Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menakar Hari Jadi Molalahu Mulolo (Sebuah Tawaran Interpretatif)

  • account_circle Momy Hunowu
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 64
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Karena itu, prosesnya perlu dilakukan secara bertahap, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tahap pertama adalah FGD dengan menghadirkan narasumber yang kompeten serta seluruh pemangku kepentingan Molalahu Mulolo. Forum ini menjadi ruang untuk menggali berbagai usulan hari lahir dari sisi sejarah, adat, pemerintahan, dan ingatan kolektif masyarakat.

Tahap berikutnya adalah ziarah ke makam aulia Poliduhelo atau Ta Duheliyo Pitu Lolango. Ziarah ini dimaknai sebagai cara menyambungkan kembali ingatan masyarakat dengan jejak leluhur dan tokoh awal Molalahu. Dari sini, dasar filosofis penetapan hari lahir dapat diperkuat.

Selain itu, Ariyanto juga menawarkan pelaksanaan haul untuk para tokoh yang pernah berdedikasi bagi Molalahu, seperti mantan kepala desa, BPD, LPM, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan semua pihak yang telah memberi sumbangsih bagi kampung ini. Haul menjadi dasar religius sekaligus bentuk penghormatan kepada para pendahulu.

Tahap lain yang patut dipertimbangkan adalah istikharah oleh tokoh-tokoh yang memiliki kearifan khusus. Proses ini menjadi wadah bagi dimensi batiniah dan spiritual, agar keputusan yang lahir membawa kebaikan, keteduhan, dan keberkahan bagi masyarakat Molalahu Mulolo.

Setelah seluruh tahapan itu dilalui, Ambuwa dapat menjadi ruang akhir untuk menentukan Hari Lahir Molalahu Mulolo. Dalam forum ini, dasar akademis, filosofis, religius, spiritual, dan aspirasi masyarakat dipertemukan untuk melahirkan keputusan bersama. Forum tersebut juga dapat membahas kegiatan utama yang akan mengisi momentum Hari Lahir Molalahu.

Tahapan seperti ini menjadi esensial karena Hari Lahir Molalahu akan menjadi warisan simbolik bagi generasi mendatang. Jangan sampai keputusan yang diambil hari ini kelak mudah digugat lantaran dianggap tidak memiliki basis argumentasi yang jelas. Dengan proses yang tertata, terbuka, dan mempertemukan banyak unsur, penetapan Hari Lahir Molalahu Mulolo ditargetkan akan sah secara sosial, sekaligus juga kuat secara historis, bermakna secara filosofis, berakar secara religius, dan menenangkan secara spiritual.

Wallahu a’lam bissawab.

Penulis adalah Dosen Sosiologi-Antropologi IAIN Sultan Amai Gorontalo

  • Penulis: Momy Hunowu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Putra Banggai Kepulauan Kevin Lapendos Desak Polres dan Pemda Tuntaskan Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi

    Putra Banggai Kepulauan Kevin Lapendos Desak Polres dan Pemda Tuntaskan Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Dugaan penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan kembali menuai sorotan. Kali ini, kritik keras datang dari putra kandung Banggai Kepulauan, Kevin Lapendos, aktivis asal Desa Kalumbatan, Kecamatan Totikum Selatan, yang sementara melanjutkan studinya di Gorontalo. Kevin yang cukup aktif mengawal isu-isu nasional dan juga isu daerah sering kali menyampaikan kritikannya melalui […]

  • Penggunaan Atribut Organisasi Terlarang pada Aksi Bela Palestina, Ini Sikap PWNU Gorontalo

    Penggunaan Atribut Organisasi Terlarang pada Aksi Bela Palestina, Ini Sikap PWNU Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Nulondalo – Aksi Damai Bela Palestina serentak digelar di sejumlah Kota di Indonesia, Ahad (2/2/2025). Di Gorontalo sendiri ratusan orang berkumpul di Bundaran Telaga, Gorontalo. Dalam aksi damai tersebut mereka membentangkan spanduk bertuliskan khilafah dan membawa bendera yang identik dengan organisasi yang telah dilarang pemerintah, yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sejumlah kalangan menyayangkan aksi damai […]

  • Transmigrasi Patriot Didatangkan dari Jawa: Pengakuan Gagalnya Pendidikan di Mamuju?

    Transmigrasi Patriot Didatangkan dari Jawa: Pengakuan Gagalnya Pendidikan di Mamuju?

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Misbahuddin Yamin
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Program Transmigrasi Patriot yang digagas Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanegara dengan mengirim mahasiswa dari tujuh kampus elite seperti UI, UGM, ITB, IPB, ITS, Unpad, dan Undip ke Mamuju, secara sekilas tampak progresif. Narasi yang dibangun adalah kolaborasi, sinergi, dan pembangunan ekonomi inklusif. Namun, jika dibaca secara lebih jernih dan struktural, kebijakan ini menyimpan persoalan […]

  • Polemik HTI Gorut Kian Memanas, KNPI Sorot Dugaan Overload hingga Tuntut Evaluasi Manajemen

    Polemik HTI Gorut Kian Memanas, KNPI Sorot Dugaan Overload hingga Tuntut Evaluasi Manajemen

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 292
    • 0Komentar

    “Yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi konkret, bukan narasi,” ujarnya. Menanggapi hal tersebut, Manajer Humas HTI Group, Mansir Mundeng, menyatakan bahwa pihak perusahaan tetap terbuka terhadap masukan masyarakat. Namun, ia menilai kritik yang disampaikan harus didasarkan pada pemahaman yang utuh serta disampaikan melalui mekanisme yang tepat. “Kami menerima semua saran dan masukan, termasuk terkait isu overload. […]

  • Di Bawah Bayang-Bayang AI: Percepatan Perubahan dan Tantangan Memahami Dunia yang Kian Tak Terduga

    Di Bawah Bayang-Bayang AI: Percepatan Perubahan dan Tantangan Memahami Dunia yang Kian Tak Terduga

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Jika pada awal tahun 2000-an Yasraf Amir Piliang berbicara tentang pelipatan ruang, waktu, dan tanda oleh media serta teknologi informasi, maka kecerdasan buatan hari ini membawa proses itu ke tingkat yang jauh lebih radikal. Bukan lagi sekadar pelipatan dunia, melainkan pelipatan pengetahuan, kreativitas, imajinasi, bahkan realitas itu sendiri. Kita sedang menyaksikan sebuah fase yang bisa […]

  • Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Jika nilai nilai Ramadhan mampu meresap dalam tata kelola negara, maka politik simbolik dapat berubah menjadi politik pertanggungjawaban. Retorika amanah diikuti transparansi. Bahasa keberpihakan diikuti kebijakan yang berpihak. Komitmen keadilan diikuti penegakan hukum yang konsisten. Stabilitas memang penting. Namun stabilitas yang tidak ditopang kepercayaan hanya akan menjadi ketenangan di permukaan. Demokrasi yang matang menuntut lebih […]

expand_less