Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Covid-19 dan “Matinya” Agama

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
  • visibility 132
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia telah menyerang banyak jiwa manusia. Tidak mengenal yang tua maupun yang muda, laki-laki atau perempuan, bahkan anak-anak ikut menjadi korban dari ganasnya virus ini.

Negara“kewalahan” melawan serangan virus corona. Beberapa program telah diberlakukan oleh pemerintah untuk menangani dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini.

Sebut saja physical distancing (jaga jarak), hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan, sering mencuci tangan dengan bersih menggunakan sabun, penyemprotan disinfektan di ruang-ruang publik bahkan hampir disetiap rumah masyarakat.

Namun upaya itu di anggap belum berhasil ditandai oleh makin meningkatnya angka oraang yang terinfeksi virus corona. Pemerintah tidak berhenti sampai disitu, keseriusan pemerintah kemudian disusul dengan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Hampir semua daerah mengajukan PSBB, namun pola ini dianggap masih belum mampu menekan angka kenaikan orang-orang terinfeksi virus. Pada akhirnya, beberapa wilayah, oleh pemerintah diberlakukan “new normal” atau hidup berdamai dengan corona.

Pertanyaannya bagaimana dengan agama? Bukankah agama sebagai penolong bagi pemeluknya? Ataukah agama tidak mampu menjalankan fungsinya sebagai pengobat dikala umatnya ditimpa bencana? Ataukah agama telah mati?

Itulah beberapa pertanyaan yang muncul dibenak pikiran saya ditengah pandemi saat ini. Saya sedang tidak berprasangka “buruk” terhadap agama. Karena saya percaya agama sebagai “way of life” yang tidak kosong secara dogmatis.

Agama bisa menjadi penghibur manusia dikala ia ditimpa bencana. Tapi saat ini, ditengah serangan virus corona, agama “kehilangan” fungsinya dalam kehidupan umat manusia.

Ada dua definsi agama menurut para ahli yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Menurut Milton Yinger (1957) agama sebagai pengetahuan kultural tentang sang supernatural yang digunakan oleh manusia untuk menghadapi masalah paling penting tentang keberadaan manusia di muka bumi ini” (Religion isthe cultural knowledge of the supernatural that people use to cope with the ultimate problem of human existence).

Selain itu definisi agama yang dikemukakan oleh Wallace (1966) bahwa “Agama adalah satu perangkat ritual, dirasionalisasikan oleh mitos-mitos, untuk menggerakkan kekuatan supernatural dengan tujuan untuk memperoleh, atau mencegah, dan mengubah keadaan manusia dan alam” (Religion is a set of rituals, rationalized by myth, which mobilizes supernatural powers for the purpose of achieving or preventing transformations of state in man and nature).

Kalau merujuk pada dua definisi agama di atas, seharusnya agama menjadi kekuatan pembebas dan penyelamat atas pemeluknya ketika ditimpa musibah. Agama dapat mencegah dan melindungi  pemeluknya  dari mara bahaya. Tapi, sepertinya benar kata Karl Marx (O’Dea 1966) bahwa agama begitu penting dalam kehidupan manusia, mengandung aspirasi-aspirasi manusia yang paling dalam (sublime), sumber dari semua budaya tinggi, bahkan candu bagi manusia.

Agama seyogyanya membawa ketenangan bathin dalam segala situasi dan kondisi. Karena agama memiliki lima prinsip jaminan keselamatan, dalam agama Islam disebut “maqasid syariah”. Lima prinsip ini antara lain keselamatan beragama (hifdzun din), keselamatan jiwa (hifdzun nafs), keselamatan keluarga dan keturunan (hifdzun nasb), keselamatan akal (hifdzul ‘aql), dan keselamatan harta (hifdzul mal).

Lima prinsip ini adalah hal yang mendasar dalam beragama. Karena agama menjamin keselamatan (salvation) bagi setiap pemeluknya, dan semua agama mengajarkan prinsip-prinsip tersebut.

Jadi, ketika orang-orang berpendapat dan menyalahkan hingga menganggap bahwa bencana merupakan azab, saya kira ini terlalu berlebihan.  Justeru menurut saya disinilah tampaknya “agama” seakan mati dan tak berdaya ketika berhadapan dengan virus corona.

Agama tidak  lagi memberi “kehidupan”, justeru sebaliknya agama telah membawa ‘kematian’ dengan menyalahkan orang-orang yang membawa virus.

Nalar akan “kematian” agama oleh Mike Featherstone (1990) dalam bukunya “Global Culture: Nationalism, Globalization, and Modernity” memberikan tiga tanda sebagai pergeseran budaya dalam masyarakat diantaranya dominasi nilai barang, nilai estetika barang, hingga lemahnya referensi tradisional. Jika kita pahami dengan baik tiga tanda tersebut, maka pemahaman agamaisasi bencana dapat dilihat dalam tiga tanda serupa.

Dominasi agama dalam kehidupan umat manusia ditandai dengan menguatnya simbolisasi dan formalisasi agama dalam kehidupan masyarakat beragama. Tapi harus dicatat bahwa segala hal yang berlebihan akan senantiasa membawa kemudhorotan. Sehingga nalar beragama yang terlalu mendominasi dalam masyarakat menjadikan semua bencana yang menimpa masyarakat selalu ditafsirkan sebagai ketentuan Tuhan, berupa ujian hingga azab.

Pada akhirnya nalar semacam ini menyebabkan “kemalasan” dalam berijtihad guna memberikan solusi agar agama benar-benar menjalankan fungsinya. Bukan malah agama menjadi “tameng” untuk melawan dan berserah diri pada wabah yang mematikan. Sehingga muncul kalimat “Jangan takut kepada corona, tapi takutlah pada Tuhan”.

Disinilah bentuk“kepasrahan” seorang hamba dan sebagai tanda kematian agama. Seharunya agama harus mampu mengisi kekosongan “immun” spiritual dengan menjadikan agama hidup dan menghidupkan sisi kemanusiaan.(***)

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LPNU Gorontalo Gelar Buka Puasa Bersama, Bahas Tantangan Ekonomi Warga NU di Era MEA

    LPNU Gorontalo Gelar Buka Puasa Bersama, Bahas Tantangan Ekonomi Warga NU di Era MEA

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 159
    • 0Komentar

    nulondalo.com – PWNU Provinsi Gorontalo menginstruksikan kepada seluruh badan dan lembaga Nahdlatul Ulama di tingkat provinsi untuk mengisi bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan keagamaan. Menindaklanjuti instruksi tersebut, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri oleh jajaran pengurus LPNU serta sejumlah badan otonom (Banom) dan lembaga NU lainnya, […]

  • Mahasiswa KKN-T Unhas Sosialisasikan Pencegahan PMK dan Bagikan Obat Cacing di Desa Bontomanurung

    Mahasiswa KKN-T Unhas Sosialisasikan Pencegahan PMK dan Bagikan Obat Cacing di Desa Bontomanurung

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Pemberdayaan Desa Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan sosialisasi pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) secara door to door di Desa Bontomanurung, Kabupaten Maros. Kegiatan ini dirangkaikan dengan pembagian obat cacing bagi masyarakat yang memiliki ternak. Program kerja individu tersebut dilaksanakan oleh Rifqah Nabila Rasyid, mahasiswa Program Studi […]

  • Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Kita begitu fasih merayakan nasionalisme dalam bentuk seremoni dan simbol. Setiap tanggal 17 Agustus, kita berdiri tegap menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah, sekolah, dan kantor pemerintahan. Di media sosial, foto bendera yang dikibarkan di puncak gunung atau latar kemenangan atlet nasional menjadi penanda kebanggaan kolektif. Di ruang-ruang publik, nasionalisme dipentaskan lewat […]

  • Abdullah bin Salam: Seorang Rabbi yang Mengenali Kebenaran (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #23)

    Abdullah bin Salam: Seorang Rabbi yang Mengenali Kebenaran (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #23)

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Abdullah bin Salam adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari kalangan Yahudi di Madinah. Sebelum memeluk Islam, ia dikenal sebagai seorang rabbi, sebutan untuk pemimpin agama Yahudi yang memahami Taurat dan hukum-hukum keagamaan Bani Israil. Ia berasal dari Bani Qaynuqa’, salah satu komunitas Yahudi yang tinggal di Madinah sebelum kedatangan Nabi. Nama aslinya sebelum […]

  • 31 Kontingen Rampungkan Registrasi, PPSN VI Kian Semarak

    31 Kontingen Rampungkan Registrasi, PPSN VI Kian Semarak

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Nulondalo, Malang – Suasana Pondok Pesantren Wisata An-Nur II “Al-Murtadlo” Bululawang, Kabupaten Malang, kian semarak menjelang pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI. Hingga Rabu (30/9/2026) pukul 15.19 WIB, sebanyak 31 kontingen putra dan putri telah menyelesaikan proses registrasi ulang. Jumlah tersebut terdiri atas 30 kontingen tingkat provinsi dan satu kontingen tuan rumah dari Pondok Pesantren […]

  • Said Aqil Siradj dan Kritik tentang Tambang: Ketika NU Diuji antara Khidmah dan Kekuasaan Play Button

    Said Aqil Siradj dan Kritik tentang Tambang: Ketika NU Diuji antara Khidmah dan Kekuasaan

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 225
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama KH Said Aqil Siradj bukan sosok asing dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Selama dua periode memimpin PBNU, ia dikenal sebagai kiai yang vokal dan tak segan mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk di era Presiden Joko Widodo, terutama ketika kebijakan dinilai merugikan rakyat kecil dan kaum lemah. Dalam sejumlah pernyataan yang kembali ramai dibicarakan, Said […]

expand_less