Dandhy Laksono: Indonesia Sedang Mengalami Krisis Ekstraksi dan Kemunduran Demokrasi
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 74
- print Cetak

Dandhy Laksono saat menjadi narasumber dalam podcast Islami.co membahas film dokumenter, oligarki, krisis lingkungan, serta kondisi demokrasi dan politik Indonesia, Jumat (22/5/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Selain itu, Watchdoc juga memproduksi serial dokumenter sejarah politik Jalan Pedang yang membahas berbagai konflik dan pemberontakan di Indonesia dari perspektif berbeda dibanding narasi resmi negara.
Dalam podcast tersebut, Dandhy menyebut salah satu proyek dokumenternya yang paling berpengaruh adalah Sexy Killers. Film itu mengulas jejaring oligarki batu bara dan kaitannya dengan politik nasional.
Ia mengungkapkan film tersebut ditonton lebih dari 17 juta kali dalam satu bulan pertama penayangannya di YouTube dan diputar secara nonton bareng di sekitar 900 lokasi di Indonesia.
“Di masa itu YouTube sedang berada di puncak pengaruhnya,” katanya.
Dandhy juga menilai media sosial kini mengalami perubahan besar dengan dominasi platform pendek seperti TikTok yang membuat pertarungan narasi menjadi lebih kompleks.
Meski demikian, ia tetap percaya bahwa dokumenter panjang dengan riset mendalam masih memiliki tempat di publik selama dibangun dengan storytelling yang kuat.
“Kadang-kadang kita meng-underestimate audience kita,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Dandhy turut menceritakan ekspedisi keliling Indonesia selama lebih dari 400 hari bersama sejumlah jurnalis lintas generasi dalam proyek Reset Indonesia. Dari perjalanan tersebut, ia melihat langsung pola kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya yang terus meluas dari Sumatra hingga Papua.
Menurutnya, Indonesia saat ini belum memiliki visi pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan.
“Yang bisa dikeruk sekarang, kita habisin sekarang. Kalau tidak, orang lain nanti akan ngabisin,” katanya.
Di akhir perbincangan, Dandhy menyebut Indonesia membutuhkan perubahan mendasar dalam tata kelola politik dan ekonomi agar tidak terus terjebak dalam pola eksploitasi yang sama.
“Kita harus memutus kromosom itu kalau mau berubah,” ujarnya.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar