Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Seratus Tahun NU dan Neo-Postradisionalisme

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
  • visibility 493
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada awal tahun 2000-an, di tubuh Nahdlatul Ulama, muncul satu arus pemikiran penting yang digerakkan terutama oleh anak-anak muda NU di level kultural, yang kemudian dikenal sebagai Postradisionalisme Islam. Gerakan pemikiran ini lahir dan tumbuh dari ruang-ruang intelektual dan kebudayaan yang relatif cair. LKiS di Yogyakarta dan Desantara di Jakarta menjadi dua simpul penting yang menghidupkan wacana ini, bersamaan dengan individu-individu NU yang bergerak di berbagai perguruan tinggi dan komunitas diskusi. Postradisionalisme berkembang sebagai praktik berpikir kolektif yang merespons situasi pasca-reformasi—sebuah periode yang ditandai oleh keterbukaan politik, fragmentasi otoritas keagamaan, dan meningkatnya peran wacana publik di luar institusi negara maupun ormas formal.

Gagasan postradisionalisme mengambil posisi kritis di antara dua kutub pemikiran yang saling berhadapan. Di satu sisi, ia mengajukan kritik terhadap liberalisme keagamaan yang sering tampil progresif, tetapi kerap tercerabut dari basis sosial umat dan tradisi hidup pesantren. Di sisi lain, ia juga menolak konservatisme yang membekukan tradisi sebagai kebenaran final dan menutup ruang tafsir. Postradisionalisme berangkat dari tradisi, tetapi tidak memposisikannya sebagai warisan beku yang harus dilestarikan apa adanya. Tradisi justru dibaca secara reflektif, dinegosiasikan, dan dijadikan sumber daya kritik untuk memahami perubahan sosial yang cepat. Dalam konteks pasca-reformasi, pendekatan ini diyakini sebagai tawaran alternatif bagi NU: sebuah cara merespons modernitas, demokratisasi, dan pluralitas sosial tanpa kehilangan akar historis dan basis kulturalnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, wacana Postradisionalisme Islam perlahan kehilangan bentuk dan daya dorongnya. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Pergeseran aktor—ketika generasi penggeraknya memasuki ruang-ruang baru yang lebih struktural dan pragmatis—atau sebagai keterbatasan ide itu sendiri dalam meruntuhkan sistem berpikir NU yang kian mengeras dalam bentuk ortodoksi. Di saat yang sama, faktor politik juga tidak dapat diabaikan. Menguatnya tarikan politik praktis dan kepentingan kekuasaan di tubuh NU secara perlahan menggeser orientasi wacana dari kritik kultural ke konsolidasi struktural.

Kini, NU telah memasuki usia 100 tahun. Ada tantangan baru yang muncul yaitu media digital. Media digital membentuk rezim kekuasaan baru yang tidak bekerja melalui larangan atau doktrin, melainkan melalui visibilitas, repetisi, dan normalisasi. Algoritma menentukan apa yang layak muncul dan apa yang tenggelam. Ini adalah teknologi kekuasaan yang membentuk subjek secara halus dan berkelanjutan, melampaui teknologi komunikasi.

Media digital telah melahirkan bentuk masyarakat yang baru—sebuah masyarakat virtual—yang berbeda secara mendasar dari masyarakat konvensional. Masyarakat konvensional dibentuk melalui relasi institusional—pesantren, majelis, struktur organisasi. Sedangkan masyarakat digital dibentuk melalui governmentality algoritmik: cara mengatur perilaku, perhatian, dan afeksi ditentukan oleh algoritma. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh otoritas keilmuan, melainkan oleh intensitas kemunculan dan resonansi emosional.

Di titik inilah sistem kepemimpinan NU yang bertumpu pada ketokohan tradisional menghadapi ujian serius. Karisma kiai yang dibangun melalui sanad, keteladanan, dan relasi panjang, kini berhadapan dengan logika relevansi. Dalam rezim digital, otoritas harus terus diproduksi, dipertontonkan, dan dinegosiasikan. Jika tidak, maka ia akan tersingkir bukan karena kalah dan salah, tetapi karena tidak terlihat oleh algoritma.

Neo-postradisionalisme tampak relevan ditawarkan kembali karena menghadapi kontradiksi mendasar antara identitas tradisional dan dinamika masyarakat digital. NU memiliki identitas yang kuat dan melekat pada tradisi, namun relevansi sosial tidak otomatis muncul jika struktur dan praktiknya tetap statis. Struktur syuriah, sebagai pusat otoritas, selama ini bekerja di balik lapisan formal dan ritualistik; visibilitasnya terbatas dan interaksi publik cenderung vertikal. Di masyarakat digital yang nir-otoritas, legitimasi tidak cukup dibangun melalui struktur formal—publik menilai relevansi melalui keterlibatan, konsistensi, dan resonansi konten. Maka, untuk mempertahankan otoritas sekaligus memperluas pengaruh, panggung digital harus disiapkan bagi para syuriah, bukan sekadar sebagai representasi simbolik, tetapi sebagai arena nyata untuk interaksi dan komunikasi yang adaptif.

Neo-postradisionalisme di era digital menekankan kreativitas sebagai prasyarat relevansi sosial. Secara teoritik, pendekatan ini dapat dipahami sebagai upaya menyeimbangkan dua dimensi: kontinuitas dan adaptasi. Kontinuitas dijaga melalui syuriah, yang tetap berfungsi sebagai pusat legitimasi internal dan pengawal tradisi, sedangkan adaptasi diwujudkan melalui keterlibatan di ranah digital, yang berperan sebagai mekanisme eksternal untuk memperluas pengaruh, membangun visibilitas, dan memastikan resonansi pesan dengan masyarakat kontemporer.

Pendekatan ini mengubah pemahaman otoritas tradisional: otoritas tidak lagi hanya soal posisi formal, tetapi juga kemampuan untuk tetap hadir, relevan, dan berpengaruh dalam ruang sosial yang cair, nir-otoritas, dan berkecepatan tinggi. Dengan demikian, neo-postradisionalisme menawarkan model transformasi struktural dan kultural, menjembatani tradisi dengan tuntutan masyarakat digital.

Seratus tahun NU adalah momen yang tepat untuk pembaruan. Kita sedang menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap relevan, menjaga legitimasi syuriah, dan hadir di ruang masyarakat modern dan digital secara konsisten,

Jayalah NU.

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kisah-Kisah Para Nabi yang Terjadi di Bulan Muharram

    Kisah-Kisah Para Nabi yang Terjadi di Bulan Muharram

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan suci dalam Islam, bahkan disebut sebagai “Syahrullah”(bulan Allah) oleh Rasulullah SAW. Di bulan ini, terutama tanggal 10 Muharram (Hari Asyura), banyak peristiwa besar yang diyakini terjadi dalam sejarah kenabian. Berikut adalah kisah-kisah penting para Nabi yang terjadi di bulan Muharram menurut tradisi Islam: Nabi Adam AS: Diterimanya Tobat […]

  • Ramadhan Momentum Menakar Diri

    Ramadhan Momentum Menakar Diri

    • calendar_month Minggu, 18 Apr 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Pelan namun pasti, Ramadhan terus merangkak. Ada hari yang telah terlewati. Setuju atau tidak, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menakar dan mengukur diri. Pasti ada yang bertanya-tanya, mengapa harus Ramadhan ? Bukankah ada bulan lainnya. Muharram misalnya ? Alasannya sederhana. Meski baru beberapa hari menjalani kawah candradimuka Ramadhan, kuantitas dan kualitas ibadah kita  telah terukur […]

  • Gorontalo Inflasi 0,8 Persen di Juni 2025

    Gorontalo Inflasi 0,8 Persen di Juni 2025

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Pada bulan Juni 2025 Provinsi Gorontalo mengalami inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 0,80 persen. Angka ini disumbangkan dari Kota Gorontalo yang mengalami inflasi sebesar 0,77 persen dan dari Kabupaten Gorontalo mengalami inflasi sebesar 0,81 persen. “Inflasi y-on-y Provinsi Gorontalo terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada delapan kelompok pengeluaran,” kata […]

  • Tindakan Tak Terpuji, Dosen UIM Makassar Dipecat Usai Viral Play Button

    Tindakan Tak Terpuji, Dosen UIM Makassar Dipecat Usai Viral

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 212
    • 0Komentar

    nulondalo.com-Universitas Islam Makassar (UIM) resmi memberhentikan dosennya, Amal Said alias AS, setelah aksinya meludahi kasir swalayan di Makassar viral di media sosial. Peristiwa tersebut terekam kamera CCTV dan menuai kecaman publik. Insiden itu terjadi pada Rabu (24/12). Dalam video yang beredar, AS tampak meludahi kasir saat hendak membayar belanjaan. Aksi tersebut diduga dipicu teguran karena […]

  • UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    UMK Perkuat Kolaborasi dengan Kampus NU dan Muhammadiyah

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Universiti Malaysia Kelantan (UMK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat kerja sama pendidikan lintas negara dengan kampus-kampus Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Indonesia. Pernyataan ini diungkapkan pada acara Eid Al-Fitr Gathering yang diselenggarakan di Kalbis University, Jakarta, Sabtu (19/4/2025). Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan akademik antara UMK dengan institusi pendidikan Islam di Indonesia. […]

  • Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Ai Dila Umul Hidayah
    • visibility 404
    • 0Komentar

    Klaim efisiensi dalam APBN 2026 yang mencapai Rp204,4 triliun sekilas terdengar meyakinkan. Di tengah tekanan fiskal dan kebutuhan pembangunan yang terus meningkat, penghematan dalam jumlah besar tentu dianggap sebagai langkah rasional. Namun, di balik angka tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah efisiensi ini benar-benar mencerminkan akuntabilitas, atau justru hanya menjadi ukuran keberhasilan yang terlalu […]

expand_less