Isra Mi’raj Bukan Sekadar Kisah Mukjizat, Ini Pesan Gus Aniq Nawawi
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- visibility 159
- print Cetak

ilustrasi - Doc. minanews
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tidak semata-mata dimaknai sebagai kisah mukjizat perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra Mi’raj menyimpan pesan mendalam tentang iman, proses perjuangan, dan makna tawakal dalam kehidupan umat Islam.
Pesan tersebut disampaikan KH Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq dalam pengajian daring peringatan Isra Mi’raj yang diselenggarakan Politeknik Energi dan Mineral (PEM) AKAMIGAS pada 2022 dengan tema “Mantapkan Iman dan Taqwa kepada Allah SWT di Era Global.”
Gus Aniq menegaskan, Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang melampaui batas logika manusia. Karena itu, Al-Qur’an mengawalinya dengan kalimat; Subhānalladzī asrā سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى yang menegaskan bahwa perjalanan tersebut sepenuhnya merupakan kehendak Allah SWT.
“Kata Subhānā menunjukkan bahwa Isra Mi’raj adalah hak prerogatif Allah dan tidak bisa diukur dengan logika manusia,” ujar Gus Aniq.
Ia menjelaskan, penegasan serupa juga terdapat dalam Surah An-Najm, ketika Allah bersumpah dengan bintang. Menurutnya, sumpah tersebut menandakan bahwa Isra Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang hanya dapat diterima dengan keimanan.
“Iman bukan hanya percaya pada hal yang menyenangkan, tetapi juga pada hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal,” katanya.
Dalam Isra Mi’raj, lanjut Gus Aniq, Nabi Muhammad SAW bukanlah pelaku utama, melainkan hamba yang diperjalankan oleh Allah SWT. Dari peristiwa tersebut, Nabi Muhammad menerima perintah salat, satu-satunya ibadah yang disyariatkan secara langsung tanpa perantara.
“Salat adalah mi’rajnya orang beriman. Jika dilaksanakan dengan benar, salat akan mengangkat ruh manusia untuk semakin dekat kepada Allah,” jelasnya.
Gus Aniq juga menyinggung dialog Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa AS terkait jumlah salat. Dari perintah awal 50 waktu hingga akhirnya menjadi lima waktu, Nabi Musa berulang kali menyarankan keringanan sebagai bentuk kasih sayang kepada umat Nabi Muhammad.
“Nabi Musa memahami beratnya memimpin umat. Karena itu beliau menginginkan umat Muhammad mendapatkan kemudahan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Gus Aniq menekankan bahwa Isra Mi’raj terjadi setelah Nabi Muhammad SAW melewati masa-masa terberat dalam hidupnya, seperti wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, penolakan di Thaif, serta tekanan yang terus-menerus dari kaum Quraisy.
“Pelajaran penting dari Isra Mi’raj adalah ikhtiar maksimal dan tawakal total. Tawakal bukan berhenti berusaha, tetapi titik akhir setelah ikhtiar,” tegasnya.
Ia menambahkan, penutup Surah Al-Isra dengan kalimat innahu huwas-samī‘ul bashīr إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ menjadi pengingat bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat setiap doa serta perjuangan hamba-Nya.
“Allah mendengar doa, melihat usaha, dan menyaksikan kesabaran,” tutup Aniq.
DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar