhatian, namun justru membuat orang lain memperhatikan. Mereka tidak haus validasi dan tidak mencari sorotan, tetapi pengaruhnya nyata dan bekerja dalam […]

expand_less