Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Seratus Tahun NU dan Neo-Postradisionalisme

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
  • visibility 434
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada awal tahun 2000-an, di tubuh Nahdlatul Ulama, muncul satu arus pemikiran penting yang digerakkan terutama oleh anak-anak muda NU di level kultural, yang kemudian dikenal sebagai Postradisionalisme Islam. Gerakan pemikiran ini lahir dan tumbuh dari ruang-ruang intelektual dan kebudayaan yang relatif cair. LKiS di Yogyakarta dan Desantara di Jakarta menjadi dua simpul penting yang menghidupkan wacana ini, bersamaan dengan individu-individu NU yang bergerak di berbagai perguruan tinggi dan komunitas diskusi. Postradisionalisme berkembang sebagai praktik berpikir kolektif yang merespons situasi pasca-reformasi—sebuah periode yang ditandai oleh keterbukaan politik, fragmentasi otoritas keagamaan, dan meningkatnya peran wacana publik di luar institusi negara maupun ormas formal.

Gagasan postradisionalisme mengambil posisi kritis di antara dua kutub pemikiran yang saling berhadapan. Di satu sisi, ia mengajukan kritik terhadap liberalisme keagamaan yang sering tampil progresif, tetapi kerap tercerabut dari basis sosial umat dan tradisi hidup pesantren. Di sisi lain, ia juga menolak konservatisme yang membekukan tradisi sebagai kebenaran final dan menutup ruang tafsir. Postradisionalisme berangkat dari tradisi, tetapi tidak memposisikannya sebagai warisan beku yang harus dilestarikan apa adanya. Tradisi justru dibaca secara reflektif, dinegosiasikan, dan dijadikan sumber daya kritik untuk memahami perubahan sosial yang cepat. Dalam konteks pasca-reformasi, pendekatan ini diyakini sebagai tawaran alternatif bagi NU: sebuah cara merespons modernitas, demokratisasi, dan pluralitas sosial tanpa kehilangan akar historis dan basis kulturalnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, wacana Postradisionalisme Islam perlahan kehilangan bentuk dan daya dorongnya. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Pergeseran aktor—ketika generasi penggeraknya memasuki ruang-ruang baru yang lebih struktural dan pragmatis—atau sebagai keterbatasan ide itu sendiri dalam meruntuhkan sistem berpikir NU yang kian mengeras dalam bentuk ortodoksi. Di saat yang sama, faktor politik juga tidak dapat diabaikan. Menguatnya tarikan politik praktis dan kepentingan kekuasaan di tubuh NU secara perlahan menggeser orientasi wacana dari kritik kultural ke konsolidasi struktural.

Kini, NU telah memasuki usia 100 tahun. Ada tantangan baru yang muncul yaitu media digital. Media digital membentuk rezim kekuasaan baru yang tidak bekerja melalui larangan atau doktrin, melainkan melalui visibilitas, repetisi, dan normalisasi. Algoritma menentukan apa yang layak muncul dan apa yang tenggelam. Ini adalah teknologi kekuasaan yang membentuk subjek secara halus dan berkelanjutan, melampaui teknologi komunikasi.

Media digital telah melahirkan bentuk masyarakat yang baru—sebuah masyarakat virtual—yang berbeda secara mendasar dari masyarakat konvensional. Masyarakat konvensional dibentuk melalui relasi institusional—pesantren, majelis, struktur organisasi. Sedangkan masyarakat digital dibentuk melalui governmentality algoritmik: cara mengatur perilaku, perhatian, dan afeksi ditentukan oleh algoritma. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh otoritas keilmuan, melainkan oleh intensitas kemunculan dan resonansi emosional.

Di titik inilah sistem kepemimpinan NU yang bertumpu pada ketokohan tradisional menghadapi ujian serius. Karisma kiai yang dibangun melalui sanad, keteladanan, dan relasi panjang, kini berhadapan dengan logika relevansi. Dalam rezim digital, otoritas harus terus diproduksi, dipertontonkan, dan dinegosiasikan. Jika tidak, maka ia akan tersingkir bukan karena kalah dan salah, tetapi karena tidak terlihat oleh algoritma.

Neo-postradisionalisme tampak relevan ditawarkan kembali karena menghadapi kontradiksi mendasar antara identitas tradisional dan dinamika masyarakat digital. NU memiliki identitas yang kuat dan melekat pada tradisi, namun relevansi sosial tidak otomatis muncul jika struktur dan praktiknya tetap statis. Struktur syuriah, sebagai pusat otoritas, selama ini bekerja di balik lapisan formal dan ritualistik; visibilitasnya terbatas dan interaksi publik cenderung vertikal. Di masyarakat digital yang nir-otoritas, legitimasi tidak cukup dibangun melalui struktur formal—publik menilai relevansi melalui keterlibatan, konsistensi, dan resonansi konten. Maka, untuk mempertahankan otoritas sekaligus memperluas pengaruh, panggung digital harus disiapkan bagi para syuriah, bukan sekadar sebagai representasi simbolik, tetapi sebagai arena nyata untuk interaksi dan komunikasi yang adaptif.

Neo-postradisionalisme di era digital menekankan kreativitas sebagai prasyarat relevansi sosial. Secara teoritik, pendekatan ini dapat dipahami sebagai upaya menyeimbangkan dua dimensi: kontinuitas dan adaptasi. Kontinuitas dijaga melalui syuriah, yang tetap berfungsi sebagai pusat legitimasi internal dan pengawal tradisi, sedangkan adaptasi diwujudkan melalui keterlibatan di ranah digital, yang berperan sebagai mekanisme eksternal untuk memperluas pengaruh, membangun visibilitas, dan memastikan resonansi pesan dengan masyarakat kontemporer.

Pendekatan ini mengubah pemahaman otoritas tradisional: otoritas tidak lagi hanya soal posisi formal, tetapi juga kemampuan untuk tetap hadir, relevan, dan berpengaruh dalam ruang sosial yang cair, nir-otoritas, dan berkecepatan tinggi. Dengan demikian, neo-postradisionalisme menawarkan model transformasi struktural dan kultural, menjembatani tradisi dengan tuntutan masyarakat digital.

Seratus tahun NU adalah momen yang tepat untuk pembaruan. Kita sedang menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap relevan, menjaga legitimasi syuriah, dan hadir di ruang masyarakat modern dan digital secara konsisten,

Jayalah NU.

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nusantara sebagai nafas panjang Peradaban Dunia: Dari Migrasi Purba hingga kemandirian ilmiah

    Nusantara sebagai nafas panjang Peradaban Dunia: Dari Migrasi Purba hingga kemandirian ilmiah

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Zulkifli
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Kepulauan Nusantara adalah sebuah ruang geografis dan kultural yang dibentuk oleh sejarah migrasi manusia yang panjang dan berlapis. Keberagaman etnis, bahasa, dan budaya yang kini menghuni Nusantara tidak dapat dipisahkan dari proses pergerakan nenek moyang manusia yang datang dalam beberapa gelombang migrasi besar. Nusantara adalah tempat dengan temuan manusia purba terbanyak di dunia dan menjadi […]

  • Saat Ketemu Putra Mahkota Abu Dhabi di UEA, Puan Sampaikan Gagasan tentang Perempuan

    Saat Ketemu Putra Mahkota Abu Dhabi di UEA, Puan Sampaikan Gagasan tentang Perempuan

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani bersama Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan. Dalam pertemuan tersebut, Puan menyuarakan gagasan tentang perempuan. Dilansir dari palementari, Selasa (18/5/2025), Pertemuan tersebut digelar di Sea Palace Abu Dhabi, UEA, 15 Februari […]

  • Status Lolos Dianulir, DPR Murka: Polemik Talent Scouting Universitas Indonesia Diprotes Publik

    Status Lolos Dianulir, DPR Murka: Polemik Talent Scouting Universitas Indonesia Diprotes Publik

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 337
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Polemik pengumuman penerimaan mahasiswa baru jalur Talent Scouting di Universitas Indonesia memicu kemarahan publik sekaligus sorotan tajam dari parlemen. Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyatakan kekecewaan mendalam setelah sejumlah calon mahasiswa yang semula dinyatakan lolos, tiba-tiba dianulir statusnya hanya dalam hitungan jam. Insiden bermula dari pengumuman hasil seleksi yang dirilis […]

  • KH Zulfa Mustofa: NU Sedang Menata Diri, Bukan Berkonflik

    KH Zulfa Mustofa: NU Sedang Menata Diri, Bukan Berkonflik

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 184
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah riuhnya perbincangan di media sosial mengenai kondisi internal Nahdlatul Ulama (NU), Penjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Rapat Pleno PBNU kelompok Sultan, KH Zulfa Mustofa, memilih untuk meluruskan keadaan dengan nada yang menyejukkan. Ia menegaskan bahwa NU tidak sedang berada dalam pusaran konflik, melainkan tengah menjalani proses penegakan […]

  • Sepanjang 2025 Gorontalo Terima Manfaat Pelayanan Kesehatan BPJS Rp825 Miliar

    Sepanjang 2025 Gorontalo Terima Manfaat Pelayanan Kesehatan BPJS Rp825 Miliar

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 252
    • 0Komentar

    GORONTALO, NULONDALO.com – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, menyampaikan bahwa Provinsi Gorontalo menerima manfaat pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dari BPJS Kesehatan sebesar Rp825 miliar sepanjang tahun 2025. Nilai tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp741 miliar. Hal itu disampaikan Anang usai […]

  • Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat Play Button

    Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 339
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergantian tahun Masehi kerap identik dengan hiruk-pikuk perayaan, kembang api, dan berbagai euforia yang melibatkan keramaian. Namun, dalam sebuah pengajian penuh makna, almaghfurlah KH. Abdul Ghofur Nawawi justru mengajak jamaah untuk menyambut pergantian tahun dengan cara yang berbeda: dzikir sederhana, sunyi, dan penuh kesadaran spiritual. Kiai Ghofur mengisahkan bahwa amalan ini merupakan ijazah […]

expand_less