Breaking News
light_mode
Trending Tags

Matoduwolo Kiyai, Mari Kiyai, Silahkan Kiyai

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Minggu, 13 Nov 2022
  • visibility 36
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di mana-mana, sering kita mendengar panggilan “kiyai” kepada seseorang. Panggilan ini disampaikan dalam berbagai kesempatan, khususnya pada momen-momen keagamaan.

Tak peduli apakah seseorang yang dipanggil kiyai tersebut pantas menyandang gelar sakral ini atau tidak. Entah parameter apa yang dipakai sehingga begitu mudahnya sebutan kiyai dialamatkan kepada seseorang.. 

Apakah setiap penceramah, ustadz atau guru agama, bisa kita panggil kiyai ? Apakah karena dia tokoh agama atau karena pimpinan sebuah organisasi Islam, lantas secara otomatis kita beri dia label kiyai di depan namanya ? Untuk menjawabnya, butuh banyak bacaan atau referensi serta diskusi yang panjang. Diskusinya pun tidak sekedar diskusi di warung kopi.

Di kalangan masyarakat Jawa, panggilan kiyai diberikan kepada seorang ulama kharismatik, punya jemaah yang banyak, pimpinan pesantren atau seorang guru yang sangat ahli dalam bidang agama, menguasai bahasa Arab dan ilmu alat lainnya, menguasai kitab kuning serta memiliki tingkat kezuhudan dan kewara’annya yang tinggi. 

Paling tidak itulah kriteria minimal yang menjadi alasan bagi masyarakat memanggil mereka sebagai kiyai. Adapun anak-anak atau keturunan para kiyai tersebut biasa dipanggil dengan Gus atau Bagus. Ini juga berarti tidak semua orang bisa dipanggil “Gus” kecuali dia adalah anak Kiyai.

Jika di Jawa masyarakat memanggil seorang ulama dengan sebutan kiyai, maka lain lagi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.   Di daerah-daerah ini, ulama besar dan kharismatik, lebih dikenal dengan panggilan Abuya, Tuan Guru, Ajengan, Anre Gurutta dan sebutan-sebutan lainnya yang berlaku sesuai kearifan lokal. 

Pada tataran akademik, para ahli banyak memberikan defenisi tentang siapa yang disebut kiyai. Salah satu di antaranya adalah defenisi yang dikemukakan oleh Zamaksyari Dhofier, bahwa kiyai adalah “gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang ahli agama islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab klasik kepada para santrinya”. Merujuk pada pengertian ini, jelas bahwa seseorang disebut kiyai adalah jika dia benar-benar memiliki keunggulan khusus dari sisi keilmuan dan skill keagamaan. 

Untuk menjadi bahan renungan, mungkin sepenggal kutipan yang disampaikan oleh Pof. Dr. K.H. Muhammad Tolhah Hasan, MA, dengan judul “Hibrida Kultural dan Tradisi Intelektual Pesantren dari Masa ke Masa” yang sekaligus menjadi prolog buku “Intelektualisme Pesantren” disebutkan sebagai berikut : 

“Ciri khas yang paling menyolok dalam tradisi intelektual pesantren adalah jaringan, silsilah, sanad, ataupun genealogi yang bersifat musalsal (berkesinambungan) untuk menentukan tingkat efisoterisitas dan kualitas keulamaan seorang intelektual. 

Hal ini pula yang membedakan tradisi intelektual pesantren dengan – misalnya – tradisi intelektual di lingkungan kampus, dan bahkan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya. Tradisi intelektual pesantren seperti ini boleh dibilang melampaui linearitas eksotologis pengetahuan Islam, yang biasa disebut dengan “ilm jally” dalam prespektif Ibn Qayyim Al-Jauzy”.

Lebih lanjut Kiyai Tholhah Hasan menyebutkan :

“Hal ini cukup bisa dimaklumi,  mengingat tingkatan eksotologis intelektual pesantren,  selain menekankan sisi faktualitas antropogesis juga menyisipkan sisi efisoterisitas intelektual. 

Makanya dalam tradisi pesantren, orang yang pandai agama tidak bisa dengan serta merta disebut kiyai atau ulama kalau ilmunya tidak jelas sumbernya dari mana

Pengantar yang disampaikan Kiyai Tholhah Hasan ini jelas memberikan penekanan bahwa kiyai bukan sekedar gelar atau panggilan penghormatan semata, akan tetapi sangat berkaitan dengan kapasitas dan kapabilitas keulamaan berdasarkan silsilah dan sanad keilmuan. 

Dengan demikian kita harus tahu bahwa seseorang yang kita panggil atau kita beri gelar kiyai itu, belajar ilmunya kepada siapa, qira’ah kitabnya kepada siapa, bagaimana penguasaannya terhadap ilmu Al-Qur’an, hadis, fiqhi, ushul fiqhi, qawaid dan ilmu lainnya.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut di atas, secara pribadi, saya merasa risih dan malu jika ada yang memanggil saya dengan panggilan kiyai. 

Selain tak pantas dan tidak memenuhi syarat, saya juga tidak sanggup mempertanggungjawabkannya dihadapan publik dan para ustadz lainnya yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu. 

Maka, melalui tulisan ini saya menegaskan sekaligus memaklumkan bahwa saya bukan Kiyai. Panggil saja saya “Ustadz”, karena saya tidak lebih dari seorang pengajar biasa di sebuah pondok pesantren.

Jujur saja, saya merasa lucu bercampur malu ketika mendengar ucapan “Matoduwolo Pak Kiyai”, “Mari Pak Kiyai”, “Silahkan Pak Kiyai”. He he he. 

Wallahu A’lam.

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara

    Ketika Amanah Mangkrak Seperti Proyek Negara

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Amanah sering kita dengar di khutbah Jumat atau ceramah Ramadan. Ia terdengar khidmat, tapi juga kadang terasa jauh dari kehidupan politik sehari-hari. Amanah seolah dipindahkan ke ruang ibadah, sementara di ruang kekuasaan ia diperlakukan seperti barang opsional—dipakai kalau perlu, ditinggalkan kalau mengganggu kepentingan. Padahal republik tidak berdiri hanya dengan undang-undang dan birokrasi. Ada kontrak tak […]

  • Kegetiran di balik Wisuda Siswa dan Sumbangan ‘Sukarela’ Sekolah

    Kegetiran di balik Wisuda Siswa dan Sumbangan ‘Sukarela’ Sekolah

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Saya tetap datang meski acara telah berada di penghujung. Wajah sumringah sang putri dan semangatnya untuk hadir bak serdadu yang mau merangsek ke markas musuh, membuat saya tak tega. Saya datang demi melihatnya tersenyum di atas panggung, meski hanya sekejap. Dan di atas segalanya ini adalah tentang  rasa syukur. Maka hadirlah saya tepat ketika semua orang […]

  • Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    Qays, Safinah Maula Rasulullah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #4)

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Di antara para sahabat, nama-nama seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Talib sering dipersepsikan sebagai simbol keberanian, ketegasan, dan kekuatan fisik. Mereka menjadi rujukan bagi banyak generasi sebagai contoh keberanian yang luar biasa. Namun, di balik nama-nama besar itu, terdapat seorang sahabat yang jarang disebut, tetapi memiliki kekuatan fisik dan pengabdian yang tidak […]

  • Tak Biasa, Gorontalo Gelar Lomba Toilet Terbersih Tiap Bulan

    Tak Biasa, Gorontalo Gelar Lomba Toilet Terbersih Tiap Bulan

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menghadirkan inovasi unik dalam membangun budaya bersih di lingkungan sekolah, yakni melalui lomba “toilet terbersih” yang digelar setiap bulan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Husin Ali, menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar menilai kebersihan fisik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter […]

  • Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

    • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Bagi kita, penggemar sepak bola Indonesia, wajah Timnas Indonesia kini tampak berbeda. Dulu, kita mengenal pemain-pemain yang tumbuh besar di sini, dengan karakter dan ciri khas lokal yang tak bisa dilepaskan. Namun kini, hampir setiap pemain Timnas yang tampil memiliki tubuh tegap, kulit putih, dan seolah membawa cita rasa Eropa, terutama Belanda. Mereka bukanlah anak-anak […]

  • Kunjungan ke Maros, Mendes PDTT Serahkan Penghargaan Tokoh Peduli Desa kepada 8 Bupati

    Kunjungan ke Maros, Mendes PDTT Serahkan Penghargaan Tokoh Peduli Desa kepada 8 Bupati

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 152
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Komitmen pemerintah daerah dalam membangun dan memberdayakan desa kembali mendapat apresiasi di tingkat nasional. Sebanyak delapan bupati, termasuk Bupati Maros Chaidir Syam, menerima penghargaan Tokoh Peduli Desa dari Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI). Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDTT), Yandri Susanto, pada kegiatan Saba Desa […]

expand_less