Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
- visibility 147
- print Cetak

Ilustrasi suasana Madinah pada masa Rasulullah SAW yang menggambarkan keceriaan Nu’aiman bin Amr saat menghadiahkan buah dan madu, serta momen keusilannya terhadap sahabat dalam perjalanan — simbol bahwa humor yang tulus dapat menghadirkan senyum dan mempererat persaudaraan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jika Anda periang, suka bercanda, atau kadang sedikit usil, maka kisah Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah menarik untuk anda. Dalam keseharian komunitas Muslim di Madinah pada masa Nabi SAW, ada sahabat yang serius, ada sahabat yang tekun beribadah, dan ada pula yang suka usil. Nu’aiman termasuk yang terakhir: tingkahnya jenaka, sering bercanda, dan mampu membuat suasana menjadi ceria.
Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah berasal dari suku Bani An‑Najjar di Madinah, bagian dari kaum Anshar. Sayangnya, tidak ada penjelasan sahih mengenai asal-usul keluarganya atau posisi sosial ayahnya, Amr bin Rafa’ah. Namun, yang tercatat adalah bahwa Bani An‑Najjar dikenal sebagai suku yang ramah, gotong-royong, dan terbiasa hidup saling membantu dalam komunitas Madinah pada masa itu.
Kisah yang paling melekat dengan Nuaiman adalah suatu hari Nu’aiman datang kepada Nabi SAW sambil membawa buah atau madu yang ingin ia hadiahkan kepada beliau. Ia berkata bahwa ia membawakan itu sebagai pemberian untuk Nabi SAW. Rasulullah SAW menerima dengan senang hati. Namun tidak lama kemudian datang penjual buah atau madu itu kepada Nabi SAW untuk menagih harganya — karena Nu’aiman belum membayar.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar