Darah Nabi Mengalir di Iran: Layakkah Kita Membelanya?
- account_circle Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 185
- print Cetak

Ilustrasi digital bernuansa dramatis yang menggambarkan simbol perlawanan ideologis dan geopolitik, dengan figur ulama berdiri di tengah massa dan latar suasana konflik, merepresentasikan pertemuan antara iman, kekuasaan, dan dinamika global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketika kita membaca kitab hadits Bukhari dan Muslim di pesantren, pernahkah kita sadar bahwa kedua imam agung itu adalah orang Persia? Bahwa sebagian besar ulama yang mewariskan ilmu Nabi lahir dari tanah yang dulu disebut Persia, kini bernama Iran? Ironisnya, masih ada umat Islam yang meragukan Iran hanya karena perbedaan mazhab atau pengaruh propaganda Barat.
Padahal fakta sejarah membuktikan: Iran bukan bagian asing dari Islam, darah mereka telah berpadu secara fisik dengan darah Nabi Muhammad SAW. Hubungan ini bukan sekadar simbolis, tapi ikatan nasab yang nyata dan terus berlanjut hingga hari ini.
Ketika pasukan Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab menaklukkan Persia, tidak terjadi pemusnahan, melainkan perpaduan agung dua peradaban. Putri terakhir Kisra Persia, Syahrbanu, dinikahkan dengan Husain bin Ali, cucu kesayangan Rasulullah.
Dari rahim putri Persia itu lahir Ali Zainal Abidin, Imam keempat yang dihormati kaum muslimin. Artinya, seluruh Imam keturunan Husain adalah darah daging Persia dari pihak ibu. Mereka adalah bukti hidup bahwa Islam dan Persia telah menyatu dalam ikatan keluarga yang tidak terputus.
- Penulis: Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc

Saat ini belum ada komentar