Aset Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
- visibility 239
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu datang seperti auditor independen yang tidak bisa diajak kompromi. Ia memeriksa laporan keuangan batin kita tanpa perlu surat tugas dari kantor akuntan publik. Bedanya, auditor dunia bertanya soal saldo kas, auditor Ramadhan bertanya: “Saldo sabarmu berapa? Cadangan ikhlasmu cukup tidak?”
Sebagai orang akuntansi, saya sering merenung, mengapa kita begitu rajin mencatat aset dunia, tetapi lalai mengakui “aset langit”? Dalam kerangka akuntansi modern, aset adalah sumber daya yang dikuasai entitas dan memberi manfaat ekonomi di masa depan. Nah, kalau mengikuti logika ini, pahala jelas memenuhi kriteria. Ia memberi manfaat masa depan, bahkan bukan hanya lima atau sepuluh tahun, tapi sampai “audit langit” di akhirat.
Masalahnya, dalam PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), belum ada standar khusus tentang pengakuan pahala sebagai aset tidak berwujud. Mungkin karena Ikatan Akuntan belum berani menyusun PSAK 999: Pernyataan Standar Akuntansi Keikhlasan. Padahal dalam praktik sosial umat, transaksi spiritual jauh lebih ramai dari transaksi derivatif.
Coba lihat fenomena Ramadhan. Masjid penuh, kotak infak lebih tebal, grup WhatsApp lebih sering kirim poster sedekah. Secara ekonomi, ini musim panen likuiditas sosial. Tetapi yang menarik, umat sering kali masih berpikir dengan logika neraca dunia: “Kalau saya sedekah, saldo berkurang.” Padahal dalam akuntansi langit, sedekah itu bukan beban, melainkan reklasifikasi aset: dari kas dunia ke investasi akhirat.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar