Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Dari Biluhu ke Bolsel: Kisah Pemburu Tuna

  • account_circle Apriyanto Rajak
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 248
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dua orang nelayan tradisional menempuh lebih dari 200 kilometer pada pertengahan Februari 2025 melalui jalur laut. Mereka berangkat dari kampung halamannya Desa Biluhu Barat, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo menuju Desa Tolondadu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, untuk berburu ikan tuna.

Dua nelayan tradisional tersebut bernama Aten Rauf 53 tahun dan Tahir Rajak 52 tahun. Mereka menggunakan perahu fiber memiliki panjang 9 meter, tinggi 70 centimeter dan lebar 60 centimeter. Menggunakan mesin merk Yamaha berkekuatan 15 PK. Melaut ikan tuna di Bolsel mereka telah lakukan berulang kali yang dimulai sejak puluhan tahun lalu. Perjalanan sebelumnya yang paling dekat adalah pada awal tahun 2023.

“Sejak masih usia muda kawasan perairan Tolondadu, Molibagu dan Pinolosian, sangat akrab dengan kami, tempat kami melaut ikan tuna,” kata Tahir.

Tiga desa yang disebutkan Tahir ini berada di Kecamatan Bolaang Uki dan Pinolosian, Kabupaten Bolsel; sebuah daerah yang mekar pada 2008 silam. Di wilayah ini masyarakat bersuku Gorontalo bisa dikatakan mayoritas. Memang sejak zaman dahulu, banyak masyarakat Gorontalo berdiaspora ke Bolsel, yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Ada yang kembali pulang ke kampung halaman, ada pula yang menetap. Mudah sekali kita menemukan masyarakat ‘suku’ Gorontalo, antara lain di Desa Tolondadu, Tabilaa, Ilomata, Linawan dan Pinolosian.

Dalam skripsi yang ditulis Muhammad Taufik Lakoro, dengan judul: “Diaspora Etnis Gorontalo di Bolaang Mongondow Selatan (Studi Penelitian di Desa Tolondadu, Kecamatan Bolaang Uki)” menyebutkan, masyarakat Gorontalo melakukan diaspora atau mobilitas ke Desa Tolondadu dimulai sejak tahun 1920-an, 1946, 1957, 1966, 1971, 1975, 1978, 1982 hingga 1999.

Contoh lain dari diaspora adalah saya sendiri. Bapak, Ibu, Kakek dan Nenek saya baik sebelah-menyebelah merupakan masyarakat yang bersuku Gorontalo. Berdasarkan penuturan orang tua saya, di wilayah Bolsel ini, kualitas tanahnya sangat subur, begitu juga hasil tangkapan ikan yang melimpah menjadi daya tarik ke daerah ini. Barangkali, hal demikian pula menjadi alasan oleh sebagian besar masyarakat Gorontalo ketika datang awal kali.

Melaut di Bolsel

Aten dan Tahir memiliki pengalaman puluhan tahun di kawasan laut Bolsel. Selain itu, mereka memiliki keluarga yang telah berdiaspora di daerah itu. Dengan demikian, sebelum melakukan perjalanan “jauh” ke Bolsel mereka harus memastikan terlebih dahulu apakah ikan tuna sudah mudah ditemui di perairan tersebut. Sebab, umumnya diketahui tuna merupakan jenis ikan perenang tercepat yang tidak berhenti berenang dan melakukan migrasi hingga ribuan kilometer.

“Sebelum ke Bolsel, kami hubungi dulu keluarga kami di sana, apakah ikan tuna so ba sandar?,” kata Aten.

“Ba sandar” yang dimaksudkan Aten ialah bahasa umum yang biasa digunakan oleh para nelayan terutama di daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo, yang memiliki arti bahwa ikan tuna telah mudah ditemui di sejumlah rakit atau rompong dengan adanya para nelayan setempat yang mendapat hasil tangkapan ikan tuna.

Aten dan Tahir sama seperti nelayan tradisional penangkap ikan tuna pada umumnya, yang sebelum berangkat ke rakit atau rompong harus memastikan bahan dasar untuk menangkap ikan tuna tersedia: mulai dari tali nilon ukuran bervariasi antara lain nomor 20 sampai 100; kemudian bekal selama melaut seperti beras, rica atau acara; selanjutnya ialah bahan bakar bensin.

“Kami biasanya dalam sekali melaut harus menyiapkan bensin minimal 25 liter. Sebab jarak rakit dari daratan ke laut di atas dari 10 mil,” ucap Aten.

Hampir dua bulan lebih Aten dan Tahir berada di Bolsel, hasil tangkapan tuna yang diperoleh masih jauh dari harapan; masing-masing dari mereka hanya memperoleh dua ekor tuna dengan berat mencapai kurang lebih 50-60 kilogram.

Padahal, kata Aten perairan Bolsel sejak dahulu terkenal dengan perikanannya yang melimpah terutama ikan tuna. Tetapi kini telah menurun. Dengan alasan ini dia dan Tahir kembali ke kampung halaman pada Rabu 9 April 2025. Mereka berangkat pukul 05.30 pagi dan tiba di Biluhu Barat 17.00 wita. Sempat singgah di Desa Manggadaa, Kecamatan Posigadan, Kabupaten Bolsel, sekitar sejam untuk mengistirahatkan mesin perahu.

Fluktuasi Tangkapan Tuna

Data statistik yang dirilis oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI) melalui website resminya menjelaskan, sepanjang lima tahun terakhir mulai dari 2019-2023 menunjukkan fluktuasi produksi perikanan tangkap tuna di Kabupaten Bolsel.

Pada tahun 2019: Tuna sirip kuning; madidihang mencapai 3.483,6 ton. Sedangkan tuna mata besar 870,9 ton. Berikutnya tahun 2020 mengalami penurunan: Tuna sirip kuning; madidihang 2.593,99 ton. Sementara tuna mata besar 349,56 ton.

Penurunan tangkapan tuna kembali terjadi pada tahun 2021: Tuna sirip kuning; madidihang 1.313,82 ton. Sementara untuk tuna mata besar di tahun ini tidak ada hasil tangkapan. Berikutnya pada 2022 mengalami kenaikan signifikan: Tuna sirip kuning; madidihang 5.630,42 ton. Sedangkan tuna mata besar 1.716,9 ton.

Sementara itu, pada 2023 data yang paling mutakhir dirilis oleh KKP RI menjelaskan mengalami penurunan tangkapan dibandingkan tahun sebelumnya, yakni: Tuna sirip kuning; madidihang 3.391,48 ton. Sedangkan tuna mata besar 228,21 ton.

Berdasarkan data tersebut bisa disimpulkan bahwa produksi tangkapan tuna tidak pernah stabil; adakalanya mengalami penurunan yang signifikan demikian juga sebaliknya. Hal ini pula yang dirasakan Aten dan Tahir selama puluhan menjadi seorang nelayan tuna. Itulah mengapa mereka tak berdiam di laut Gorontalo, melainkan harus mengembara dan mencari informasi keberadaan tuna di perairan lain.

Sekembalinya di kampung halaman, Aten dan Tahir tentu berharap ikan tuna mulai “ba sandar” di kawasan laut Biluhu, Gorontalo. Sebuah asa untuk terus melanjutkan hidup demi memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka berdua tidak hanya sang penakluk lautan Bolsel, tetapi perburuan tuna pernah dilakukan sampai ke perairan Marisa Kabupaten Pohuwato bahkan Kecamatan Tinombo, Sulawesi Tengah.*

Penulis: Apriyanto Rajak – (Warga di Pesisir Pantai Selatan, Sulawesi Utara)

  • Penulis: Apriyanto Rajak
  • Editor: Apriyanto Rajak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Modernisasi Sistem Keuangan Pesantren di Era Digital

    Modernisasi Sistem Keuangan Pesantren di Era Digital

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Sutanti Idris, S.E., CMC
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki kontribusi besar dalam membangun karakter, moral, dan pendidikan masyarakat. Selama bertahun-tahun, pesantren dikenal sebagai lembaga yang mengedepankan nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan pendidikan berbasis spiritual. Namun di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, pesantren kini menghadapi tantangan baru, yaitu bagaimana mampu bertahan dan berkembang di […]

  • Anggota DWP Diminta Rutin Periksa Kesehatan

    Anggota DWP Diminta Rutin Periksa Kesehatan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    etua Tim Penggerak PKK Provinsi Gorontalo, Nani Ismail Mokodongan, menghadiri kegiatan Sosialisasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diperuntukkan bagi pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Gorontalo. Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah Jabatan Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo, Jum’at (04/07/2025). Dalam sambutannya, Nani Ismail Mokodongan mengapresiasi inisiatif kegiatan yang digelar sebagai bagian dari upaya mendukung […]

  • Neraca Langit

    Neraca Langit

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 406
    • 0Komentar

    Bagi mahasiswa akuntansi, neraca adalah hal yang serius. Di dalamnya ada aset, liabilitas, dan ekuitas yang harus seimbang. Kalau tidak seimbang, dosen biasanya langsung bertanya dengan nada yang membuat mahasiswa berkeringat: “Ini selisihnya ke mana?” Kadang selisihnya cuma seribu rupiah, tetapi mencari asal-usulnya bisa lebih rumit daripada mencari sandal di masjid setelah tarawih. Namun Ramadhan […]

  • Respon Cepat Gempa Sulut, Rumah Zakat Kirim Relawan ke Wilayah Terdampak

    Respon Cepat Gempa Sulut, Rumah Zakat Kirim Relawan ke Wilayah Terdampak

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 348
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Merespons gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara, Rumah Zakat bergerak cepat dengan menerjunkan tim relawan ke lokasi terdampak, Jumat (3/4/2026). Tim respon kemanusiaan dipimpin oleh Koordinator Relawan Rumah Zakat Gorontalo, Sandy Syafrudin Nina, yang telah berangkat sejak pukul 07.00 WITA dari Gorontalo. Dengan estimasi perjalanan darat sekitar delapan jam, […]

  • UU Pers Tak Diskriminatif, MK Sebut Penulis Lepas Punya Payung Hukum Lain

    UU Pers Tak Diskriminatif, MK Sebut Penulis Lepas Punya Payung Hukum Lain

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 263
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) tidak bersifat diskriminatif meskipun perlindungan hukum dalam Pasal 8 hanya secara limitatif ditujukan kepada wartawan. Menurut MK, penulis lepas, kolumnis, dan kontributor nonwartawan tetap memiliki payung hukum lain di luar UU Pers. Penegasan tersebut disampaikan Wakil Ketua MK Saldi Isra […]

  • Mengharapkan Masjid Ramah Disabilitas di Serambi Madinah

    Mengharapkan Masjid Ramah Disabilitas di Serambi Madinah

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Rasulullah pernah bersabda, “dijadikannya kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan dijadikan lah penyejuk hatiku dalam ibadah shalat”. Hadis riwayat An-Nasa’i dan Ahmad. Hadis di atas seolah menyadarkan kepada kita, bahwa ibadah shalat menjadi penenang dan penyejuk, bagi hati Nabi Muhammad SAW. Tentu saja, hadis ini berlaku bagi umatnya juga. Shalat menjadi media […]

expand_less