Breaking News
light_mode
Trending Tags

Apakah Indonesia sudah dalam Cengkeraman Masyarakat Paliatif?

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 4
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kita hidup dalam realitas yang serba aneh. Informasi datang menerjang setiap detik, jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk benar-benar meresapi apa yang terjadi. Setiap hari, layar ponsel kita dijejali berita korupsi, lahan yang dirampas, sungai yang tercemar, hingga ketimpangan yang makin lebar. Semua ada di sana, bisa diakses hanya dengan satu sapuan jari. Namun, di tengah banjir informasi ini, muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah kita masih benar-benar “hadir” saat menyaksikan semua itu?

Masalahnya bukan lagi soal kekurangan data. Kita justru kelebihan informasi. Masalah sebenarnya adalah bagaimana informasi itu sering kali hanya lewat begitu saja tanpa sempat mengendap menjadi kesadaran. Korupsi sudah dianggap berita rutin. Bencana alam menjadi siklus tahunan yang kita anggap “nasib”. Ketimpangan sosial kita lihat seperti pemandangan di pinggir jalan yang perlahan-lahan tak lagi kita hiraukan. Apa yang dulunya memicu amarah, sekarang mungkin hanya membuat kita menghela napas, lalu lanjut menelusuri konten berikutnya.

Inilah semacam ambiguisutas era digital, kita tahu banyak, tapi sedikit sekali yang kita rasakan. Kita menonton penderitaan orang lain seperti sedang menonton hiburan—semuanya serba cepat, gampang berganti, dan mudah dilupakan.

Filsuf Byung-Chul Han menyebut kondisi ini sebagai Palliative Society atau masyarakat paliatif. Kita sedang terobsesi dengan kenyamanan. Segala hal yang menyakitkan, yang memicu konflik, yang membuat cemas, atau yang menuntut tanggung jawab moral, dianggap sebagai “gangguan” yang harus segera disingkirkan. Kita membangun sistem di mana kita tidak perlu lagi berlama-lama menghadapi sesuatu yang pahit.

Saat kita merasa gelisah, ada hiburan yang siap mengalihkan. Saat kecewa, ada konsumsi yang menawarkan pelarian. Saat cemas melihat dunia yang makin rusak, ruang digital menyediakan arus konten tanpa henti untuk menenggelamkan rasa itu. Kita kehilangan nyali untuk berdiam diri bersama rasa sakit, padahal sering kali justru dari sanalah kesadaran yang jujur lahir.

Jika menggunakan kerangka Paulo Freire justru seakan menantang kita. Karena Berbeda dengan kecenderungan kita yang ingin selalu “baik-baik saja” dan menghindari rasa sakit, Freire justru percaya bahwa kesadaran kritis lahir dari keberanian untuk berhadapan dengan realitas, sepedih apa pun itu. Baginya, kesadaran tidak tumbuh dari jarak yang aman, melainkan dari keterlibatan.

Freire pernah berargumen bahwa “perasaan adalah fakta”. Ini bukan sekadar kata-kata puitis. Ia ingin menegaskan bahwa emosi bukanlah musuh dari logika. Emosi adalah salah satu cara paling jujur bagi manusia untuk memahami dunia. Seorang petani yang marah karena tanahnya dirampas, atau nelayan yang cemas melihat lautnya mati, mungkin tidak menggunakan bahasa akademis yang rumit. Namun, mereka merasakan sesuatu yang “salah”. Perasaan tidak nyaman itulah titik awal dari sebuah kesadaran.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 495
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Metode tahfidz yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat sorotan publik nasional. Dalam sebuah program TV nasional yang tayang baru-baru ini, pendekatan khas As’adiyah dalam menghafal Al-Qur’an disebut sebagai salah satu metode yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan. Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu […]

  • Negeri Tiba tiba Dan riuhnya Klarifikasi

    Negeri Tiba tiba Dan riuhnya Klarifikasi

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Negeri ini kian sering bekerja dengan cara tiba-tiba. Kebijakan lahir mendadak, diumumkan gegap gempita, lalu dijalankan sambil tergesa. Ketika tersandung di lapangan—yang sebenarnya bisa diprediksi sejak awal—negara pun segera masuk ke fase berikutnya: kebisingan klarifikasi. Dua hal ini bukan kebetulan. Negeri Tiba-Tiba dan Klarifikasi yang Ribut adalah pasangan serasi dalam politik kita hari ini. Ambil […]

  • Dari Lailatul Ijtima’ ke Kemandirian: Pesan Hangat KH. Zulfa Musthofa di Gorontalo

    Dari Lailatul Ijtima’ ke Kemandirian: Pesan Hangat KH. Zulfa Musthofa di Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 400
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Zulfa Musthofa, menegaskan pentingnya membangun kemandirian organisasi melalui penguatan tradisi keagamaan Lailatul Ijtima’ sebagai fondasi gerakan Nahdlatul Ulama (NU) di daerah. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor PWNU Gorontalo pada Ahad, 19 April 2026. Acara tersebut dihadiri para ulama, kiai, tokoh […]

  • Adanya Dugaan Malpraktik di RS Multazam, Aktivis Gorontalo Desak Pencopotan Dokter Play Button

    Adanya Dugaan Malpraktik di RS Multazam, Aktivis Gorontalo Desak Pencopotan Dokter

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 240
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aktivis Muda Kevin Lapendos melayangkan Dugaan keras kepada Rumah Sakit Multazam Gorontalo dan dokter yang menangani operasi caesar pada 8 Desember 2025 yakni Dr Alfreed Wuisana, Sp.OG, atas dugaan kelalaian medis serius. Kevin menyatakan salah-satu pasien mengalami kegagalan luar biasa setelah operasi, bahkan ada dugaan bahwa satu pasien inisial SRO telah terdaftar untuk […]

  • Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Dalam sejarah Islam, banyak perempuan tampil sebagai figur yang memberi kontribusi penting dalam membentuk kehidupan spiritual umat. Khadijah dikenal karena keteguhan dan dukungannya pada masa awal dakwah, baik secara moral maupun material. Aisyah menjadi rujukan utama dalam periwayatan hadis dan persoalan-persoalan hukum, menunjukkan kedalaman pengetahuan dan ketajaman intelektualnya. Fatimah dihormati karena kesederhanaan, keteguhan sikap, dan […]

  • Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Gantikan Ayahnya di Tengah Konflik Timur Tengah

    Mojtaba Khamenei Ditunjuk Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Gantikan Ayahnya di Tengah Konflik Timur Tengah

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 245
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Iran resmi menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Republik Islam Iran, menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang dilaporkan meninggal dunia setelah serangan militer yang terjadi di tengah eskalasi konflik kawasan Timur Tengah. Keputusan tersebut diumumkan oleh Majelis Ahli Iran pada Minggu, 8 Maret 2026. Lembaga yang berwenang memilih pemimpin […]

expand_less