Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ramadan: Bulan Ketercelupan Ontologis dalam Sibghah Ilahi

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 30 Mar 2025
  • visibility 158
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Prolog: Warna yang Mengubah Jiwa

Bayangkan selembar kain putih yang dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Semakin lama ia terendam, semakin pekat warna yang menyatu dengan serat kain itu. Begitu pula dengan manusia di bulan Ramadan, ia tercelup dalam keheningan ibadah, dalam doa yang mendalam, dalam puasa yang meluruhkan kerak-kerak duniawi.

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah ketercelupan ontologis, di mana jiwa manusia menyerap esensi ilahi dan terlahir kembali dengan warna spiritual yang lebih dalam. Dalam perspektif Islam, konsep ini dikenal sebagai sibghah, suatu celupan ilahiah yang mengubah hakikat seseorang.

Namun, ketercelupan ini tidak terjadi secara instan. Seperti seorang seniman yang mencelupkan kuasnya berulang kali ke dalam warna untuk menciptakan lukisan yang hidup, manusia pun harus melalui proses panjang yang mencakup refleksi, pengendalian diri, dan kesadaran penuh terhadap makna keberadaannya.

Ramadan menjadi laboratorium spiritual di mana seseorang diuji bukan hanya dalam menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dalam mengendalikan ego dan hawa nafsu. Dalam momen-momen keheningan saat sahur dan berbuka, dalam tarawih yang menghidupkan malam, dalam sedekah yang melapangkan hati—di sanalah terjadi transformasi mendalam yang mengakar ke dalam jiwa.

Lebih dari sekadar ibadah, Ramadan mengajarkan manusia untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia mengajarkan kita bahwa manusia bukan sekadar makhluk biologis yang membutuhkan makanan dan minuman, tetapi juga entitas spiritual yang harus dipelihara dengan ibadah dan kepedulian terhadap sesama. Dengan setiap detik yang dilewati dalam bulan suci ini, manusia semakin larut dalam warna ilahi, meninggalkan jejak-jejak duniawi, dan berusaha meraih pencerahan yang lebih tinggi.

Ramadan dan Celupan Ilahi: Menyelami Makna Sibghah

Dalam Al-Qur’an, sibghah disebut dalam QS. Al-Baqarah: 138:
“Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik sibghah-nya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah.”

Para ulama menafsirkan sibghah sebagai pewarnaan jiwa manusia dengan nilai-nilai ketuhanan. Ibnu Katsir mengartikannya sebagai bentuk ketundukan total kepada Allah, sementara Fakhruddin Al-Razi mengaitkannya dengan perubahan esensial yang membentuk karakter spiritual seseorang. Dalam tafsir Raghib Al-Isfahani, sibghah adalah kondisi tetap yang muncul setelah manusia menyerap hakikat ilahi.

Murtadha Muthahhari menafsirkan sibghah sebagai proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan yang tidak hanya berdampak pada aspek spiritual individu, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku sosialnya. Baginya, Ramadan adalah waktu di mana manusia mengalami “pencelupan ulang” dalam sifat-sifat Tuhan, sehingga keluar dari bulan ini dengan kepribadian yang lebih sempurna.

Sementara itu, Allamah Thabaththabai dalam tafsirnya menekankan bahwa sibghah adalah kondisi ontologis yang menunjukkan hubungan erat antara manusia dan Tuhan. Ramadan, dalam perspektifnya, adalah saat ketika manusia bisa mencapai tingkat eksistensi yang lebih tinggi, di mana kesadaran akan kehadiran Tuhan menjadi lebih dominan daripada keterikatan pada dunia material.

Jika demikian, Ramadan adalah proses pencelupan yang memungkinkan manusia menyerap warna ketuhanan secara lebih dalam. Puasa, shalat malam, tilawah Al-Qur’an, dan refleksi diri bukan sekadar ibadah formal, melainkan medium untuk meresapkan sifat-sifat ilahi ke dalam eksistensi manusia. Sebagaimana kain yang berubah warna setelah dicelupkan, manusia yang menjalani Ramadan dengan kesadaran penuh akan keluar dari bulan ini dengan diri yang berbeda.

Ramadan sebagai Ketercelupan Ontologis

Ketercelupan dalam spiritualitas Ramadan bukan hanya metafora, tetapi juga realitas eksistensial. Puasa, misalnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembebasan diri dari kecenderungan material yang menghalangi seseorang mencapai kesadaran ruhani. Dalam perspektif filsafat Islam, ini merupakan bentuk transformasi ontologis, yaitu perubahan hakikat manusia dari tingkat keberadaan yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, Ramadan juga berfungsi sebagai momen penghapusan ego, di mana manusia menanggalkan identitas-identitas superfisialnya dan kembali kepada fitrah murni yang lebih dekat dengan Tuhan. Dalam ketercelupan ini, manusia belajar untuk tidak lagi dikendalikan oleh hawa nafsu, melainkan diarahkan oleh nur ilahi yang membimbing setiap langkahnya. Dengan kata lain, Ramadan menjadi wadah untuk mengaktifkan potensi ruhani yang selama ini terpendam di bawah lapisan kesibukan duniawi.
Lebih jauh lagi, ketercelupan ontologis ini tidak hanya berdampak pada individu secara personal, tetapi juga pada tatanan sosial. Ramadan menciptakan suasana kolektif yang penuh dengan kepedulian, empati, dan solidaritas.

Dalam kesadaran spiritual yang mendalam, manusia melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih besar, di mana setiap tindakan memiliki resonansi moral dan spiritual. Dengan demikian, ketercelupan dalam Ramadan bukan hanya membentuk individu yang lebih baik, tetapi juga komunitas yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang.

Ramadan dan Identitas Spiritual: Warna yang Bertahan

Ketercelupan dalam warna ilahi selama Ramadan bukanlah sesuatu yang bersifat sementara. Sebagaimana pewarna alami yang menyerap hingga ke dalam serat kain, perubahan spiritual yang terjadi selama bulan suci ini seharusnya meresap dalam keseharian manusia. Ramadan bukan hanya tentang berpuasa sebulan penuh, tetapi tentang bagaimana pengalaman itu membentuk karakter seseorang setelahnya. Seorang yang telah merasakan kedalaman ibadah dan refleksi dalam Ramadan seharusnya membawa serta pengalaman itu ke dalam sebelas bulan berikutnya.

Transformasi spiritual yang terjadi dalam Ramadan menciptakan identitas baru bagi manusia, di mana kesadaran akan kehadiran Tuhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidupnya. Ibadah yang dilakukan bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan yang muncul dari kesadaran batin yang lebih tinggi. Puasa, shalat, dan amal kebaikan menjadi ekspresi dari jiwa yang telah tersentuh oleh warna ilahi. Dalam pandangan ini, sibghah bukan hanya perubahan sementara, tetapi fondasi bagi pola hidup yang lebih suci dan bermakna.

Mempertahankan warna ilahi ini bukanlah hal yang mudah. Setelah Ramadan berakhir, manusia akan kembali berhadapan dengan distraksi duniawi yang dapat mengikis perubahan yang telah terjadi. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk senantiasa menjaga intensitas hubungan spiritualnya. Dzikir, doa, dan kebiasaan baik yang diperoleh selama Ramadan harus dijaga agar warna ilahi yang telah menyatu dengan jiwanya tidak memudar. Sebagaimana seorang seniman yang terus memperkuat warna dalam lukisannya, manusia pun harus terus memperbarui ketercelupannya dalam spiritualitas agar tetap berada dalam cahaya kebenaran.

Ketika Ramadan berlalu, pertanyaannya bukanlah apakah seseorang telah berhasil menyelesaikan puasanya, tetapi apakah dirinya telah benar-benar berubah? Sebab Ramadan bukan hanya bulan yang datang dan pergi, tetapi jejak yang mengubah perjalanan manusia dalam mendekati Tuhan. Ramadan adalah celupan yang tidak hanya mewarnai sejenak, tetapi harus meresap dalam kehidupan sehari-hari. Jika benar-benar terserap, warna itu tidak akan pudar, melainkan terus menerangi jalan menuju kebenaran dan kedekatan dengan Tuhan.

Catatan: Istilah Ketercelupan Ontologis saya kutip dari diksi yang sering dilontarkan oleh Kanda Prof. Mohammad Sabri Ar

Oleh : Dr. Sabara NuruddinPeneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Re-historiografi Gorontalo”

    “Re-historiografi Gorontalo”

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Dalam sebuah obrolan melalui whatsApp, sahabat saya Arief Abbas mencoba mengajak saya untuk membincang kembali Gorontalo, yang dimaksud adalah “Re-historigrafi Gorontalo”. Menurut Arief selama ini sejarah Gorontalo hanya menjelaskan Sultan Amai, Matolodulakiki, Raja Eyato dan beberapa lainnya. Bagi Arief banyak hal soal Gorontalo yang kurang diulas misalnya Wato, Dayango, Sejarah mengenai orang-orang tertindas/terpinggirkan dan lain […]

  • Pemprov Gorontalo Gelar Workshop Percepatan Penyusunan Dokumen Administratif BLUD SMK

    Pemprov Gorontalo Gelar Workshop Percepatan Penyusunan Dokumen Administratif BLUD SMK

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Biro Pengendalian Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Gorontalo menggelar Workshop Percepatan Penyusunan Dokumen Administratif Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Senin (20/10/2025), di Hotel Grand Q Kota Gorontalo. Kegiatan yang berlangsung selama 2 (dua) hari ini diikuti oleh para Kepala SMK se-Provinsi Gorontalo serta melibatkan OPD teknis terkait, […]

  • Dari Mie Godok hingga Pesan Integritas, Wakil Gubernur Gorontalo Ajak Mahasiswa Melawan Korupsi

    Dari Mie Godok hingga Pesan Integritas, Wakil Gubernur Gorontalo Ajak Mahasiswa Melawan Korupsi

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 126
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah sejuknya malam di Bumi Cerah Bulontalangi, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (26/12/2025), pesan tentang integritas disampaikan dengan cara yang sederhana namun berkesan. Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, hadir membuka peringatan Hari Anti Korupsi Dunia (Harkodia) yang digelar Fakultas Ilmu Hukum Universitas Ichsan Gorontalo. Di hadapan mahasiswa, Idah mengajak generasi muda, […]

  • Panja AMDK Mulai Bekerja, Industri Air Minum Diminta Siap-Siap Diawasi Ketat

    Panja AMDK Mulai Bekerja, Industri Air Minum Diminta Siap-Siap Diawasi Ketat

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 335
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi VII DPR RI resmi membentuk Panitia Kerja (Panja) Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) untuk menindaklanjuti berbagai laporan dan temuan terkait pelanggaran perizinan serta praktik usaha yang tidak sesuai aturan di sektor AMDK. Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, menegaskan pembentukan Panja bertujuan memberikan rekomendasi dan solusi atas persoalan industri […]

  • Suhayb ar-Rumi: Hijrah yang Dibayar dengan Seluruh Harta (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #12)

    Suhayb ar-Rumi: Hijrah yang Dibayar dengan Seluruh Harta (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #12)

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Di antara para sahabat Nabi  yang datang dari pinggiran struktur sosial Arab, nama Suhayb bin Sinan atau lebih dikenal dengan nama Suhayb ar-Rumi menempati posisi yang khas. Ia bukan tokoh dari kabilah besar Quraisy yang memiliki perlindungan kuat. Julukan ar-Rumi melekat padanya bukan karena ia berdarah Romawi, melainkan karena masa kecilnya yang panjang di wilayah Bizantium membuatnya fasih […]

  • Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

    Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Kira-kira pertama kali saya mendengar nama Ahmadiyah, itu sekitar tahun 1994 ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Limboto. Salah seorang guru saya menjelaskan tentang teologi pemikiran Islam. Guru  saya lulusan IAIN Alauddin Makassar jurusan aqidah filsafat. Disela-sela ia menjelaskan  tentang pemikiran Islam, ia menyentil soal Ahmadiyah , selain Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syi’ah dan Sunni.  […]

expand_less