Breaking News
light_mode
Trending Tags

Menari dalam Belantara Simulacra

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 61
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lebaran, seperti biasa, datang bukan hanya membawa ketupat dan peluk maaf. Ia datang membawa gelombang kegembiraan yang melompat-lompat dari dapur ibu sampai ke beranda digital. Di kampung-kampung kecil yang debunya masih hangat oleh langkah kaki anak-anak, hingga ke rumah-rumah mewah yang tak pernah tidur oleh lampu-lampu sorot interior—suasana keriangan tumpah ruah.

Tahun ini, kegembiraan itu menemukan bentuk barunya: tarian THR. Suatu aksi tari dadakan yang viral. Sang pemberi berdiri di ujung barisan, amplop-amplop di tangan, sementara para penerima—anak-anak, keponakan, menantu, tetangga—membentuk formasi seperti parade kecil. Musik diputar. Tubuh-tubuh pun mulai bergoyang, serempak dan lucu, seperti kawanan pinguin yang dilepas di lapangan sukacita. Semua direkam, diberi filter, lalu terbang ke dunia maya—siap ditonton.

Viral. Semua ikut. Dari keluarga di desa sampai komunitas kreatif di kota. Video dari Perusahaan-perusahaan pun muncul, dengan pegawai berbaris sembari tertawa menari dan membagikan THR atau hadiah lebaran. Para artis pun tak luput ikut tren ini. Tak terasa, momen hangat dan lucu itu membanjiri lini masa.

Namun belum juga tren ini mengering, datanglah satu video lain yang membuat arah percakapan sosial berubah drastis. Sekelompok pria berjanggut, berbaju hitam panjang, dan bertopi khas seperti identitas Yahudi Ortodoks, menari dengan gerakan yang sama. Musiknya pun serupa.

Polemik di Media Sosial pun muncul. Perdebatan mulai ramai.

“Ini tarian Yahudi!”.

Lalu mulai muncul komentar, asumsi, dan bahkan teori konspirasi. Sebagian langsung curiga, sebagian ikut menyebarkan. Seolah setiap gerakan tubuh punya niat tersembunyi, seolah dunia tak lagi punya ruang untuk yang spontan dan lugu. Orang tak lagi menonton untuk memahami, tapi untuk mencari celah agar bisa merasa paling waspada—atau paling benar.

Dalil-dalil klasik pun digaungkan dengan bersemangat. Larangan meniru orang kafir kembali menggema, dibalut kutipan dari para ulama yang barangkali tak pernah membayangkan bahwa suatu hari, sebuah tarian lucu dalam acara bagi-bagi THR bisa jadi bahan debat keimanan. Sebagian netizen mulai menautkan potongan hadits dengan video viral itu, seakan tubuh-tubuh yang sedang berjoget kecil di jalanan kampung adalah simbol penyusupan ideologi global. Hawa kolonialisme dan paranoia lama muncul kembali, bukan dari penjajah, tapi dari dalam kepala yang dicekam rasa takut yang belum selesai.

Begitu cepatnya kita lompat dari kegembiraan ke kecurigaan. Seperti sedang berada di pesta, lalu tiba-tiba lampu padam dan semua orang saling menuduh siapa yang mencuri kebahagiaan. Tak ada jeda, tak ada klarifikasi. Dunia digital memang tak memberi ruang untuk napas panjang. Ia hanya butuh satu potongan video, satu tudingan ringan, lalu sisanya jadi bola salju yang menggilas nalar.

Padahal—dan ini penting—gerakan itu bukanlah tarian ritual, apalagi eksklusif milik kelompok tertentu. Tarian tersebut sudah lama dikenal dalam dunia pelatihan dan kegiatan luar ruang sebagai bagian dari ice breaking. Siapa yang pernah ikut outbound atau kegiatan pengembangan diri pasti akrab dengan tarian ini—dikenal dengan nama: Letkis dance. Gerakannya sederhana dan menyenangkan, cocok untuk mencairkan suasana.

Jejak tarian ini juga bisa ditelusuri secara budaya. Di kawasan Balkan, khususnya Rumania dan Albania, tarian berbaris semacam ini adalah bagian dari pesta rakyat. Di Finlandia, dikenal tarian Letkajenkka atau Letkis yang meledak pada tahun 1960-an dan menyebar ke seluruh Eropa lewat siaran TV Jerman. Bahkan lagu “Ievan Polkka” yang viral belakangan ini berasal dari Finlandia juga, yang nadanya cepat dan jenaka sangat cocok untuk tarian massal semacam itu. Tarian ini lalu menyebar menjadi milik dunia.

Tarian ini bukan milik siapa pun secara eksklusif. Ia milik semua orang yang ingin tertawa, bersenang-senang, dan saling terhubung lewat gerak. Tapi di zaman ini, siapa yang peduli?
Jean Baudrillard jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita tentang bahaya simulacra—ketika simbol lebih dipercaya daripada kenyataan. “Simulacrum is never that which conceals the truth—it is the truth which conceals that there is none.” Maka yang kita lihat hari ini bukan tarian rakyat lintas-bangsa, melainkan bayang-bayang yang dibentuk oleh tafsir dan prasangka.

Mungkin kita memang sedang hidup dalam zaman yang banal—sebagaimana disebutkan oleh Hannah Arendt ketika ia mengulas kejahatan-kejahatan besar yang lahir dari tindakan-tindakan biasa. Tapi dalam versi hari ini, yang banal bukan lagi kejahatan negara, melainkan perdebatan sosial. Kita menyulut kebakaran makna dari korek api yang sebetulnya cuma lucu-lucuan. Kita menaruh beban ideologis pada hal-hal sepele, lalu menciptakan pertarungan sengit di kolom komentar.

Dalam kerangka Cultural Studies, Stuart Hall pernah mengingatkan bahwa budaya populer bukanlah ruang yang netral. Ia adalah medan pertempuran wacana. Apa yang tampak lucu dan ringan bisa dengan cepat berubah menjadi perebutan makna. Dalam dunia digital yang serba cepat ini, budaya tak lagi dialami secara utuh—melainkan dikonsumsi dalam potongan. Maka tarian ringan pun bisa diperdebatkan seolah ia mewakili peradaban. Netizen bukan hanya penonton; mereka kini menjadi produsen tafsir, kurator emosi, dan kadang… jaksa penuntut.

Banalisme inilah yang menjadi pintu masuk. Kita sudah terlalu sering melihat kegaduhan lahir bukan dari hal yang penting, tapi dari hal yang mendadak menjadi penting karena viral. Ketika makna dipermudah, ketika semua bisa bicara, maka yang terdengar bukan yang paling masuk akal, melainkan yang paling cepat dan paling ramai. Dunia digital hari ini, sebagaimana dikatakan Jean Baudrillard, adalah dunia simulacra—di mana yang palsu tak bisa dibedakan lagi dari yang nyata. Kita menari, lalu dicurigai. Kita tertawa, lalu dituding sedang terjebak dalam konspirasi. Kita hanya ingin gembira, tapi malah ditarik masuk ke pusaran tafsir yang tak kita undang.

Dunia kita, kini, bukan lagi tentang memahami. Tapi tentang mengafirmasi apa yang sudah kita yakini sebelumnya. Fakta bukan lagi jendela, tapi cermin. Kita tak lagi melihat keluar, tapi melihat bayangan diri sendiri dan menyebutnya “kebenaran”. Itu yang kita sebut sebagai gejala Post-Truth.

Saya jadi teringat sebuah pelatihan yang saya pandu. Peserta-peserta menari tarian pinguin sambil tertawa. Tak ada yang bertanya dari mana tarian itu berasal, karena yang penting adalah kebersamaan. Tubuh bergerak bersama, tertawa bersama, dan tak satu pun dari mereka menyangka bahwa tarian itu kelak bisa memicu debat identitas dan agama.

Barangkali, itulah tragedi zaman ini: kita terlalu cepat curiga, dan terlalu lambat memahami. Kita sibuk menafsir, tapi enggan mencari konteks. Kita saling menyindir, tapi lupa bahwa manusia pertama-tama harus saling melihat sebagai sesama.

Wallahu A’lam

Oleh :  Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemprov Gorontalo Berikan Diskon Tiket Nataru, Angkutan Udara Turun hingga 13 Persen

    Pemprov Gorontalo Berikan Diskon Tiket Nataru, Angkutan Udara Turun hingga 13 Persen

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 74
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan keringanan biaya perjalanan bagi masyarakat yang akan melakukan mudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Kebijakan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, usai memimpin apel gelar pasukan sekaligus pembukaan Posko Terpadu Angkutan Udara periode Nataru di Bandara Djalaludin Gorontalo, Kamis (18/12/2025). Idah menjelaskan, pemerintah telah […]

  • Tarawih Tanpa Manipulasi

    Tarawih Tanpa Manipulasi

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan fenomena tahunan yang menarik untuk diamati dengan kacamata akuntansi: masjid penuh, saf rapat, parkir meluber, dan sandal kadang tertukar sebuah metafora kecil tentang risiko pengendalian internal. Namun yang paling menarik adalah tarawih: ibadah malam yang khusyuk, sekaligus ladang potensial “manipulasi spiritual”. Dalam dunia akuntansi, manipulasi bisa terjadi ketika laporan keuangan disusun bukan […]

  • UU Pers Tak Diskriminatif, MK Sebut Penulis Lepas Punya Payung Hukum Lain

    UU Pers Tak Diskriminatif, MK Sebut Penulis Lepas Punya Payung Hukum Lain

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 78
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) tidak bersifat diskriminatif meskipun perlindungan hukum dalam Pasal 8 hanya secara limitatif ditujukan kepada wartawan. Menurut MK, penulis lepas, kolumnis, dan kontributor nonwartawan tetap memiliki payung hukum lain di luar UU Pers. Penegasan tersebut disampaikan Wakil Ketua MK Saldi Isra […]

  • Pendamping PKH Pallantikang Klarifikasi Isu Pendataan dan Biaya Administrasi, Tegaskan Bukan Kewenangannya

    Pendamping PKH Pallantikang Klarifikasi Isu Pendataan dan Biaya Administrasi, Tegaskan Bukan Kewenangannya

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 75
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros –  Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kelurahan Pallantikang, Maryam, akhirnya angkat bicara menanggapi pemberitaan yang beredar terkait dugaan permasalahan pendataan penerima bantuan dan isu pemungutan biaya administrasi bantuan sosial. Klarifikasi ini disampaikan secara terbuka sebagai upaya meredam polemik yang dinilai telah mengganggu ketertiban dan ketenangan masyarakat. Maryam menegaskan bahwa proses pendataan penerima manfaat […]

  • Mendagri Mengapresiasi Realisasi APBD Pemprov Gorontalo Triwulan II

    Mendagri Mengapresiasi Realisasi APBD Pemprov Gorontalo Triwulan II

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatatkan realisasi belanja dan pendapatan yang baik di triwulan II tahun 2025. Hasil capaian tersebut mendapat apresiasi oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada saat memimpin rapat koordinasi inflasi melalui sambungan Zoom, Senin (7/7/2025). Realisasi belanja APBD Pemprov Gorontalo triwulan II 2025 berada di peringkat sembilan nasional dan atau peringkat satu se-Sulawesi […]

  • Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

    Shalat Tarawih, Emile Durkheim dan Solidaritas Organik

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Samsi Pomalingo
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah penting dalam tradisi Islam, khususnya selama bulan Ramadan. Ibadah ini dilakukan setelah shalat Isya dan merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Shalat Tarawih bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga merupakan sarana spiritual yang mendalam bagi umat Muslim. Melalui ibadah ini, individu memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, […]

expand_less