Breaking News
light_mode
Trending Tags

Yudi Latif Soroti Sengkarut Pendidikan Nasional: Negara Dinilai Kehilangan Arah Besar Pendidikan

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month 13 jam yang lalu
  • visibility 48
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Cendekiawan dan budayawan Yudi Latif menyoroti berbagai persoalan mendasar dalam tata kelola pendidikan nasional yang dinilainya semakin kehilangan arah peradaban. Dalam tulisannya berjudul “Sengkarut Dunia Pendidikan” yang dimuat di Kompas pada Kamis (21/5/2026), Yudi menilai problem utama pendidikan Indonesia terletak pada kesenjangan antara apa yang disuarakan pemerintah dan kebijakan yang benar-benar dipilih.

Menurutnya, semua pihak sepakat bahwa pendidikan memiliki peran penting bagi kemajuan bangsa. Namun dalam praktiknya, kebijakan pendidikan justru sering kali bersifat administratif, teknokratis, dan berorientasi proyek semata.

“Pendidikan semakin sering diperlakukan seperti proyek administratif yang dapat didistribusikan penanganannya kepada instansi sembarangan,” tulis Yudi.

Ia menegaskan bahwa pendidikan seharusnya dipandang sebagai pekerjaan peradaban, bukan sekadar urusan birokrasi dan angka statistik. Pendidikan, menurutnya, menyangkut pembentukan manusia, pewarisan budaya, pengembangan karakter, hingga penyiapan masa depan bangsa.

Yudi juga menyoroti kondisi guru yang semakin terbebani urusan administratif dan perubahan kebijakan yang terus berganti. Akibatnya, guru kehilangan ruang untuk menjalankan fungsi utamanya sebagai pamong dan pembimbing kehidupan peserta didik.

“Guru perlahan direduksi menjadi pelaksana teknis kurikulum, bukan lagi sebagai penuntun kehidupan dan penyulut daya pikir peserta didik,” ujarnya.

Dalam tulisannya, Yudi mengkritik kecenderungan negara yang lebih fokus pada proyek populisme pendidikan dibanding penguatan kualitas guru dan integrasi sistem pendidikan nasional. Ia menyinggung keberadaan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda yang dinilai lahir tanpa integrasi visi pendidikan yang utuh.

Menurutnya, pendidikan masyarakat miskin seharusnya tidak dipisahkan dalam kategori tersendiri, melainkan diperkuat melalui sistem sekolah publik yang setara dan inklusif bagi seluruh warga negara.

“Jika negara sungguh-sungguh ingin menghadirkan keadilan pendidikan, yang perlu diperkuat adalah kualitas seluruh sekolah publik,” tulisnya.

Selain tata kelola pendidikan, Yudi juga menyoroti lemahnya hubungan antara pendidikan, inovasi, dan sistem ekonomi nasional. Ia menilai Indonesia terlalu sibuk mencetak “manusia unggul”, tetapi gagal membangun ekosistem industri dan inovasi yang mampu menyerap kapasitas intelektual generasi muda.

Ia mencontohkan lulusan bidang keinsinyuran yang jumlahnya terbatas, namun sebagian besar justru tidak bekerja sesuai bidang keahlian akibat lemahnya industrialisasi dan minimnya ekonomi berbasis pengetahuan.

“Bangsa yang gagal membangun sistem inovasi akan terus menjadi konsumen dari gagasan bangsa lain,” tegasnya.

Karena itu, Yudi mendorong agar pembangunan pendidikan tidak lagi berjalan parsial. Pendidikan, inovasi, dan ekonomi nasional harus dipandang sebagai satu ekosistem yang saling terhubung dan saling menguatkan.

Ia menilai pendidikan seharusnya menjadi ruang tumbuh nalar kritis, kreativitas, dan karakter manusia, bukan sekadar ruang hafalan dan pengejaran angka.

Di bagian akhir tulisannya, Yudi menawarkan sejumlah jalan keluar, mulai dari penataan ulang tata kelola pendidikan berbasis kompetensi pedagogis, penguatan sistem inovasi nasional, hingga transformasi ekonomi dari model ekstraktif menuju ekonomi berbasis pengetahuan.

“Arah pendidikan harus lebih berakar pada persoalan keindonesiaan,” tulisnya.

Bagi Yudi, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari banyaknya mahasiswa yang diterima di kampus elite dunia, melainkan dari kemampuan negara menghadirkan ruang aktualisasi bagi ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata bangsa, seperti kemiskinan, ketimpangan, pangan, energi, hingga industrialisasi.

Ia menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa pendidikan, inovasi, dan ekonomi harus kembali dipersatukan dalam satu visi pembangunan nasional agar Indonesia mampu melahirkan manusia unggul yang berintegritas, kreatif, dan berdaya cipta bagi kemajuan bersama.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gus Aniq Nawawi Sayangkan Aksi Bela Palestina di Gorontalo Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    Gus Aniq Nawawi Sayangkan Aksi Bela Palestina di Gorontalo Gunakan Simbol Hizbut Tahrir

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 100
    • 0Komentar

    nulondalo.com  – Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Randangan, Gorontalo Gus Aniq Nawawi (KH. Abdullah Aniq Nawawi) menyayangkan munculnya simbol-simbol organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada aksi damai bela palestina oleh ratusan orang yang mengatasnamakan Santri Peduli Palestina pada Ahad, (2/2/2025), kemarin. Ratusan massa aksi tersebut menggunakan atribut bertuliskan Khilafah dan juga bendera yang identik […]

  • Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    Agenda Kolaboratif SANTRIPRENEUR Talk, Wakil Ketua Komisi X : Kami Dari DPR-RI Akan Tetap Berusaha Agar Pendidikan Menjadi Prioritas

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Agenda SANTRIPRENEUR TALKS dengan Tema “Peradaban santri: Berpendidian, Berdaya, Berkhidmat Membangun Negeri” merupakan kegiatan kolaboratif antara Dewan Pengurus Pusat Gerakan SantriPreuner Nusantara (DPP GENINUSA) dan LPDP PKUMI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal) yang diselenggarakan di Aula Masjid Istiqlal pada Jum’at, 14 Maret 2025. Kegiatan SANTRIPRENEUR TALKS Dibuka secara resmi oleh ketua umum DPP GENINUSA, Zikal […]

  • Aliansi Tolak RUU TNI Gelar Aksi di Ternate Soroti Soal Ancaman Demokrasi

    Aliansi Tolak RUU TNI Gelar Aksi di Ternate Soroti Soal Ancaman Demokrasi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Sejumlah elemen organisasi yang tergabung dalam Aliansi Tolak RUU TNI, yakni LMID Pembebasan, Sekolah Critis MU, Sekber, KPR, FSPBI, AMP, LPM Aspirasi, Aksi Kamisan, dan FIB, menggelar aksi demonstrasi jalanan. Aksi ini menolak revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) yang dinilai mengancam demokrasi dan hak asasi manusia. Ternate, 20 Maret 2025. Aksi dimulai di […]

  • RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    RSUD Camba Resmi Beroperasi, Janji Politik Bupati Maros Mulai Terwujud

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Setelah melalui proses pembangunan sejak 2021, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Camba di Kabupaten Maros akhirnya resmi beroperasi penuh mulai 29 Desember 2025. Kehadiran fasilitas kesehatan ini menjadi salah satu realisasi janji politik Bupati Maros, Chaidir Syam, sekaligus menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di wilayah dataran tinggi. Peresmian operasional RSUD Camba disambut […]

  • Menakar Potensi dan Ancaman Kerusakan Wilayah Pesisir Bone Bolango

    Menakar Potensi dan Ancaman Kerusakan Wilayah Pesisir Bone Bolango

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Iwan Miu
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Indonesia adalah negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, dihuni oleh ribuan desa pesisir yang tersebar dari barat hingga timur nusantara. Desa-desa pesisir tidak hanya berperan sebagai penyangga ekologi, tetapi juga merupakan lumbung sumber daya alam, terutama di sektor kelautan dan perikanan. Namun, di balik potensi besar tersebut, desa pesisir menghadapi berbagai tantangan […]

  • Politik Identitas di Ruang Publik; Sebuah Gugatan Atas Praktik Penamaan Fasilitas Umum di Era Rum Pagau Jilid II

    Politik Identitas di Ruang Publik; Sebuah Gugatan Atas Praktik Penamaan Fasilitas Umum di Era Rum Pagau Jilid II

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Pernakah kita berpikir kenapa fasilitas publik seperti rumah sakit atau taman kota bisa dinamai sesuai dengan nama seseorang? Memang sih, terkadang kita menganggap bagian dari menamai ruang publik itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada seseorang. Tapi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah; apakah semua fasilitas publik harus terhubung dengan nama seseorang? Lebih-lebih di balik penamaan […]

expand_less