Banjir Besar Landa Halmahera Barat, Dua Warga Tewas, Ribuan Mengungsi
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 151
- print Cetak

Banjir merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, meliputi Kecamatan Ibu, Sahu Timur, Tabaru, Ibu Selatan, dan Loloda, Rabu (7/1). (BPBD Kabupaten Halmahera Barat)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Banjir besar melanda Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, akibat curah hujan berintensitas tinggi yang terjadi sejak Rabu dini hari, 7 Januari 2026, sekitar pukul 04.00 WIT. Hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan aliran sungai meluap dan menggenangi permukiman warga, sekaligus memutus akses jalan di sejumlah wilayah.
Peristiwa ini berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat serta kehidupan sosial dan ekonomi warga setempat. Data sementara mencatat, banjir menerjang lima kecamatan dan sembilan desa di Halmahera Barat.
Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Ibu (Desa Gamlamo, Tongute Ternate, Tongute Ternate Asal, dan Gamici), Kecamatan Sahu Timur (Desa Gamoneng), Kecamatan Tabaru (Desa Duomo dan Goin), Kecamatan Ibu Selatan (Desa Talaga), serta Kecamatan Loloda (Desa Soasio).
Akibat bencana tersebut, dua warga dilaporkan meninggal dunia di Desa Soasio, Kecamatan Loloda. Selain korban jiwa, sebanyak 726 kepala keluarga atau sekitar 3.444 jiwa terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.500 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman, seperti rumah warga yang tidak terdampak, sekolah, dan balai desa.
Kerugian materiil akibat banjir terbilang cukup besar. Sebanyak 726 unit rumah tercatat terdampak, dengan rincian 34 unit rumah rusak berat, 3 unit rusak sedang, dan 286 unit rusak ringan. Selain itu, satu unit rumah toko (ruko) dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Barat terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan asesmen di lokasi terdampak serta mengevakuasi warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Sebagai langkah awal penanganan darurat, BPBD telah menyalurkan bantuan logistik berupa satu ton beras dan 500 dus mi instan kepada masyarakat terdampak banjir.
Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi bencana meliputi tenda dan terpal, matras atau alas tidur, makanan siap saji, sembako, paket bayi, selimut, family kit, serta perlengkapan kebersihan. Penanganan bencana melibatkan berbagai unsur, antara lain BPBD, TNI, Polri, Dinas Sosial, Kominfo, PLN, dan Basarnas.
Meski di sejumlah wilayah banjir mulai surut, curah hujan masih terpantau tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung di wilayah Halmahera Barat pada periode 5–11 Januari 2026.
Hingga kini, jaringan listrik dan akses komunikasi di beberapa lokasi terdampak dilaporkan masih terputus. Lokasi pengungsian sementara berada di rumah penduduk, SD Tongute Ternate, serta Balai Desa Tongute Ternate Asal.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah daerah didorong untuk segera menetapkan status tanggap darurat guna mempercepat dan mengoptimalkan upaya penanganan bencana serta pemulihan awal bagi masyarakat terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat Halmahera Barat, khususnya yang berada di wilayah rawan banjir, agar tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri serta keluarga. Warga diminta menghindari daerah rawan, segera mengungsi ke tempat aman jika kondisi memburuk, serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar