Menakar Hari Jadi Molalahu Mulolo (Sebuah Tawaran Interpretatif)
- account_circle Momy Hunowu
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 62
- print Cetak

Ilustrasi Molalahu Mulolo/AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam kaitan dengan itu, penulis mengajukan sebuah tawaran interpretatif berupa menjadikan atau memilih 17 Juni sebagai alternatif hari jadi Molalahu Mulolo.
Tawaran ini tidak dimaksudkan sebagai keputusan final maupun klaim historis absolut. Namanya juga usulan. Kenapa 17 Juni? Usulan tersebut merupakan bentuk simbolisasi yang berangkat dari interpretasi terhadap tahun 1767, di mana angka 17 dan 6 digunakan sebagai representasi simbolik.
Dengan demikian, 17 Juni dapat dijadikan sebagai jembatan antara kebutuhan akan patokan waktu bersama dan keterbatasan data historis yang tersedia.
Saat Tanggal Harus Punya Makna
Dalam suatu obrolan di media sosial, Bung Narto Waluyo mengajukan pandangan berbeda. Ia tidak sepenuhnya sepakat dengan penggunaan angka 17 menjadi tanggal pilihan. Menurutnya, tanggal 1 bulan 7 juga menarik untuk dipertimbangkan karena dapat dimaknai sebagai “satu setuju” atau simbol kesepakatan bersama.
Gagasan itu segera mendapat tanggapan dari Bung Taslim Ntuna. Dengan nada hati-hati, ia mengingatkan agar tanggal dan bulan yang dipilih sebaiknya tidak bertepatan dengan peringatan atau hari besar lain. Masukan itu terasa masuk akal. Sebab, tanggal 1 Juli selama ini dikenal sebagai Hari Bhayangkara. Jika hari jadi Molalahu Mulolo ditetapkan pada tanggal tersebut, dikhawatirkan gaungnya akan kurang berdiri sendiri karena beririsan dengan momentum nasional yang sudah lebih dahulu dikenal masyarakat.
Apa pun bentuk usulan yang muncul, baik 17 Juni, 1 Agustus, 1 Juli, maupun kemungkinan tanggal lain yang masih tersimpan dalam ingatan, benak, dan percakapan warga Molalahu Mulolo, semuanya perlu diletakkan dalam ruang diskusi bersama. Tidak ada usulan yang perlu ditutup sejak awal, tetapi setiap usulan semestinya diuji dengan pertanyaan sederhana: apa dasar historisnya, apa makna filosofisnya, dan sejauh mana tanggal itu dapat diterima sebagai simbol bersama.
Dalam kaitan ini, 17 Juni dapat dipertimbangkan sebagai salah satu tawaran yang memiliki pijakan historis karena berangkat dari jejak tahun 1767. Angka 17 diambil dari dua angka awal tahun tersebut, sedangkan angka 6 menunjuk pada bulan keenam, yaitu Juni. Secara filosofis, angka 17 juga memiliki resonansi simbolik yang kuat dalam ingatan kolektif bangsa dan umat Islam. Tanggal 17 mengingatkan pada hari kemerdekaan Indonesia, jumlah rakaat salat wajib dalam sehari, serta 17 Ramadan yang dikenal luas sebagai momentum turunnya Al-Qur’an.
Dari Musyawarah, Ziarah, hingga Ambuwa
Menurut penggagas, Ariyanto Mopangga, penetapan Hari Lahir Molalahu tidak sebaiknya dilakukan tergesa-gesa atau hanya mengikuti tanggal yang muncul spontan dalam forum. Sebab, yang hendak ditentukan bukan sesederhana tanggal peringatan, melainkan keputusan fundamental yang akan menjadi pegangan generasi mendatang.
- Penulis: Momy Hunowu

Saat ini belum ada komentar