Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bayangkan Jika Anda Seorang LGBT: Sebuah Eksperimen Imajinasi dan Refleksi Sosial-Religius

  • account_circle Fanridhal Engo
  • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
  • visibility 69
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bayangkan Jika Anda Adalah Seorang Waria Atau Bagian Dari Komunitas LGBT. Ya, saya tahu mungkin terdengar janggal untuk dibayangkan. Namun, saya mengajak Anda sejenak menanggalkan posisi normatif Anda, dan merenungkan situasi ini dengan empati. Apa yang Anda rasakan? Marah, resah, atau merasa didiskriminasi oleh dunia yang tampak semakin modern, namun masih sangat konservatif terhadap keberadaan Anda?

Sekarang bayangkan sebuah dunia di mana manusia menerima seluruh bentuk perbedaan—termasuk orientasi seksual, ekspresi gender, dan kebebasan dalam berpakaian—tanpa mengaitkannya dengan nilai moral tertentu. Lalu muncul pertanyaan: Mengapa sebagian besar masyarakat—meski saya tidak memiliki data yang cukup untuk menggeneralisir—menganggap orientasi seksual non-hetero sebagai penyimpangan?

Mungkin Anda pernah mendengar klaim bahwa kaum seperti Anda “pernah diazab” di masa lampau. Lalu Anda bertanya lagi: Apakah benar mereka—kaum Nabi Luth—dihancurkan karena orientasi seksual?

Mari buka kitab suci Anda. Jika Anda seorang Muslim, silakan rujuk Surah Al-A’raf ayat 80. Di sana disebutkan bahwa kaum tersebut melakukan “fahisyah” (perbuatan keji) yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Mereka, kata ayat itu, menyalurkan hasrat kepada sesama jenis. Ayat tersebut menyebutnya sebagai tindakan melampaui batas.

Sebagai orang beriman, sebagian akan berkata: kita tidak punya hak untuk mempertanyakan larangan Tuhan. Di sinilah letak akar persoalan: orientasi seksual dianggap tidak semata-mata sebagai pilihan pribadi, tetapi sebagai bentuk pembangkangan terhadap nilai-nilai ilahiah. Maka tak heran, kebencian terhadap LGBT kerap dibingkai sebagai bagian dari “kewajiban iman”.

Namun, mari kita kembali ke dunia imajinatif Anda. Setelah memahami posisi agama, Anda mungkin berpaling kepada hak asasi manusia. Anda membuka pasal pertama Universal Declaration of Human Rights, dan membaca: “Semua manusia dilahirkan merdeka dan memiliki martabat serta hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani, dan hendaknya saling memperlakukan dengan semangat persaudaraan.”

Di sini Anda merasa menemukan dalil baru—dalil sekuler—yang memberi legitimasi terhadap eksistensi dan ekspresi Anda sebagai LGBT. Bahwa setiap manusia berhak menentukan cara hidupnya, termasuk orientasi dan ekspresi seksual.

Namun pertanyaan selanjutnya muncul: Bagaimana mungkin hak asasi manusia bisa diterapkan di tengah masyarakat yang begitu agamis dan konservatif? Di sinilah konflik batin dimulai. Anda merasa terasing, lelah secara sosial dan emosional. Satu-satunya jalan adalah mencari komunitas yang mendukung, membentuk kelompok solidaritas, agar Anda tetap bisa hidup dan bertahan.

Akhirnya, masyarakat pun terbelah: antara mereka yang menjunjung hak asasi manusia, dan mereka yang menjunjung nilai-nilai agama. Kedua kutub ini terus berseberangan dalam perdebatan yang tak kunjung usai.

Di tengah semua itu, Anda berhasil menemukan ruang aman untuk mengekspresikan diri. Namun, karena Anda orang terdidik, Anda mulai berpikir lebih jauh: Apa konsekuensi sosial dan biologis dari orientasi seksual ini? Misalnya, ketidakmampuan untuk bereproduksi secara biologis, atau peningkatan risiko penyakit seksual menular.

Dan kemudian waktu berjalan. Anda menua. Tubuh melemah. Pertanyaan paling sunyi pun muncul: Siapa yang akan merawat saya kelak? Keluarga yang dulu menjauh? Masyarakat yang belum sepenuhnya menerima? Dalam keheningan itu, Anda melihat orang-orang yang dulu mencibir Anda kini duduk bersama anak dan cucu mereka, tertawa di bawah senja sambil memegang cangkir teh hangat.

Belum sempat pertanyaan itu terjawab, justru ia menambah sesak di dada. Penyesalan datang seperti badai yang tak bisa dihentikan. Kabar duka tentang kawan-kawan komunitas Anda datang satu per satu, diam-diam, sunyi tanpa pelayat. Dunia seperti tidak pernah benar-benar merasakan kehilangan.

Tanpa disadari, air mata Anda menetes. Lalu pecah dari kelopak mata, dan bersama dengan itu muncul pertanyaan lain:

“Akan diperlakukan seperti apa saya jika mati?”

Sebagai seorang yang terlahir Muslim, Anda ingat potongan-potongan ayat yang menyebut tentang azab bagi pelanggar hukum Tuhan. Anda terisak, bukan hanya karena takut, tapi karena sesal. Kehidupan yang Anda anggap penuh kebebasan ternyata tak menjamin kepedulian atau makna ketika tubuh Anda renta, sendiri, dan tak berdaya.

“Ya Rab… Ya Rab…” ucap Anda lirih. Di atas kursi roda yang Anda tempati sendiri, tangan pun terangkat. Anda berdoa, dengan seluruh rasa malu dan penyesalan.

“Ampuni saya, ya Allah.”

Dalam kerendahan hati, Anda merasa ada secercah harapan. Anda ingat, pernah ada kerabat yang berkata bahwa Tuhan Maha Pengampun. Bahwa agama adalah ruang bagi mereka yang ingin kembali, meski dalam usia senja dan tubuh ringkih.

Kini, Anda berpikir; egoisme masa lalu Anda memang ada, tapi orientasinya telah berubah. Dulu Anda menuntut hak untuk diakui, sekarang Anda merasa berhak untuk bertobat. Anda yakin tak seorang pun berhak menghakimi perjalanan spiritual Anda, selain Tuhan sendiri. Hak Asasi Manusia, yang dulu menjadi tameng argumentasi sekuler Anda, kini justru Anda gunakan untuk membela hak Anda untuk berubah.

Demikianlah agama. Ia bukan tempat menghukum, tapi ruang untuk kembali. Wadah bagi penyesalan siapa pun, tak peduli usia dan masa lalu.

Waktu berlalu. Anda merasa lebih damai. Tak ada lagi rasa sesal yang menindih terlalu dalam. Semuanya telah Anda pasrahkan kepada Tuhan. Yang Anda tahu pasti adalah bahwa tobat Anda tulus dan janji-Nya itu nyata; Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tak lama kemudian, seorang anak kecil tanpa alas kaki, berbaju lusuh, menghampiri Anda. Ia menawarkan koran. Karena merasa sepi dan ingin tahu kabar dunia, Anda membelinya.

Tajuk beritanya mengejutkan. Lagi-lagi tentang kontroversi LGBT dan waria. Isunya masih sama: antara hak asasi manusia dan konservatisme agama.

Akhirnya, sebagai penulis saya ingin bertanya:

Bagaimana tanggapan Anda tentang topik dalam berita itu? Anda akan membela pihak yang mana?

  • Penulis: Fanridhal Engo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tindakan Tak Terpuji, Dosen UIM Makassar Dipecat Usai Viral Play Button

    Tindakan Tak Terpuji, Dosen UIM Makassar Dipecat Usai Viral

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 79
    • 0Komentar

    nulondalo.com-Universitas Islam Makassar (UIM) resmi memberhentikan dosennya, Amal Said alias AS, setelah aksinya meludahi kasir swalayan di Makassar viral di media sosial. Peristiwa tersebut terekam kamera CCTV dan menuai kecaman publik. Insiden itu terjadi pada Rabu (24/12). Dalam video yang beredar, AS tampak meludahi kasir saat hendak membayar belanjaan. Aksi tersebut diduga dipicu teguran karena […]

  • Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 68
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Koalisi Mahasiswa Anti Korupsi (KOMAKS) menyelenggarakan aksi damai di tiga titik, yakni di depan Polda Sulawesi Selatan, Polres Maros, dan DPRD Kabupaten Maros. Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat terkait pentingnya penegakan hukum dan perlindungan lingkungan hidup, khususnya di wilayah Kabupaten Maros. Rabu (17/12/2026). Aksi tersebut melibatkan mahasiswa, perwakilan lembaga, serta […]

  • Pasar Masuk Angin

    Pasar Masuk Angin

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle  Dr. Muhammad Aras Prabowo
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Di negeri yang katanya ramah, religius, dan gemar musyawarah ini, ekonomi ternyata juga punya perasaan. Ia bisa senang, bisa sedih, dan rupanya juga bisa kaget sampai masuk angin. Buktinya, ketika keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono, resmi ditunjuk sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), pasar langsung demam. Rupiah menggigil, IHSG meriang, dan investor asing mendadak […]

  • Resolusi 2026: Memindahkan energi, memperluas Jejaring Play Button

    Resolusi 2026: Memindahkan energi, memperluas Jejaring

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Periode 2019–2025, saat saya memimpin Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), menjadi fase penting dalam pembelajaran kepemimpinan dan pengelolaan program pengembangan sumber daya manusia keagamaan. Berbagai program yang dilaksanakan—mulai dari MB Speak Up, Sekolah Penguatan Moderasi Beragama, hingga Klinik Moderasi Beragama—menjadi laboratorium bagi pengembangan strategi, inovasi, dan implementasi kebijakan moderasi beragama di tingkat operasional. Pengalaman memimpin […]

  • Forum Perbenihan Tanaman Pangan Gorontalo: Wujudkan Benih Unggul untuk Peningkatan Produksi Pertanian

    Forum Perbenihan Tanaman Pangan Gorontalo: Wujudkan Benih Unggul untuk Peningkatan Produksi Pertanian

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo melalui UPTD Balai Perbenihan, Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian (BPPSBP) melaksanakan Forum Perbenihan Tanaman Pangan Tingkat Provinsi Gorontalo Tahun 2025 di Manna Cafe n Bakery Gorontalo, Kamis 23/10/2025 . Kegiatan ini menjadi wadah koordinasi dan sinkronisasi antara seluruh pemangku kepentingan di bidang perbenihan, guna menyamakan persepsi dalam mendukung peningkatan produksi dan […]

  • Pseudo-Ramadan

    Pseudo-Ramadan

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Ramadan akan segera berlalu. Bagai seorang perempuan, Ramadan tampak anggun dan suci. Ramadan cermin dari sebuah cahaya yang menyinari jiwa yang membutuhkan cahaya. Hanya jiwa yang suci yang dapat diterangi cahaya itu. Dalam Ramadan berisi deretan ritus persembahan bagi yang merasa harus menyembah. Salah satu aktifitas itu adalah puasa. Bukan saja untuk menahan haus dan […]

expand_less