Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Apakah Indonesia sudah dalam Cengkeraman Masyarakat Paliatif?

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • visibility 228
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kita hidup dalam realitas yang serba aneh. Informasi datang menerjang setiap detik, jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk benar-benar meresapi apa yang terjadi. Setiap hari, layar ponsel kita dijejali berita korupsi, lahan yang dirampas, sungai yang tercemar, hingga ketimpangan yang makin lebar. Semua ada di sana, bisa diakses hanya dengan satu sapuan jari. Namun, di tengah banjir informasi ini, muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah kita masih benar-benar “hadir” saat menyaksikan semua itu?

Masalahnya bukan lagi soal kekurangan data. Kita justru kelebihan informasi. Masalah sebenarnya adalah bagaimana informasi itu sering kali hanya lewat begitu saja tanpa sempat mengendap menjadi kesadaran. Korupsi sudah dianggap berita rutin. Bencana alam menjadi siklus tahunan yang kita anggap “nasib”. Ketimpangan sosial kita lihat seperti pemandangan di pinggir jalan yang perlahan-lahan tak lagi kita hiraukan. Apa yang dulunya memicu amarah, sekarang mungkin hanya membuat kita menghela napas, lalu lanjut menelusuri konten berikutnya.

Inilah semacam ambiguisutas era digital, kita tahu banyak, tapi sedikit sekali yang kita rasakan. Kita menonton penderitaan orang lain seperti sedang menonton hiburan—semuanya serba cepat, gampang berganti, dan mudah dilupakan.

Filsuf Byung-Chul Han menyebut kondisi ini sebagai Palliative Society atau masyarakat paliatif. Kita sedang terobsesi dengan kenyamanan. Segala hal yang menyakitkan, yang memicu konflik, yang membuat cemas, atau yang menuntut tanggung jawab moral, dianggap sebagai “gangguan” yang harus segera disingkirkan. Kita membangun sistem di mana kita tidak perlu lagi berlama-lama menghadapi sesuatu yang pahit.

Saat kita merasa gelisah, ada hiburan yang siap mengalihkan. Saat kecewa, ada konsumsi yang menawarkan pelarian. Saat cemas melihat dunia yang makin rusak, ruang digital menyediakan arus konten tanpa henti untuk menenggelamkan rasa itu. Kita kehilangan nyali untuk berdiam diri bersama rasa sakit, padahal sering kali justru dari sanalah kesadaran yang jujur lahir.

Jika menggunakan kerangka Paulo Freire justru seakan menantang kita. Karena Berbeda dengan kecenderungan kita yang ingin selalu “baik-baik saja” dan menghindari rasa sakit, Freire justru percaya bahwa kesadaran kritis lahir dari keberanian untuk berhadapan dengan realitas, sepedih apa pun itu. Baginya, kesadaran tidak tumbuh dari jarak yang aman, melainkan dari keterlibatan.

Freire pernah berargumen bahwa “perasaan adalah fakta”. Ini bukan sekadar kata-kata puitis. Ia ingin menegaskan bahwa emosi bukanlah musuh dari logika. Emosi adalah salah satu cara paling jujur bagi manusia untuk memahami dunia. Seorang petani yang marah karena tanahnya dirampas, atau nelayan yang cemas melihat lautnya mati, mungkin tidak menggunakan bahasa akademis yang rumit. Namun, mereka merasakan sesuatu yang “salah”. Perasaan tidak nyaman itulah titik awal dari sebuah kesadaran.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karang Taruna Majannang Bantah Keras Isu Warga Jatuh di Jembatan

    Karang Taruna Majannang Bantah Keras Isu Warga Jatuh di Jembatan

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Pemberitaan yang dimuat oleh Viraltimes.id terkait kondisi jembatan penghubung antara Desa Mattirotasi dan Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, menuai tanggapan tegas dari pihak Karang Taruna Desa Majannang. SAKTI, selaku Formatur Ketua Karang Taruna Desa Majannang, secara resmi membantah keras isi pemberitaan tersebut, khususnya klaim yang menyebutkan bahwa telah terjadi beberapa insiden warga […]

  • Adanya Dugaan Malpraktik di RS Multazam, Aktivis Gorontalo Desak Pencopotan Dokter Play Button

    Adanya Dugaan Malpraktik di RS Multazam, Aktivis Gorontalo Desak Pencopotan Dokter

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 310
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aktivis Muda Kevin Lapendos melayangkan Dugaan keras kepada Rumah Sakit Multazam Gorontalo dan dokter yang menangani operasi caesar pada 8 Desember 2025 yakni Dr Alfreed Wuisana, Sp.OG, atas dugaan kelalaian medis serius. Kevin menyatakan salah-satu pasien mengalami kegagalan luar biasa setelah operasi, bahkan ada dugaan bahwa satu pasien inisial SRO telah terdaftar untuk […]

  • Breaking News! Kebakaran Rumah di Kompleks Asrama Haji Gorontalo, Petugas Damkar Sigap Padamkan Api

    Breaking News! Kebakaran Rumah di Kompleks Asrama Haji Gorontalo, Petugas Damkar Sigap Padamkan Api

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kebakaran melanda sejumlah rumah di Kelurahan Bulotadaa Barat, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo pada Minggu (15/3/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WITA. Peristiwa tersebut terjadi di Perumahan Wahana Ceria atau kawasan kompleks Asrama Haji Gorontalo dan sempat menghebohkan warga sekitar. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, api terlihat membakar sejumlah rumah warga di […]

  • Islam Moderat di Persimpangan Jalan

    Islam Moderat di Persimpangan Jalan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Alam Khaerul Hidayat
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Di tengah riuhnya perbincangan tentang agama di ruang publik Indonesia, istilah Islam moderat seolah menemukan momentumnya. Ia hadir sebagai penyeimbang di antara tarikan ekstrem yang kerap mengeras dalam wajah keberagamaan kita di satu sisi konservatisme yang eksklusif, di sisi lain liberalisme yang kadang kehilangan pijakan nilai. Dalam konteks masyarakat yang majemuk, gagasan ini terasa penting, […]

  • Kemenag Buka Bantuan Penyelesaian Studi S2 dan S3, Mahasiswa Bisa Dapat Hingga Rp25 Juta

    Kemenag Buka Bantuan Penyelesaian Studi S2 dan S3, Mahasiswa Bisa Dapat Hingga Rp25 Juta

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle -
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Jakarta – Kabar baik bagi mahasiswa program magister (S2) dan doktor (S3) yang sedang berada pada tahap akhir penyelesaian studi. Kementerian Agama Republik Indonesia kembali membuka pendaftaran Bantuan Penyelesaian Pendidikan (BPP) bagi mahasiswa pascasarjana dalam negeri dengan nilai bantuan mencapai Rp20 juta untuk jenjang S2 dan Rp25 juta untuk jenjang S3. Program yang dikelola […]

  • Negara Hukum atau Negara Kuasa? Menguji Integritas Penegakan Hukum Indonesia

    Negara Hukum atau Negara Kuasa? Menguji Integritas Penegakan Hukum Indonesia

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Zulkifli
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Sebelum Indonesia mengenal sistem hukum kolonial Belanda, masyarakat Nusantara telah hidup dengan tatanan hukum sendiri, yakni hukum adat. Nilai-nilai ini tumbuh dari kearifan lokal dan mengakar kuat dalam kehidupan sosial. Salah satu komunitas yang hingga kini masih menjaga hukum adat adalah Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba. Mereka bahkan mendapat pengakuan internasional; The Washington Post menempatkan […]

expand_less