Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bayangkan Jika Anda Seorang LGBT: Sebuah Eksperimen Imajinasi dan Refleksi Sosial-Religius

  • account_circle Fanridhal Engo
  • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
  • visibility 71
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bayangkan Jika Anda Adalah Seorang Waria Atau Bagian Dari Komunitas LGBT. Ya, saya tahu mungkin terdengar janggal untuk dibayangkan. Namun, saya mengajak Anda sejenak menanggalkan posisi normatif Anda, dan merenungkan situasi ini dengan empati. Apa yang Anda rasakan? Marah, resah, atau merasa didiskriminasi oleh dunia yang tampak semakin modern, namun masih sangat konservatif terhadap keberadaan Anda?

Sekarang bayangkan sebuah dunia di mana manusia menerima seluruh bentuk perbedaan—termasuk orientasi seksual, ekspresi gender, dan kebebasan dalam berpakaian—tanpa mengaitkannya dengan nilai moral tertentu. Lalu muncul pertanyaan: Mengapa sebagian besar masyarakat—meski saya tidak memiliki data yang cukup untuk menggeneralisir—menganggap orientasi seksual non-hetero sebagai penyimpangan?

Mungkin Anda pernah mendengar klaim bahwa kaum seperti Anda “pernah diazab” di masa lampau. Lalu Anda bertanya lagi: Apakah benar mereka—kaum Nabi Luth—dihancurkan karena orientasi seksual?

Mari buka kitab suci Anda. Jika Anda seorang Muslim, silakan rujuk Surah Al-A’raf ayat 80. Di sana disebutkan bahwa kaum tersebut melakukan “fahisyah” (perbuatan keji) yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelumnya. Mereka, kata ayat itu, menyalurkan hasrat kepada sesama jenis. Ayat tersebut menyebutnya sebagai tindakan melampaui batas.

Sebagai orang beriman, sebagian akan berkata: kita tidak punya hak untuk mempertanyakan larangan Tuhan. Di sinilah letak akar persoalan: orientasi seksual dianggap tidak semata-mata sebagai pilihan pribadi, tetapi sebagai bentuk pembangkangan terhadap nilai-nilai ilahiah. Maka tak heran, kebencian terhadap LGBT kerap dibingkai sebagai bagian dari “kewajiban iman”.

Namun, mari kita kembali ke dunia imajinatif Anda. Setelah memahami posisi agama, Anda mungkin berpaling kepada hak asasi manusia. Anda membuka pasal pertama Universal Declaration of Human Rights, dan membaca: “Semua manusia dilahirkan merdeka dan memiliki martabat serta hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani, dan hendaknya saling memperlakukan dengan semangat persaudaraan.”

Di sini Anda merasa menemukan dalil baru—dalil sekuler—yang memberi legitimasi terhadap eksistensi dan ekspresi Anda sebagai LGBT. Bahwa setiap manusia berhak menentukan cara hidupnya, termasuk orientasi dan ekspresi seksual.

Namun pertanyaan selanjutnya muncul: Bagaimana mungkin hak asasi manusia bisa diterapkan di tengah masyarakat yang begitu agamis dan konservatif? Di sinilah konflik batin dimulai. Anda merasa terasing, lelah secara sosial dan emosional. Satu-satunya jalan adalah mencari komunitas yang mendukung, membentuk kelompok solidaritas, agar Anda tetap bisa hidup dan bertahan.

Akhirnya, masyarakat pun terbelah: antara mereka yang menjunjung hak asasi manusia, dan mereka yang menjunjung nilai-nilai agama. Kedua kutub ini terus berseberangan dalam perdebatan yang tak kunjung usai.

Di tengah semua itu, Anda berhasil menemukan ruang aman untuk mengekspresikan diri. Namun, karena Anda orang terdidik, Anda mulai berpikir lebih jauh: Apa konsekuensi sosial dan biologis dari orientasi seksual ini? Misalnya, ketidakmampuan untuk bereproduksi secara biologis, atau peningkatan risiko penyakit seksual menular.

Dan kemudian waktu berjalan. Anda menua. Tubuh melemah. Pertanyaan paling sunyi pun muncul: Siapa yang akan merawat saya kelak? Keluarga yang dulu menjauh? Masyarakat yang belum sepenuhnya menerima? Dalam keheningan itu, Anda melihat orang-orang yang dulu mencibir Anda kini duduk bersama anak dan cucu mereka, tertawa di bawah senja sambil memegang cangkir teh hangat.

Belum sempat pertanyaan itu terjawab, justru ia menambah sesak di dada. Penyesalan datang seperti badai yang tak bisa dihentikan. Kabar duka tentang kawan-kawan komunitas Anda datang satu per satu, diam-diam, sunyi tanpa pelayat. Dunia seperti tidak pernah benar-benar merasakan kehilangan.

Tanpa disadari, air mata Anda menetes. Lalu pecah dari kelopak mata, dan bersama dengan itu muncul pertanyaan lain:

“Akan diperlakukan seperti apa saya jika mati?”

Sebagai seorang yang terlahir Muslim, Anda ingat potongan-potongan ayat yang menyebut tentang azab bagi pelanggar hukum Tuhan. Anda terisak, bukan hanya karena takut, tapi karena sesal. Kehidupan yang Anda anggap penuh kebebasan ternyata tak menjamin kepedulian atau makna ketika tubuh Anda renta, sendiri, dan tak berdaya.

“Ya Rab… Ya Rab…” ucap Anda lirih. Di atas kursi roda yang Anda tempati sendiri, tangan pun terangkat. Anda berdoa, dengan seluruh rasa malu dan penyesalan.

“Ampuni saya, ya Allah.”

Dalam kerendahan hati, Anda merasa ada secercah harapan. Anda ingat, pernah ada kerabat yang berkata bahwa Tuhan Maha Pengampun. Bahwa agama adalah ruang bagi mereka yang ingin kembali, meski dalam usia senja dan tubuh ringkih.

Kini, Anda berpikir; egoisme masa lalu Anda memang ada, tapi orientasinya telah berubah. Dulu Anda menuntut hak untuk diakui, sekarang Anda merasa berhak untuk bertobat. Anda yakin tak seorang pun berhak menghakimi perjalanan spiritual Anda, selain Tuhan sendiri. Hak Asasi Manusia, yang dulu menjadi tameng argumentasi sekuler Anda, kini justru Anda gunakan untuk membela hak Anda untuk berubah.

Demikianlah agama. Ia bukan tempat menghukum, tapi ruang untuk kembali. Wadah bagi penyesalan siapa pun, tak peduli usia dan masa lalu.

Waktu berlalu. Anda merasa lebih damai. Tak ada lagi rasa sesal yang menindih terlalu dalam. Semuanya telah Anda pasrahkan kepada Tuhan. Yang Anda tahu pasti adalah bahwa tobat Anda tulus dan janji-Nya itu nyata; Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tak lama kemudian, seorang anak kecil tanpa alas kaki, berbaju lusuh, menghampiri Anda. Ia menawarkan koran. Karena merasa sepi dan ingin tahu kabar dunia, Anda membelinya.

Tajuk beritanya mengejutkan. Lagi-lagi tentang kontroversi LGBT dan waria. Isunya masih sama: antara hak asasi manusia dan konservatisme agama.

Akhirnya, sebagai penulis saya ingin bertanya:

Bagaimana tanggapan Anda tentang topik dalam berita itu? Anda akan membela pihak yang mana?

  • Penulis: Fanridhal Engo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

    Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Kalau mendengar istilah “korporasi syariah”, banyak orang langsung merasa tenang. Seolah-olah begitu ada kata “syariah”, uang otomatis aman, laporan keuangan jujur, dan direksi langsung rajin tahajud. Padahal, kata Gus Dur, “Tidak semua yang pakai sarung itu kiai”, dan tidak semua yang berlabel syariah itu amanah. Di brosur, korporasi syariah digambarkan bak pesantren modern: bersih, rapi, […]

  • Reinterpretasi Sejarah 22 Desember: Dari Hari Perempuan Menjadi Perayaan Ibu

    Reinterpretasi Sejarah 22 Desember: Dari Hari Perempuan Menjadi Perayaan Ibu

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Adythia Al Ghozaly
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Oleh: Adythia Al Ghozaly Kaempe, S.H   Setiap 22 Desember, kita disuguhi narasi nasional yang menyesatkan: peringatan “Hari Ibu” seolah menjadi satu-satunya representasi perempuan. Padahal, lebih dari sembilan dekade silam, perempuan-perempuan Nusantara berkumpul dalam Kongres Perempuan 1928, menuntut hak politik, kebebasan, pendidikan, dan pengakuan sosial yang setara. Namun, patriarki dengan cerdik merampas tanggal itu, membungkusnya […]

  • Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    Eco-Nasionalisme: Merawat Tanah-Air, Merawat Indonesia

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Kita begitu fasih merayakan nasionalisme dalam bentuk seremoni dan simbol. Setiap tanggal 17 Agustus, kita berdiri tegap menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan bendera Merah Putih di halaman rumah, sekolah, dan kantor pemerintahan. Di media sosial, foto bendera yang dikibarkan di puncak gunung atau latar kemenangan atlet nasional menjadi penanda kebanggaan kolektif. Di ruang-ruang publik, nasionalisme dipentaskan lewat […]

  • Wali Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi Bagi Minoritas, Ini Respon Gusdurian

    Wali Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi Bagi Minoritas, Ini Respon Gusdurian

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 54
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Gorontalo mengadakan kegiatan Doa Lintas Agama di Aula Rudis Wali Kota, yang dihadiri oleh berbagai pemuka agama. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kebersamaan dan kerja sama antarumat beragama. Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menyampaikan bahwa pembangunan daerah harus melibatkan semua elemen masyarakat tanpa diskriminasi. Ia menegaskan bahwa Pemkot tidak akan pilih kasih dalam memberikan […]

  • Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 69
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Koalisi Mahasiswa Anti Korupsi (KOMAKS) menyelenggarakan aksi damai di tiga titik, yakni di depan Polda Sulawesi Selatan, Polres Maros, dan DPRD Kabupaten Maros. Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat terkait pentingnya penegakan hukum dan perlindungan lingkungan hidup, khususnya di wilayah Kabupaten Maros. Rabu (17/12/2026). Aksi tersebut melibatkan mahasiswa, perwakilan lembaga, serta […]

  • Sekolah di Zona Rawan: Mendesak Penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Kota Gorontalo

    Sekolah di Zona Rawan: Mendesak Penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Kota Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Dadang Sudardja
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Tulisan ini diilhami dari diskusi bersama teman-teman WALHI Gorontalo. Kebetulan, penulis menjadi narasumber dan fasilitator dalam kegiatan Diklat Tanggap Darurat Bencana Ekologis. Sebagai pegiat kebencanaan yang juga menaruh perhatian serius pada isu Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), berbagai obrolan dan diskusi tersebut melahirkan satu kegelisahan mendasar: Kota Gorontalo berada pada ancaman gempa bumi dan banjir […]

expand_less