Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menakar Hari Jadi Molalahu Mulolo (Sebuah Tawaran Interpretatif)

  • account_circle Momy Hunowu
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • visibility 326
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam kaitan dengan itu, penulis mengajukan sebuah tawaran interpretatif berupa menjadikan atau memilih 17 Juni sebagai alternatif hari jadi Molalahu Mulolo.

Tawaran ini tidak dimaksudkan sebagai keputusan final maupun klaim historis absolut. Namanya juga usulan. Kenapa 17 Juni? Usulan tersebut merupakan bentuk simbolisasi yang berangkat dari interpretasi terhadap tahun 1767, di mana angka 17 dan 6 digunakan sebagai representasi simbolik.

Dengan demikian, 17 Juni dapat dijadikan sebagai jembatan antara kebutuhan akan patokan waktu bersama dan keterbatasan data historis yang tersedia.

Saat Tanggal Harus Punya Makna

Dalam suatu obrolan di media sosial, Bung Narto Waluyo mengajukan pandangan berbeda. Ia tidak sepenuhnya sepakat dengan penggunaan angka 17 menjadi tanggal pilihan. Menurutnya, tanggal 1 bulan 7 juga menarik untuk dipertimbangkan karena dapat dimaknai sebagai “satu setuju” atau simbol kesepakatan bersama.

Gagasan itu segera mendapat tanggapan dari Bung Taslim Ntuna. Dengan nada hati-hati, ia mengingatkan agar tanggal dan bulan yang dipilih sebaiknya tidak bertepatan dengan peringatan atau hari besar lain. Masukan itu terasa masuk akal. Sebab, tanggal 1 Juli selama ini dikenal sebagai Hari Bhayangkara. Jika hari jadi Molalahu Mulolo ditetapkan pada tanggal tersebut, dikhawatirkan gaungnya akan kurang berdiri sendiri karena beririsan dengan momentum nasional yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat.

Apa pun bentuk usulan yang muncul, baik 17 Juni, 1 Agustus, 1 Juli, maupun kemungkinan tanggal lain yang masih tersimpan dalam ingatan, benak, dan percakapan warga Molalahu Mulolo, semuanya perlu diletakkan dalam ruang diskusi bersama. Tidak ada usulan yang perlu ditutup sejak awal, tetapi setiap usulan semestinya diuji dengan pertanyaan sederhana: apa dasar historisnya, apa makna filosofisnya, dan sejauh mana tanggal itu dapat diterima sebagai simbol bersama.

Dalam kaitan ini, 17 Juni dapat dipertimbangkan sebagai salah satu tawaran yang memiliki pijakan historis karena berangkat dari jejak tahun 1767. Angka 17 diambil dari dua angka awal tahun tersebut, sedangkan angka 6 menunjuk pada bulan keenam, yaitu Juni. Secara filosofis, angka 17 juga memiliki resonansi simbolik yang kuat dalam ingatan kolektif bangsa dan umat Islam. Tanggal 17 mengingatkan pada hari kemerdekaan Indonesia, jumlah rakaat salat wajib dalam sehari, serta 17 Ramadan yang dikenal luas sebagai momentum turunnya Al-Qur’an.

Dari Musyawarah, Ziarah, hingga Ambuwa

Menurut penggagas, Ariyanto Mopangga, penetapan Hari Lahir Molalahu tidak sebaiknya dilakukan tergesa-gesa atau hanya mengikuti tanggal yang muncul spontan dalam forum. Sebab, yang hendak ditentukan bukan sesederhana tanggal peringatan, melainkan keputusan fundamental yang akan menjadi pegangan generasi mendatang.

  • Penulis: Momy Hunowu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 500 Tahun Ramadan di Gorontalo

    500 Tahun Ramadan di Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Praktek berpuasa bagi umat Islam selama bulan Ramadan telah berlangsung ribuan kali sejak era Nabi. Khusus untuk kita di Gorontalo, puasa baru berlangsung sekitar 500 tahun. Hitungan “kasar” ini bermula dari tahun 1525 sejak Islam menjadi agama resmi di Gorontalo. Artinya, untuk Gorontalo sendiri, baru 500 kali puasa Ramadan dilangsungkan. Bagi peradaban lain, puasa Ramadan […]

  • Karhutla Kalimantan Membara, Sakti dari Maros Desak Negara Perkuat Perlindungan Hutan dan Usut Tuntas Penyebab Kebakaran

    Karhutla Kalimantan Membara, Sakti dari Maros Desak Negara Perkuat Perlindungan Hutan dan Usut Tuntas Penyebab Kebakaran

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan menjadi perhatian publik, termasuk dari Sulawesi Selatan. Bukan semata karena luas wilayah yang terdampak, tetapi juga karena ancamannya terhadap lingkungan, satwa, masyarakat, kesehatan, dan kualitas udara. Sakti, seorang warga asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, turut menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi tersebut. Ia […]

  • Mekanisme Pengangkatan Kapolri Digugat ke MK, Pemohon Soroti Ketiadaan Batas Masa Jabatan

    Mekanisme Pengangkatan Kapolri Digugat ke MK, Pemohon Soroti Ketiadaan Batas Masa Jabatan

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Konstitusionalitas mekanisme pengangkatan dan pemberhentian Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) kembali diuji di Mahkamah Konstitusi (MK). Kali ini, permohonan diajukan oleh seorang warga negara sekaligus mahasiswa, Tri Prasetio Putra Mumpuni. Dalam Sidang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 77/PUU-XXIV/2026 yang dipimpin Ketua MK Suhartoyo di Ruang Sidang Pleno Gedung 1 MK, Senin (2/3/2026), Pemohon […]

  • Polemik NU Gorontalo Kembali Mencuat, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mengemuka

    Polemik NU Gorontalo Kembali Mencuat, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mengemuka

    • calendar_month Rabu, 5 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 85
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Polemik di tubuh Nahdlatul Ulama Gorontalo tampaknya belum juga mereda. Dari catatan yang dihimpun redaksi, sejumlah persoalan internal terus bermunculan di organisasi para ulama di ujung utara Pulau Sulawesi tersebut. Beberapa polemik yang sempat mencuat di antaranya pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) yang disebut-sebut berlangsung secara “diam-diam” di Kota Gorontalo, Konfercab di Kabupaten Boalemo […]

  • Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?

    Apa yang Tersisa dari Ied Al-Fitr untuk Kita Perjuangkan?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Namun pulang, bersandar di dermaga, bukanlah sebuah akhir. Setelah menetap selama sebulan di dermaga untuk memperbaiki lubang-lubang yang menganga, kapal-kapal bersiap kembali berlayar untuk 11 bulan berikutnya. Penandanya adalah Ied Al-Fitr: kembali ke fitrah, kepada kesucian. Pada momentum ini, semua bergembira. Sanak-saudara dan karib-kerabat yang jauh kemudian berkumpul dan saling sapa. Hari baru diukir kembali. […]

  • Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

    Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 362
    • 0Komentar

    Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini […]

expand_less