Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Covid-19 dan “Matinya” Agama

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
  • visibility 80
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia telah menyerang banyak jiwa manusia. Tidak mengenal yang tua maupun yang muda, laki-laki atau perempuan, bahkan anak-anak ikut menjadi korban dari ganasnya virus ini.

Negara“kewalahan” melawan serangan virus corona. Beberapa program telah diberlakukan oleh pemerintah untuk menangani dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini.

Sebut saja physical distancing (jaga jarak), hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan, sering mencuci tangan dengan bersih menggunakan sabun, penyemprotan disinfektan di ruang-ruang publik bahkan hampir disetiap rumah masyarakat.

Namun upaya itu di anggap belum berhasil ditandai oleh makin meningkatnya angka oraang yang terinfeksi virus corona. Pemerintah tidak berhenti sampai disitu, keseriusan pemerintah kemudian disusul dengan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Hampir semua daerah mengajukan PSBB, namun pola ini dianggap masih belum mampu menekan angka kenaikan orang-orang terinfeksi virus. Pada akhirnya, beberapa wilayah, oleh pemerintah diberlakukan “new normal” atau hidup berdamai dengan corona.

Pertanyaannya bagaimana dengan agama? Bukankah agama sebagai penolong bagi pemeluknya? Ataukah agama tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai pengobat dikala umatnya ditimpa bencana? Ataukah agama telah mati?

Itulah beberapa pertanyaan yang muncul dibenak pikiran saya ditengah pandemi saat ini. Saya sedang tidak berprasangka “buruk” terhadap agama. Karena saya percaya agama sebagai “way of life” yang tidak kosong secara dogmatis.

Agama bisa menjadi penghibur manusia dikala ia ditimpa bencana. Tapi saat ini, ditengah serangan virus corona, agama “kehilangan” fungsinya dalam kehidupan umat manusia.

Ada dua definsi agama menurut para ahli yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Menurut Milton Yinger (1957) agama sebagai pengetahuan kultural tentang sang supernatural yang digunakan oleh manusia untuk menghadapi masalah paling penting tentang keberadaan manusia di muka bumi ini” (Religion isthe cultural knowledge of the supernatural that people use to cope with the ultimate problem of human existence).

Selain itu definisi agama yang dikemukakan oleh Wallace (1966) bahwa “Agama adalah satu perangkat ritual, dirasionalisasikan oleh mitos-mitos, untuk menggerakkan kekuatan supernatural dengan tujuan untuk memperoleh, atau mencegah, dan mengubah keadaan manusia dan alam” (Religion is a set of rituals, rationalized by myth, which mobilizes supernatural powers for the purpose of achieving or preventing transformations of state in man and nature).

Kalau merujuk pada dua definisi agama di atas, seharusnya agama menjadi kekuatan pembebas dan penyelamat atas pemeluknya ketika ditimpa musibah. Agama dapat mencegah dan melindungi  pemeluknya  dari mara bahaya. Tapi, sepertinya benar kata Karl Marx (O’Dea 1966) bahwa agama begitu penting dalam kehidupan manusia, mengandung aspirasi-aspirasi manusia yang paling dalam (sublime), sumber dari semua budaya tinggi, bahkan candu bagi manusia.

Agama seyogyanya membawa ketenangan bathin dalam segala situasi dan kondisi. Karena agama memiliki lima prinsip jaminan keselamatan, dalam agama Islam disebut “maqasid syariah”. Lima prinsip ini antara lain keselamatan beragama (hifdzun din), keselamatan jiwa (hifdzun nafs), keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzun nasb), keselamatan akal (hifdzul ‘aql), dan keselamatan harta (hifdzul mal).

Lima prinsip ini adalah hal yang mendasar dalam beragama. Karena agama menjamin keselamatan (salvation) bagi setiap pemeluknya, dan semua agama mengajarkan prinsip-prinsip tersebut.

Jadi, ketika orang-orang berpendapat dan menyalahkan hingga menganggap bahwa bencana merupakan azab, saya kira ini terlalu berlebihan.  Justeru menurut saya disinilah tampaknya “agama” seakan mati dan tak berdaya ketika berhadapan dengan virus corona.

Agama tidak  lagi memberi “kehidupan”, justeru sebaliknya agama telah membawa ‘kematian’ dengan menyalahkan orang-orang yang membawa virus.

Nalar akan “kematian” agama oleh Mike Featherstone (1990) dalam bukunya “Global Culture: Nationalism, Globalization, and Modernity” memberikan tiga tanda sebagai pergeseran budaya dalam masyarakat diantaranya dominasi nilai barang, nilai estetika barang, hingga lemahnya referensi tradisional. Jika kita pahami dengan baik tiga tanda tersebut, maka pemahaman agamaisasi bencana dapat dilihat dalam tiga tanda serupa.

Dominasi agama dalam kehidupan umat manusia ditandai dengan menguatnya simbolisasi dan formalisasi agama dalam kehidupan masyarakat beragama. Tapi harus dicatat bahwa segala hal yang berlebihan akan senantiasa membawa kemudhorotan. Sehingga nalar beragama yang terlalu mendominasi dalam masyarakat menjadikan semua bencana yang menimpa masyarakat selalu ditafsirkan sebagai ketentuan Tuhan, berupa ujian hingga azab.

Pada akhirnya nalar semacam ini menyebabkan “kemalasan” dalam berijtihad guna memberikan solusi agar agama benar-benar menjalankan fungsinya. Bukan malah agama menjadi “tameng” untuk melawan dan berserah diri pada wabah yang mematikan. Sehingga muncul kalimat “Jangan takut kepada corona, tapi takutlah pada Tuhan”.

Disinilah bentuk“kepasrahan” seorang hamba dan sebagai tanda kematian agama. Seharunya agama harus mampu mengisi kekosongan “immun” spiritual dengan menjadikan agama hidup dan menghidupkan sisi kemanusiaan.(***)

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati di Papua Dirilis untuk Publik

    Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati di Papua Dirilis untuk Publik

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 306
    • 0Komentar

    GORONTALO, NULONDALO.COM – Upaya baru dalam pelestarian alam di Indonesia bagian timur lahir dengan selesainya identifikasi Important Bird and Biodiversity Areas (IBAs) di wilayah Papua. Melalui kerja sama antara Burung Indonesia dan berbagai mitra strategis, data ini kini dapat diakses oleh publik sebagai alat bantu utama dalam menentukan daerah prioritas pelestarian keanekaragaman hayati di Papua dengan menggunakan […]

  • Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Kerusakan terumbu karang menjadi ancaman nyata bagi ekosistem laut, Salah satunya di dasar laut yang berada di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Barrier Reef (karang penghalang) yang berada disana sudah menjadi patahan karang mati yang kehilangan fungsinya sebagai rumah bagi ribuan biota laut. Kerusakan ini akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan perubahan […]

  • Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Pameran seni bertajuk “Sangkut Paut” resmi dibuka, Selasa (25/11/2025) di Hartdisk Studio, Bone Bolango. Pameran ini merupakan hasil proses kreativitas dari program MTN Lab Residence Gorontalo, yang menghadirkan 29 seniman dan 8 kurator dalam kerja kolaboratif selama dua minggu terakhir. Residensi ini memperlihatkan bagaimana gagasan tumbuh ketika praktik seni dirawat melalui kedekatan—antara seniman, kurator, ruang […]

  • Banom NU Barru Gelar Kajian Aswaja, Hadirkan Syekh Asal Lebanon

    Banom NU Barru Gelar Kajian Aswaja, Hadirkan Syekh Asal Lebanon

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 340
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Barru – Badan Otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU) Kabupaten Barru menggelar kajian Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di Zam-Zam Center Barru, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Acara tersebut dihadiri Rais Syuriah PC NU Kabupaten Barru, AG. Dr. H. Husain Abdullah, serta seluruh Banom NU, di antaranya Muslimat […]

  • Gerakan Demonstrasi Mei Berlawan di Kota Ternate, Wagub Malut Temui Massa Aksi Bicarakan Personal Buruh dan Pendidikan 

    Gerakan Demonstrasi Mei Berlawan di Kota Ternate, Wagub Malut Temui Massa Aksi Bicarakan Personal Buruh dan Pendidikan 

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Kota Ternate diwarnai dengan aksi demonstrasi yang digelar oleh sejumlah elemen gerakan dalam Aliansi Mei Berlawan, Rabu (1/5/2025). Aksi ini menyuarakan persoalan ketenagakerjaan dan akses pendidikan, serta mengecam dominasi oligarki tambang di Maluku Utara. Massa aksi memulai long march dari titik kumpul menuju kediaman Gubernur Maluku Utara, sebelum […]

  • DPR Tetapkan Lima Calon Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi Jadi Ketua

    DPR Tetapkan Lima Calon Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi Jadi Ketua

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 241
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menetapkan lima calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dalam Rapat Paripurna yang digelar di Gedung Nusantara II, Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Penetapan tersebut merupakan tindak lanjut dari proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang sebelumnya dilakukan oleh Komisi XI DPR RI terhadap […]

expand_less