Ketika Lampu-Lampu Dinyalakan: Tumbilo Tohe dan Spirit Menjemput Lailatul Qadar
- account_circle Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 103
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Secara historis, tradisi ini lahir dari kearifan lokal masyarakat Gorontalo pada masa ketika listrik belum tersedia.
Pada malam-malam akhir Ramadhan, seiring dengan redupnya cahaya bulan, sehingga jalan menuju masjid menjadi gelap.
Para orang tua dahulu menyalakan lampu minyak di sepanjang jalan agar masyarakat tetap dapat berjalan menuju masjid dengan aman dan nyaman untuk melaksanakan shalat malam, tadarus, dan i’tikaf.
Dari sinilah lahir tradisi Tumbilo Tohe yang secara harfiah berarti menyalakan lampu.
Selain sebagai tradisi, Ia adalah simbol kegembiraan spiritual masyarakat Gorontalo dalam menyambut malam yang diyakini sebagai malam Lailatul Qadar.
Lampu-lampu yang dinyalakan tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menjadi simbol cahaya iman yang menghidupkan malam-malam akhir Ramadhan.
Dengan demikian, Tumbilo Tohe merupakan pertemuan yang indah antara adat dan ibadah, antara kearifan lokal dan semangat spiritual Islam.
Dalam Islam, cahaya memiliki makna simbolik yang sangat dalam.
Cahaya sering menjadi metafora bagi iman, petunjuk, dan hidayah dari Allah.
Allah berfirman dalam Al-qur’an:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Allāhu nūrus-samāwāti wal-arḍ
Artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi.
(QS. An-Nur: 35)
Ayat ini menunjukkan bahwa cahaya tidak hanya bermakna fisik, tetapi juga spiritual. Ia melambangkan petunjuk, keimanan, dan kehidupan hati.
- Penulis: Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna

Saat ini belum ada komentar