Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mahasiswa, Demonstrasi dan Kesantunan

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Minggu, 4 Sep 2022
  • visibility 36
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Menarik memang mengelaborasi gerakan mahasiswa sebagai agen of change atau sebagai agen of control. Sudah menjadi tradisi yang terwariskan sejak zaman pra kemerdekaan hingga saat ini, bahwa mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok elit pelajar akan selalu garang ketika berhadapan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak populis.

Pada momen-momen tertentu, pemandangan yang sudah lazim akan terlihat di setiap kantor pemerintah, atau di gedung perwakilan rakyat, para mahasiswa berkumpul sambil berorasi menyuarakan sejumlah tuntutan dan aspirasi.

Jika ditanya kepada para mahasiswa, dimana tempat paling strategis menyuarakan tuntutan (?) maka jawabannya adalah di bundaran  persimpangan jalan utama. Inilah tempat paling favorit bagi mahasiswa untuk penyebaran informasi sebagai bentuk perlawanan atau sekadar show of force gerakan pro rakyat.

Demonstrasi merupakan dinamika ekstrnal dunia kemahasiswaan, yang selalu menjadi kebanggaan dan cerita indah, setelah keluar dari lingkungan akademik.

Salah satu hal yang melatarbelakangi konsistensi gerakan mahasiswa turun ke jalan di seantero negeri ini adalah, doktrinasi idealisme yang ditanamkan kepada para mahasiswa melalui organisasi kemahasiswaan baik organisasi internal semisal LDK, dan semacamnya, maupun organisasi eksternal seperti PMII, HMI, IMM, GMNI, GMKI dan lain sebagainya.

Secara umum, idealisme mahasiswa terfokus pada dua tema besar yang selalu diusung, dan diperjuangkan melalui parlemen-parlemen jalanan, yakni menyuarakan penegakan keadilan dan perlawanan atas “kezaliman penguasa”.

Dalam konteks ini, mahasiswa akan terus bersuara menantang kebijakan yang dianggap merugikan rakyat atau kebijakan politis lainnya yang dianggap bias.

Sebagaimana diketahui bahwa, melalui parlemen jalanan, mahasiswa mendapatkan tempat yang paling efektif untuk mengekspresikan kebebasan berpendapat, terlebih-lebih di era pasca reformasi.

Di mimbar  palemen jalanan ini, tuntutan dan aspirasi dinarasikan dengan bahasa propaganda, disampaikan dengan langgam agitasi serta diorasikan dengan statemen-statemen yang lebih tajam dari silet. Ya, harus seperti itu. Sebab jika tidak, maka momentum demonstrasi itu akan kehilangan ruhnya.

Di samping itu, sang orator harus menampilkan dirinya sebagai orator ulung.  Bersuara tegas lantang dan berapi-api. Untuk apa(?).  Agar suara tuntutan bisa menembus dinding-dinding nurani bangsa.  Mimbar jalanan juga merupakan wasilah untuk mengasah kemampuan komunikasi sang orator untuk bekal ketika dikemudian hari, menjadi anggota parlemen asli apalagi sebagai pimpinan atau anggota partai oposisi. He he he.

Intinya bahwa apapun gerakan mahasiswa harus diberikan  apresiasi, sepanjang gerakan tersebut masih dalam koridor control society. Oleh karena itu, demonstrasi mahasiswa tidak boleh kehilangan identitasnya (lost of identity).

Mahasiswa adalah kalangan terpelajar, kalangan yang mengedepankan akal kritis dan akal sehat sebelum bertindak. Stigma ini harus tetap dipertahankan. Perjuangan mahasiswa dalam mengawal kebenaran dan keadilan tidak boleh diwarnai oleh noktah-noktah hitam, yang lahir dari sikap emosional tak terkendali.

Pada skala lokal dibeberapa forum Mapaba dan PKD, saya selalu menekankan kepada para kader PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Gorontalo, bahwa NDP (Nilai Dasar Pergerakan) yang berfungsi sebagai kerangka refleksi, kerangka aksi dan kerangka ideologis yang berisikan nilai-nilai ketauhidan, interaksi dengan sang pencipta, interaksi antarsesama serta interaksi dengan alam semseta harus bisa menjadi landasan perjuangan suci, menegakkan kebenaran, keadilan, dan memberangus kebatilan.

Oleh karena itu, perjuangan suci tidak boleh dicederai dengan perilaku yang tak terpuji seperti perbuatan anarki, dan pengrusakan terhadap fasilitas perkantoran, serta fasilitas umum lainnya.

Seharusnya semua kelompok atau  organisasi kemahasiswaan yang memiliki komitmen, dan gerakan yang sama mempedomani frame perjuangan ini. Apalagi organisasi yang telah dengan jelas menamai dirinya dengan simbol-simbol “ISLAM”.

Ironi memang, jika teriakan “Allahu Akbar” yang mulia tidak berbanding lurus dengan ucapan lisan yang tak terkontrol, atau gerakan tangan yang liar, tercela dan merusak. Mungkin kita harus kembali kepada kitab suci yang mengajarkan komunikasi dalam bingkai adab, kesopanan dan kesantunan.

Dalam komunikasi dakwah misalnya, keramahan dan kesantunan sangat ditekankan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah kepada Rasul-Nya, Musa as. dan Harun as. agar berkata yang lembut kepada Fir’aun.

Kepada Fir’aun yang kezalimannya sudah melampaui batas saja, tetap dianjurkan untuk bersoft speech, apalagi kepada pemimpin, atau siapa saja yang masih beriman dan melaksanakan kewajiban agamanya, meskipun dalam pandangan subjektif kita mereka masih belum sepenuhnya mempraktikan  keadilan.

Di sinilah pentingnya merefresh kembali model dan strategi gerakan kemahasiswan yang suci, murni, konsisten dan konsekwen agar tidak terdegradasi oleh perilaku anarki, dan hate speech di mimbar orasi yang berakhir di meja polisi.

Mungkin hari ini kita harus banyak belajar lagi, dari beberapa kasus demonstrasi suci berujung benci. Sebut saja kasus terakhir yang dilakoni oleh Yunus Pasau, mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Gorontalo dari organisasi kemahahasiswaan Islam ternama pula.

Hate Speechnya kepada sang presiden yang beraroma “seksual sensitif” dan memang telah melampaui batas-batas kesopanan dan kesantunan, yang digelar di Bundaran Perlimaan Telaga pada Jumat, 02/09/22 itu berbalas bullian, cacian dan parodi nyinyiran dari publik dan warganet. Meskipun akhirnya yang bersangkutan telah melayangkan permohonan maaf melalui  media sosial.

Akhirnya, pepatah ini ternyata masih up to date untuk direnungkan : “Mulutmu Harimaumu”

#SalamSantun

Penulis : Pemerhati Sosial dan Keagamaan

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • McDonalisasi PMII…..!!!

    McDonalisasi PMII…..!!!

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Sahabat Senior: ente tahu tanggal 17 April torang akan merayakan HARLAH PMII? Sahabat Yunior: Jelas taulah (sambil tersenyum)…! PMII itu kan singkatan dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, ya? Ada apa senior? Sahabat Senior: Iya, butul! Harlah ini bukan hanya sekadar perayaan, tapi juga momen untuk refleksi atas perjuangan dan kontribusi PMII dalam pengembangan kader dan […]

  • Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara

    Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Amanah sering kita dengar di khutbah Jumat atau ceramah Ramadan. Ia terdengar khidmat, tapi juga kadang terasa jauh dari kehidupan politik sehari-hari. Amanah seolah dipindahkan ke ruang ibadah, sementara di ruang kekuasaan ia diperlakukan seperti barang opsional—dipakai kalau perlu, ditinggalkan kalau mengganggu kepentingan. Padahal republik tidak berdiri hanya dengan undang-undang dan birokrasi. Ada kontrak tak […]

  • Ramadan dan Pelajaran Menerima Kritik dari Rasulullah

    Ramadan dan Pelajaran Menerima Kritik dari Rasulullah

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Ramadan sering dipahami sebagai bulan peningkatan ibadah. Namun sejatinya, Ramadan juga merupakan momentum untuk memperbaiki akhlak dan cara kita menyikapi kehidupan. Salah satu pelajaran penting yang sering terlupakan adalah bagaimana bersikap terhadap kritik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan keputusan yang terasa kurang tepat. Baik itu keputusan atasan di kantor, pimpinan organisasi, maupun keputusan dalam […]

  • Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

    Yang Barangkali Luput dalam Perbincangan soal Sadaka

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 650
    • 1Komentar

    Alasan mengapa sadaka ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat Gorontalo beberapa hari ini sederhana: memberatkan. Perbincangan ini juga bukan barang baru. Sebelumnya, jika jeli membaca timeline Facebook, Anda akan menemukan berbagai postingan yang membeberkan keluh-kesah warga soal praktik ini. Masa iya misalnya, kita yang sedang berduka, lalu harus memberi sejumlah uang pada para elit, pembesar, pemangku […]

  • KOPRA Institut Desak KPK dan Kejagung Atas Dugaan Korupsi Bank Sumut KCP Krakatau

    KOPRA Institut Desak KPK dan Kejagung Atas Dugaan Korupsi Bank Sumut KCP Krakatau

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 113
    • 0Komentar

    JAKARTA – KOPRA Institut (Komite Perjuangan Rakyat) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Agung pada Kamis (26/2/2026) Aksi tersebut menuntut agar kedua lembaga penegak hukum mengambil alih pemeriksaan dugaan korupsi senilai Rp2,2 miliar yang diduga melibatkan Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap. Koordinator aksi, Ardi, menyampaikan bahwa kedatangan […]

  • Siapa Mengototkan Tambang Ormas? Yeni Wahid Sebut Peran Menteri

    Siapa Mengototkan Tambang Ormas? Yeni Wahid Sebut Peran Menteri

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 138
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Polemik izin pengelolaan tambang bagi organisasi kemasyarakatan keagamaan kembali memanas. Kali ini datang dari pernyataan terbuka Zanuba Arifah Chafso Wahid atau Yeni Wahid, putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid. Di hadapan ribuan jamaah Haul Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang, Yeni mengungkap adanya peran seorang menteri yang disebut paling ngotot mendorong pemberian konsesi […]

expand_less