Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Mahasiswa, Demonstrasi dan Kesantunan

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Minggu, 4 Sep 2022
  • visibility 107
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Menarik memang mengelaborasi gerakan mahasiswa sebagai agen of change atau sebagai agen of control. Sudah menjadi tradisi yang terwariskan sejak zaman pra kemerdekaan hingga saat ini, bahwa mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok elit pelajar akan selalu garang ketika berhadapan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak populis.

Pada momen-momen tertentu, pemandangan yang sudah lazim akan terlihat di setiap kantor pemerintah, atau di gedung perwakilan rakyat, para mahasiswa berkumpul sambil berorasi menyuarakan sejumlah tuntutan dan aspirasi.

Jika ditanya kepada para mahasiswa, dimana tempat paling strategis menyuarakan tuntutan (?) maka jawabannya adalah di bundaran  persimpangan jalan utama. Inilah tempat paling favorit bagi mahasiswa untuk penyebaran informasi sebagai bentuk perlawanan atau sekadar show of force gerakan pro rakyat.

Demonstrasi merupakan dinamika ekstrnal dunia kemahasiswaan, yang selalu menjadi kebanggaan dan cerita indah, setelah keluar dari lingkungan akademik.

Salah satu hal yang melatarbelakangi konsistensi gerakan mahasiswa turun ke jalan di seantero negeri ini adalah, doktrinasi idealisme yang ditanamkan kepada para mahasiswa melalui organisasi kemahasiswaan baik organisasi internal semisal LDK, dan semacamnya, maupun organisasi eksternal seperti PMII, HMI, IMM, GMNI, GMKI dan lain sebagainya.

Secara umum, idealisme mahasiswa terfokus pada dua tema besar yang selalu diusung, dan diperjuangkan melalui parlemen-parlemen jalanan, yakni menyuarakan penegakan keadilan dan perlawanan atas “kezaliman penguasa”.

Dalam konteks ini, mahasiswa akan terus bersuara menantang kebijakan yang dianggap merugikan rakyat atau kebijakan politis lainnya yang dianggap bias.

Sebagaimana diketahui bahwa, melalui parlemen jalanan, mahasiswa mendapatkan tempat yang paling efektif untuk mengekspresikan kebebasan berpendapat, terlebih-lebih di era pasca reformasi.

Di mimbar  palemen jalanan ini, tuntutan dan aspirasi dinarasikan dengan bahasa propaganda, disampaikan dengan langgam agitasi serta diorasikan dengan statemen-statemen yang lebih tajam dari silet. Ya, harus seperti itu. Sebab jika tidak, maka momentum demonstrasi itu akan kehilangan ruhnya.

Di samping itu, sang orator harus menampilkan dirinya sebagai orator ulung.  Bersuara tegas lantang dan berapi-api. Untuk apa(?).  Agar suara tuntutan bisa menembus dinding-dinding nurani bangsa.  Mimbar jalanan juga merupakan wasilah untuk mengasah kemampuan komunikasi sang orator untuk bekal ketika dikemudian hari, menjadi anggota parlemen asli apalagi sebagai pimpinan atau anggota partai oposisi. He he he.

Intinya bahwa apapun gerakan mahasiswa harus diberikan  apresiasi, sepanjang gerakan tersebut masih dalam koridor control society. Oleh karena itu, demonstrasi mahasiswa tidak boleh kehilangan identitasnya (lost of identity).

Mahasiswa adalah kalangan terpelajar, kalangan yang mengedepankan akal kritis dan akal sehat sebelum bertindak. Stigma ini harus tetap dipertahankan. Perjuangan mahasiswa dalam mengawal kebenaran dan keadilan tidak boleh diwarnai oleh noktah-noktah hitam, yang lahir dari sikap emosional tak terkendali.

Pada skala lokal dibeberapa forum Mapaba dan PKD, saya selalu menekankan kepada para kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Gorontalo, bahwa NDP (Nilai Dasar Pergerakan) yang berfungsi sebagai kerangka refleksi, kerangka aksi dan kerangka ideologis yang berisikan nilai-nilai ketauhidan, interaksi dengan sang pencipta, interaksi antarsesama serta interaksi dengan alam semseta harus bisa menjadi landasan perjuangan suci, menegakkan kebenaran, keadilan, dan memberangus kebatilan.

Oleh karena itu, perjuangan suci tidak boleh dicederai dengan perilaku yang tak terpuji seperti perbuatan anarki, dan pengrusakan terhadap fasilitas perkantoran, serta fasilitas umum lainnya.

Seharusnya semua kelompok atau  organisasi kemahasiswaan yang memiliki komitmen, dan gerakan yang sama mempedomani frame perjuangan ini. Apalagi organisasi yang telah dengan jelas menamai dirinya dengan simbol-simbol “ISLAM”.

Ironi memang, jika teriakan “Allahu Akbar” yang mulia tidak berbanding lurus dengan ucapan lisan yang tak terkontrol, atau gerakan tangan yang liar, tercela dan merusak. Mungkin kita harus kembali kepada kitab suci yang mengajarkan komunikasi dalam bingkai adab, kesopanan dan kesantunan.

Dalam komunikasi dakwah misalnya, keramahan dan kesantunan sangat ditekankan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah kepada Rasul-Nya, Musa as. dan Harun as. agar berkata yang lembut kepada Fir’aun.

Kepada Fir’aun yang kezalimannya sudah melampaui batas saja, tetap dianjurkan untuk bersoft speech, apalagi kepada pemimpin, atau siapa saja yang masih beriman dan melaksanakan kewajiban agamanya, meskipun dalam pandangan subjektif kita mereka masih belum sepenuhnya mempraktikan  keadilan.

Di sinilah pentingnya merefresh kembali model dan strategi gerakan kemahasiswan yang suci, murni, konsisten dan konsekwen agar tidak terdegradasi oleh perilaku anarki, dan hate speech di mimbar orasi yang berakhir di meja polisi.

Mungkin hari ini kita harus banyak belajar lagi, dari beberapa kasus demonstrasi suci berujung benci. Sebut saja kasus terakhir yang dilakoni oleh Yunus Pasau, mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Gorontalo dari organisasi kemahahasiswaan Islam ternama pula.

Hate Speechnya kepada sang presiden yang beraroma “seksual sensitif” dan memang telah melampaui batas-batas kesopanan dan kesantunan, yang digelar di Bundaran Perlimaan Telaga pada Jumat, 02/09/22 itu berbalas bullian, cacian dan parodi nyinyiran dari publik dan warganet. Meskipun akhirnya yang bersangkutan telah melayangkan permohonan maaf melalui  media sosial.

Akhirnya, pepatah ini ternyata masih up to date untuk direnungkan : “Mulutmu Harimaumu”

#SalamSantun

Penulis : Pemerhati Sosial dan Keagamaan

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prancis Diunggulkan Singkirkan Swedia, Les Bleus Bidik Tiket ke Babak 16 Besar

    Prancis Diunggulkan Singkirkan Swedia, Les Bleus Bidik Tiket ke Babak 16 Besar

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 114
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Prancis akan menghadapi Swedia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, Rabu (1/7/2026) pukul 04.00 WIB. Les Bleus datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah tampil sempurna sepanjang fase grup. Tim asuhan Didier Deschamps menutup Grup I sebagai juara grup dengan raihan sembilan poin dari tiga pertandingan. Prancis juga […]

  • Tanggapi Polemik Mananggu Cup, Ketua Panitia Ajak Semua Pihak Bersikap Bijak

    Tanggapi Polemik Mananggu Cup, Ketua Panitia Ajak Semua Pihak Bersikap Bijak

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 110
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – MANANGGU – Turnamen sepak bola Mananggu Cup 1 yang direncakan pada bulan November 2026 mendatang mulai menuai polemik, utamanya mengenai sumber anggaran. Ketua Panitia Noldy Biya mengajak semua pihak agar menyikapinya dengan bijak. Sebab menurutnya, perbedaan pandangan, ada pihak yang suka atau tidak suka terhadap turnamen, itu hal yang biasa. Kata dia, dinamika […]

  • DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Menjelang pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) Tani Merdeka Indonesia di Jakarta, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Indonesia Gorontalo menyatakan dukungan penuh dan memastikan kehadiran dalam agenda nasional tersebut. RAPIMNAS Tani Merdeka Indonesia akan digelar di Gedung Kementerian, Jakarta, pada 27–28 Agustus 2025. Forum ini menjadi ajang strategis konsolidasi nasional untuk memperkuat peran petani dalam […]

  • Membentengi Anggaran Makan Bergizi: Ujian Akuntabilitas dan Integritas SPIP

    Membentengi Anggaran Makan Bergizi: Ujian Akuntabilitas dan Integritas SPIP

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Amrullah
    • visibility 274
    • 0Komentar

    Anggaran publik seharusnya tidak hanya dipahami sebagai deretan angka yang tersusun rapi dalam dokumen resmi negara. Lebih dari itu, anggaran merupakan bentuk nyata dari komitmen pemerintah kepada masyarakat, sekaligus ukuran sejauh mana negara mampu menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Oleh karena itu, ketika anggaran dialokasikan untuk program makan bergizi, persoalannya tidak berhenti pada aspek teknis […]

  • Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Unhas Gelar Seminar Program Kerja untuk Bangun Ketahanan Lingkungan di Desa Pajukukang

    Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Unhas Gelar Seminar Program Kerja untuk Bangun Ketahanan Lingkungan di Desa Pajukukang

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros –  Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) Posko Desa Pajukukang resmi mengawali rangkaian pengabdian kepada masyarakat melalui Seminar Rancangan Program Kerja yang digelar di Kantor Desa Pajukukang, Senin (13/7/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.30–12.00 WITA itu dihadiri Kepala Desa Pajukukang, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dosen […]

  • Papua selalu menjadi Hidangan dalam meja Kekuasaan

    Papua selalu menjadi Hidangan dalam meja Kekuasaan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Tulisan ini dipantik dari bedah film dokumenter terbaru Dandhy Laksono berjudul Pesta Babi. Seperti karya-karyanya yang lain, film ini kembali menghadirkan gaya khas: provokatif, mengusik, dan sengaja menampar kenyamanan penonton terhadap cara negara bekerja. Ia memancing emosi, membuka luka lama, dan memaksa kita menatap sesuatu yang sering sengaja disamarkan oleh bahasa resmi pembangunan. Meski bagi […]

expand_less