Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

  • account_circle Alam Khaerul Hidayat
  • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
  • visibility 412
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lewat beberapa perbincangan santai ala tongkrongan dengan teman, saya menemukan satu celah pembahasan yang menarik sekaligus perlu diluruskan. Kami memang tumbuh dari latar belakang yang tidak sepenuhnya sama. Bahkan, jika dilihat dari kecenderungan wacananya, mereka hampir mendekati kelompok yang hendak saya bahas. Namun beruntungnya, keduanya tetap berada pada posisi yang moderat dan terbuka untuk berdialog.

Dari obrolan-obrolan itulah saya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang bergeser dalam cara sebagian anak muda memaknai agama. Namun di tengah semangat itu, muncul kegelisahan lain: pengetahuan yang masih dangkal, tetapi keberanian untuk menghakimi begitu tinggi.

Fenomena ini sering bermula dari konsumsi agama yang serba cepat. Potongan ceramah, klip FYP, kutipan satu dalil tanpa konteks, lalu dijadikan kesimpulan final. Sekali dua kali hadir kajian, sudah merasa memiliki legitimasi untuk membid’ahkan praktik masyarakat sekitar. Seolah-olah agama yang selama ini hidup di tengah tradisi, tahlilan, maulid, atau doa bersama, tiba-tiba dianggap menyimpang hanya karena tidak sesuai dengan potongan video yang ditonton.

Padahal dalam sejarah intelektual Islam, perdebatan tentang bid‘ah tidak pernah sesederhana itu. Ulama besar seperti Imam Syafi’i bahkan membedakan antara inovasi yang baik dan yang tercela. Artinya, persoalan ini sejak awal berada dalam ruang ijtihad, bukan ruang vonis instan.

Yang menjadi soal bukan perubahan bahasa mengucapkan “masyaAllah tabarakallah” atau “allahumma barik” tentu doa yang baik. Namun ketika bahasa berubah menjadi penanda superioritas moral, di situlah masalah muncul. Kesalehan menjadi simbolik, bukan etis. Ukuran religiusitas bergeser dari akhlak dan kebijaksanaan menjadi diksi dan penampilan.

Di masyarakat sekitar, kita melihat kontras yang menarik. Ada orang tua yang mungkin tidak fasih istilah Arab, tetapi setia menjaga silaturahmi, tidak mudah memecah belah, dan menghormati perbedaan. Ada tradisi doa bersama yang lahir dari semangat kebersamaan dan empati sosial. Lalu datang generasi yang baru belajar, tetapi dengan cepat menyematkan label “bid‘ah” tanpa memahami konteks sosial dan sejarahnya.

Di sini terlihat bahwa problemnya bukan pada semangat hijrah, melainkan pada cara memaknainya. Hijrah seharusnya berarti pergeseran etika dari keras menjadi lembut, dari mudah menghakimi menjadi mudah memahami, dari merasa paling benar menjadi terus belajar.

Agama yang matang melahirkan ketenangan. Agama yang setengah matang sering melahirkan kegaduhan.

Masyarakat kita sebenarnya telah lama mempraktikkan Islam dalam bentuk yang hidup dalam gotong royong, dalam doa bersama, dalam tradisi yang mempererat hubungan sosial. Tentu semua praktik bisa dikaji dan dievaluasi, tetapi mengoreksi bukan berarti merendahkan. Mengingatkan bukan berarti menyalahkan.

Jika hijrah hanya menghasilkan perubahan istilah tetapi tidak melahirkan keluasan hati, maka yang berubah baru bahasa, belum laku. Barangkali yang perlu direnungkan kembali adalah ini: apakah hijrah itu tentang memenangkan perdebatan, atau tentang memperdalam akhlak?

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak diikat oleh istilah, melainkan oleh adab.

والله أعلم بالصواب

Penulis : Alumnus Magister Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Alam Khaerul Hidayat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hilal Belum Terlihat Saat Magrib, Mengapa Ramadan 2026 Berpotensi Beda Hari?

    Hilal Belum Terlihat Saat Magrib, Mengapa Ramadan 2026 Berpotensi Beda Hari?

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Fajrullah
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Menjelang Ramadan 1447 Hijriah (2026 Masehi), umat Islam di Indonesia berpotensi kembali dihadapkan pada perbedaan penetapan awal puasa. Kali ini, pemicunya adalah fenomena astronomis unik: Sang Bulan Baru (Hilal) sejatinya belum lahir saat tanggal 29 Syakban 1447 H. Penentuan awal Ramadan akan berpusat pada Selasa, 17 Februari 2026 (29 Syakban). Kunci perdebatan ada pada waktu […]

  • Gerakan Demonstrasi Mei Berlawan di Kota Ternate, Wagub Malut Temui Massa Aksi Bicarakan Personal Buruh dan Pendidikan 

    Gerakan Demonstrasi Mei Berlawan di Kota Ternate, Wagub Malut Temui Massa Aksi Bicarakan Personal Buruh dan Pendidikan 

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Kota Ternate diwarnai dengan aksi demonstrasi yang digelar oleh sejumlah elemen gerakan dalam Aliansi Mei Berlawan, Rabu (1/5/2025). Aksi ini menyuarakan persoalan ketenagakerjaan dan akses pendidikan, serta mengecam dominasi oligarki tambang di Maluku Utara. Massa aksi memulai long march dari titik kumpul menuju kediaman Gubernur Maluku Utara, sebelum […]

  • Sistem Informasi Akuntansi Langit

    Sistem Informasi Akuntansi Langit

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Dalam dunia akuntansi modern, kita mengenal istilah Sistem Informasi Akuntansi (SIA)—sebuah sistem yang mengumpulkan, mencatat, memproses, dan melaporkan transaksi keuangan agar organisasi bisa mengambil keputusan yang tepat. Ada server, database, audit trail, hingga sistem pengendalian internal. Semua tampak rapi, logis, dan bisa diaudit. Namun setiap Ramadhan, umat manusia sebenarnya sedang berhadapan dengan sebuah Sistem Informasi […]

  • Rentenir Tak Dilarang, Asal Tak Memukul: Wajah Baru Hukum Pidana Setelah KUHP 2026

    Rentenir Tak Dilarang, Asal Tak Memukul: Wajah Baru Hukum Pidana Setelah KUHP 2026

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 721
    • 0Komentar

    Di gang sempit permukiman padat penduduk, praktik pinjam-meminjam uang masih berlangsung seperti biasa. Bunga mencekik, tempo singkat, dan penagihan yang membuat jantung berdebar. Bedanya, kini semua itu terjadi di bawah payung hukum pidana yang baru. Sejak 2 Januari 2026, Indonesia resmi meninggalkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana warisan kolonial. KUHP dan KUHAP versi terbaru mulai berlaku, […]

  • Korporasi Langit

    Korporasi Langit

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 486
    • 0Komentar

    Ramadhan sering dianggap sebagai bulan spiritual, bulan ibadah, bulan diskon pahala. Namun jika kita meminjam kacamata akuntansi—yang biasanya sibuk menghitung debit, kredit, dan laporan keuangan—Ramadhan sebenarnya menyerupai sebuah perusahaan besar. Bukan perusahaan biasa, melainkan semacam holding company raksasa yang dalam bahasa jenaka bisa kita sebut sebagai “Korporasi Langit.” Dalam korporasi ini, manusia adalah para pemegang […]

  • Maros Konsisten 9 Tahun, Duta Anti Narkoba 2025 Resmi Dinobatkan

    Maros Konsisten 9 Tahun, Duta Anti Narkoba 2025 Resmi Dinobatkan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Grand Final Pemilihan Duta Anti Narkoba Kabupaten Maros 2025 sukses digelar di Gedung Serbaguna Pemerintah Kabupaten Maros, Sabtu (13/12/2025). Ajang bergengsi ini dibuka langsung oleh Wakil Bupati Maros, Andi Muetazim Mansyur, dan berlangsung meriah sejak pukul 14.00 Wita hingga 23.00 Wita. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Maros, Ikatan […]

expand_less