Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Yudi Latif Soroti Sengkarut Pendidikan Nasional: Negara Dinilai Kehilangan Arah Besar Pendidikan

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 212
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Cendekiawan dan budayawan Yudi Latif menyoroti berbagai persoalan mendasar dalam tata kelola pendidikan nasional yang dinilainya semakin kehilangan arah peradaban. Dalam tulisannya berjudul “Sengkarut Dunia Pendidikan” yang dimuat di Kompas pada Kamis (21/5/2026), Yudi menilai problem utama pendidikan Indonesia terletak pada kesenjangan antara apa yang disuarakan pemerintah dan kebijakan yang benar-benar dipilih.

Menurutnya, semua pihak sepakat bahwa pendidikan memiliki peran penting bagi kemajuan bangsa. Namun dalam praktiknya, kebijakan pendidikan justru sering kali bersifat administratif, teknokratis, dan berorientasi proyek semata.

“Pendidikan semakin sering diperlakukan seperti proyek administratif yang dapat didistribusikan penanganannya kepada instansi sembarangan,” tulis Yudi.

Ia menegaskan bahwa pendidikan seharusnya dipandang sebagai pekerjaan peradaban, bukan sekadar urusan birokrasi dan angka statistik. Pendidikan, menurutnya, menyangkut pembentukan manusia, pewarisan budaya, pengembangan karakter, hingga penyiapan masa depan bangsa.

Yudi juga menyoroti kondisi guru yang semakin terbebani urusan administratif dan perubahan kebijakan yang terus berganti. Akibatnya, guru kehilangan ruang untuk menjalankan fungsi utamanya sebagai pamong dan pembimbing kehidupan peserta didik.

“Guru perlahan direduksi menjadi pelaksana teknis kurikulum, bukan lagi sebagai penuntun kehidupan dan penyulut daya pikir peserta didik,” ujarnya.

Dalam tulisannya, Yudi mengkritik kecenderungan negara yang lebih fokus pada proyek populisme pendidikan dibanding penguatan kualitas guru dan integrasi sistem pendidikan nasional. Ia menyinggung keberadaan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda yang dinilai lahir tanpa integrasi visi pendidikan yang utuh.

Menurutnya, pendidikan masyarakat miskin seharusnya tidak dipisahkan dalam kategori tersendiri, melainkan diperkuat melalui sistem sekolah publik yang setara dan inklusif bagi seluruh warga negara.

“Jika negara sungguh-sungguh ingin menghadirkan keadilan pendidikan, yang perlu diperkuat adalah kualitas seluruh sekolah publik,” tulisnya.

Selain tata kelola pendidikan, Yudi juga menyoroti lemahnya hubungan antara pendidikan, inovasi, dan sistem ekonomi nasional. Ia menilai Indonesia terlalu sibuk mencetak “manusia unggul”, tetapi gagal membangun ekosistem industri dan inovasi yang mampu menyerap kapasitas intelektual generasi muda.

Ia mencontohkan lulusan bidang keinsinyuran yang jumlahnya terbatas, namun sebagian besar justru tidak bekerja sesuai bidang keahlian akibat lemahnya industrialisasi dan minimnya ekonomi berbasis pengetahuan.

“Bangsa yang gagal membangun sistem inovasi akan terus menjadi konsumen dari gagasan bangsa lain,” tegasnya.

Karena itu, Yudi mendorong agar pembangunan pendidikan tidak lagi berjalan parsial. Pendidikan, inovasi, dan ekonomi nasional harus dipandang sebagai satu ekosistem yang saling terhubung dan saling menguatkan.

Ia menilai pendidikan seharusnya menjadi ruang tumbuh nalar kritis, kreativitas, dan karakter manusia, bukan sekadar ruang hafalan dan pengejaran angka.

Di bagian akhir tulisannya, Yudi menawarkan sejumlah jalan keluar, mulai dari penataan ulang tata kelola pendidikan berbasis kompetensi pedagogis, penguatan sistem inovasi nasional, hingga transformasi ekonomi dari model ekstraktif menuju ekonomi berbasis pengetahuan.

“Arah pendidikan harus lebih berakar pada persoalan keindonesiaan,” tulisnya.

Bagi Yudi, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya mahasiswa yang diterima di kampus elite dunia, melainkan dari kemampuan negara menghadirkan ruang aktualisasi bagi ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata bangsa, seperti kemiskinan, ketimpangan, pangan, energi, hingga industrialisasi.

Ia menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa pendidikan, inovasi, dan ekonomi harus kembali dipersatukan dalam satu visi pembangunan nasional agar Indonesia mampu melahirkan manusia unggul yang berintegritas, kreatif, dan berdaya cipta bagi kemajuan bersama.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

    Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Terus terang, saya tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada BTS selain sebagai band pop yang rapi dan menyenangkan. Dalam bayangan saya, K-Pop—termasuk BTS—adalah industri yang sangat efisien menjual visual, koreografi, dan kemasan. Musiknya menghibur, energik, dan selesai di situ. Pure entertainment. Tidak lebih. Pandangan saya mulai terkoreksi ketika, dalam satu diskusi tentang masa depan NU […]

  • Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Setiap 1 Mei, jalan-jalan ibu kota terasa berbeda. Bukan karena kemacetan, tapi karena gema suara buruh yang menggema dari segala penjuru. Mereka datang bukan hanya membawa spanduk dan bendera serikat pekerja sebagai simbol solidaritas, tapi juga harapan yang terus menyala meski kadang redup oleh kenyataan. Hari Buruh Internasional selalu menjadi cermin tentang siapa kita sebagai […]

  • DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    DPW Tani Merdeka Indonesia Gorontalo Siap Hadiri RAPIMNAS di Jakarta, Tegaskan Dukungan terhadap Program Presiden Prabowo

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Menjelang pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS) Tani Merdeka Indonesia di Jakarta, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Tani Merdeka Indonesia Gorontalo menyatakan dukungan penuh dan memastikan kehadiran dalam agenda nasional tersebut. RAPIMNAS Tani Merdeka Indonesia akan digelar di Gedung Kementerian, Jakarta, pada 27–28 Agustus 2025. Forum ini menjadi ajang strategis konsolidasi nasional untuk memperkuat peran petani dalam […]

  • Melihat Keadilan Gender dengan Kacamata Ulama Nusantara: Riwayat, Dalil, dan Jalan Perubahan Play Button

    Melihat Keadilan Gender dengan Kacamata Ulama Nusantara: Riwayat, Dalil, dan Jalan Perubahan

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 335
    • 0Komentar

    nulondalo.com – KH. Abdullah Aniq Nawawi menegaskan bahwa ijtihad ulama Nahdlatul Ulama (NU) dalam bidang sosial-politik terus berkembang untuk menjawab kebutuhan zaman, termasuk menghadirkan peradaban yang berkeadilan gender. Hal tersebut ia sampaikan dalam forum diskusi Halaqah Fiqih Peradaban PBNU bertajuk; Ijtihad Ulama NU dalam bidang sosial-politik untuk peradaban yang berkeadilan gender, yang digelar tahun lalu. […]

  • Kemenkes Tegaskan RS Dilarang Tolak Pasien JKN Nonaktif Sementara

    Kemenkes Tegaskan RS Dilarang Tolak Pasien JKN Nonaktif Sementara

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 274
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menegaskan bahwa rumah sakit dilarang menolak pasien yang status kepesertaan BPJS Kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dinonaktifkan sementara, sepanjang pasien tersebut membutuhkan pelayanan kesehatan sesuai indikasi medis. Penegasan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor HK.02.02/D/539/2026 yang diterbitkan Kemenkes sebagai langkah memastikan persoalan administratif tidak berdampak pada […]

  • Covid-19 dan “Matinya” Agama

    Covid-19 dan “Matinya” Agama

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia telah menyerang banyak jiwa manusia. Tidak mengenal yang tua maupun yang muda, laki-laki atau perempuan, bahkan anak-anak ikut menjadi korban dari ganasnya virus ini. Negara“kewalahan” melawan serangan virus corona. Beberapa program telah diberlakukan oleh pemerintah untuk menangani dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini. Sebut saja physical distancing (jaga jarak), […]

expand_less