Breaking News
light_mode
Trending Tags

Abd al-Rahman bin Abu Bakr Anak Yang Pernah Berhadapan dengan Sang Ayah di Medan Perang

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
  • visibility 60
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Abu Bakar al-Siddiq r.a adalah salah satu sahabat utama dan pemimpin Islam pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad. Kedekatannya dengan Nabi bukan hanya dalam perjuangan dakwah, tetapi juga dalam kehidupan keluarganya.

Abu Bakar memiliki enam orang putra-putri: Abdullah bin Abu Bakar, Abdurrahman bin Abu Bakar, Muhammad bin Abu Bakar, Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, dan Umm Kulsum binti Abu Bakar. Hampir seluruh anak Abu Bakar segera mengikuti jejak ayah mereka memeluk Islam dan menjadi bagian dari lingkaran awal kaum Muslim. Bahkan Aisyah kemudian menjadi istri Nabi dan dikenal sebagai salah satu perawi hadis paling penting dalam sejarah Islam.

Namun di antara anak-anak Abu Bakar, ada satu orang yang memilih jalan berbeda pada masa awal dakwah, yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar.

Pada masa ketika Islam masih menghadapi penentangan keras dari Quraisy di Mekah, Abdurrahman tetap mempertahankan kepercayaan lama kaumnya, meski seluruh keluarganya telah memilih Islam. Ia bergabung bersama para pemuka Quraisy yang menentang dakwah Nabi Muhammad. Pilihan ini menempatkannya pada posisi yang kontras dengan ayahnya sendiri, yang justru berdiri di barisan paling depan dalam membela Nabi. Ketika pecah Perang Badar, Abdurrahman berada di pihak Quraisy yang berhadapan langsung dengan kaum Muslim. Di medan perang itu, ayah dan anak berdiri di dua kubu yang saling berlawanan.

Dalam beberapa riwayat sirah disebutkan bahwa Abdurrahman dikenal sebagai pemanah yang terampil. Pada suatu saat dalam pertempuran Badar, ia melihat Abu Bakar berada dalam jangkauan panahnya. Kesempatan itu sebenarnya cukup terbuka untuk menyerang. Namun entah karena dorongan nurani atau rasa hormat sebagai seorang anak, ia memilih berpaling. Ia tidak melepaskan panah ke arah ayahnya. Keputusan kecil di tengah hiruk-pikuk pertempuran itu menjadi isyarat bahwa hubungan darah masih menyisakan ruang di tengah konflik keyakinan yang keras.

Beberapa tahun kemudian, setelah Perjanjian Hudaybiyyah, suasana politik dan keagamaan di Jazirah Arab mulai berubah. Pada masa inilah Abdurrahman akhirnya memeluk Islam. Ia datang kepada Nabi Muhammad dan menyatakan keimanannya. Sejak saat itu ia menjadi bagian dari komunitas Muslim dan ikut terlibat dalam berbagai peristiwa penting setelahnya.

Suatu hari, Abdurrahman mengisahkan kembali pengalaman di Badar kepada ayahnya. Ia berkata, “Pada hari Badar, aku melihatmu di medan pertempuran, tetapi aku berpaling darimu—aku tidak menyerangmu.” Abu Bakar menanggapi dengan kalimat yang terkenal tegas: “Jika engkau berada dalam jangkauanku pada saat itu, aku tidak akan berpaling darimu.”

Setelah masuk Islam, Abdurrahman dikenal sebagai Muslim yang berani dan setia. Ia turut serta dalam sejumlah peperangan penting pada masa Nabi dan setelahnya, termasuk Perang Yarmuk, salah satu pertempuran besar yang membuka jalan bagi kemenangan kaum Muslim di wilayah Syam. Dalam berbagai riwayat, ia digambarkan sebagai pejuang yang tangguh di medan perang.

Kisah Abdurrahman bin Abu Bakar menunjukkan bahwa iman tidak selalu datang bersamaan dalam sebuah keluarga. Ia pernah berdiri di sisi yang berlawanan dengan ayahnya sendiri, tetapi perjalanan hidup dan pengalaman akhirnya membawanya kembali ke jalan yang sama. Dari seorang pemuda Quraisy yang menentang dakwah Nabi, ia berubah menjadi Muslim yang teguh.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aktivis Gorontalo Kevin Lapendos Bantah Fitnah Oknum Asosiasi Nelayan: “Saya Punya Bukti Kuat”

    Aktivis Gorontalo Kevin Lapendos Bantah Fitnah Oknum Asosiasi Nelayan: “Saya Punya Bukti Kuat”

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Aktivis muda Gorontalo, Kevin Lapendos, yang dikenal aktif dalam aksi Unjuk Rasa, akhirnya angkat bicara terkait fitnah yang diarahkan kepadanya oleh oknum dalam Ketua Asosiasi Nelayan Gorontalo. Kevin menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut sama sekali tidak benar, dan merupakan upaya untuk membungkam serta mengaburkan perjuangan Advokasinya yang tengah ia lakukan. Kevin selama ini aktif menyoroti dugaan […]

  • Dinas Pertanian Gorontalo Salurkan Benih Gratis Dukung Program Green Domestik

    Dinas Pertanian Gorontalo Salurkan Benih Gratis Dukung Program Green Domestik

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo menyalurkan bantuan benih tanaman gratis untuk mendukung Program Green Domestik yang digagas oleh Yayasan Pendidikan Nulondalo Lipu’u di Kota Gorontalo. Penyerahan bantuan berlangsung di Kantor Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Senin (20/10/2025). Bantuan diserahkan oleh Yani Dg. Matona, S.P., perwakilan Divisi Hortikultura Dinas Pertanian, dan diterima langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan Nulondalo […]

  • Board of Peace Tuai Kritik Akademisi, Dinilai Abaikan Palestina dan Melembagakan Ketidakadilan

    Board of Peace Tuai Kritik Akademisi, Dinilai Abaikan Palestina dan Melembagakan Ketidakadilan

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 133
    • 0Komentar

    nulondalo.com –Pembentukan Board of Peace (BoP) oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai mekanisme perdamaian dan rekonstruksi Gaza menuai kritik tajam dari kalangan akademisi dan intelektual Indonesia. Lembaga yang diklaim sebagai terobosan perdamaian global itu dinilai justru mengabaikan prinsip keadilan, hukum internasional, serta keterlibatan substantif rakyat Palestina sebagai pihak paling terdampak konflik. Kritik keras salah […]

  • Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

    Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Samsi Pomalingo
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah penting dalam tradisi Islam, khususnya selama bulan Ramadan. Ibadah ini dilakukan setelah shalat Isya dan merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Shalat Tarawih bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga merupakan sarana spiritual yang mendalam bagi umat Muslim. Melalui ibadah ini, individu memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, […]

  • Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

    Mengapa Suara Perdamaian Lebih Nyaring dari Arah Komunitas, Bukan Pemerintah?

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Dalam dinamika sosial Indonesia, satu hal yang menarik untuk diamati adalah bahwa suara-suara yang paling lantang menyuarakan kerukunan dan perdamaian justru lebih sering datang dari organisasi masyarakat sipil—terutama ormas keagamaan, sosial, dan komunitas-komunitas akar rumput—bukan dari pemerintah. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ia berakar pada perbedaan mendasar dalam cara berpikir, atau yang sering disebut sebagai […]

  • Setelah Khamenei Wafat, Nama Hassan Rouhani Kembali Menguat dalam Politik Iran

    Setelah Khamenei Wafat, Nama Hassan Rouhani Kembali Menguat dalam Politik Iran

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 92
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kematian Ali Khamenei memicu dinamika baru dalam politik Iran. Di tengah spekulasi mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya, nama Hassan Rouhani kembali mencuat dan mulai diperbincangkan di kalangan elite politik maupun pengamat internasional. Rouhani dikenal sebagai salah satu tokoh moderat dalam struktur Republik Islam Iran. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Iran […]

expand_less